Tim gabut generasi delapan dan tim gabut generasi sembilan
Sambungan GD 2, GD 3 dan The Buwono Family.
Tiga sepupu yang satu sekolah dan satu kelas di SMP PRC, dikenal memiliki jiwa kepo tinggi. Seperti hal para ayah mereka, Sheva Sasono, Kenzie Buwono dan Zane Sihasale, sering tidak sengaja terlibat ( melibatkan diri ) dalam kasus kriminal. Bersama tim ayah mereka, ketiganya saling bahu membahu memecahkan misteri.
Generasi ke delapan klan Pratomo
Generasi ke sembilan klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selidik Sana Sini
AKBP Rosita, AKP Ghafar dan Iptu Casey mendatangi rumah Akbar Maulana. Ketiganya disambut oleh ibu Akbar bernama Siti. Ayah Akbar ternyata sedang bekerja di Jepang jadi di rumah hanya mereka berdua.
Siti tampak syok saat mendengar kabar putranya sudah tiada dari ketiga polisi itu. Untuk pemeriksaan lebih lanjut, AKBP Rosita meminta agar Siti memberikan darahnya untuk test DNA meskipun sudah ada di KTP.
"Akbar sudah berapa lama tidak pulang, Bu Siti?" tanya AKBP Rosita lembut.
"Sudah sebulan tidak pulang Bu Rosita. Saya pikir biasa karena Akbar memang sering keliling dari museum ke museum di seluruh Jawa Barat. Areanya memang di sana," jawab Siti.
"Apakah Akbar pekerjaannya sebagai kurator? Apa dia pernah bercerita tentang pekerjaannya? Kesulitan atau apapun?" tanya Iptu Casey.
"Tidak sering cerita, Bu. Karena bagi Akbar, saya dianggap tidak paham. Saya memang tidak terlalu tahu soal barang-barang antik." Siti mengusap air matanya. "Ya Allah, apa yang harus saya katakan pada ayahnya. Dia bekerja di Jepang sebagai supir bus. Kami sedang menabung untuk bisa pindah ke Tokyo dan tinggal di sana."
AKBP Rosita, AKP Ghafar dan Iptu Casey saling berpandangan. Kami juga tidak tahu harus bilang apa.
***
PRC Junior High School Jakarta
"Papa tidak kasih kita ikutan ke tempat si korban bekerja," gerutu Sheva. "Kata Brem-Brem, namanya Akbar Maulana. Dia kurator museum, dan seorang PNS."
Zane lalu membuka ponselnya. "Aku cari di LinkedIn nya."
"Aku cari data kesehatannya," timpal Kenzie.
Sheva melongo. "Serius kalian main hack? Kenz, hack data kesehatannya itu nggak boleh lho! Melanggar privasi!"
"Nggak hack, tapi ngintip! Aku kebetulan tahu password nya waktu menemani Papa pulang. Nggak sengaja lihat Tante Lia ngetik, ya aku hapalkan lah. Tahu kan kalau PNS pasti punya BPJS dan aku bisa mendapatkan nomornya." Kenzie membuka aplikasi yang diberikan oleh Oomnya, Alden Smith.
"Kamu itu memanfaatkan Oom Alden!" gerutu Sheva.
"Lho, punya Oom jenius, wajib disyukuri. Apalagi soal penyidikan. Kan tahu sendiri kalau kita tidak bisa ikut tim gabut?" cengir Kenzie. "Aku kalau soal kesehatan, insyaallah paham lah!"
"Gimana kamu nggak paham? Sejak brojol sudah dijejali soal anatomi," kekeh Sheva. "Mbak Lilis yang bilang."
"Ya kan Papa lebih paham itu daripada soal gradasi warna," senyum Kenzie. "Baby yang bilang."
"Oke, aku sudah masuk!" ucap Zane.
Tiba-tiba suara bel tanda istirahat selesai berbunyi membuat ketiga remaja itu saling berpandangan dengan sebal.
"Kenapa waktunya cepat sekali sih!" seru Sheva kesal.
Kenzie melihat ke arah Jayengrana yang sudah masuk sekolah. Dia pun menghampiri temannya yang kena tendang adiknya.
"Jay! Sudah mendingan?" tanya Kenzie.
"Alhamdulillah sudah," senyum Jay.
"Maafkan Elina ya. Dia tidak bermaksud membuat kamu terluka."
Jay tersenyum. "Tidak apa-apa. El juga sudah minta maaf sama aku kok."
Kenzie mengangguk. "Ah, baguslah. Sekali lagi, maafkan adikku ya."
***
SMP XXX
Mobil dinas kepolisian berhenti di halaman sebuah SMP tua yang mulai sepi karena jam pelajaran telah usai. Pagar besi berderit pelan saat dibuka oleh petugas keamanan sekolah.
Brigjen Victor turun lebih dulu, disusul AKBP Teguh yang membawa map berisi dokumen penyelidikan.
"Pastikan tidak ada yang masuk ke area belakang sebelum tim forensik datang," ujar Brigjen Victor kepada anggotanya.
"Siap, Jenderal."
Beberapa menit kemudian, kepala sekolah, Pak Hari, datang dengan wajah pucat. Dia berkali-kali meremas sapu tangan di tangannya.
"Ada yang bisa kami bantu, Pak?" tanyanya gugup.
Brigjen Victor memperlihatkan surat perintah penyelidikan.
"Kami mendapat informasi bahwa gudang lama di belakang sekolah pernah disewa oleh sekelompok orang. Kami ingin mengetahui siapa penyewanya."
Pak Hari menarik napas panjang.
"Benar, Pak. Sekitar beberapa bulan lalu ada rombongan yang datang. Mereka mengaku dari sebuah instansi seni milik pemerintah. Mereka bilang membutuhkan tempat untuk menyimpan properti pameran dan perlengkapan pertunjukan." Hari mencari data kerjasama sewa.
AKBP Teguh langsung mencatat. "Apakah Bapak melihat identitas mereka?"
"Mereka membawa surat, lengkap dengan kop instansi dan cap. Semua terlihat resmi. Karena gudang itu memang sudah lama tidak dipakai sekolah, kami mengizinkan mereka menyewa." Hari memberikan map yang disimpan di lemari arsip.
"Berapa lama mereka menggunakan gudang itu?" tanya Brigjen Victor.
"Hampir enam bulan. Mereka jarang datang siang hari. Biasanya malam atau menjelang subuh ada truk keluar masuk. Kami mengira mereka sedang memindahkan perlengkapan seni."
Brigjen Victor dan AKBP Teguh saling berpandangan.
"Setelah masa sewanya habis?" tanya AKBP Teguh.
"Mereka pergi begitu saja. Gudang dikosongkan. Kami tidak pernah curiga. Karena uang sewa sudah dibayarkan lunas untuk dua tahun," jawab Hari. "Ini ada datanya semua, Pak."
Brigjen Victor menerima map itu dan melihat perjanjian sewa menyewa. Nama Hari ada di sana sebagai 'yang mengetahui' tapi yang menandatangani adalah bendahara sekolah bernama Edi Hidayat.
"Siapa yang menandatangani perjanjian sewanya?" tanya Brigjen Victor. "Disini ada nama Anda dan bendahara. Tapi dari pihak penyewa, ada nama Sugiyono. Anda pernah berhubungan dengan pria ini?"
Pak Hadi menggeleng pelan. "Yang datang mengaku Sugiyono, menggunakan nama instansi itu. Belakangan kami tidak pernah bisa menghubungi nomor yang tercantum. Saya mulai berpikir mungkin identitas mereka dipalsukan."
AKBP Teguh menutup mapnya. "Kalau begitu, kami akan memeriksa gudang tersebut secara menyeluruh. Kami juga akan memverifikasi apakah instansi pemerintah yang disebutkan benar-benar pernah menyewa tempat ini atau hanya dicatut namanya."
Pak Hadi mengangguk dengan wajah semakin tegang.
Brigjen Victor melangkah menuju gudang tua yang catnya mengelupas. Gembo yang sudah diganti oleh AKBP Teguh setelah mereka kesana sebelumnya, segera dibuka oleh petugas. Saat pintu besi didorong perlahan, aroma lembap langsung menyeruak keluar.
Brigjen Victor mengamati ruangan itu dengan tajam.
"Jika kata Sanji musuhnya Zoro itu benar, Akbar dipindahkan kemari setelah dibunuh di tempat lain, kita harus tahu, dimana Akbar dibunuh sebenarnya dan apa motifnya!" ucap suami Jaksa Sandra itu.
***
Yuhuuuu up malam Yaaaaa
thank you for reading and support author
don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
semangat berkarya mbak Hana...jangan lupa istirahat dan healing..
Hajar aja lah Dok Lucky 😄😄
udh kthuan aibnya,msih usaha buat jd pebinor.....cckkk....ga tau malu....🙄🙄🙄
blm tau dia kl mslh aib mh urusn gmpang,tnggal mnta tlong sm kluarganya....wasalam dehhh.....😛😛😛