Alena Kirana adalah seorang aktris papan atas yang berada di puncak popularitasnya. Namun,
sebuah kesalahan yang terjadi di satu malam yang dilakukan bersama seorang pria misterius yang ternyata adalah sutradara
sekaligus pewaris tunggal konglomerat dan sangat kejam kepada wanita yg berani menganggu hidupnya, Adrian Dewangga. Ketakutan akan hancur karirnya tidak dia pedulikan asalkan dia selamat dari pria ini . Alena memilih mengundurkan diri dan menghilang total dari panggung hiburan, bersembunyi sangat jauh dari orang-orang yang dia kenal.
Di sana, dia hidup dalam kesunyian, dia melahirkan dan membesarkan dua anak perempuan kembar yang cantik Kiara dan Kiana. Enam tahun berlalu, rahasia yang terkunci rapat itu mulai koyak ketika takdir
membawa Adrian kembali ke hadapannya, menuntut jawaban atas malam kelam yang tak pernah bisa dia lupakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Jaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sakramen Di dalam Sangkar Emas
Pagi hari di kawasan Menteng selalu diawali dengan kicau burung yang bersahutan dari balik pohon-pohon peneduh yang rindang. Namun, bagi Alena, keindahan pagi itu tidak mampu mengusir kabut kelabu yang menggelayuti hatinya. Ia berdiri di depan cermin besar di dalam kamar tamu sayap barat, menatap pantulan dirinya yang sudah mengenakan kebaya putih brokat sederhana tanpa payet yang berlebihan. Riasan wajahnya sangat tipis, hanya sapuan bedak tabur dan lipstik berwarna salem yang natural. Tidak ada penata rias terkenal, tidak ada penata busana yang sibuk membetulkan ekor gaun, dan tidak ada jurnalis yang menunggu di depan pintu. Everything was quiet. Terlalu tenang untuk sebuah hari yang seharusnya menjadi momen paling sakral dalam hidup seorang wanita.
Hari ini, Alena Putri akan resmi melepas masa lajangnya. Bukan di atas altar sebuah gereja megah atau di dalam gedung pertemuan mewah yang dihadiri ribuan undangan, melainkan di dalam ruang kerja pribadi Adrian yang telah disulap menjadi tempat akad nikah darurat.
Ketukan pelan di pintu membuyarkan lamunan Alena. Bi Asih menyembulkan kepalanya dengan senyuman hangat yang tulus. "Nona Alena, Petugas Pencatatan Sipil dan pemuka agama sudah tiba di bawah. Tuan Adrian juga sudah menunggu. Mari, saya antar."
Alena menarik napas dalam-dalam, merasakan dadanya sesak selama beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk. "Baik, Bi. Terima kasih."
Dengan langkah yang perlahan, Alena berjalan menyusuri koridor rumah. Setiap ketukan tumit sepatunya di atas lantai kayu seolah-olah menghitung mundur sisa kebebasannya sebagai seorang individu yang mandiri. Ketika ia melangkah masuk ke dalam ruang kerja Adrian yang luas, ia mendapati ruangan itu sudah diatur sedemikian rupa. Sebuah meja kayu panjang diletakkan di tengah ruangan, diapit oleh beberapa kursi. Di sana sudah duduk seorang pemuka agama dengan pakaian jubah putihnya, seorang petugas dari kantor catatan sipil yang mengenakan seragam dinas, serta Baskara yang bertindak sebagai saksi hukum dari pihak Adrian.
Adrian sendiri sudah berdiri di samping meja. Pria itu mengenakan setelan jas formal berwarna hitam dengan kemeja putih bersih dan dasi senada. Rambutnya ditata rapi, memberikan kesan seorang pria matang yang siap memikul tanggung jawab besar. Ketika mata mereka bertemu, Adrian memberikan sebuah anggukan kecil yang sarat akan ketenangan—sebuah gestur yang secara ajaib berhasil meredakan sedikit rasa badai di dalam dada Alena.
"Silakan duduk, Nona Alena," ujar pemuka agama dengan ramah.
Alena mengambil tempat duduk di samping Adrian. Jarak di antara mereka hanya berkisar beberapa sentimeter, membuat Alena bisa mencium kembali aroma parfum maskulin khas Adrian yang kini terasa lebih menenangkan daripada menakutkan. Prosesi dimulai dengan pembacaan beberapa doa kesaksian. Suasana di dalam ruangan itu begitu hening, hanya terdengar suara parau sang pemuka agama yang menggema di antara dinding-dinding buku yang tinggi.
Ketika tiba saatnya mengucapkan janji pernikahan, Adrian memegang tangan Alena. Telapak tangan pria itu terasa hangat dan stabil, kontras dengan tangan Alena yang sedingin es.
"Saya, Adrian Dewangga, mengambil engkau, Alena Putri, menjadi istri saya yang sah. Untuk saling memiliki dan menjaga, dalam suka maupun duka, dalam kelimpahan maupun kekurangan, mulai hari ini dan seterusnya, demi kehormatan nama keluarga dan janji yang saya ikrarkan," ucap Adrian dengan suara berat yang terdengar sangat lantang, tegas, dan tanpa ada keraguan sedikit pun.
Alena menelan ludahnya yang terasa kelat. Ia menatap langsung ke dalam manik mata Adrian sebelum mengucapkan bagian janjinya. "Saya, Alena Putri, menerima engkau, Adrian Dewangga, menjadi suami saya yang sah... Untuk setia mendampingi, menghormati, dan bersama-sama menjaga kehidupan yang diamanahkan kepada kita, mulai hari ini dan selama hayat dikandung badan."
"Sah."
Kata itu diucapkan secara bersamaan oleh Baskara dan seorang saksi lainnya. Dengan satu kata pendek tersebut, seluruh garis takdir Alena telah resmi berubah. Di hadapan hukum negara dan di hadapan Tuhan, ia kini bukan lagi milik publik, bukan lagi milik agensi Star Media, melainkan istri sah dari Adrian Dewangga.
Setelah petugas pencatatan sipil dan pemuka agama pamit meninggalkan rumah dengan kawalan ketat tim keamanan agar tidak membocorkan lokasi, ruangan kerja itu kini hanya menyisakan Alena, Adrian, dan Baskara. Pengacara senior itu mengeluarkan sebuah dokumen baru dari dalam tas kulitnya yang tebal dan meletakkannya di atas meja kaca.
"Tuan Adrian, Nona Alena, sesuai dengan instruksi sebelum prosesi akad tadi, ini adalah draf akhir dari Perjanjian Pranikah atau *Pre-Nuptial Agreement* yang telah kita sesuaikan dengan kondisi terkini," ujar Baskara seraya membuka lembar pertama dokumen tersebut.
Alena mengernyitkan keningnya. Di dunia hiburan, perjanjian pranikah adalah hal yang lumrah, terutama bagi kalangan konglomerat untuk melindungi aset korporasi mereka dari tuntutan gono-gini jika terjadi perceraian di masa depan. Alena sudah bersiap jika dirinya harus menandatangani pasal-pasal yang menyatakannya tidak berhak atas satu rupiah pun dari kekayaan keluarga Dewangga Group.
"Silakan ditinjau terlebih dahulu, Nona Alena," lanjut Baskara, menggeser dokumen itu ke arah Alena. "Pasal pertama menegaskan tentang pemisahan harta kekayaan yang jelas antara milik pribadi Tuan Adrian dan Nona Alena sebelum dan selama pernikahan berlangsung. Namun, ada klausul khusus yang ditambahkan oleh Tuan Adrian di Pasal Empat."
Alena membaca baris demi baris tulisan hukum yang kaku tersebut. Matanya terbelalak terkejut ketika membaca isi Pasal Empat.
“Pihak Pertama (Adrian Dewangga) berkomitmen untuk menyediakan dana perwalian khusus (Trust Fund) atas nama Pihak Kedua (Alena Putri) sebesar seratus miliar rupiah yang akan dicairkan secara bertahap sejak penandatanganan perjanjian ini. Dana ini bersifat mutlak milik Pihak Kedua dan tidak dapat diganggu gugat oleh pihak keluarga besar Dewangga Group, sebagai jaminan perlindungan finansial dan masa depan anak yang dikandung.”
Alena langsung menoleh ke arah Adrian dengan tatapan tidak percaya. "Adrian... apa arti dari semua ini? Seratus miliar? Ini terlalu banyak. Aku menandatangani surat pemutusan kontrak kemarin bukan untuk memeras uangmu atau keluargamu. Aku hanya ingin perlindungan hukum dari Siska."
Adrian yang sedang menuangkan air putih ke dalam gelasnya menatap Alena dengan ekspresi wajah yang tetap tenang. "Aku tahu kamu tidak sedang memerasku, Alena. Jika kamu wanita matre yang mengejar harta, kamu sudah sejak lama menerima tawaran para pengusaha hitam di luar sana untuk menjadi simpanan mereka. Uang itu bukan untuk membayarmu, melainkan sebagai bentuk jaminan nyata."
Adrian duduk kembali di kursinya, melipat kedua tangannya di atas meja. "Keluarga besarku, terutama ayahku, adalah orang-orang korporasi yang sangat kejam jika menyangkut masalah nama baik dan kepemilikan aset. Pernikahan mendadak kita ini telah memicu kemarahan besar di internal dewan komisaris Dewangga Group. Siska juga masih berkeliaran di luar sana dengan membawa informasi medikmu.
Jika suatu hari nanti situasi memburuk, dan ayahku mencoba menggunakan kekuasaan bisnisnya untuk memisahkan kita secara paksa atau merebut hak asuh anak itu darimu, dana perwalian itu akan memastikan bahwa kamu memiliki kekuatan finansial yang cukup untuk menyewa pengacara terbaik di dunia dan hidup mandiri tanpa perlu takut miskin."
Alena tertegun mendengarnya.
Di balik penampilannya yang dingin dan kaku, Adrian ternyata telah memikirkan langkah antisipasi sejauh itu untuk melindunginya dari potensi ancaman yang bahkan belum terlintas di dalam kepala Alena sendiri. Pria ini tidak hanya melindunginya dari Siska, tetapi juga bersiap melindunginya dari keluarganya sendiri.
"Bagaimana dengan hak asuh anak?" tanya Alena pelan, membalik lembaran kertas menuju pasal berikutnya.
"Pasal Lima menyatakan bahwa hak asuh anak berada sepenuhnya di tangan kita bersama selama kita terikat dalam pernikahan," sahut Baskara menjelaskan. "Namun, jika terjadi perpisahan di masa depan, hak asuh utama atas anak yang berusia di bawah delapan belas tahun akan jatuh secara otomatis kepada Nona Alena, dengan Pihak Pertama tetap menanggung seluruh biaya pendidikan dan kesehatan hingga anak tersebut dewasa."
Alena menarik napas lega. Ketakutan terbesarnya—bahwa keluarga konglomerat Dewangga akan merebut bayinya begitu lahir ke dunia—kini telah dipatahkan oleh dokumen hukum ini. Ia mengambil pena hitam yang disodorkan oleh Baskara, lalu menorehkan tanda tangannya di atas kertas tersebut, diikuti oleh goresan tanda tangan Adrian di sampingnya.
"Perjanjian ini sah dan akan segera saya daftarkan ke pengadilan negeri agar memiliki kekuatan hukum tetap yang mengikat," ujar Baskara seraya merapikan kembali berkas-berkasnya. "Selamat atas pernikahan kalian, Tuan, Nona. Saya pamit undur diri."
Malam harinya, rumah besar di kawasan Menteng itu kembali tenggelam dalam kesunyian. Setelah makan malam yang canggung di meja makan yang panjang di mana mereka hanya bertukar beberapa patah kata tentang jadwal pemeriksaan kandungan minggu depan Alena memilih untuk langsung kembali ke kamarnya di sayap barat.
Ia duduk di tepi tempat tidur besar, menatap gaun kebayanya yang kini sudah tergantung rapi di dalam lemari pakaian. Rasa mual di perutnya kembali datang, kali ini disertai dengan rasa nyeri di bagian pinggang bagian bawah sebuah gejala umum bagi wanita yang sedang hamil muda pada trimester pertama. Alena memijat perutnya perlahan, mencoba mengusir rasa tidak nyaman tersebut.
Tiba-tiba, terdengar ketukan pelan di pintu kamarnya.
Alena berdiri dan membuka pintu. Di balik pintu, Adrian berdiri dengan mengenakan pakaian santai sebuah kaus oblong hitam polos dan celana kain panjang abu-abu. Di tangan kanannya, ia membawa sebuah nampan kecil yang berisi semangkuk sup ayam hangat yang masih mengepulkan uap dan segelas teh jahe madu.
"Bi Asih bilang kamu tidak menghabiskan makan malammu tadi karena mengeluh mual," ujar Adrian agak kaku, menyodorkan nampan tersebut ke hadapan Alena. "Aku meminta Bi Asih membuatkan sup ayam jahe ini. Rempah jahenya bisa membantu meredakan rasa mual di perutmu."
Alena sempat tertegun melihat perhatian kecil yang ditunjukkan oleh pria yang kini telah resmi menjadi suaminya itu. Ia menerima nampan tersebut dengan canggung. "Terima kasih, Adrian. Kamu tidak perlu repot-repot mengantarkannya sendiri. Bi Asih bisa menyimpannya di dapur."
"Aku yang ingin mengantarkannya," potong Adrian pendek. Ia melirik ke dalam kamar Alena yang tampak rapi namun terasa sangat sepi. "Bolehkah aku masuk sebentar? Ada hal pribadi yang ingin aku bicarakan, di luar masalah hukum atau dokumen pranikah tadi."
Alena ragu sejenak, namun akhirnya ia melangkah mundur, memberikan ruang bagi Adrian untuk masuk. Alena meletakkan nampan sup di atas meja kopi kecil di dekat jendela, lalu duduk di sofa tunggal. Adrian memilih untuk tetap berdiri, bersandar pada pilar ranjang tempat tidur besar, menjaga jarak yang sopan di antara mereka.
"Apa yang ingin kamu bicarakan, Adrian?" tanya Alena membuka percakapan.
Adrian menatap Alena dengan pandangan mata yang dalam, sebuah tatapan yang tidak lagi menyembunyikan kelelahan psikologis yang ia rasakan sepanjang hari ini. "Alena... aku ingin kita membuat sebuah kesepakatan moral di antara kita berdua, di dalam rumah ini."
"Kesepakatan moral seperti apa?"
"Pernikahan ini dimulai karena sebuah insiden yang tidak kita inginkan. Kita tidak saling mencintai, dan kita terikat karena tanggung jawab hukum dan perlindungan terhadap anak itu," ujar Adrian dengan suara rendah namun jelas. "Di luar sana, di depan kamera jurnalis, di depan publik, kita harus berakting menjadi pasangan suami istri yang sempurna. Kita harus bergandengan tangan, tersenyum, dan menampilkan ilusi kebahagiaan demi meredam rumor negatif. Tapi di dalam rumah ini, di balik pintu gerbang besi itu... aku tidak ingin kita terus bersandiwara."
Adrian menjeda kalimatnya, menarik napas dalam sebelum melanjutkan. "Aku tidak akan menuntut hak-hak sebagai seorang suami biologis darimu jika kamu tidak mengizinkannya. Aku tidak akan memaksamu untuk mencintaiku atau bersikap manja layaknya istri sungguhan. Aku ingin kita memperlakukan satu sama lain sebagai rekan tim.
Tim yang memiliki satu tujuan utama: memastikan anak ini tumbuh dengan sehat dan aman dari segala ancaman di luar sana."
Alena mendengarkan setiap patah kata yang keluar dari mulut Adrian dengan saksama. Ada rasa lega yang amat sangat menyelimuti hatinya mendengar pernyataan tersebut. Ketakutan terbesarnya bahwa pernikahan ini akan berubah menjadi bentuk penindasan domestik atau pemaksaan kehendak dari pihak pria kini sirna. Adrian menghormati batasan pribadinya, menghormati kerapuhan emosionalnya, dan menawarkan sebuah kemitraan yang adil di tengah situasi pelik ini.
"Aku setuju dengan kesepakatan itu, Adrian," jawab Alena dengan suara yang mantap, menatap lurus ke dalam mata pria itu. "Di dalam rumah ini, kita adalah rekan tim. Kita akan saling menghormati privasi masing-masing, dan kita fokus pada keselamatan anak ini."
Adrian mengangguk, sebuah senyuman tipis yang tulus akhirnya muncul di wajahnya yang tampan. "Terima kasih atas pengertianmu, Alena. Minumlah teh jahe itu sebelum dingin. Jika rasa nyerimu bertambah parah, langsung hubungi aku melalui interkom. Besok pagi, tim dokter spesialis kandungan dari Rumah Sakit Pusat Keluarga Dewangga akan datang ke rumah ini untuk melakukan pemeriksaan USG pertama secara tertutup. Kita akan melihat bagaimana kondisi anak kita untuk pertama kalinya."
"Baik, aku mengerti," ujar Alena lembut.
Adrian berjalan menuju pintu, namun sebelum ia memutar knop pintu, ia membalikkan badannya kembali menatap Alena. "Selamat malam, Alena. Selamat tidur."
"Selamat malam, Adrian," balas Alena.
Pintu kamar sayap barat tertutup rapat, meninggalkan Alena sendirian dalam keheningan malam yang kini terasa jauh lebih damai daripada malam-malam sebelumnya. Alena berjalan mendekati meja kopi, mengambil gelas teh jahe madu yang hangat, dan meminumnya perlahan. Rasa hangat dari jahe itu mengalir masuk ke dalam tubuhnya, meredakan rasa mual di perutnya sekaligus memberikan ketenangan pada jiwanya yang selama ini didera badai kecemasan.
Ia berjalan menuju jendela besar, menatap langit malam Jakarta yang dihiasi oleh kepulan awan tipis di balik sinar bulan.
Tangan kanannya dengan lembut mengusap permukaan perutnya yang masih tampak rata di balik gaun tidurnya. Untuk pertama kalinya sejak dua garis merah itu muncul di dalam kamar mandi apartemennya, Alena tidak lagi merasakan ketakutan yang mencekik. Di dalam sangkar emas ini, bersama dengan seorang pria yang kini telah resmi menjadi suami dan rekan timnya, Alena bersiap untuk menghadapi petualangan baru yang penuh dengan intrik panggung hiburan demi melindungi kehidupan suci yang sedang bertumbuh di dalam rahimnya. Hari esok adalah babak baru yang penuh teka-teki, dan ia tidak lagi berjalan sendirian di dalam labirin itu.