NovelToon NovelToon
Rekan Kerja, Mantan Pengantin

Rekan Kerja, Mantan Pengantin

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dark Romance
Popularitas:9k
Nilai: 5
Nama Author: linda huang

Evelyn Shen ditinggalkan Damian Lu di hari pernikahan mereka tanpa pesan, tanpa penjelasan. Sejak itu hidupnya runtuh, dihina, lalu diusir oleh keluarganya sendiri.

Lima tahun kemudian, Evelyn kembali sebagai detektif tangguh. Takdir mempertemukannya lagi dengan Damian, kini jaksa elit yang cerdas dan ahli bela diri, dalam sebuah kasus besar yang memaksa mereka bekerja sama.

Bagi Evelyn, Damian adalah pria yang menghancurkan hidupnya.

Bagi Damian, Evelyn masih wanita yang paling ia cintai.

Dan di antara luka, rahasia, serta kebenaran yang perlahan terungkap… apakah Evelyn akan memaafkan pria yang pernah meninggalkannya? Atau justru kebenaran di balik kepergian Damian akan menghancurkan mereka untuk kedua kalinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Suara sirene polisi menggema keras di sepanjang jalan.

Beberapa mobil patroli melaju cepat lalu berhenti mengelilingi area kecelakaan.

Pintu-pintu mobil langsung terbuka.

Puluhan polisi turun dengan langkah tergesa.

“Amankan lokasi!”

“Pasang garis polisi!”

“Bawa tersangkanya!”

Suasana mendadak sibuk.

Beberapa polisi segera menarik warga menjauh dari lokasi, sementara yang lain memeriksa mobil buronan yang sudah hancur di depan pembatas jalan.

Kapten Wong baru tiba beberapa detik kemudian menggunakan mobil dinasnya.

Ia turun cepat sambil melihat keadaan sekitar.

“Bagaimana situasinya?” tanyanya tegas.

“Tersangka berhasil diamankan hidup-hidup, Kapten,” jawab salah satu polisi.

Kapten Wong mengangguk puas lalu melirik Wesley dan Evelyn yang berdiri di dekat mobil tahanan.

“Kalian berdua lagi-lagi membuat keributan di jalan utama.”

Wesley langsung mengangkat kedua tangan malas. “Kalau kami tidak mengejar cepat, dia sudah kabur.”

Kapten Wong mendengus kecil lalu menatap kaca mobil mereka yang retak akibat tembakan.

“Dan kalian hampir menghancurkan mobil divisi lagi.”

“Itu salah penjahatnya, bukan kami,” balas Wesley santai.

Sementara itu Evelyn menyerahkan pistol sitaan pada polisi lain.

“Periksa sidik jari dan nomor senjatanya.”

“Baik, Detektif Shen.”

Kapten Wong kemudian berkata, “Setelah ini langsung kembali ke divisi. Kita interogasi dia malam ini.”

“Baik, Kapten,” jawab Evelyn dan Wesley bersamaan.

"Tapi... masih ada satu yang berhasil lolos," ujar Evelyn.

Baru saja tersangka pertama dimasukkan ke mobil tahanan..

Suara ramai tiba-tiba terdengar dari ujung jalan.

“Cepat! Ambil gambarnya!”

“Tim A ada di sana!”

Beberapa mobil media berhenti sembarangan di pinggir jalan.

Para reporter langsung berlarian sambil membawa kamera dan mikrofon.

Flash kamera menyala tanpa henti mengarah pada lokasi penangkapan.

Kapten Wong langsung mengernyit kesal. “Kenapa media selalu lebih cepat dari polisi lain…”

“Kapten! Apa benar buronan kasus pencucian uang berhasil ditangkap?”

“Detektif Wesley! Lihat ke sini!”

“Detektif Evelyn! Benarkah Anda menembak ban mobil buronan saat kejar-kejaran?”

Beberapa polisi buru-buru menahan reporter yang mencoba mendekat terlalu jauh.

“Area investigasi! Mundur!”

Namun para reporter tetap nekat demi mendapatkan berita utama.

Wesley menutup wajahnya sebentar dengan kesal. “Hebat. Besok mukaku pasti masuk berita kriminal lagi.”

Evelyn sama sekali tidak peduli. Ia tetap fokus memeriksa barang bukti.

Tiba-tiba...

Salah satu polisi berlari tergesa sambil memegang alat komunikasi.

“Kapten Wong!”

Kapten Wong langsung menoleh. “Ada apa?”

Polisi itu menunjuk ke atas dengan panik.

“Buronan kedua belum tertangkap! Dia kabur masuk ke gedung ini!”

Semua orang spontan menoleh.

Gedung apartemen tua itu ternyata hanya berada di seberang jalan lokasi kecelakaan.

Beberapa warga terlihat panik di balkon sambil berteriak ketakutan.

“Dia naik ke rooftop!”

“Dia membawa sandera!”

Suasana langsung berubah kacau.

Para reporter yang tadi sibuk memotret langsung mengarahkan kamera ke atas gedung.

“Cepat zoom ke rooftop!”

“Dia benar-benar membawa pistol!”

Di lantai paling atas, seorang pria terlihat menyeret wanita sambil menodongkan senjata ke kepalanya.

Kapten Wong langsung berteriak, “Semua unit masuk ke gedung sekarang!”

“Evakuasi warga!”

“Baik, Kapten!”

Tanpa membuang waktu—

Evelyn langsung berlari menuju pintu gedung.

Wesley menyusul cepat di belakangnya.

Beberapa polisi lain ikut masuk sambil membawa senjata.

Tangga darurat gedung langsung dipenuhi suara langkah kaki mereka yang bergema cepat menuju lantai atas.

Sedangkan di luar, para reporter terus merekam situasi dengan heboh.

“Ini siaran langsung!”

“Polisi sedang mengejar buronan bersenjata di rooftop!”

***

Di dalam ruang kerja kejaksaan yang tenang, Damien Lu duduk di balik meja sambil membaca map merah kasus pembunuhan berantai.

Ruangan itu sunyi kecuali suara televisi yang menyala di sudut ruangan.

“Pemirsa, saat ini kami sedang menyiarkan langsung situasi penyanderaan di pusat kota.”

Suara pembawa berita terdengar jelas.

Damien tetap membaca berkas di tangannya tanpa terlalu memperhatikan.

Namun beberapa detik kemudian—

“Buronan bersenjata saat ini berada di lantai paling atas gedung apartemen tua sambil mengancam seorang wanita.”

Tangan Damien perlahan berhenti membalik halaman.

Tatapannya sedikit terangkat ke arah televisi.

Di layar terlihat suasana kacau di bawah gedung apartemen tua.

Mobil polisi memenuhi jalan. Lampu sirene berkedip di mana-mana.

Para reporter berdiri di belakang garis polisi sambil terus melaporkan situasi secara langsung.

Kamera kemudian menyorot ke atas gedung.

Dari kejauhan, seorang pria terlihat berdiri di tepi atap sambil mencengkeram seorang wanita dan menodongkan pistol ke kepalanya.

Jeritan warga terdengar samar.

“Situasi terlihat sangat berbahaya,” lanjut pembawa berita. “Polisi telah mengepung seluruh area gedung.”

Tak lama kemudian kamera menyorot pintu masuk gedung.

Beberapa polisi terlihat berlari masuk dengan senjata di tangan.

Di antara mereka tampak dua sosok yang langsung dikenali publik.

“Dan di sana terlihat Detektif Wesley serta Detektif Evelyn Shen dari Tim A divisi investigasi kriminal khusus.”

Tatapan Damien berubah lebih fokus.

Di layar televisi, Evelyn berlari cepat memasuki gedung dengan wajah dingin dan penuh konsentrasi.

Rompi antipelurunya terpasang rapi. Pistol berada di tangannya.

Sedangkan Wesley berada di sampingnya sambil memberi instruksi cepat pada polisi lain.

Suara langkah kaki menggema keras di tangga darurat.

Kapten Wong bersama beberapa anggota Tim A akhirnya tiba di lantai paling atas gedung apartemen tua itu.

Brak!

Pintu menuju atap gedung dibuka kasar.

Angin kencang langsung menerpa wajah mereka.

“Polisi! Jangan bergerak!” teriak salah satu detektif sambil mengarahkan pistol.

Di tepi atap, pria buronan itu masih mencengkeram wanita sandera dengan pistol di tangan.

Wajahnya penuh keringat, namun matanya terlihat gila.

Beberapa meter di belakang Kapten Wong, Evelyn dan Wesley perlahan menyebar mencari posisi.

“Lepaskan sandera dan turunkan senjatamu!” bentak Kapten Wong tegas.

Namun pria itu justru tertawa kasar.

“Ingin menangkapku?” katanya sambil mundur perlahan ke tepi gedung.

“Coba saja kalau kalian sanggup!”

Tiba-tiba...

Brak!

Ia mendorong wanita sandera ke samping.

“Ahhh!”

Wanita itu jatuh menangis ketakutan di lantai atap.

“Sandera aman!” teriak salah satu polisi yang langsung menarik wanita itu menjauh.

Namun di saat bersamaan...

Sret!

Pria buronan itu tiba-tiba melompat ke arah gedung sebelah.

Beberapa polisi membelalak kaget.

“Dia kabur!"

Ternyata sebuah kabel sambungan tebal terbentang di antara dua gedung.

Pria itu menggunakan kabel tersebut untuk berpindah sambil bergelantungan cepat menuju gedung seberang.

“Dasar gila…” gumam Wesley.

Kapten Wong langsung berteriak, “Jangan biarkan dia lolos!”

Namun jarak antar gedung cukup jauh.

Beberapa polisi ragu bergerak.

Sedangkan buronan itu sudah hampir mencapai gedung seberang sambil tertawa panik.

“Kalian tidak akan menangkapku!”

Wesley mengepalkan tangan kesal. “Sial…”

Tiba-tiba Evelyn melangkah mundur beberapa meter.

Kapten Wong langsung menyadarinya. “Evelyn, jangan—”

“Siapa yang bilang tidak bisa?” ucap Evelyn dingin.

Detik berikutnya—

Brak!

Evelyn langsung berlari cepat menuju tepi gedung.

Angin kencang menerpa tubuhnya.

Dan tanpa ragu...

Ia melompat.

“EVELYN!” teriak Wesley shock.

Tubuh Evelyn melayang di udara menuju gedung seberang.

Di bawah sana, para reporter yang masih melakukan siaran langsung, langsung heboh.

“Detektif Shen melompat!”

Beberapa kamera bahkan nyaris kehilangan fokus karena panik mengikuti gerakan nekat tersebut.

Di saat yang sama

Pria buronan itu baru saja hampir mencapai atap gedung sebelah.

Namun sebelum ia sempat naik sepenuhnya..

Brak!

Evelyn langsung menangkap kakinya dari belakang.

“Aaaakhhh!”

Pria itu menjerit kaget.

Tarikan mendadak tersebut membuat tubuh mereka kehilangan keseimbangan.

Sret!

Keduanya langsung tergelincir dan bergelantungan di kabel sambungan di antara dua gedung tinggi.

Jeritan warga terdengar dari bawah.

Beberapa polisi di atap bahkan langsung pucat melihatnya.

Tubuh Evelyn tergantung di udara puluhan meter dari bawah tanah.

Dua tangannya menarik kaki buronan yang terus memberontak panik.

“Kau mau mati?!” teriak pria itu ketakutan.

Tatapan Evelyn tetap dingin meski tubuhnya bergoyang tertiup angin.

“Aku polisi,” ucapnya tajam.

“Menangkap penjahat memang pekerjaanku.”

Di dalam ruang kerja kejaksaan yang tenang, siaran berita langsung masih memenuhi layar televisi.

Di layar televisi terlihat jelas tubuh Evelyn yang tergantung puluhan meter di udara sambil tetap mencengkeram kaki buronan.

Angin membuat tubuh mereka terus bergoyang berbahaya.

Damien yang sejak tadi duduk akhirnya mengangkat kepalanya penuh.

Tatapannya langsung terpaku pada layar televisi.

Detik berikutnya—

Brak!

Damien berdiri begitu cepat hingga kursinya terdorong ke belakang.

Ekspresinya yang selama ini selalu tenang akhirnya berubah.

Matanya menatap tajam layar televisi dengan napas yang mulai berat.

“Evelyn…” gumamnya pelan.

Di layar, tubuh wanita itu masih bergelantungan tanpa sedikit pun menunjukkan rasa takut.

Sedangkan pria buronan terus memberontak panik berusaha ingin menjatuhkan Evelyn.

***

Hai teman2 jangan lupa mampir untuk memberi dukungan cerita berjudul Cinta Yang Kembali Di Hari Vonis 🤭🤭🤭🤭

1
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
wow thor bacanya sambil tahan nafas
Kinara Widya
lanjut kak
Umi Kolifah
apakah Evelyn sebenarnya bukan anak Ronald tapi anak steve
lin sya
koq saling cinta tp saling bnci, tdk saling trbuka dan tdk saling prcya satu sama lain, tp diprtemukan lgi dlm satu krjaan, damien butuh extra keras kalo mau luluhin evelyn, ibaratnya kalo sudah trluka dan membekas akan sulit lgi prcaya
English Lesson
Bagus👍🏻👍🏻
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
penasaran memang thor knp smpe Damien pergi disaat-saat peristiwa penting
Dian Fitriana
update
kitty ❤
lanjut Thor 🔥
Dian Fitriana
update
Kinara Widya
lanjut
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
aq setuju sama Evelyn ngpn bantu eve
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
double update ya thor🫶
Rini Yusnani
rasa rasanya pingin kirim santet ke damian
Rini Yusnani
bertemu gundul mu itu👊
Rini Yusnani
sok peduli lu damian,ganti aja namamu jadi siluman jijik liat kamu dah buat evelyn sampai depresi😠
Dian Fitriana
update
Kinara Widya
lanjut
Anonim
Harus tunggu 2-3 hari baru up 1 bab dan ternyata pendek😃
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
masih penasaran thor kenapa Lu pergi disaat mau nikah
Kinara Widya
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!