NovelToon NovelToon
Akar Yang Menembus Langit

Akar Yang Menembus Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi / Action
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: cldazxx

Cerita ini bukan tentang siapa yang tercepat menjadi terkuat, melainkan tentang bagaimana seseorang yang dianggap paling lemah belajar memahami kekuatan yang sesungguhnya: kesabaran, ketahanan, kemampuan menahan badai tanpa tumbang, dan perlahan tumbuh melampaui batas yang dianggap mustahil oleh semua orang. Ia akan bertemu teman yang setia, menghadapi musuh yang meremehkannya, dan akhirnya mengungkap mengapa jalan kuno itu dihapus dari sejarah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cldazxx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Tekanan Sejuta Jin

Kehadiran Meng Tianxiong di tengah arena seolah mengubah udara menjadi batu cair. Ribuan penonton terdiam serempak, bahkan mereka yang duduk di tribun paling atas pun merasa sulit mengangkat tangan, seolah ada beban tak kasat mata menindih seluruh tubuh mereka. Aura tingkat Kelahiran Roh bukan sekadar kekuatan fisik—ia adalah tekanan jiwa yang bisa meremukkan semangat lawan sebelum pertarungan pun dimulai.

Meng Tianxiong melangkah perlahan mendekati Lin Mo. Setiap langkahnya membuat lantai batu di bawah kakinya retak halus, menyebar seperti jaring laba-laba ke seluruh arena.

"Kau pikir mengalahkan anakku berarti kau sudah layak menentang Keluarga Meng?" suaranya rendah namun bergema di telinga setiap orang. "Anak muda yang sombong... kau belum tahu seberapa besar selisih antara fondasi dan puncak gunung."

Ia mengulurkan satu telapak tangan kosong, tanpa senjata. Namun bayangan raksasa palu batu muncul di atas kepalanya, menimbulkan bayangan gelap yang menutupi seluruh arena.

"Teknik Terlarang: Palu Menekan Negeri!"

Tekanan yang berlipat ganda tiba-tiba menghantam Lin Mo. Bukan serangan yang datang dari luar, melainkan beban yang menembus langsung ke dalam tulang dan darah—seolah ada gunung batu yang penuh dijatuhkan tepat di atas pundaknya. Diperkirakan kekuatan ini setara dengan lebih dari satu juta jin.

Banyak penonton yang tidak kuat menahan tekanan itu, jatuh berlutut dan memuntahkan darah. Lin Mo sendiri terasa seolah tulang-tulangnya akan hancur seketika. Lututnya tertekuk, kakinya menekan lantai batu hingga amblas sedalam satu jengkal. Darah menetes dari sudut bibirnya, namun matanya tetap terbuka lebar, tidak menatap lawan dengan takut, melainkan menatap tanah di bawahnya dengan tekad membara.

"Akar tidak lari dari beban," bisiknya dalam hati. "Ia justru tumbuh lebih dalam agar bisa menopang beban yang lebih berat."

Ia tidak mencoba melawan tekanan itu dengan mendorong ke atas. Sebaliknya, ia menyalurkan seluruh kekuatan yang dimilikinya ke telapak kaki, menyebarkan kesadarannya menembus lapisan lantai arena, menembus tanah keras di bawah akademi, terus turun hingga menyentuh lapisan batuan dasar yang dingin dan kokoh.

Di benaknya, ia tidak lagi melihat dirinya sebagai seorang anak kecil yang berdiri di atas batu. Ia melihat dirinya sebagai sebatang pohon raksasa: batangnya menahan beban gunung di atas, sementara akarnya menyebar luas, mencengkeram batuan dasar sedalam ribuan zhang, membagi beban yang mustahil itu ke seluruh fondasi bumi.

Retakan yang tadinya menyebar dari kaki Meng Tianxiong kini berhenti tepat di garis di mana Lin Mo berdiri. Lantai batu di sekitarnya justru menjadi semakin padat, semakin kokoh, seolah seluruh kekuatan bumi di bawah sana sedang naik untuk menopangnya.

Perlahan, lutut Lin Mo yang tadinya tertekuk mulai lurus kembali. Punggungnya yang tadinya membungkuk kini tegak lurus, seolah tidak ada beban sama sekali di pundaknya.

"Impossibel!" Meng Tianxiong terbelalak tak percaya. "Tekanan sejuta jin... kau bahkan belum mencapai tingkat Kelahiran Roh! Bagaimana kau bisa menahannya tanpa hancur?!"

"Karena kau hanya menumpuk beban di atas pundakku," jawab Lin Mo dengan suara sedikit parau namun jelas. "Sedangkan aku... membagi beban itu ke seluruh dunia yang menopangku."

Ia mengangkat tangan kanannya perlahan, lalu menekannya ke bawah seolah sedang menekan tanah.

"Kau ingin melihat palu? Maka rasakanlah palu yang sesungguhnya!"

Tanah di seluruh arena bergetar hebat. Bayangan yang tadinya berupa palu di atas kepala Meng Tianxiong kini bergeser, berubah menjadi bayangan akar raksasa yang naik dari bawah tanah, melilit erat kaki Meng Tianxiong hingga ke pinggang.

Meng Tianxiong merasa kakinya tiba-tiba tertanam dalam batu yang paling keras. Ia mencoba menarik kaki, namun tidak bergerak satu milimeter pun. Selama ribuan tahun berlatih, belum pernah ia merasakan ikatan yang sekuat ini—seolah kakinya sudah menyatu dengan inti bumi.

"Apa yang kau lakukan?!" teriaknya panik.

"Menunjukkan bahwa tanah tidak hanya untuk diinjak," jawab Lin Mo tenang. "Tapi juga untuk menahan siapa saja yang lupa daratan."

Ia menekan telapak tangannya ke bawah sekali lagi.

Duar!!!

Meng Tianxiong terjatuh berlutut di atas lantai batu. Wajahnya merah padam, urat-urat di lehernya menonjol, dan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Ia tidak bisa bangkit, tidak bisa melepaskan diri—kekuatan yang menahannya bukanlah kekuatan untuk melukai, melainkan kekuatan kestabilan mutlak yang membuat segala gerakannya menjadi sia-sia.

Lin Mo berjalan perlahan mendekatinya. Ia tidak menyerang, tidak membalas dendam. Ia hanya berdiri di depannya, menatapnya dengan tenang.

"Ini baru tingkat Menguatkan Tulang Bumi," katanya pelan namun tegas. "Bayangkan jika aku sudah sampai ke puncak Jalan Akar. Apakah kau pikir dengan menekan orang lain, kau bisa menjadi lebih tinggi? Atau kau hanya akan semakin tenggelam saat fondasimu runtuh?"

Kata-kata itu menembus ke dalam hati Meng Tianxiong. Selama ini ia mengira kekuatan berarti bisa menindas siapa saja, bisa merampas apa saja. Namun di hadapan anak muda ini, ia baru menyadari betapa rapuhnya kekuatan yang tidak berakar di kebenaran.

Lin Mo menurunkan tangannya. Ikat akar di tanah perlahan terlepas. Meng Tianxiong jatuh terguling ke samping, napasnya terengah-engah, tatapannya kosong. Ia tahu hari ini ia tidak kalah dalam pertarungan kekuatan—ia kalah dalam pemahaman tentang hakikat kekuatan itu sendiri.

Lin Mo menoleh ke arah tribun. Tatapannya menyapu seluruh penonton yang masih terpaku diam.

"Aku tidak membenci Keluarga Meng," ucapnya lantang agar semua mendengar. "Tapi aku tidak akan membiarkan siapa pun menghapus jalan yang menjaga dunia ini. Jika kalian mau berdamai dan belajar bersama, pintuku terbuka. Jika masih ingin bermusuhan... ingatlah: batu yang paling keras pun akhirnya akan hancur oleh akar yang tak pernah menyerah."

Ia berbalik dan berjalan keluar dari arena. Tidak ada yang berani menghalanginya. Tidak ada ejekan, tidak ada teriakan—hanya keheningan penuh rasa hormat dan kekaguman yang perlahan tumbuh di hati setiap orang yang melihatnya hari ini.

Di balik pilar arena, Guru Yu tersenyum haru. Kepala Sekolah mengangguk pelan. Bahkan Zhang Hao yang selama ini membenci Lin Mo hanya bisa menunduk dalam rasa malu.

Mereka baru menyaksikan awal dari sebuah perubahan besar. Seorang anak yang dianggap sampah, kini baru saja menanam benih perubahan di tanah yang paling keras sekalipun.

 

1
Anime aikō-kā
Akar Yang Menembus Langit
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!