Amelia Cameron nekad mendatangi kantor Best Idea Design milik seorang arsitek terkemuka, Caelan Harrison, untuk menuntut hak keponakannya, Emi. Amelia percaya bahwa Caelan merupakan ayah biologis dari Emi, putri kecil dari adiknya, Olivia yang sudah meninggal. Namun, seperti sebelumnya ketika Olivia menuntut hal yang sama, Caelan menolak untuk bertanggung jawab. Caelan berkata dirinya bukan ayah Emi, bahkan belum pernah bertemu Olivia sebelumnya.
Amelia berkeras, karena memiliki bukti hubungan Olivia dan Caelan. Akan tetapi, Caelan sama kerasnya dan meminta bukti tes DNA. Sebelum tes DNA yang dijadwalkan dilakukan, Caelan muncul di pintu rumah Amelia, berkata ingin bertanggung jawab membesarkan Emi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann Soe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 8
Aneh sekali bagaimana dalam satu bulan, kehadiran Caelan dalam kehidupan Amelia dan Emi menjadi hal yang begitu penting. Pria itu rela bolak-balik dari Kota Amber, tempat tinggal Caelan, ke Kota Venna, tempat tinggal Amelia dan Emi, setiap minggu.
Mulanya, Caelan pergi menggunakan mobil pribadi. Namun, setelah minggu kedua, pria itu memutuskan untuk menggunakan kereta. Caelan akan pergi ke Kota Venna setelah pekerjaan selesai di hari Jumat, kemudian kembali di Senin pagi. Pria itu membeli sebuah mobil keluarga yang dilengkapi car seat bayi untuk digunakan Amelia. Dengan mobil itu juga Amelia menjemput dan mengantar Caelan ke stasiun.
Biasanya, Caelan akan menghabiskan waktu seharian di rumah Amelia. Setelah makan malam, pria itu akan kembali ke hotel lalu kembali lagi keesokan harinya.
Terkadang mereka menghabiskan waktu seharian di rumah, tapi tidak jarang Caelan mengajak Amelia dan Emi pergi keluar. Sekedar berjalan-jalan di dekat rumah, atau melakukan perjalanan ke taman kota.
Rutinitas setiap akhir pekan itu selalu Amelia tunggu. Harus menunggu di stasiun setiap Jumat malam bukanlah hal yang merepotkan bagi Amelia, justru memberikan kesenangan tersendiri. Jujur saja, Amelia jadi selalu menanti kedatangan Caelan setiap minggunya. Bahkan menanti ponselnya berbunyi setiap malam untuk menjawab panggilan telepn maupun video call dari pria itu.
Kebaikan dan perhatian Caelan mulai Amelia artikan secara berbeda. Dan ia pun mulai menumbuhkan rasa yang seharusnya tidak ada.
Caelan akan menghubungi setengah jam sebelum kereta sampai sehingga Amelia tidak perlu lama menunggu di stasiun. Namun, Amelia terlalu antusias sehingga datang lebih cepat.
Biasanya, Amelia akan memarkir mobil di dekat pintu keluar dan menyalakan lampu agar Caelan mudah menemukannya. Dan pria itu selalu dengan mudah menemukan Amelia. Seolah memiliki radar tersendiri untuk menemukan Amelia, atau menemukan Emi.
Seperti hari ini, Amelia agak sibuk menenangkan Emi yang agak rewel sehingga lupa menyalakan lampu mobil, tapi Caelan bisa menemukannya dengan mudah. Amelia menurunkan kaca pintu mobil saat Caelan mengetuk sambil terus mencoba menenangkan Emi.
“Hai.” Caelan menyapa dengan hangat. “Perlu bantuan, kurasa kau sedikit kerepotan.”
Amelia tersenyum kecut. “Emi agak rewel hari ini. Gigi pertamanya mulai tumbuh.”
Caelan terlihat antusias mendengar hal itu. “Sini, biar kugendong dia.” Caelan membuka pintu dan mengambil Emi dari pangkuan Amelia. Pria itu mengajak Emi berjalan-jalan sambil mengayun-ayunkan tubuh kecil Emi.
Tidak perlu waktu lama, Caelan berhasil membuat Emi tertidur dalam gendongan dan kembali ke mobil.
Amelia menghela napas. “Lihat, dia hanya menurut padamu,” keluhnya.
“Dia hanya kangen denganku,” ujar Caelan sambil menempatkan Emi di car seat di kursi penumpang bagian belakang. “Bagaimana harimu?”
Amelia tersenyum masam. “Minggu ini cukup baik, aku mendapatkan beberapa pekerjaan. Membuatku lebih sibuk daripada biasanya. Ditambah Emi yang rewel karena tumbuh gigi.” Amelia menghela napas. “Kurasa kau bisa membayangkan betapa repotnya.”
“Sebenarnya, kau tidak perlu mengambil semua pekerjaan itu atau tidak perlu mengambilnya sama sekali. Aku bisa membantu memenuhi kebutuhanmu dan Emi,” kata Caelan, tapi Amelia menggeleng tak setuju.
“Aku harus mengambilnya, kau sudah cukup banyak membantu. Semua kebutuhan Emi, kebutuhan pokok di rumah, biaya listrik. Kau sudah membantu lebih dari cukup. Aku tidak bisa menumpang hidup padamu selamanya.”
“Kau tidak menumpang hidup.”
“Tentu saja ini menumpang hidup. Karena kebutuhan dasarku semua dibiayai olehmu.”
“Kau merawat Emi. Jadi, tidak ada salahnya jika aku membantu dengan memastikan kau cukup makan dan bisa istirahat. Jika pekerjaanmu terasa melelahkan, kau bisa menguranginya.”
Amelia menghela napas. “Aku merasa berhutang, aku tidak menyukainya. Aku merasa terlalu banyak merepotkanmu.”
“Jangan merasa begitu,” ujar Caelan. “Kau mau aku yang menyetir?” Caelan menawarkan karena melihat Amelia yang lelah dan emosional.
“Kau terlalu baik padaku,” ucap Amelia jujur. Sebelum ini tidak ada orang yang benar-benar peduli padanya, bahkan Olivia sekalipun. Kehadiran Caelan dalam hidupnya membuat Amelia terlena dan mulai bergantung pada pria itu.
“Sudah sepantasnya. Kau menjaga Emi setiap hari, karena aku adalah pamannya Emi, aku wajib bersikap baik padamu.”
Amelia tersenyum kecut. Rasanya seperti ditampar ketika Caelan menegaskan bahwa kebaikan pria itu padanya hanyalah karena Amelia merawat Emi. Bukan karena hal khusus lain.
‘Bodoh, berhentilah berharap. Caelan baik padamu karena Emi. Jangan berpikiran macam-macam.’
“Biar aku saja yang menyetir,” ujar Amelia kemudian mulai memundurkan mobil dan keluar dari parkiran.
Setelah lama tidak ada percakapan di mobil, Amelia membuka suara. “Jadi, bagaimana harimu?”
“Sibuk dengan pekerjaan, tapi selalu merindukan kalian,” jawab Caelan.
Dalam hati Amelia berkeluh kesah. Perkataan Caelan memang seringkali membuatnya bingung. Terkadang Caelan membuat Amelia merasa menjadi bagian penting dalam kehidupan pria itu. Namun, di lain waktu ia merasakan Caelan memisahkan dirinya dari Emi. Seolah hanya Emi yang diinginkan pria itu dan Amelia hanya tambahan saja.
Amelia menghela napas lagi, membuat Caelan bertanya, “Ada apa? Apa aku salah bicara?”
Jawaban Amelia hanya berupa gelengan. Lalu Caelan kembali bersuara, “Minggu depan sepertinya aku tidak bisa datang. Ada sebuah proyek di luar kota yang harus kutinjau. Berangkat hari Rabu dan rencananya seminggu di sana. Kau tidak masalah, kan?”
“Tidak masalah, kau fokus saja pada pekerjaan. Aku akan menjaga Emi,” jawab Amelia.
“Aku akan menelepon dan video call juga.”
“Iya, tidak masalah. Lagi pula, kau sudah melakukannya setiap hari.”
Caelan tertawa. Semburat merah muncul di wajah pria itu. “Mau bagaimana lagi, setiap hari aku merindukan Emi … merindukanmu juga.”
Ucapan Caelan membuat Amelia berharap. Namun, ia berusaha menekannya dan memperingatkan diri sendiri.
‘Jangan berharap, Amelia. Caelan hanya bersikap baik.”
“Emi pasti akan merindukanmu,” ujar Amelia.
“Hanya Emi?” Caelan terlihat kecewa.
“Aku juga.” Amelia menambahkan.
“Syukurlah.” Caelan menggumam pelan, tapi Amelia mendengarnya. Harapan bahwa Caelan memiliki rasa spesial padanya kembali muncul. Namun, Amelia kembali menekan harapan itu.
‘Jangan berharap, Amelia. Caelan hanya bersikap baik.”
Perjalanan lima belas menit dari stasiun ke rumah Amelia berjalan lancar. Pukul delapan malam mereka sudah berada di dalam rumah. Amelia menyajikan makan malam sementara Caelan mengganti popok dan memberikan susu pada Emi.
Amelia memandangi interaksi paman dan keponakan itu cukup lama sampai Caelan menyadari bahwa tengah diperhatikan.
“Apa aku sudah terlihat seperti ayah beneran untuk Emi?”
Bukannya menjawab, Amelia malah menangis.
“Ada apa?” Caelan langsung menghampiri Amelia sambil menggendong Emi yang baru selesai minum susu.
“Tidak apa-apa,” jawab Amelia sambil menyapu air mata dengan jari. “Aku hanya … merasa bahagia. Dari Emi lahir, hanya ada aku dan Olivia. Lalu setelah Olivia pergi, hanya ada aku. Aku tidak menyangka kalau Emi akan mendapatkan kasih sayang dari orang lain. Bahkan saat aku datang meminta tanggung jawab darimu, waktu itu aku hanya berharap mendapatkan bantuan finansial.”
Air mata Amelia kembali mengalir. “Kehadiranmu benar-benar sangat berarti.”
Caelan menggendong Emi di bahu, memegangi bayi itu dengan sebelah tangan, sementara tangan yang bebas merangkul Amelia.
“Aku tidak akan pergi. Aku akan selalu ada untuk kalian.”