NovelToon NovelToon
Ascending The Goddess Peak

Ascending The Goddess Peak

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi Timur / Kultivasi / Fantasi
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: nona cacha

[ Karya pertama di NovelToon ]
[ Semua visual di dalam didapat dari apk pinterest ]

----------

Yu Lingxi adalah Nona Muda Sekte Naga Giok. Ia dipuja-puja sebagai dewi karena memiliki kemampuan diatas rata-rata para kultivator wanita luar. Namun, ada suatu masa Sekte Naga Giok runtuh, disebabkan oleh Sekte Iblis Guntur yang secara terang-terangan mendeklarasikan peperangan dadakan. Dan diakhir hanya menyisakan nyawa Yu Lingxi dan Kakek Naga—Yu Tianlong. Peristiwa itu mengakibatkan mereka terpaksa meninggalkan sekte demi keberlangsungan hidup.

Tapi, tanpa Sekte Iblis Guntur ketahui, akan ada masanya Yu Lingxi membalaskan ketidakadilan dan dosa besar yang sudah mereka lakukan terhadap Sekte Naga Giok. Yu Lingxi, akan segera datang. Tunggu saja ...

----------

[ Hasil ketik tangan sendiri ]
[ Segi dunia, kultivasi, profesi, tingkatan, kekuatan, dan lain sebagainya adalah sebuah rekayasa dari ide author sendiri. Jika ada kesalahan kalimat/typo, mohon beritahu author ]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nona cacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Puncak Gunung Kembar #01

Itulah Yu Tianlong, sang Kakek Naga. Wajah yang biasa terlihat jenaka kini menegang. Matanya yang tajam menyiratkan kecemasan yang mendalam. Sebagai seorang kakek, hatinya tidak tenang melihat cucu tercintanya harus beradu nyawa dengan lawan yang berada dua level di atasnya. Baginya, keselamatan Lingxi jauh lebih berharga daripada kemenangan di atas Chìyán Zhànchǎng.

Bunyi langkah kakinya terdengar perlahan, namun setiap pijakan seolah meredam hawa panas yang dikeluarkan oleh teknik Tarian Bulu Pijar. Bulu-bulu api yang melayang di dekatnya perlahan meredup dan menghilang.

Melihat sosok kakek, emosi petarung Lingxi seketika luruh. Ia tidak lagi memedulikan Liu Juechen atau tatapan ribuan murid lainnya. Dengan gerakan yang lincah, ia melompat turun dari panggung arena dan bergegas menghampiri Yu Tianlong yang kini berdiri tepat di samping Penatua Sekte Phoenix Api Surgawi.

"Kakek Naga!" seru Lingxi. Begitu sampai di hadapan pria tua itu, ia langsung membuka lebar kedua tangannya dan menjatuhkan diri ke pelukan.

Dengan erat ia memeluk pinggang sang kakek dengan manja, seperti anak kecil yang masih membutuhkan belaian kasih sayang dari orang yang mereka harapkan. Yu Tianlong menghela napas panjang yang sarat akan rasa lega. Tangan tuanya yang kasar namun hangat mulai membelai kepala Lingxi dengan sangat halus, merapikan beberapa helai rambut cucunya yang berantakan karena angin pegunungan.

"Kau ini selalu saja membuat jantung kakekmu yang tua ini mau copot," bisik Yu Tianlong dengan nada yang melembut.

Lingxi mendongak, menyandarkan dagunya di dada sang kakek dengan bibir yang sedikit mengerucut. "Habisnya, dia sombong sekali, Kek. Aku hanya ingin memberi pelajaran."

Kakek Naga hanya tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti gemuruh rendah dari kejauhan. Ia melirik Liu Juechen yang kini tampak menurunkan senjatanya dengan wajah hormat. Setelah itu Liu Juechen tampak menangkupkan tinju dengan tubuh membungkuk sekilas, lalu berdiri mantap di tengah arena. Melihat pemandangan itu, sontak mendatangkan lengkungan ujung bibir terangkat ke atas—membentuk senyuman samar.

Kemudian, seluruh atensi hanya tertuju kepada cucu kesayangannya. "Kau sudah menunjukkan cukup banyak hari ini, Lingxi," lanjut Yu Tianlong sembari mengelus janggutnya.

"Dan mendaki gunung itu setapak demi setapak, Naga Kecil," nasihat Yu Tianlong sembari menatap mata Lingxi dengan dalam. "Alangkah baiknya untuk tidak tergesa-gesa jika kau benar-benar ingin menjadi kuat yang sesungguhnya," usulnya kepada Lingxi.

"Kekuatan yang dipaksakan hanya akan melukai dirimu sendiri." Yu Tianlong kemudian melirik ke arah arena yang masih membara, lalu kembali menatap Lingxi. "Sudahlah, menyerah saja untuk hari ini. Tidak ada gunanya membuktikan apa pun pada mereka dengan ranah mu yang sekarang."

Lingxi mendesah panjang. Ia melirik Liu Juechen untuk terakhir kalinya, memberikan anggukan hormat yang singkat. Murid-murid Sekte Phoenix Api Surgawi hanya bisa terpaku diam, menatap punggung gadis itu dan sosok Yu Tianlong yang kehadirannya saja sudah cukup untuk menghentikan duel dalam sekejap.

"Baiklah, Kakek." Lingxi menyetujui saran usul Kakek Naga. Dengan berat hati, Lingxi melepaskan rangkulannya. Meski ia telah memutuskan untuk mengikuti saran Yu Tianlong, ia tahu bahwa seorang kultivator sejati tidak boleh meninggalkan arena tanpa menutup duel dengan martabat.

Ia membalikkan badan, kembali melangkah menuju arena beladiri yang masih menyisakan hawa panas dari sisa pertarungan tadi.

Suasana arena yang tadinya bising oleh kasak-kusuk para murid sekte mendadak hening saat melihat Lingxi kembali masuk. Semua mata tertuju pada kakinya. Lingxi mengenakan sepasang high heels yang elegan, yang seharusnya menimbulkan bunyi ketukan tajam saat menghantam batu obsidian merah yang keras.

Namun, terjadi sebuah keajaiban. Setiap kali tumit sepatunya menyentuh lantai, tidak terdengar bunyi benturan benda padat. Justru, dari setiap pijakannya, muncul riak cahaya biru transparan yang mengeluarkan bunyi gemericik aliran air sungai yang jernih. Bunyi itu begitu menyejukkan hati, seolah-olah ia sedang berjalan di atas permukaan danau suci, menyapu bersih sisa-sisa energi api yang membara di udara.

Lingxi berhenti tepat beberapa meter di depan Liu Juechen. Pemuda itu masih berdiri di sana, memegang tombak hitamnya dengan raut wajah yang campur aduk. Dengan gerakan yang anggun, Lingxi menegakkan punggungnya. Ia menumpuk telapak tangan kanan di atas tinju kirinya—sebuah penghormatan formal—lalu membungkuk sedikit ke arah Liu Juechen.

"Kakak Senior Liu," panggil Lingxi dengan tenang, tanpa ada nada permusuhan sama sekali. "Terima kasih atas duel hari ini. Yu Lingxi merasa puas akan hasilnya. Saya mengajukan diri untuk mundur."

Liu Juechen terdiam sejenak, menatap mata Lingxi yang sedalam samudra itu. Ia perlahan membalas penghormatan tersebut dengan sikap yang sama. "Kau adalah lawan yang unik, Yu Lingxi," sahut Liu Juechen. "Aku akan menantikan hari di mana air milikmu benar-benar melampaui api milikku."

Lingxi memberikan senyum tipis sebagai salam perpisahan. Ia berbalik, hanfu yang memperlihatkan kaki jenjangnya membentuk pola gelombang air saat ia berjalan kembali menghampiri Kakek Naga yang sudah menunggu di pinggir arena dengan wajah bangga.

Para murid sekte hanya bisa terpana melihat punggung gadis itu menjauh, menyadari bahwa mereka baru saja menyaksikan kemunculan seorang jenius yang tidak hanya kuat tapi juga sangat anggun dalam etika.

Rasa haus akan kemenangan tadi perlahan lenyap. Lingxi menyetujui ajakan sang kakek untuk meninggalkan hiruk-pikuk Sekte Phoenix Api Surgawi.

...✦•┈๑⋅⋯ ࿔‧ ֶָ֢˚˖𐦍˖˚ֶָ֢ ‧࿔ ⋯⋅๑┈•✦...

^^^On the way to Shuangfeng Peak^^^

Jauh dari hiruk-pikuk Sekte Phoenix Api Surgawi, jalan setapak menuju Puncak Shuangfeng terasa jauh lebih damai. Cakrawala yang terbentang luas di atas begitu menyejukkan mata. Matahari yang menggantung dengan ditemani kepulan awan ikut menjadi saksi bisu perjuangan Lingxi dalam menempuh perjalanan menuju ke tempat tujuan. Langkah kaki saling beriringan terdengar menyatu bersama desiran angin yang berlalu lalang menerpa kulit. Pepohonan pinus yang menjulang tinggi di samping kiri dan kanan pun ikut bergoyang.

Lingxi meraih lengan Yu Tianlong, menyandarkan kepalanya sejenak di bahu sang kakek saat mereka mulai berjalan meninggalkan area sekte. "Kakek, kita akan kemana?" tanya Lingxi pelan.

"Ke Puncak Shuangfeng," jawab Yu Tianlong dengan senyum penuh arti. "Di sana, Kakek ingin memperkenalkan dirimu kepada kenalan Kakek."

"Puncak Shuangfeng? Kenalan Kakek?" Kepala Lingxi sedikit dimiringkan—menandakan ketidaktahuan. "Sejak kapan Kakek Naga mempunyai seorang teman? Bukankah Kakek Naga lebih sering mengurung diri saat bermeditasi?" Lingxi lanjut bertanya dengan rasa ingin tahu yang mendalam.

"Dasar Naga Kecil." Yu Tianlong menjentikkan jarinya ke dahi mulus milik cucunya itu dengan lembut. "Walau Kakek Naga mu ini seorang kultivator penyendiri, bukan berarti semasa hidupnya tak mempunyai teman untuk berbagi arak."

Lelucon itu sontak mendatangkan tawa. Bahu Lingxi tampak naik-turun dengan kedua tangan mencengkram erat perutnya karena tawa yang sudah pecah. Air matanya bahkan hampir menetes karena tidak sanggup menahan geli.

Namun, di tengah gelak tawa yang masih tersisa, sebuah getaran aneh muncul di udara. Angin pegunungan yang tadinya lembut mendadak bertiup lebih kencang, membawa aroma debu dan kertas tua.

"Yu Tianlong ... Jadi, Naga Berjanggut ini akhirnya memutuskan untuk kembali ke Puncak Shuangfeng."

Suara itu berat dan memiliki intonasi yang sangat dingin, memotong tawa Lingxi seperti pedang yang membelah kain. Lingxi refleks berhenti melangkah, tawanya hilang seketika digantikan oleh kewaspadaan. Ia merasakan bulu kuduknya meremang.

"Siapa?" bisik Lingxi, tangannya refleks memasang kuda-kuda.

Yu Tianlong berhenti berjalan. Senyum jenakanya lenyap, digantikan oleh raut wajah yang sangat serius—sebuah ekspresi yang jarang sekali Lingxi lihat. Matanya menyipit, menatap ke arah sebuah pohon tua yang meranggas di tikungan jalan depan mereka.

"Suara ini ...," gumam Yu Tianlong pelan. "Lingxi, berdirilah di belakang Kakek," titahnya dengan intonasi penuh penekanan.

"Sudah lama sekali, kawan lama." Pria misterius itu berucap, kepalanya sedikit terangkat, memperlihatkan seringai tipis. "Kuharap kau belum lupa cara bertarung, karena perjalanmu menuju Puncak Shuangfeng sepertinya akan tertunda sedikit lebih lama."

...✦•┈๑⋅⋯ ࿔‧ ֶָ֢˚˖𐦍˖˚ֶָ֢ ‧࿔ ⋯⋅๑┈•✦...

INFORMATION:

1. Sekte Phoenix Api Surgawi (Tiānhuǒ Fènghuáng Mén)

Sekte Phoenix Api Surgawi adalah salah satu sekte kultivasi aliran yang (panas/api) paling berpengaruh yang terletak di wilayah pegunungan tinggi yang ekstrem. Sekte ini mendasarkan seluruh filosofi dan teknik beladirinya pada kekuatan burung Phoenix mitologi—lambang keabadian, kehancuran melalui api, dan kelahiran kembali dari abu.

2. Chìyán Zhànchǎng (Arena Batu Merah)

Chìyán Zhànchǎng adalah jantung dari kekuatan tempur Sekte Phoenix Api Surgawi. Ini bukan sekadar tempat berlatih, melainkan tempat suci di mana para murid membuktikan kultivasi mereka di hadapan para dewa dan leluhur.

3. Lingkaran Bintang (Circle of Stars)

Setiap ranah seorang kultivator naik satu tingkat, maka dapat dipastikan kemunculan Lingkaran Bintang yang akan memperlihatkan seberapa jauh dan tinggi ranah yang sudah dituju. Munculnya Lingkaran Bintang terlekat pada punggung seorang kultivator.

...✦•┈๑⋅⋯ ࿔‧ ֶָ֢˚˖𐦍˖˚ֶָ֢ ‧࿔ ⋯⋅๑┈•✦...

...…To Be Continued…...

1
T28J
banyak kali monsternya kak, gak terlalu OP apa tuh
T28J: Hmmm.. menarik
tapi sejenius dan sekuat nya MC saya ragu manusia bisa mengalahkan monster berumur 100 ribu bahkan 100 juta tahun , aplagi MC masih muda/Slight/
baiklah saya lanjutkan melihat perkembangan MC👍
total 2 replies
T28J
semangat kak ✍️
钙Chaa: makasihhhh udh mampirrr /Smile/
total 1 replies
Noona
Semangat berkarya thor /Curse//Curse//Curse/
钙Chaa: thankyou for ur support /Scream//Scream/
total 1 replies
Manusia Ikan 🫪
kasiaaan
Elsa Sefia
semangat kak 😊
钙Chaa: thankyouu udh mampirrr kakaa~ /Smile//Smile/ kakaaa jg semangatt yyaaa /Kiss//Rose/
total 1 replies
Dinorawr
Sejauh ini ceritanya lumayan menarik dengan nyelipin bumbu romance + action. But harapan aku kedepannya adegan fight diperbanyak ya kak/bang
钙Chaa: thank you for ur 5 stars, maniss. aku usahain ceritanya bagus yya, nantikan aja chapter selanjutnya /Smirk//Coffee/
total 1 replies
Fitri Zee
/Sob/
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
hadir thor
钙Chaa: thankyou udh mampirrr /Smile/
total 1 replies
zoedrazit212
mantap banget ceritanya👍, suka banget ini
钙Chaa: thankyouuu udh mampirrr~ /Smile//Rose/
total 1 replies
Chen Wuji
kak mau nanya buat art novelnya dimana yak?😁😄
Manusia Ikan 🫪: kalau mau bagus coba pake APK "PixAI" tapi harus di pelajari dulu sih makenya
total 1 replies
cloudia
aw cantik banget 😍😍
钙Chaa: tentuu ajaa hruss tampil cntiii and mempesonaa sisss biar ditaksirr /Chuckle/
total 1 replies
Manusia Ikan 🫪
bro ingin, baru bab 1 udah tragis banget ya/Hammer/
钙Chaa: wajibbbb, biar kuattt /Tongue/
total 1 replies
Manusia Ikan 🫪
muka nya
Marie
Visualnya mantep banget!/Drool//Good/
Nggak sia-sia bacanya, harap-harap alurnya juga semantep visualnya/Kiss//Rose/
钙Chaa: hayyieee kakkk, thankyou udh mampirr and meninggalkan 5 bintang nya /Smile//Smile/
total 1 replies
Marie
Next dong kakak, minimal sehari up 5 chapter lah /Tongue/
钙Chaa: otakkk authorr nda mampuu kakaaa /Sweat/
total 1 replies
Marie
Wkwk yang sabar ya neng Lingxi /Sweat//Sweat/
Marie
MAKAN RIBUAN ORANG? ITU BANYAK LOH, JAHAD BANGET 😭
Manusia Ikan 🫪: 🧐lebih tepatnya dua ribu dua ratus empat puluh delapan
total 1 replies
Marie
Baru juga awal udah disuguhkan kematian dua karakter 😭
钙Chaa: derita jdi mc di tangankuu yya gni takdirnya /Sneer/
total 1 replies
Marie
Detail banget mendeskripsikan fisik karakternya, bakal betah banget sih bacanya 🤭🤭
钙Chaa: aww thankyouuu bebbb~ harap' ceritanya pas di kamu yyaaa /Smile/
total 1 replies
Anone
makin di panasin ma si Xingluo /Sweat/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!