Alya—gadis 20 tahun, terpaksa bekerja menggantikan ibunya yang sakit keras. Ia menjadi seorang pelayan di sebuah mansion mewah milik seorang pria kaya yang terkenal dingin dan arogan.
Suatu hari keduanya bertemu.
Maxime, pemilik rumah tersebut jatuh cinta pada gadis itu dan memintanya untuk menikah dengannya.
Namun, Alya menolak, karena merasa dipermainkan oleh pria itu.
Pria itu tidak menyerah, ia melakukan segala cara untuk mendapatkan hatinya.
Apakah pria itu akan berhasil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Tujuh
Alya tampak melamun, memikirkan tentang tawaran Bayu yang terdengar sangat menggiurkan. Ia sangat membutuhkan uang yang banyak karena tabungannya hampir menipis.
Biaya satu kali menjalani kemoterapi tidaklah murah. Belum lagi biaya obat dan kamar perawatannya. Ia juga harus menyimpan uang untuk biaya operasi ibunya. Sayang sekali ia tidak bisa mengurus kartu kesehatan karena masalah teknis. Alya juga tidak terlalu mengerti mengenai masalah tersebut.
Ia bisa saja meminjam uang. Namun, ia ragu apakah nantinya bisa membayarnya atau tidak. Ia tidak mau hidup dengan hutang, karena hal itu hanya akan mempersulit hidupnya nanti.
"Apa aku terima saja ya, tawaran kerja dari Bayu."pikirnya ragu.
Ia menghela napas panjang dan berat, lalu melanjutkan pekerjaannya, mengepel di lantai atas.
Ia tidak sendirian di sana. Ada dua pelayan wanita lainnya, yang sedang membersihkan semua perabotan yang ada di sana.
Namun, di saat Alya fokus pada pekerjaannya, kedua gadis itu tiba-tiba mendorongnya, hingga terduduk di lantai. Bokongnya seketika terasa nyeri.
"Apa yang kalian lakukan?!" desis Alya tajam, menahan marah.
"Itu hukuman untukmu, gadis jal*ang! " umpat salah seorang gadis padanya. Ia adalah Sinta dan gadis lainnya bernama Lani.
Kedua gadis itu memang selalu mencari masalah dengannya. Entah apa yang membuat mereka sebenci itu pada Alya.
"Hukuman?" tanya Alya tidak mengerti. "Hukuman apa?"
"Itu hukuman, karena kau sudah berani menggoda Bayu." jelas Sinta meradang.
"Hah!! Kapan aku menggodanya? Kau jangan sembarangan menuduh ya!" sanggah Alya, tidak terima dengan tuduhan Sinta yang tidak beralasan.
"Jangan sok suci. Jelas-jelas aku melihat dengan mata kepala ku sendiri jika kau bicara berdua Bayu di depan pintu gerbang semalam."
Tuduhan itu benar-benar tidak berdasar. Ia hanya melihat, dan menduga-duga apa yang terjadi.
Alya perlahan bangkit, dan berdiri tegak di hadapannya.
"Aku memang sedang bicara dengannya. Tapi itu hanyalah pembicaraan biasa, tidak lebih."
"Halah ... mana mungkin jal*ang sepertimu mau mengaku." Sinta tetap pada pendiriannya.
"Dasar munafik! Waktu itu jelas-jelas kau sudah menolaknya. Tapi sekarang, kau malah diam-diam mendekati Bayu seperti itu. Kau tidak punya harga diri ya?!" desis Lani, ikut menimpali dengan penuh emosi.
Alya terdiam sejenak. Tidak ada gunanya terus berdebat dengan kedua gadis ini. Itu hanya membuang tenaga, membuang waktu.
"Terserah apa kata kalian. Aku malas berdebat dengan orang yang bahkan tidak percaya pada perkataan ku."
Ia lalu mengambil ember dan tongkat pel yang terjatuh di lantai, kemudian beranjak pergi. Namun, baru beberapa langkah, tubuhnya kembali terdorong ke depan, nyaris jatuh jika seseorang tidak segera menangkapnnya.
Tubuh itu terasa keras, namun hangat. Aromanya jelas berbeda, bukan campuran dari parfum dan keringat yang menyengat, melainkan wangi kayu dan mint yang menenangkan.
Alya tampak menengadah, memperhatikan wajah pria yang saat ini mendekapnya erat. Matanya membelalak seketika saat ia menyadari siapa pria di hadapannya.
"T-Tuan muda." ucapnya terbata.
Ia segera melepaskan diri dari pelukan itu dan mundur, menjaga jarak. Kepalanya tertunduk, tidak berani menatapnya karena takut yang tiba-tiba menghampirinya.
Begitu juga dengan Sinta dan Lani, mereka berdiri kaku di tempatnya, terdiam.
"Suara kalian sangat mengganggu." tegur Maxime dengan suara rendah, namun tegas.
"Maafkan kami, Tuan." pinta Alya, akhirnya bersuara.
Sementara Sinta dan Lani masih diam ditempatnya.
"Kenapa hanya kau saja yang meminta maaf? Apa kedua gadis ini tidak bisa bicara?" tanyanya tajam. "Padahal, sedari tadi yang ku dengar bukan suaramu, melainkan mereka."
"Maafkan kami, Tuan. K-kami tidak bermaksud untuk mengganggu Anda... maafkan kami." pinta kedua gadis itu dengan suara bergetar, jelas diliputi ketakutan.
Wajah mereka berubah pias. Keringat dingin mulai mengucur dari sela-sela rambut mereka yang basah, bukan karena cuaca yang panas, melainkan karena rasa takut yang tiba-tiba muncul, menghantui mereka.
Melihat hal itu tidak membuat Alya puas hati. Hatinya terketuk untuk menolong.
"Maafkan kami, Tuan. Kami hanya sedang mengobrol, jadi tidak sadar jika pembicaraan kami sangat menganggu. Kami akan berhati-hati lain kali. Sekali lagi maafkan kami, Tuan." pintanya, memohon maaf pada Maxime.
Maxime juga tidak ingin memperpanjang masalah ini karena suasana hatinya tidak begitu baik.
Ia menghela napas sejenak, lalu mengakhiri pembicaraan sampai di sini saja.
Ia menyuruh kedua gadis itu pergi, kecuali Alya. Gadis itu tetap tinggal karena ia membutuhkan bantuannya.
Alya berusaha mengikuti langkah kaki Maxime yang panjang dan lebar. Ia bahkan terlihat kesusahan untuk menyesuaikan ritme langkahnya.
Maxime berhenti di ruang kerjanya. Ia menyuruh Alya untuk ikut masuk bersamanya.
Alya sekilas memperhatikan ruangan yang terlihat asing itu. Ruangan itu terlihat sangat luas dan besar. Ada sebuah rak buku tinggi yang menjulang ke atas. Tiap barisan dipenuhi dengan buku-buku berukuran panjang dan tebal.
Apa dia sudah membaca semuanya? Atau... hanya menjadikannya sebagai pajangan?
Max duduk di kursi kerjanya. Matanya langsung tertuju pada Alya, yang berdiri mematung di depan pintu, menatap ke sekeliling ruangan.
"Apa yang kau lakukan? Kemari!" perintahnya, mengejutkan Alya.
Alya segera melangkahkan kakinya ke arah Maxime, berhenti tepat di depan meja kerjanya.
"Iya, Tuan." sahut Alya gugup.
"Kau bisa membaca?" tanya Maxime.
"Bisa, Tuan." jawabnya cepat. "Saya bisa membaca dan menulis."
"Bagus." sahutnya singkat.
Ia lalu meminta Alya untuk mengambil kursi kecil yang ada di sudut ruangan, membawanya ke sisi Maxime.
Alya menurut dan melakukan perintahnya. Ia meletakkan kursi itu tepat di sebelah Maxime.
"Duduk." ucap Maxime, memberi arahan padanya.
"Duduk di sini?" tanya Alya menegaskan.
"Iya."
Walau ragu, ia akhirnya menurut. Alya duduk dengan penuh kecanggungan di samping pria itu.
Ia menyerahkan setumpuk kertas yang dijilid ke hadapan Alya.
"Baca bagian yang di tandai dengan stabilo hijau." perintah pria itu dengan tegas dan jelas.
"Tapi... ini menggunakan bahasa Inggris." Alya terlihat ragu setelah melihat tulisan di kertas tersebut.
"Kau bilang bisa membaca?"
"Ya. Saya memang bisa membaca. Tapi saya tidak terlalu fasih membaca tulisan dalam bahasa Inggris." jelas Alya.
"Coba baca saja!" perintah Maxime lagi, sedikit melembut, tidak tegas seperti sebelumnya.
Alya mencoba membacanya. Ia tampak sangat lancar dan fasih, seolah kata-katanya tadi hanya sekedar basa-basi untuk merendah.
"Kau bilang tidak bisa, padahal bisa..." tegur Maxime.
"Saya hanya tidak begitu yakin." sahut Alya canggung.
Ia lanjut membacakan isinya. Sementara Maxime tampak sibuk mengetik sesuatu dalam layar komputernya.
Ruang yang luas itu sedikit terasa hening, hanya suara ketikan dari jari-jari Maxime yang terdengar samar, bercampur dengan suara Alya yang sesekali bergetar saat membaca. Udara di dalamnya terasa dingin, membuat suasana semakin canggung.
Alya berusaha tetap fokus, meski sesekali matanya melirik ke arah pria di sampingnya itu. Sementara Maxime sama sekali tidak menoleh, seolah tenggelam dalam pekerjaannya sendiri. Entah ia mendengarkan Alya atau tidak.
🌺🌺🌺
kalo iya semoga lekas ditolong maxime 😭