No Plagiat 🚫
NIRWANA BERDARAH: Gema Seruling di Lembah Hijau
“Biarkan mereka mengumpulkan langit di dalam Dantian… aku hanya butuh satu nada untuk meruntuhkannya.”
Yi Ling adalah anomali.
Di dunia yang mendewakan Qi, ia adalah hening yang mematikan.
Dantiannya telah hancur—namun kehampaan itu tidak mati. Ia berubah menjadi jurang tanpa dasar, melahap setiap frekuensi yang berani mendekat.
Melalui sebatang seruling bambu hijau yang tampak rapuh, Yi Ling tidak lagi bertarung dengan tenaga dalam.
Ia bertarung dengan Kidung Penghancur Struktur.
Satu tiupan—aliran Qi berbalik arah.
Dua tiupan—Dantian retak.
Tiga tiupan… dan nirwana berubah menjadi merah.
Ia bukan sampah yang bangkit.
Ia adalah Auditor Kematian—penagih yang datang untuk mengaudit setiap tetes energi yang pernah dicuri manusia dari langit.
Dan ketika gema seruling itu terdengar…
tidak ada yang tersisa selain kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTEMUAN DUA BADAI DI GERBANG FENGYU
Angin Kota Fengyu semakin liar saat matahari benar-benar tenggelam. Lampion-lampion mulai dinyalakan satu per satu, menciptakan lautan cahaya yang bergetar mengikuti arah angin. Namun di balik keindahan itu, ada sesuatu yang tidak selaras—sebuah tekanan halus yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang pernah berjalan di ambang kematian.
Yi Ling merasakannya.
Begitu mereka memasuki jalan utama pasar, langkahnya sedikit melambat. Seruling giok ungu di pinggangnya bergetar sangat halus, seolah merespons sesuatu yang tak kasat mata.
“Tuan,” bisik Zhui Hai tanpa menoleh, matanya tetap lurus ke depan. “Angin di kota ini… tidak alami. Ada frekuensi yang dipaksakan.”
Xiān Yǔ yang sedang sibuk mengamati pantulan wajahnya di kaca toko tiba-tiba berhenti. Ekspresi santainya menghilang, digantikan oleh kewaspadaan naluriah seekor predator.
“Ya… aku juga mencium sesuatu,” gumamnya pelan. “Bukan bau darah… tapi sesuatu yang lebih menjijikkan. Seperti… jiwa yang membusuk.”
Yi Ling tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangkat kepalanya sedikit, menatap lampion yang bergoyang di atas jalan. Dalam getaran cahaya itu, ia bisa “mendengar” sesuatu—bukan suara biasa, melainkan nada yang terpecah-pecah.
Nada yang salah.
“Kita tidak langsung ke penginapan,” ucap Yi Ling akhirnya. “Ikuti arah angin.”
“Perintah yang puitis sekali,” komentar Xiān Yǔ sambil menyeringai. “Untung aku tampan, jadi perintah aneh pun terdengar masuk akal.”
Zhui Hai menghela napas pelan. “Kalau kau tidak diam dalam tiga detik, aku akan menjadikanmu sumber ‘frekuensi’ berikutnya.”
Xiān Yǔ langsung menutup mulutnya—meski hanya selama dua detik.
Mereka berbelok meninggalkan jalan utama, memasuki gang sempit yang lebih gelap dan sunyi. Di sini, suara pasar mulai meredup, digantikan oleh desiran angin yang lebih tajam.
Dan kemudian… mereka melihatnya.
Seorang pria tua duduk bersila di tengah gang, dikelilingi oleh simbol-simbol aneh yang tergores di tanah. Tubuhnya kurus kering, matanya tertutup, namun dari dadanya keluar getaran energi yang kacau—seperti musik yang dimainkan dengan instrumen rusak.
“Menarik,” gumam Yi Ling.
“Tuan, mundur,” bisik Zhui Hai. “Energi itu tidak stabil. Jika meledak—”
Belum selesai Zhui Hai berbicara, mata pria tua itu terbuka.
Sepasang mata hitam pekat tanpa putih.
“Hehehe… akhirnya ada yang datang…” suara pria itu serak, seperti berasal dari dua orang sekaligus. “Aku sudah menunggu… pembawa Nirwana…”
Xiān Yǔ langsung melangkah maju, cakarnya sedikit memanjang. “Hei, kakek aneh. Kalau mau cari masalah, pilih orang lain. Kami sedang lapar.”
Namun pria tua itu tertawa lebih keras. Tiba-tiba, simbol di tanah menyala merah, dan angin di gang itu berputar liar.
BOOM!
Gelombang energi meledak keluar, memaksa Xiān Yǔ mundur setengah langkah.
“Hmm,” Xiān Yǔ menyeringai. “Lumayan. Setidaknya kau tidak membosankan.”
Yi Ling mengangkat tangannya, menghentikan Xiān Yǔ.
“Biarkan aku.”
Ia melangkah maju, berdiri tepat di depan pria tua itu. Mata ungunya berkilat tenang.
“Kau bukan kultivator biasa,” ucap Yi Ling. “Kau adalah wadah. Siapa yang mengendalikanmu?”
Pria tua itu memiringkan kepalanya, lalu tersenyum lebar—terlalu lebar untuk wajah manusia.
“Kami… adalah angin… kami adalah suara… kami adalah kekacauan Fengyu…”
Tiba-tiba, tubuhnya bergerak.
Bukan menyerang secara langsung, tapi meledak menjadi bayangan hitam yang menyebar ke segala arah, mencoba menyelimuti Yi Ling.
Zhui Hai langsung mengangkat tangannya.
“Cukup.”
Satu gelombang biru menyapu keluar.
Senyap.
Dalam satu detik, seluruh bayangan hitam itu membeku—seolah waktu berhenti di sekelilingnya.
Xiān Yǔ bersiul kagum. “Kau tahu, kadang aku lupa kalau kau ini benar-benar berbahaya.”
Zhui Hai tidak menjawab. Matanya fokus pada inti energi di tengah bayangan.
“Tuan,” katanya pelan. “Ini bukan teknik biasa. Ini adalah ‘Resonansi Jiwa’. Seseorang menggunakan manusia sebagai alat untuk menyebarkan frekuensi kacau ke seluruh kota.”
Yi Ling mengangguk.
Ia mengangkat serulingnya perlahan.
“Kalau begitu… kita balas dengan harmoni.”
Nada pertama keluar.
Pelan.
Namun dalam sekejap, seluruh gang berubah. Angin yang tadinya kacau mulai tersusun, mengikuti ritme seruling Yi Ling. Cahaya ungu tipis menyelimuti ruang, menekan energi hitam yang menggeliat liar.
Pria tua itu menjerit.
“Aaaaa—! Hentikan! Itu… itu menyakitkan!”
Yi Ling tidak berhenti.
Nada kedua.
Nada ketiga.
Setiap nada seperti jarum yang menusuk ke dalam inti energi gelap, memaksa sesuatu di dalamnya keluar.
Dan akhirnya—
CRACK!
Sebuah bayangan hitam terlempar keluar dari tubuh pria tua itu, membentuk sosok kabur seperti asap.
“Menarik,” gumam Xiān Yǔ. “Jadi ini dalangnya?”
Bayangan itu tertawa pelan. “Kalian… terlalu cepat menemukanku…”
“Sayangnya,” balas Yi Ling dingin, “kau terlalu lambat bersembunyi.”
Zhui Hai mengangkat tangannya lagi.
“Diam.”
Gelombang biru kedua keluar—lebih padat, lebih dingin.
Bayangan itu mencoba kabur, tapi ruang di sekitarnya sudah “terkunci” oleh resonansi seruling Yi Ling.
“Tidak ada jalan keluar,” kata Yi Ling pelan.
Ia meniup nada terakhir.
Senyap total.
Dalam sekejap, bayangan itu hancur menjadi partikel kecil dan menghilang.
Pria tua itu jatuh pingsan ke tanah.
Angin kembali normal.
Xiān Yǔ meregangkan tubuhnya. “Hah… cepat juga selesai. Aku bahkan belum sempat memamerkan satu gerakan keren.”
Zhui Hai meliriknya. “Itu karena kau terlalu sibuk memikirkan wajahmu.”
Yi Ling menurunkan serulingnya, lalu menatap ke arah langit kota.
“Ini baru permulaan,” ucapnya pelan. “Jika satu wadah saja bisa menyebarkan resonansi seperti ini… berarti ada pusatnya.”
Zhui Hai mengangguk. “Dan pusat itu kemungkinan besar berada di jantung Kota Fengyu.”
Xiān Yǔ menyeringai lebar. “Bagus. Artinya kita punya alasan untuk tetap tinggal… dan makan lebih banyak.”
Yi Ling tersenyum tipis.
“Besok kita cari sumbernya.”
Ia berbalik, berjalan keluar dari gang.
“Untuk malam ini… kita istirahat.”
Xiān Yǔ langsung mengangkat tangan. “Setuju! Tapi kali ini kita cari restoran yang lebih mewah. Aku butuh pencahayaan yang benar-benar bisa menonjolkan aura ketampananku.”
Zhui Hai mendesah. “Aku mulai percaya bahwa musuh terbesar kita bukanlah pemberontak… tapi dia.”
Yi Ling hanya tertawa kecil.
Namun di balik tawanya, matanya tetap serius.
Di kejauhan, di atas menara tertinggi Kota Fengyu…
Seseorang sedang mengawasi mereka.
“Yi Ling…” bisik suara itu pelan. “Jadi kau sudah sampai…”
Angin kembali berhembus.
Dan kali ini… ia membawa aroma perang.