Dominic Enzo Salvatore terus mencari kekasih nya yang menghilang sudah 6 tahun lebih ini. Akibat salah paham dimana waktu itu kekasihnya Isabella Laurent.
Halo semua nya...ini adalah karya pertama yang yang saya buat. Saya sangat berharap kalian para readers suka dengan cerita yang saya buat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mel R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Homescooling saja
Setelah dari kamar Damian, Dominic kembali ke kamar yang di tempati istrinya. Ia melihat Isabella sudah kembali tertidur. Dominic mendekati istrinya.
Masih melihat di wajah nya ada sisa-sisa air mata. Hatinya rasa nya terasa sakit sekali. Katakan ia cengeng kalau terhadap Isabella. Dan faktanya memang seperti itu.
Cinta nya terlalu besar kepada Isabella.
"Maaf sayang" Entah sudah beribu kali maaf yang terucap di bibirnya. Tapi itu tidak akan bisa menembus rasa bersalah nya kepada istrinya.
Dominic ikut berbaring di samping istrinya. Dengan melihat wajah istrinya yang tanpa ada riasan.
"Semua tidak sesederhana yang kamu kira istriku." Dominic mengelus pipi Isabella. Hal itu membuatnya terusik.
"Dom..." lirih Isabella yang menatap Dominic juga.
"Sayang" Ucap Dominic dengan tersenyum.
Cup...
"Bagaimana dengan Damian?" tanya Isabella.
"Putra kita baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir."
"Syukurlahh, aku cuma khawatir." lega Isabella. Ia pun memeluk suaminya.
"Aku mengerti dengan perasaan mu istriku. Putraku kita akan selalu baik-baik saja." Dominic mengambil tangan istrinya lalu ia cium.
Sejenak dunia seolah berhenti. Kehangatan ini Dominic tidak ingin akhiri. Sampai Dominic tidak sadar kalau ia sudah tertidur.
Isabella memandang wajah suaminya yang tertidur damai. Wajah tampan dan tegas, tampak terlihat sangat kelelahan sekali.
Isabella merasa kasihan. Tanggung jawab nya begitu besar, kata ibarat seluruh kota ini bernaung di bawah nya. Nasib ribuan orang ada padanya. Tapi sebagai gantinya nyawa nya lah menjadi taruhan nya.
"Kamu harus kuat, kami ada disini. Aku dan Damian putra kita." Gumam Isabella.
Sekarang dirinya tidak bisa tidur lagi. Isabella hanya bisa menatap suaminya yang tertidur. Mau keluar saja masih tidak aman, di tambah dirinya juga masih belum bisa berjalan normal.
Malam harinya...
Damian, Dominic dan Isabella sedang makan malam. Isabella bersikeras untuk ikut makan malam bersama padahal Dominic sudah melarang.
"Sayang nya Mommy, mau nambah lagi nak?" Tanya Isabella.
"Mau mom" angguk Damian. Isabella tersenyum. Isabella langsung menambah isi piring Damian.
Semua makan dengan diam. Karena Dominic kalau sedang makan tidak boleh ada suara. Boleh kalau cuma sesekali saja.
"Damian" Panggil Dominic setelah selesai makan.
"hmm iya" Jawab Damian sambil melihat ke arah Dominic. Karena saat ini ia sedang minum.
"Sekolah kamu homescooling saja."
"Kenapa?" kini Isabella yang bertanya.
"Demi keamanan Damian Sayang. Aku tidak mau mengambil resiko apapun itu.
Isabella menghela napas panjang, menatap suaminya dengan tatapan khawatir. "Dominic, apa tidak berlebihan?" Dirinya takut kalau Damian tidak menyukai nya.
Mendengar suara istrinya, gurat tegang di wajah Dominic seketika mencair. Ia menoleh ke arah Isabella, meraih jemari wanita itu, lalu mengusapnya dengan sangat lembut.
"Aku tahu ini terkesan mendadak, Sayang," ucap Dominic, suaranya berubah menjadi begitu lembut dan penuh kasih, sangat kontras dengan auranya beberapa detik lalu. "Tapi tolong mengerti. Aku hanya tidak ingin mengambil risiko sekecil apa pun yang bisa membahayakan keluarga kita. Aku tidak akan pernah siap jika harus kehilangan salah satu dari kalian."
Isabella terdiam, tatapan hangat dan penuh perlindungan dari suaminya selalu berhasil melunakkan hatinya.
Namun, begitu Dominic memalingkan wajahnya kembali ke arah Damian, kelembutan itu lenyap tanpa bekas. Tatapannya kembali menajam, dingin, dan penuh otoritas seorang kepala keluarga yang tidak menerima bantahan.
"Dan untuk kamu, Damian anakku" kata Dominic dengan nada suara yang berat, tegas, dan menuntut kepatuhan mutlak. "Ini bukan sebuah penawaran atau diskusi yang bisa kamu negosiasikan. Mulai beosk, semua jadwal homeschooling-mu sudah siap."
Damian menurunkan gelasnya perlahan. Ia bisa merasakan intimidasi nyata dari sang Daddy. "Tapi Daddy, aku bisa menjaga diri. Bukankah pengawal di sekelilingku sudah cukup?" Damian sedikit keberatan dengan perkataan Daddynya.
"Cukup menurutmu, tapi tidak menurut Daddy!" potong Dominic tegas, membuat suasana di ruang makan seketika senyap. "Dunia di luar sana tidak seaman yang kamu bayangkan, Damian. Satu kecerobohan kecil darimu bisa berakibat fatal bagi kita semua. Tugasmu sekarang hanya belajar dan patuh. Mengerti?"
"Baiklah aku mengerti" Angguk Damian. Lagi pula Daddy nya benar. Ini semua demi keselamatan bersama.
"Maaf Son, tunggu sampai keadaan membaik dulu." Dominic tahu kalau Damian memang sangatlah pengertian.
"Kembali lah ke kamar anakku. Istirahat" Ujar Dominic kembali. Damian benar-benar sangat patuh. Tanpa aba-aba Damian langsung beranjak dari duduk nya untuk kembali ke kemar nya.
Setelah Dominic selesai berbicara dengan Damian, ia langsung bangkit dari kursinya dan berjalan memutari meja makan menuju tempat Isabella duduk. Tanpa perlu banyak kata, Dominic membungkuk, dengan sigap dan penuh kehati-hatian mengangkat tubuh istrinya ke dalam gendongannya.
Isabella secara refleks mengalungkan kedua tangannya di leher Dominic, menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami saat mereka mulai bergerak meninggalkan ruang makan.
Begitu pintu kamar utama yang kokoh di lantai atas tertutup rapat, menyisakan mereka berdua dalam privasi penuh, ketegangan yang sejak tadi ditahan oleh Dominic tampak runtuh. Ia melangkah menuju tempat tidur berukuran besar di tengah ruangan, lalu menurunkan Isabella dengan sangat lembut, memastikan punggung istrinya bersandar nyaman pada tumpukan bantal.
Dominic berlutut di tepi ranjang, sejajar dengan posisi duduk Isabella. Ia meraih kedua tangan istrinya, menggenggamnya erat seolah menyalurkan seluruh rasa lelah yang dipendamnya sejak tadi.
"Kamu terlalu keras pada Damian tadi, Dominic," ucap Isabella lirih, menatap mata suaminya.
Dominic menghela napas berat, lalu mengecup punggung tangan Isabella dengan takzim. "Aku tahu, Sayang. Aku tahu," bisik Dominic, suaranya terdengar lelah, sangat berbeda dengan suara tegas yang ia gunakan di meja makan tadi. "Tapi Damian anak yang cerdas. Jika aku tidak bersikap tegas dan mutlak, dia akan terus mencari celah untuk menolak. Aku tidak bisa membiarkan dia berada di luar sana saat situasi sedang tidak terkendali seperti sekarang."
Isabella mengusap rahang tegas suaminya dengan jemarinya yang bebas, mencoba mengurai ketegangan di wajah pria itu. "Aku tahu kamu ingin melindunginya. Dan Damian... dia orangnya sangat pengertian. Damian langsung menerima keputusanmu tanpa mendebat lagi setelah kamu menjelaskannya."
Dominic memejamkan mata sejenak, menikmati sentuhan hangat istrinya yang selalu bisa meredakan badai di kepalanya. Ketika ia membuka mata, tatapannya dipenuhi rasa bersalah sekaligus rasa bersyukur yang sangat mendalam.
"Itulah yang membuatku terkadang merasa bersalah. Damian terlalu baik untuk dunia yang kacau ini," ujar Dominic lirih. Ia kemudian bangkit dan duduk di sisi ranjang, menarik Isabella lembut ke dalam pelukannya, mencari kekuatan dari satu-satunya wanita yang menjadi tempatnya bersandar di tengah ancaman yang sedang mengepung mereka.