Di kota megah yang dipenuhi gemerlap lampu malam dan dosa, nama Aragon De Hartmann dikenal sebagai raja mafia paling kejam dan tak tersentuh. Di balik kekuasaan, uang, dan darah yang mengalir di tangannya, Aragon hidup dalam kegelapan.
Sementara itu, Aurora, seorang gadis panti asuhan yang sederhana dan lembut, berjuang hidup sendirian setelah panti tempat ia dibesarkan terancam ditutup oleh kelompok kriminal. Demi menyelamatkan anak-anak kecil di sana, Aurora nekat mendatangi seorang pria yang paling ditakuti di seluruh kota, dia adalah Aragon De Hartmann.
Pertemuan mereka seharusnya hanya sebuah transaksi.
Namun, tatapan mata Aurora yang hangat perlahan menghancurkan dinding dingin di hati sang mafia. Untuk pertama kalinya Aragon mulai merasakan sesuatu yang hampir ia lupakan, yaitu cinta dan harapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alistia Haka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 7
Malam itu, di sudut wilayah kota yang lain hujan turun deras membasahi seluruh kota S ketika pintu ruang kerja Aragon De Hartmann perlahan terbuka.
Suasana di dalam ruangan luas itu terasa begitu dingin dan menyesakkan. Cahaya lampu redup memantulkan kilau emas di dinding hitam elegan, sementara aroma cerutu mahal memenuhi udara.
Aragon duduk tenang di kursi kebesarannya.
Setelan jas hitam sempurna membalut tubuh tingginya. Jemarinya memutar pelan cincin hitam di jari manisnya, sementara tatapan matanya tertuju pada layar tablet di meja.
Di hadapannya berdiri Hank.
Pria itu mengenakan setelan jas hitam dengan tubuh tegap dan wajah tanpa ekspresi. Sebagai tangan kanan Aragon, Hank dikenal sebagai pria yang paling brutal ketika menjalankan perintah.
“Ada kabar dari Damien Bellucci?” tanya Aragon rendah tanpa mengangkat pandangan.
Hank menundukkan kepala nya sedikit.
“Belum, Tuan.”
Hening sesaat memenuhi ruangan.
Tatapan Aragon perlahan berubah dingin.
“48 jam,” ucapnya pelan. “Aku sudah memberinya waktu cukup lama.”
Hank tetap diam.
“Aku tidak suka menunggu,” lanjut Aragon tenang, namun nada suaranya justru terdengar lebih mengerikan dari bentakan apa pun.
Aragon akhirnya mengangkat pandangannya.
“Kalau Damien tidak mampu membawa keponakannya menghadapku, maka kita sendiri yang akan mengambil Rafael Bellucci.”
Hank langsung mengangguk paham.
“Baik Tuan saya paham.”
Sudut bibir Aragon terangkat tipis.
Namun senyum itu sama sekali tidak menunjukkan kehangatan.
“Bawa dia hidup-hidup.”
“Baik, Tuan Aragon.”
⸻
Satu jam kemudian, iring-iringan SUV hitam berhenti di kawasan gudang tua dekat perbatasan kota.
Hujan masih turun deras.
Lampu mobil menyinari bangunan kumuh yang tampak nyaris tidak terpakai. Tempat itu menjadi persembunyian Rafael Bellucci sejak mencuri barang senjata rakitan yang akan di ekspor milik Aragon dan melarikan diri.
Hank turun lebih dulu dari mobil.
Sepatu hitamnya menginjak genangan air tanpa ragu. Di belakangnya, beberapa pengawal bersenjata lengkap langsung mengikuti dengan langkah cepat dan teratur.
“Pastikan tidak ada yang keluar,” perintah Hank dingin.
“Siap!”
Dua pengawal segera mendobrak pintu gudang dengan keras.
“BRAKK!!”
Suara benturan menggema memenuhi ruangan yang gelap.
Rafael Bellucci yang sedang duduk panik di sudut ruangan langsung berdiri kaget. Wajahnya pucat saat melihat Hank masuk perlahan bersama para pengawal.
“Ti-tidak… tunggu…” Rafael mundur ketakutan.
Namun Hank tidak memberinya kesempatan. Pria itu berlari secepat kilat.
BUGH!
Satu pukulan keras langsung menghantam wajah Rafael hingga tubuh pria itu terjatuh menghantam lantai semen.
Darah segar keluar dari sudut bibirnya.
“AARGH! BRENGSEK!!!” Teriak Rafael.
Hank mencengkeram kerah Rafael kasar lalu mengangkat tubuhnya setengah paksa.
“Empat puluh delapan jam,” bisik Hank dingin tepat di depan wajahnya. “Dan kau pikir Tuan Aragon akan terus memberikan pamanmu waktu? Bukan hanya dirimu, tapi paman dan suruh keluarga Belluci akan memghilang.”
Rafael gemetar hebat.
“Saya akan mengembalikan barangnya! Saya bersumpah!”
“BUGH!” Hank kembali menghantam perut Rafael tanpa ampun hingga pria itu muntah darah di lantai.
Para pengawal hanya diam menyaksikan dan bersiaga beberapa yang lain memeriksa gudang tersebut, namun nihil puluhan bahkan ratusan senjata rakitan yang siap di ekspor tidak di temukan.
Di sisi lain, para pengwal juga tidak ada yang berani menghentikan Hank.
Karena semua orang tahu. Saat Aragon De Hartmann memerintahkan seseorang untuk dibawa hidup-hidup, itu tidak berarti orang tersebut akan datang dalam keadaan utuh.
Gudang tua itu berubah menjadi neraka penuh jeritan malam. Bangunan mati itu menjadi saksi kekejaman Hank.
Suara hujan yang menghantam atap seng beradu bising dengan teriakan Rafael Bellucci, menggema menyakitkan ke setiap sudut ruangan.
Tubuh pria itu sudah terkapar di atas lantai semen yang dingin dengan wajah bersimbah darah. Napasnya tersengal kacau, sementara kedua tangannya gemetar parah, berusaha payah menopang tubuhnya sendiri.
Namun, Hank belum selesai.
Pria bertubuh tegap itu melangkah perlahan mendekati Rafael dengan tatapan dingin tanpa belas kasihan. Tangannya yang berkulit putih bersih telah berlumuran darah, tetapi ekspresinya tetap datar, seolah kekejangan dan rintihan orang yang sekarat yang ada di depannya hanyalah rutinitas harian biasa.
“Aku benar-benar heran,” ucap Hank, suaranya berat dan rendah.
“Berani sekali bajingan sepertimu mencuri barang milik Tuan Aragon.”
Rafael menggeleng panik, menyuarakan tangis ketakutan yang menyedihkan.
“Sa-saya dipaksa! Saya hanya disuruh menyimpan barang itu! Tolong… ampuni saya…”
“Selain pencuri, mulutmu juga suka berbohong, harus kah aku mengiris lidahmu juga? Kau pikir, siapa yang ingin kau bodohi.”
“Saya bersumpah saya hanya di suruh Tuan!!!”
Hank berlutut di hadapan Rafael, lalu mencengkeram rahang pria itu dengan cengkeraman yang nyaris meretakkan tulang.
“Kau tahu apa kesalahan terbesar manusia sepertimu?”
Rafael gemetar hebat, tak mampu menjawab.
“Kalian selalu memohon setelah semuanya terlambat.” Kata Hank.
Dengan kekuatan tangan Hank, pria itu memutar kepala Rafael dimana rahang Rafael telah retak lebih dulu.
“CRAACCKKK!!”
“AAARRGGG!!!”
Serangan kedua. Tanpa peringatan, Hank memgambil gagang besi, pria itu menghantamkan gagang besi pendek yang sudah berada di tangannya ke jemari Rafael.
“CRRAAKKK!!”
“KRAAANGGG!!”
Bunyi besi yang membentur lantai dan patahan tulang yang tebal langsung diikuti oleh jeritan mengerikan yang membelah keheningan gudang.
“AARRGHHHH!!”
Tubuh Rafael mengejang hebat di lantai. Air mata, darah, dan keringat bercampur baur di wajahnya yang pucat.
Namun, Hank tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Satu demi satu pukulan mendarat tanpa ampun ke tubuh Rafael. Suara hantaman tumpul dan retakan tulang terdengar jelas di antara deru hujan malam.
Para pengawal yang berdiri di dekat pintu memilih menundukkan kepala. Mereka tahu persis, saat Hank sudah mulai menyiksa seseorang, tidak ada yang cukup bodoh untuk menginterupsi.
Rafael sudah berada di ambang pingsan ketika Hank menjambak rambutnya, lalu menyeret tubuh lemas itu, dan menaruh tangan Rafael secara paksa ke atas sebuah meja kayu tua.
Sepasang mata Rafael membelalak penuh horor saat melihat sebilah pisau di tangan Hank.
“Ti-tidak… jangan… TOLONG!”
Hank sama sekali tidak berkedip. Pria itu mengambil pisau lipat dari dalam saku jas. Dengan satu gerakan cepat dan bertenaga, ia mengayunkan bilah tajam itu ke bawah.
Jeritan Rafael kembali pecah, melengking lebih menyayat hati saat satu jarinya terputus seketika. Darah segar menyembur, mengotori permukaan meja dan lantai semen.
Rafael menangis histeris, tubuhnya kejang-kejang menahan rasa sakit luar biasa yang nyaris merenggut kesadarannya.
Hank berdiri tegak perlahan, lalu seorang pengawal membawakan sapu tangan, Hank pun membersihkan bercak darah di tangannya dengan selembar kain tipis tersebut.
“Pastikan dia tetap hidup,” perintahnya datar kepada para pengawal tanpa menoleh lagi.
“Karena Tuan Aragon masih ingin berbicara dengannya.”
”Baik Tuan Hank…” Kata para pengawal.
Bersambung