Enam bulan setelah Kirei Zhaklyn—perempuan tangguh di balik kesuksesan industri teknologi—tewas tragis dalam kecelakaan akibat sabotase keji, hidup Vaxerion Mahendra ikut hancur. Konglomerat otomotif itu memilih mundur dari dunia bisnis, hidup seperti cangkang kosong yang didera kedukaan mendalam.
Namun, di sebuah malam gala internasional, pintu aula terbuka. Di sana muncul sepasang manusia: Andi Clark, miliarder pemegang kendali perbankan global asal Swiss, menggandeng seorang wanita yang memiliki wajah, sorot mata, dan senyuman yang seratus persen persis dengan almarhumah Kirei.
Dia adalah Kirei Alexandra. Datang dari Eropa dengan pembawaan ketus, jutek, dan dingin, dia langsung menepis kasar pelukan Vaxerion: "Jaga jarak Anda, Tuan Mahendra. Saya bukan barang peninggalan masa lalu Anda."
Apakah wanita jutek ini adalah Kirei yang bangkit dari kubur untuk membalas dendam, atau ada rahasia adopsi yang sengaja dikubur sejak bayi? Di tengah adu kekayaan tingkat tinggi dan gesekan harga diri melawan Andi Clark, takdir baru yang jauh lebih berbahaya siap menggoncang Jakarta!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salma.Z, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Gaun Malam dan Cangkir yang Pecah
Karpet merah di depan butik mewah kawasan Senopati malam itu dipenuhi kilatan lampu kamera wartawan hiburan dan gaya hidup. Acara pembukaan butik perhiasan milik keluarga Clarissa menjadi ajang kumpulnya para sosialita papan atas Jakarta. Kirei Zhaklyn melangkah turun dari mobil sedan hitamnya, langsung memotong perhatian kamera.
Malam ini, dia tidak memakai baju kerja. Atas hasutan Sherly, Kirei mengenakan gaun malam berpotongan sabrina berwarna hitam pekat yang mengekspos tulang selangkangnya yang indah. Rambutnya dibiarkan jatuh bergelombang di satu sisi bahu. Tanpa perhiasan berlebih, pesona Kirei justru terlihat sangat berkelas, kontras dengan sosialita lain yang memakai berlian bertumpuk-tumpuk.
Begitu Kirei melangkah masuk ke dalam ruang pameran utama yang berlantai marmer, suasana yang tadinya bising mendadak agak sunyi. Beberapa pasang mata menatapnya dengan pandangan menilai, berbisik-bisik soal rumor keberanian Kirei mendepak anak direktur di kantornya tempo hari.
"Wah, berani juga ya datang ke sini," sebuah suara cempreng yang sangat dikenal Kirei memecah keheningan.
Clarissa berjalan mendekat, memegang segelas minuman dengan gaun merah menyala yang terlalu ketat. Di sebelahnya, Mirna Elviana—ibu dari Reza—berdiri dengan dagu terangkat angkuh, menggandeng tas kulit buaya yang harganya ratusan juta.
"Nona Kirei Zhaklyn," Mirna tersenyum sinis, menatap Kirei dari atas ke bawah dengan pandangan meremehkan yang sama seperti lima tahun lalu di atas tanah berlumpur kontrakan Kirei. "Butik ini cuma mengundang kalangan elit yang punya riwayat keluarga jelas. Saya bingung, kok bisa gadis yang dulu sisa rotinya saja harus mengemis di Jakarta Timur bisa lolos dari penjagaan sekuriti di depan?"
Beberapa wanita di sekitar mereka mulai menahan senyum, ikut menikmati momen penindasan verbal itu. Mereka mengira Kirei bakal malu, menunduk, atau lari ke kamar mandi untuk menangis.
Namun, Kirei Zhaklyn hanya memutar pelan gelas berisi air putih di tangannya. Dia menarik napas dalam-dalam, merasakan sisa kehangatan permen mint yang masih tertinggal di lidahnya. Topeng esnya terpasang sempurna. Dia melangkah maju satu langkah, membuat Clarissa refleks mundur karena terintimidasi oleh tinggi badan Kirei yang memakai sepatu hak tinggi.
"Nyonya Mirna," suara Kirei mengalun sangat merdu, namun dinginnya sanggup membekukan ruangan. "Terima kasih atas sambutannya yang... sangat emosional. Mengenal Anda, saya tahu Anda sangat suka membahas masa lalu. Tapi sayangnya, suami Anda di rumah sepertinya lebih suka memikirkan masa depan. Terutama masa depan finansialnya setelah seluruh sisa aset properti keluarga Mahendra resmi memutus kontrak kerja sama dengan perusahaan pasokan kalian sore ini."
Wajah angkuh Mirna langsung membeku. Senyum sinisnya lenyap dalam sekejap. "Kamu... kamu bicara apa?!"
"Suami Anda belum telepon?" Kirei menaikkan sebelah alisnya, berpura-pura terkejut dengan gaya yang sangat anggun. "Ah, mungkin beliau masih sibuk di kantor polisi karena laporan audit fiktif dan penggelapan dana pajak yang diajukan oleh konsorsium hukum Zhaklyn Mobile satu jam lalu. Berkasnya tebal, Nyonya. Saya jamin suami Anda tidak akan pulang ke rumah sampai beberapa tahun ke depan."
Prak!
Gelas minuman di tangan Clarissa tidak sengaja terlepas, jatuh menghantam lantai marmer hingga pecah berkeping-keping. Cairan jeruknya menciprati ujung gaun merah mahalnya. Seluruh sosialita di ruangan itu menahan napas, syok mendengar bom informasi yang dilempar Kirei dengan begitu tenang.
"Dan kamu, Clarissa," Kirei beralih menatap wanita yang sedang gemetaran menatap pecahan gelas di bawahnya. "Butik mewah yang kamu pamerkan malam ini... bukankah dibangun pakai dana jaminan sertifikat tanah palsu di daerah Bogor? Tim legal saya sudah mengirimkan surat gugatan penyitaan aset ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Nikmati malam pembukaan ini, karena besok pagi, gedung ini sudah disegel oleh juru sita."
"Kamu... kamu lancang! Dasar anak haram! Kamu sengaja mau menghancurkan kami?!" Mirna berteriak histeris, kehilangan seluruh tata krama sosialitanya di depan puluhan pasang mata jurnalis yang mulai mengarahkan kamera ke arah mereka. Mirna mengangkat tangannya, bersiap untuk melayangkan tamparan keras ke wajah Kirei.
Kirei tidak berkedip. Dia sudah bersiap untuk menahan pergelangan tangan Mirna dan membalasnya dengan cara yang lebih kejam.
Namun, sebelum tangan Mirna sempat melayang di udara, sebuah tangan besar berkulit sawo matang yang sangat kokoh tiba-tiba muncul dari samping, mencengkeram erat pergelangan tangan Mirna di udara hingga wanita tua itu memekik kesakitan.
Aroma parfum kayu cendana yang sangat akrab langsung memenuhi indra penciuman Kirei.
Vaxerion Mahendra berdiri di sana. Pria itu mengenakan setelan tuksedo hitam klasik yang membalut tubuh tegapnya dengan sempurna. Wajah tegasnya malam ini tidak lagi memancarkan binar geli, melainkan sedingin malam kutub. Tatapan matanya yang tajam bak elang langsung mengunci wajah Mirna yang mulai pucat pasi ketakutan.
"Jika tanganmu berani menyentuh seujung rambut calon istriku, Nyonya Mirna," suara berat Vaxerion berdesis rendah, namun gaungnya terdengar sangat mematikan di tengah keheningan aula butik. "Aku pastikan bukan cuma suamimu yang membusuk di penjara. Tapi seluruh nama besar keluargamu bakal dihapus dari sejarah bisnis kota ini sebelum matahari terbit besok pagi."
Vaxerion melepaskan sentuhannya dengan kasar hingga Mirna terhuyung mundur ke pelukan Clarissa yang sudah menangis ketakutan. Pria itu sama sekali tidak memedulikan puluhan kamera jurnalis yang kini sibuk mengambil foto mereka berdua.
Vaxerion berbalik menatap Kirei. Dalam sekejap mata, tatapan elangnya yang mematikan langsung berubah menjadi begitu teduh, dalam, dan penuh perhatian dewasa yang bisa membuat pertahanan wanita mana pun meleleh tanpa sisa. Dia mengulurkan tangan kirinya, menyelusupkan jemarinya di antara jemari Kirei yang sempat menegang, menggenggamnya erat-erat di depan seluruh sosialita Jakarta.
"Ayo pergi, Kirei," bisik Vaxerion lembut, suaranya sangat romantis di tengah kekacauan ini. "Udara di dalam sini terlalu kotor untukmu. Aku sudah siapkan makan malam yang jauh lebih baik di luar."
Kirei menatap tangan mereka yang bertaut, lalu beralih menatap wajah Vaxerion yang memandangnya dengan binar rasa bangga yang begitu pekat. Untuk pertama kalinya, Kirei membiarkan dirinya dituntun berjalan keluar melewati karpet merah, meninggalkan jeritan histeris Mirna dan Clarissa yang hancur dalam semalam akibat pembalasan dendam yang luar biasa elegan.
Bersambung...