*Novel dengan Alur Sat Set dan Bab Pendek.*
Junee tidak pernah menyangka akan bertemu lagi dengan Ben Pratama.
Anak culun yang dulu ia tolak di SMA, sekarang jadi CEO muda yang dingin dan sukses. Ketika panti asuhan tempat Junee mengabdi terancam digusur, satu-satunya jalan keluar adalah menerima tawaran Ben: Menjadi istri kontraknya selama satu tahun. Tidak ada cinta. Hanya kesepakatan.
Begitu pikir Junee. Tapi tinggal serumah dengan Ben ternyata tidak sesederhana itu. Setiap tatapannya penuh teka-teki. Setiap sikapnya seperti menyimpan amarah yang belum selesai.
Junee mulai bertanya: Apakah Ben benar-benar membencinya? Atau selama ini, ia salah paham tentang alasan penolakan itu? Satu tahun. Satu kontrak. Satu kesempatan untuk memperbaiki masa lalu. Pertanyaannya… apakah hati mereka masih bisa diperbaiki?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Jebakan Vania.
Hari - hari Junee terasa lebih tenang, setelah artikel tentang dirinya dihapus, dan digantikan dengan siaran konfrensi pers yang di lakukan oleh Ben.
Merasa sudah tidak ada lagi masalah, Junee pun kembali menginstal aplikasi media sosialnya.
Ia berharap tidak ada lagi berita buruk tentang dirinya. Namun sayang, itu hanya harapan Junee.
Akun dengan nama @vania_truth kembali mengunggah sebuah foto.
Dimana terlihat Junee dan Arga bertemu di depan pintu gerbang panti asuhan.
“Katanya sudah tidak berhubungan dengan mantan lagi. Katanya cinta suami. Tapi nyatanya masih bertemu diam - diam. Di depan panti asuhan pula.”
Dalam 20 menit, 50 ribu like. 1000 Komentar pecah lagi.
#JuneeIstriPalsu naik ke trending nomor 1.
Tangan Junee bergetar hebat. Bukan karena Vania, tetapi karena komentar buruk masyarakat terhadap dirinya.
Satu orang Vania mungkin Junee masih bisa sabar menghadapinya. Tetapi, ada 1000 orang lainnya yang kini menghujat dirinya. Padahal, mereka tidak pernah bertemu sebelumnya.
Junee merasa tidak sanggup. Seharusnya ia tidak membuka lagi aplikasi media sosialnya. Padahal sudah di hapus oleh Ben beberapa waktu lalu.
“Masalah apalagi ini, Tuhan?” Kenapa ada lagi?”
Air mata Junee pun tumpah tanpa bisa ditahan lagi.
Sementara itu di ruang kantornya, Ben juga melihat postingan itu. Karena di beritahu oleh mbak Rina.
Ben dengan segera menghubungi sang istri.
“Kamu dimana?” Tanya pria itu tanpa basa - basi.
“Di panti, Ben. Ada apa?” Jawab Junee dari seberang sembari bertanya.
“Jangan keluar. Aku ke sana sekarang.”
Ben tidak menjawab pertanyaan sang istri. Kemudian memutuskan panggilan secara sepihak. Ia bergegas menemui wanita itu. Jangan sampai Junee melihat unggahan tak bertanggung jawab itu.
“Vania. Kamu benar - benar keterlaluan.” Geram Ben sembari keluar dari ruangannya.
20 menit kemudian, Ben pun tiba di panti asuhan Harapan Kasih.
Ia menanyakan keberadaan Junee pada kakek Darman yang sedang menemani anak - anak bermain di halaman panti.
“Neng Junee sepertinya ada di ruangannya, pak Ben.” Ucap kakek Darman.
Ben bergegas menuju ruang kerja sang istri.
Saat pria itu masuk, ia melihat Junee duduk di atas kursi, sembari memegang ponsel, namun matanya terlihat merah.
“Ben.” Ucap wanita itu pelan.
“Junee, apa yang sedang kamu lihat?” Ben dengan cepat mengambil ponsel wanita itu.
Mata Ben membulat sempurna. Ia sudah menghapus aplikasi itu beberapa waktu lalu.
“Kamu menginstal nya lagi?” Tanya Ben dengan tatapan nyalang.
“Aku hanya sedang bosan. Jadi iseng instal lagi.” Ucap Junee pelan.
“Iseng? Junee. Ada hal lain yang bisa kamu kerjakan. Selain membuka aplikasi tak berguna ini.” Ucap Ben lagi.
Pria itu kembali menatap layar ponsel sang istri.
“Kamu melihat ini?” Tanya Ben.
Junee mengangguk pelan. “Ben… aku bisa menjelaskannya. Itu pertemuan yang tak di rencanakan.” Ucap wanita itu.
“Arga dateng kemari tanpa sepengatahuan aku. Dia bilang mau minta maaf.” Imbuh Junee.
Ia tidak mau Ben salah paham.
Ben kemudian duduk di seberang meja kerja Junee.
“Aku percaya sama kamu. Tapi tidak dengan publik. Aku mau kamu cerita semuanya. Dari awal. Tanpa ditutup-tutupi.”
Junee menghela nafas pelan.
“Itu sekitar seminggu yang lalu, aku sedang menemani anak - anak di depan. Seperti waktu wartawan itu datang. Kakek bilang, di gerbang ada yang mencari aku. Teman lama. Jadi aku lihat ke depan, ternyata dia. Aku tidak mau meladeni dia. Tetapi Arga bilang mau minta maaf. Dan tidak akan menganggu aku lagi. Hanya itu. Aku tidak tau, kalau ternyata ada yang memotret kami.”
Ben mengenggam tangan Junee.
“Kenapa kamu tidak mengatakan sama aku kalau dia datang kemari?”
“Karena aku takut kamu marah. Aku takut kamu mengira aku berkhianat.” Cicit Junee pelan.
Ben berdecak pelan.
“Junee, kalau sudah seperti ini, aku hampir salah paham sama kamu. Aku akan marah kalau kamu tidak mau terus terang sama aku. Kamu paham?”
Junee menganggukkan kepalanya. Seharusnya, waktu itu ia mengatakan langsung pada sang suami.
Bukan malah berspekulasi sendiri.
.
.
.
Ben menyimpan rekaman CCTV di depan gerbang panti asuhan, saat Junee bertemu dengan Arga.
Setelah mendapatkan bukti yang jelas, Ben mengajak Junee bertemu dengan pengacara mereka.
Mereka bertemu di lantai 30, gedung Ben Holding.
Ben, Junee, dan tim pengacara pun melihat rekaman CCTV itu.
Di dalam video, interaksi Junee dan Arga hanya sekitar 5 menit. Kemudian Junee pergi.
Tidak ada pegangan tangan. Tidak ada pelukan.
Malah Arga terlihat seperti sedang memelas.
Pengacara Ben, Pak Bayu, tersenyum.
“Ini cukup sebagai bukti untuk gugatan pencemaran nama baik. Kita bisa tuntut Lisa dan Vania.”
“Lisa dan Vania?” Gumam Junee.
Ben mengangguk pelan.
“Salah satu dari mereka pasti ada yang menyuruh Arga untuk menemui kamu, kemudian mengambil gambar itu.” Ucap pria itu.
“Kamu kembali ke penthouse dulu, ya. Jangan membuka aplikasi apapun.” Ucap Ben kepada sang istri.
Junee pun menurut. Ia pun meninggalkan lantai 30, bergegas kembali ke lantai 48.
Setelah kepergian Junee, Ben juga ikut keluar dari gedung itu. Tujuannya adalah menemui Arga.
Ben sudah mendapatkan informasi dimana pria itu berada saat ini.
Arga yang tengah memantau pembangunan sebuah proyek mall, terkejut melihat kedatangan Ben.
“Pak Ben? Ada apa anda datang kemari?” Tanya Arga tergagap.
“Saya tidak mau basa - basi. Siapa yang menyuruh kamu datang ke panti menemui Junee?” Tanya Ben dengan suara rendah.
Arga terdiam. Tatapan Ben begitu mengintimidasi.
“Kamu tau, ada orang yang memanfaatkan kedatangan kamu untuk menjatuhkan Junee.” Ucap Ben lagi.
Arga kembali terkejut. Ia sama sekali tidak tau.
“Katakan siapa yang menyuruh kamu datang menemui istri saya?” Ucap Ben lagi dengan tatapan nyalang.
“Bu Vania, pak.” Arga akhirnya mengaku.
“Dia mengatakan kalau pernikahan kalian tidak bahagia. Dan saya ada kesempatan untuk merebut Junee kembali.” Imbuh pria itu.
Tangan Ben terkepal sempurna.
“Kurang ajar. Sampai kapanpun kamu tidak akan pernah bisa memiliki Junee.”
Arga tersenyum pahit.
“Iya, pak Ben. Saya sadar diri. Tidak akan pernah bisa kembali bersama Junee lagi. Saya tidak mungkin bisa bersaing dengan anda.”
Arga sadar diri. Dari segi apapun, ia telah kalah dari Ben Pratama.
“Bagus kalau kamu sadar diri. Nanti saya minta kamu menjadi saksi di pengadilan. Atau, saya blacklist nama kamu dari daftar arsitek muda berbakat Jakarta.” Ucap Ben lagi.
“Jangan, pak. Saya siap kapan pun bapak memanggil saya.” Ucap Arga.
Ia lebih baik menjadi saksi daripada kehilangan pekerjaannya.
Ben kemudian meninggalkan pria itu. Kini saatnya melakukan sesuatu yang lebih keras pada Vania dan Lisa, agar mereka tidak berani lagi menggangu Junee.