NovelToon NovelToon
Cinta Diusia Senja

Cinta Diusia Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Cintapertama
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: riena

"Bagaimana jadinya jika calon besanmu adalah mantan kekasih yang paling gagal kamu lupakan seumur hidup?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 7. Setuju

"Menurut kamu, bagaimana, Bah? Dari berniat mencarikan pasangan, bisa kita tolak mentah-mentah. Sekarang ini, mereka mau membuat paviliun kembar. Mereka tidak akan berhenti begitu saja, apa kamu mau kita iyakan saja?" tanya Imam, suaranya terdengar sangat parau, mencerminkan pikirannya yang saat ini sedang benar-benar kalut.

Di seberang telepon, Habibah terkesiap. Pertanyaan Imam terasa begitu berat, seolah memindahkan seluruh beban keputusan ke pundaknya yang sudah mulai rapuh dimakan usia. Ia mencengkeram ponselnya lebih erat, meredam isak tangisnya yang semakin menyesakkan dada.

"Aku... aku tidak tahu, Mas," jawab Habibah dengan suara yang nyaris habis, sarat akan keputusasaan. "Otakku buntu. Di satu sisi, melihat binar mata Rayhan yang begitu bersemangat menceritakan masa depan kita di rumah itu... aku tidak tega mematahkannya. Tapi di sisi lain, membayangkan aku harus berpapasan denganmu setiap hari di halaman yang sama... Mas, aku tidak sekuat itu."

Imam menghembuskan napas berat, menyandarkan keningnya pada kaca jendela kamar yang terasa dingin. "Aku juga memikirkan hal yang sama, Bah. Ameera bahkan sudah mulai menghitung perkiraan harga jual rumah kami. Mereka benar-benar bergerak cepat. Kalau kita kompak menolak lagi dengan alasan 'tidak mau merepotkan', anak-anak pasti akan merasa ada yang aneh. Mereka pintar, Bah. Mereka bisa mencium kalau kita sedang menyembunyikan sesuatu."

"Lalu apa tidak ada pilihan lain selain mengiyakan?" tanya Habibah, nada suaranya menyiratkan ketakutan yang amat sangat.

Imam terdiam cukup lama. Keheningan malam kembali merayap di antara jaringan telepon mereka. Di dalam kegelapan kamarnya, Imam tahu, jika mereka mengiyakan rencana ini, mereka sedang membuka gerbang menuju lingkaran takdir yang sangat berbahaya.

"Jika kita terpaksa mengiyakannya demi kebahagiaan mereka, Bah..." Imam menjeda kalimatnya, menarik napas dalam-dalam untuk menstabilkan debaran jantungnya yang kian liar. "...maka kita berdua harus berjanji satu hal. Kita harus memasang tembok yang jauh lebih tebal di dalam hati kita masing-masing. Di depan anak-anak, di halaman itu nanti, kita tidak lebih dari sekadar dua orang tua yang kebetulan menjadi besan. Tidak boleh ada masa lalu. Tidak boleh ada ingatan lama. Sanggupkah kamu, Bah?"

Habibah memejamkan mata, membiarkan air matanya mengalir deras membasahi pipinya. Pertanyaan Imam terdengar seperti sebuah ikrar yang mustahil untuk ditepati. Memasang tembok di hati? Bagaimana bisa, jika hanya dengan mendengar suara pria itu di telepon malam ini saja, seluruh benteng pertahanan yang ia bangun selama dua puluh lima tahun lebih langsung runtuh tak bersisa?

Namun, demi Rayhan, demi Ameera, Habibah tahu ia harus memaksakan dirinya untuk sanggup.

"A-aku... aku akan mencoba, Mas. Demi anak-anak," bisik Habibah akhirnya, mengalah pada keadaan.

"Baiklah. Kalau begitu, besok kita biarkan anak-anak menceritakan detailnya lagi. Kita ikuti dulu permainan takdir ini, Bah," ucap Imam, menutup pembicaraan malam itu dengan hati yang kian terkoyak.

Panggilan pun terputus. Imam menurunkan ponselnya dengan tangan lemas. Ia menatap pantulan dirinya di kaca jendela. Kata-katanya sendiri tentang 'memasang tembok tebal di hati' terasa seperti sebuah lelucon paling konyol yang pernah ia ucapkan. Imam tahu pasti, sedalam apa pun mereka mencoba menguburnya, tinggal bersama di bawah satu pekarangan yang sama hanya akan membuat api cinta yang tak lekang oleh waktu itu menyala semakin membara.

*

*

Sesuai rencana anak-anak, akhir pekan itu ruang tamu rumah Imam disulap menjadi ruang studio dadakan. Sebuah meja panjang diletakkan di tengah ruangan, dipenuhi oleh kertas-kertas kalkir, penggaris arsitek, dan laptop Rayhan yang menampilkan perangkat lunak desain tiga dimensi.

Ameera dan Rayhan duduk berdampingan dengan wajah sumringah, sementara Imam dan Habibah duduk berhadapan. Di bawah meja, sepasang tangan paruh baya itu kembali mendingin. Debaran jantung mereka begitu hebat, menciptakan rasa lemas yang menjalar hingga ke ujung jari. Namun, topeng ketenangan harus tetap terpasang kokoh.

"Nah, karena Papa dan Tante Bibah sudah setuju, sekarang saatnya kita bagi-bagi wilayah!" seru Ameera bersemangat, mengetuk layar laptop Rayhan. "Rumah utama kami di tengah, seperti pembatas. Sekarang, untuk paviliun kanan dan kiri, kami mau desainnya sesuai selera Papa dan Tante Bibah sendiri. Ayo, Tante dulu... Tante Bibah mau paviliunnya seperti apa?"

Habibah tertegun sejenak. Ia melirik sekilas ke arah Imam yang sedang menopang dagu, memperhatikannya. Buru-buru ia mengalihkan pandangan ke kertas denah.

"Tante... Tante tidak minta banyak, Meer. Tante hanya ingin jendelanya dibuat besar-besar menghadap ke arah barat. Tante suka melihat matahari terbenam sambil merajut," ujar Habibah lembut, mencoba mengalihkan gemuruh di dadanya dengan membahas hal teknis. "Lalu kalau bisa, ada selasar kecil di bagian depan yang langsung terhubung ke taman tengah."

"Wah, cocok banget! Ibu di paviliun kanan, ya. Berarti pas menghadap barat," sahut Rayhan sambil jemarinya lincah merevisi desain di laptop. "Kalau Om Imam bagaimana? Mau paviliun kiri didesain seperti apa, Om?"

Imam berdehem pelan, mencoba menstabilkan suaranya yang mendadak serak. "Kalau Papa... Papa ingin ada satu ruang baca kecil di sudut belakang yang menghadap ke timur. Papa suka membaca buku sambil minum kopi di pagi hari, jadi pencahayaannya harus bagus dari arah matahari terbit."

Deg.

Jantung Habibah berdesir hebat mendengar jawaban Imam. ‘Kopi di pagi hari. Membaca buku.’ Puluhan tahun lalu, Imam muda selalu bermimpi ingin memiliki rumah dengan perpustakaan mini tempat ia bisa menikmati kopi buatan Habibah di pagi hari. Pria itu tidak pernah berubah. Selera dan kebiasaan masa mudanya masih utuh, menetap di sana tanpa lekang oleh waktu.

"Wah, pas sekali!" sela Ameera riang tanpa menyadari ketegangan psikologis di depannya. "Paviliun Papa di kiri menghadap timur, paviliun Tante Bibah di kanan menghadap barat. Rumah kami di tengah sebagai jembatannya. Ini namanya harmoni fajar dan senja!"

Rayhan kemudian mengeluarkan sebuah papan tulis kecil yang sudah ia persiapkan. "Untuk urusan operasional sehari-hari, Ameera dan Rayhan sudah membuat jadwal bersama agar kita tetap punya privasi sekaligus kebersamaan yang adil."

Rayhan mulai menulis di papan tersebut dengan spidol hitam.

"Setiap pagi dan siang, Om Imam dan Ibu bebas dengan agenda masing-masing. Ibu bisa merajut atau berkebun di paviliun kanan, Om Imam bisa membaca buku atau ke kantor dari paviliun kiri. Dapur mungil di paviliun masing-masing bisa digunakan untuk sarapan dan makan siang mandiri."

Rayhan menjeda kalimatnya, lalu mengetuk papan tulis dengan senyum lebar. "Tapi... setiap malam, jam tujuh tepat, jadwal wajib kita adalah berkumpul! Kita semua harus makan malam bersama di rumah utama tengah. Ibu dan Ameera yang masak, atau nanti kita gantian beli di luar. Pokoknya, malam hari adalah waktu keluarga besar."

Mendengar kata 'setiap malam berkumpul', Imam dan Habibah kompak menahan napas.

Setiap malam mereka harus duduk di satu meja makan yang sama. Berbagi cerita, bertukar pandang, dan berpura-pura menjadi besan yang bijaksana di bawah sorot mata anak-anak mereka yang penuh selidik. Itu bukan sekadar jadwal makan malam, melainkan sebuah ujian ketahanan iman yang akan mereka lalui setiap hari seumur hidup.

"Bagaimana, Pa? Tante Bibah? Jadwalnya adil, kan? Jadi siang hari tetap punya privasi penuh, malam hari kita hilangkan kesepian bersama-sama," tanya Ameera, menatap kedua orang tua itu bergantian dengan mata berbinar penuh harap.

Imam melirik Habibah. Wanita itu tampak memejamkan mata sesaat, meremas sapu tangan di pangkuannya dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih. Wajahnya pucat, menahan lemas akibat debaran jantung yang rasanya ingin melompat keluar.

Melihat kepasrahan di wajah cinta pertamanya, Imam akhirnya menarik napas dalam-dalam, lalu mengangguk lambat.

"Iya, Meer... Nak Rayhan. Papa rasa... jadwal itu sudah sangat bagus dan adil," ucap Imam, suaranya terdengar pasrah pada garis takdir.

Habibah membuka matanya, memaksakan segaris senyuman tipis yang sarat akan kepedihan batin. "Iya... Tante juga mengiyakan saja, Meer. Terserah kalian bagaimana baiknya."

"Alhamdulillah! Desain oke, jadwal oke! Proyek rumah masa depan kita resmi dimulai!" seru Ameera dan Rayhan kompak, saling ber-high-five dengan penuh kemenangan.

Di tengah riuhnya tawa kebahagiaan anak-anak mereka yang sedang menyusun bata demi bata masa depan, Imam dan Habibah hanya bisa terdiam membeku. Mereka berdua sama-sama tahu, cetak biru rumah yang sedang dirancang ini bukanlah sekadar tempat tinggal. Ini adalah labirin emosi yang sangat berbahaya, di mana satu langkah salah saja di waktu makan malam nanti, bisa meruntuhkan seluruh dunia anak-anak mereka.

****

1
Safitri Agus
terimakasih kak Riena updatenya 🙏🥰🥰🥰
Afternoon Honey
tetap menyimak dan membaca cerita bersambung ini..m
Indriyani_ Indry
Alhamdulillah novel ini ada update nya ... terimakasih kk😍😍😍
Safitri Agus
TRIms kak Riena updatenya 🙏🥰
Safitri Agus
rumit ya,🤦
Safitri Agus
😭😭😭
Safitri Agus
TRIms kak Riena 🙏🥰
Safitri Agus
ujian sebelum pernikahan, mereka pasti dilema....
Safitri Agus
terimakasih kak Riena sudah update 🙏🥰
Fitria Rastanti
gx lanjut kak riee ceritanya
Safitri Agus: lanjut dong kak biar tau endingnya 😊
total 3 replies
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Indriyani_ Indry
dari kmrn blm ada bab yg br ka ... libur yah ka?
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Indriyani_ Indry
sy sukaaa semua novel karya author ini ... novelnya kereeennn dan berkls ...
Safitri Agus
seandainya kalian mengetahui apa yg sedang terjadi dan tentang masalalu mereka.....
Safitri Agus
jeng nya dihilangkan 🤭
yuli mamah
😬😬😬😬😬
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!