NovelToon NovelToon
Istri Seksi Tuan Arnold

Istri Seksi Tuan Arnold

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Duda / Aliansi Pernikahan / Nikah Kontrak / Beda Usia / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Putrichou

"Menikahlah dengan ku dan berikan aku keturunan. Aku akan memberikan semua yang kamu inginkan, termasuk kesejahteraan,"

Anjani tidak menyangka di usianya dua puluh tahun, harus menghadapi tawaran gila dari pria konyol yang dia bantu. Di sisi lain ia ingin memperbaiki hidup, sedangkan di sisi lain ia tidak ingin melakukan hal bodoh itu.

Namun melihat pengorbanannya Arya, keputusan besar akhirnya ia ambil untuk mereka berdua, bersiap menikah dan memberikan Arnold keturunan. Akankah mereka berdua berubah pikiran dan menjalin hubungan tanpa aliansi apapun?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putrichou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

NAMA KU ARNOLD

Hari mulai petang, sebuah mobil mewah berwarna silver tiba di sebuah pedesaan yang sungguh asri dengan pemandangan sunset di antara bentangan sawah kuning. Seorang pria turun dengan kaca hitamnya dan menatap para warga yang sedikit acuh atau mungkin tidak ingin menyapa orang asing.

"Permisi, Pak."

Warga itu menoleh dan sedikit tersenyum menyapa pria asing tersebut, "ada yang bisa Bapak bantu, Nak?"

"Saya ingin bertanya, apa benar ini Desa Asri?" tanyanya dengan ragu, ini pertama kalinya ia ke desa dan hanya untuk berjaga-jaga bila dirinya tersesat atau salah membaca maps.

Warga itu melirik penampilan pria berjas mewah, tinggi, bertubuh kekar. Warga itu akhirnya mengangguk dan mendongkrak sepeda ontelnya. "Benar, ada yang bisa Bapak bantu mungkin?"

Raut wajah lega terpampang di wajah pria tampan itu, "saya mau nanya, Bapak tau yang namanya Anjani? Dia dari desa ini juga,"

"Anjani ya?" Warga tersebut seperti sedang mengingat sesuatu, "hanya ada Anjani Calista Amadea di sini, Nak."

"Iya benar, Anjani yang itu, Pak."

"Oh, itu mah rumahnya di deket jembatan di depan sana, Nak. Setelah tanjakan, nanti ada rumah reog sebelah kiri." Warga tersebut menunjukan jembatan beton yang tak terlalu besar tapi cukup untuk di lewati mobil kecil.

"Terima kasih ya, Pak. Oh ya, perkenalkan nama saya Kelvin, Pak." Kelvin mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, ia dengar kalau warga desa di sini sangat ramah bila kedatangan tamu dari luar desa. Ia juga ingin akrab dengan warga desa walaupun nantinya tidak sering berkunjung.

"Oh alah, saya Pak Harto." Pak Harto menjabat tangan itu dengan sepenuh hati. Tak lama, Kelvin berpamitan dan melanjutkan perjalannya yang sudah di depan mata. setelah melewati jembatan dan beberapa rumah, akhirnya mobil itu tiba di sebuah rumah reog.

Kelvin melirik pria yang sejak tadi hanya diam tak bersuara, "Tuan, apakah benar ini rumahnya?" tanya Kelvin tak yakin. Arnold menurunkan kaca mobil dan melihat rumah reog itu dengan seksama.

"Iya," jawaban singkat itu membuat Kelvin sedikit ragu. Mereka itu keluar bersamaan dan langsung menjadi pusat perhatian para warga, termasuk Pak Harto yang juga baru sampai di rumahnya yang ternyata berhadapan dengan rumah Anjani. Pria tua itu cengengesan membuat Kelvin ikut menepuk jidatnya, ternyata ia di kerjain.

"Tunggu di sini," Kelvin mengangguk patuh dan menatap Arnold yang memasuki pekarangan rumah itu. Kelvin sedikit risih dengan bisikan para warga desa yang masih berkumpul di dekat mereka.

"Permisi,"

"Iya, sebentar." terdengar sahutan dari arah belakang. Arnold tersenyum tipis karena ia akhirnya bisa bertemu dengan Anjani, gadis yang membuatnya tergila-gila. Tak lama, terdengar suara langkah kaki dari arah belakang rumah, terlihatlah Anjani yang datang dengan pakaian setengah basah.

Arnold dan Anjani saling berpandangan. Mereka berdua sama-sama terkejut karena kondisi mereka yang bertolakbelakang, Arnold langsung mengulas senyuman membuat Anjani seketika tersadar dari lamunannya.

"Tu ... Tuan Arnold?"

Arnold mengangguk, Anjani menatap rumahnya yang reog membuatnya jadi sungkan mempersilahkan pria kota itu duduk. "Tunggu sebentar, Tuan."

Arnold tak banyak bicara, ia menurut. Kelvin yang melihat Arnold tak seperti biasanya di buat terbengong. kemana sikap tidak ingin di perintah dan pembangkangnya? Bahkan Ibu dari Arnold sampai angkat tangan karena sikap putranya itu.

"Wow, ini berita yang hangat untuk Tuan dan Nyonya Besar."

...****************...

"Kenapa tidak di rumah kamu saja, Anjani?"

Arnold dan Anjani berada di jembatan beton yang sempat mobil Arnold lalui, Kelvin tak bersama mereka. pria itu memilih mencari penginapan terdekat untuk beristirahat mereka nanti.

"Maaf, Tuan, tapi saya sungkan."

Alis Arnold mengerut bingung, padahal dirinya tidak mengapa dan tidak mempermasalahkan tentang kondisi rumah gadis di hadapannya. Anjani menatap sungai kecil penuh bebatuan besar, Arnold menghela napas dan mengalah karena tidak ingin berdebat lebih jauh.

"Bagaimana keadaan Kakak kamu itu?" tanyanya dengan basa-basi. Anjani tersenyum tipis, pemandangan senja yang diikuti senyuman Anjani membuat hati Arnold menjadi tenang.

"Dia jauh lebih baik berkat bantuan Tuan Arnold," jawab Anjani dengan melirik pria di sebelahnya. Anjani tidak mengelak kalau penampilan Arnold dengan kemeja hitam dan di baluti jas hitam semakin membuatnya tampan dan gagah.

"Saya juga mengucapkan banyak terima kasih kepada kamu, Anjani." Anjani mengangguk dan mereka berdua akhirnya terdiam cukup lama.

Semilir angin sepoi-sepoi menerpa wajah mereka berdua, rambut sebahu Anjani terhempas ke belakang mengundang tatapan dari Arnold. Ia tak pernah melihat gadis secantik Anjani di manapun, bahkan gadis di kota kalah saing dengan kecantikan alami gadis disebelahnya.

"Bagaimana kalau kita berbicara santai saja. Aku dan Kamu mungkin?"

Anjani mengangguk setuju, "apakah ada kendala saat kamu kemari, hmm ... Tuan?"

"Panggil aku dengan nama saja. Arnold," Arnold melepaskan jas nya dan menyelipkan di bahu Anjani, gadis itu terkejut dengan tindakan Arnold. "Maaf membuat mu terkejut, tapi anginnya sedikit kencang,"

"Terima kasih."

"Anjani," panggil Arnold dengan suara berat. Pria itu menatap Anjani dengan sangat serius, suasana menjadi tegang seketika.

"Aku ingin kamu menikah dengan ku tanpa surat aliansi,"

DEG ....

Anjani terdiam sebentar, ia kurang mengerti dengan maksud Arnold. melihat wajah bingung gadis di depannya, Arnold menjadi gemas.

"Lupakan itu,"

"Apakah kamu serius menawarkannya kepada ku?" tanya Anjani dengan malu-malu.

Arnold terkekeh geli, "kamu masih meragukan aku?"

Anjani sontak menatap Arnold. Tatapan itu seperti sebelumnya, sangat serius. Ia takut kalau Arnold tidak bisa menerima kehidupannya di desa yang jauh dari kata nyaman dan sejahtera. Tiada hari tanpa bully dan caci maki, hal itu adalah makanan harian seorang Anjani.

"Anjani, aku sudah memberitahu keluarga ku tentang keputusan ku. Mereka setuju dan ingin segera melamar mu dengan resmi,"

Jantung Anjani berdetak kencang, ia tidak menyangka kalau Arnold akan memberitahu hal itu kepada orang tuanya dengan cepat.

"Arnold, aku ...."

"BRENGSEK!"

BRUK ....

"KAKAK!"

Tubuh Arnold terpelanting keras ke atas tanah, Anjani terkejut dengan tindakan Arya yang tiba-tiba itu. Arya yang penuh dengan amarah langsung melayangkan pukulan pada rahang dan wajah Arnold tanpa ampun.

"Kak, lepaskan dia!" teriak Anjani mencoba menjauhkan Arya dari atas tubuh Arnold.

"DIAM!" berang Arya membuat anjani terkejut. Dengan tangan bergetar, Anjani menahan rasa takutnya dan mendorong tubuh Arya dengan kuat hingga tersungkur.

"Kamu tidak apa-apa?" tanya Anjani menghapus jejak tanah di tubuh Arnold, wajah pria itu penuh darah dan memar. Arya yang melihat pemandangan itu seketika di buat marah kembali.

"ANJANI!"

Teriakan itu membuat tubuh Anjani menjadi kaku diam. Arya menarik sang Adik dan menyeretnya dengan kasar untuk pulang. Anjani memberontak karena kesakitan.

"Lepaskan Anjani. Dia kesakitan!" Arnold tak tinggal diam dan menghempaskan tangan Arya dan membawa Anjani ke belakang tubunya yang kekar. Arya menatap Arnold dengan sengit dan mencoba menarik Anjani.

"Anjani, jangan membuat aku semakin marah ..."

"Turunkan nada bicara mu, Arya!"

Arya menatap Arnold dengan tajam dan menunjuk wajah pria itu, "saya tidak memiliki urusan dengan anda, karena kita tidak ...."

"Arnold." sela Arnold membuat tubuh Arya menjadi tegang. "Nama ku Arnold." jelas pria itu dengan tatapan dingin menusuk. Tubuh Anjani bergetar ketakutan dan tanpa sadar meremas kemeja milik Arnold.

"Tenang lah. Semuanya aman, Anjani." bisik Arnold membuat air mata gadis itu terjatuh. Ia ketakutan, ini jauh lebih mengerikan daripada sebelumnya. Anjani tak berniat membuat mereka berdua bertengkar ataupun saling melukai.

1
partini
pesikopet dia mah ,najani the next korban berikutnya OMG moga aja ga methong
partini
tekdung
partini
dua puluh tahun masih SMA Thor sehhh
partini: ok ,, soalnya jarang sih Thor di tempat ku lulus SMA umur 20th kebanyakan 18 dan 19 th
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!