Perempuan bernama Angel yang tengah kecelakaan kini meninggalkan jasadnya dan menjadi hantu, dia diberi kesempatan untuk mengumpulkan 3 tetes airmata orang yang tulus mencintainya selain keluarga kandungnya.
"Itu gampang, aku akan mendapatkan nya dengan muda" Jawabnya dengan penuh keyakinan.
"Bagus jika seperti itu, dapatkanlah".
Angel dengan semangat untuk mendatangi orang-orang yang dia cintai namun dia lah yang mendapat kan kejutan tak terduga.
Akankah Angel bisa hidup kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Mentari menarik keras bawah baju belakang Erwin untuk menghentikan pemuda itu, tapi pemuda itu tidak menggubris peringatannya sejak tadi, jangan sampai Erwin memperlihatkan sikapnya yang tampak tidak menyukai keluarga Angel sejak dulu dan mereka bisa ketahuan.
"Apa kamu tidak punya etika berteriak disini? , ini dirumah sakit dan kamu berteriak dihadapan orang sakit". Jawab Hutama dengan dingin.
Tatapannya menatap lurus menembus mata Erwin yang berkilat murka yang tidak bisa disembunyikan, dia tersenyum tipis tepatnya menyeringai.
Dia kini mengerti mengapa putrinya memberikan pesan itu pada orang lain untuk disampaikan kepadanya secara pribadi dan dia memilih orang yang tepat.
Dia sekarang tahu bagaimana sifat lelaki dihadapannya ini, lelaki ini sangat arogan dan egois, kasihan putrinya karena cintanya yang teramat besar kepada pemuda ini sampai dia melakukan segala cara untuk tetap bertahan bagaimanapun keadaannya.
Erwin menunduk pelan, dia sadar atas perkataan nya tadi bisa mengundang sikap penolakan kepadanya nantinya jika dia menunjukkan sikap egoisnya selama ini.
Dia tidak mau orang tua Angel tahu selama ini dia selalu menekan Angel dengan cara yang halus untuk menyerahkan perusahaannya karena Angel sangat mencintainya, dia bahkan rela melakukan apa saja untuk menyenangkan dirinya termasuk perusahaan yang dibangun orangtuanya.
"Maaf om, saya hanya tidak suka dia seperti menghakimi saya tanpa bukti, kami hanya rekan dan sahabat, tapi dia berkata seolah saya berselingkuh dihadapan kalian tadi". Jawabnya bergetar menahan emosi.
"Terserah apa katamu, aku hanya mengingatkan saja kepadamu, bangkai yang ditutupi rapat tetap saja akan tercium bau busuknya nanti, pandai-pandai lah kalian nantinya". Sinis Senja mendengar perkataan Erwin
Angel yang berada didalam tubuh senja itu sangat ingin menghajar serta memaki keduanya tetapi dia harus menahannya.
Kedua anak muda itu melotot dengan wajah geram sekaligus menahan kekesalan kepadanya.
"Kamu tidak berhak mengatakan sesuatu yang tidak sesuai, kamu hanya melihat kami sekilas, kamu tidak tahu sebenarnya yang terjadi sejak tadi".
Kini Mentari mengeluarkan suaranya, dia tidak terima jika perempuan ini menghina orang yang dia cintai.
"Aku hanya mengatakannya saja, tidak pantas laki-laki dan perempuan bergandengan tangan seperti itu apalagi kalian adalah sahabat dan kekasih angel mana mesra banget lagi". jawabnya dengan kesal
Hutama memicingkan matanya kepada keduanya, dia memang sejak dulu mencurigai kedekatan keduanya tapi dia tidak memiliki bukti apalagi anaknya begitu menyayangi mereka berdua
"Tapi perkataan mu keterlaluan, kami saja tidak pernah mengenal mu kenapa kamu harus bicara seenaknya membuat ornag salah paham nanti, kamu akan memperburuk suasana yang sudah tidak enak".
Mentari menatap tajam Senja, andai mereka diluar ruangan dan tidak ada orangtua Angel maka dia pasti akan melabrak habis-habisan gadis kurang ajar ini.
"Tidak usah sewot kalau tidak benar, gitu aja repot". Jawab Senja mengangkat bahunya tidak peduli.
"Sudahlah Mentari, benar apa yang dikatakannya, tidak usah marah kalau memang tidak benar". Bela Hutama
Senja tersenyum penuh kemenangan kemudian menatap Mentari dan Erwin dengan tatapan mengejek karena tuan Hutama membelanya membuat keduanya semakin geram.
"Tunggu saja, aku pasti akan membalas mu perempuan sialan". Makinya dalam hati.
"Kalau begitu saya pamit yah om dan tante, aku hanya ingin melihat keadaan Angel dan keadaan kalian, dia anak yang kuat, kalian jaga kesahatan untuknya". Ucapnya mengelus pundak ibunda Angel itu.
Amelia mengangguk kemudian memeluk Senja dengan menahan tangis entah mengapa dia merasa begitu dekat dengan gadis ini sejak kemarin dia datang.
"Terima kasih nak, sering-sering lah kesini menjenguk Angel dan kami". Ucapnya mengelus kepala Senja.
"Iya tante, aku usahakan, dan tolong temukan secepatnya apa yang aku katakan kemarin yah, jangan sampai kalian kecolongan". Jawabnya sambil tersenyum sendu.
"Kami sudah menemukannya nak, dan sudah mengamankannya ditempat yang aman, kamu tidak usah khawatir lagi soal itu". Jawabnya dengan senyuman lebar.
Matanya senja melebar sempurna, senyumannya mengambang sempurna mengetahui cap waris miliknya sudah aman ditempat yang telah disembunyikan oleh kedua orang tuanya, Erwin dan Mentari tidak akan mendapatkan nya.
"Syukurlah tante jika seperti itu, aku lega mendengar nya, kalau begitu aku pamit yah om, tante".
Senja tersenyum kepada keduanya kemudain kembali memeluk keduanya sambil melepaskan pelukan mereka
Tapi sebelum dia beranjak, pintu ruangan diketuk pelan dan muncullah seorang gadis berambut pendek bernama Renata, gadis itu masuk kedalam ruangan itu kemudian langsung memeluk ibunda Angel.
"Bagaimana keadaannya tante? , maaf aku baru datang, aku sedang berada diluar negeri urusan bisnis". Ucapnya sambil menangis.
Dia tidak memperhatikan sekitar dan langsung memeluk ibunda Angel itu.
"Belum ada perkembangan nak, do'akan yang terbaik yah, Mudah-mudahan dia cepat pulih dan sadar". Ucap Amelia dengan sendu.
Renata hanya mengangguk kemudian berbalik, dia baru sadar jika disini banyak orang, dia menyipitkan matanya melihat perempuan asing diantara mereka.
"Maaf paman gadis itu siapa? ". Tanyanya pelan.
Dia menatap Senja dengan kening mengkerut, ini pertama kalinya dia melihatnya.
"Dia nak Senja, dia juga sahabat Angel, dia bukan dari golongan berada, dia kemarin datang kerumah kemudian juga datang menjenguk Angel secara langsung". Jawab Hutama dengan pelan sambil tersenyum tipis.
Renata mengangguk pelan, sahabatnya itu memang senang bisa berteman dengan siapa saja tanpa pandang bulu wajar jika dia banyak teman.
"Namaku Renata, makasih sudah menjenguk sahabatku yah". Ucapnya dengan senyuman lembut.
Angel yang berada di tubuh Senja ingin memeluk sahabatnya ini dan menambahkan semua rasa dihatinya tapi dia menahannya agar rahasianya tidak terbongkar.
"Aku Senja, salam kenal yah, oh iya semuanya, aku pamit dulu, aku harus bekerja". Pamitnya sambil tersenyum.
Melihat gadis itu akan pulang, Erwin akan melakukan pembalasan untuknya, dia tidak terima atas kelakuan gadis itu padanya tadi.
"Kalau begitu saya pamit om". Ucap Erwin berpamitan berusaha mencari muka
"Saya juga Om, saya akan kembali ke kantor". Ucap Mentari dengan pelan.
kedua parubayah itu hanya mengangguk tidak peduli kepada keduanya, mereka bergegas keluar tetapi saat didepan pintu langkah mereka berdua terhenti dan tubuh mereka menegang sempurna.
"Jangan pernah menyentuh gadis itu apalagi menyakitinya, aku akan menyuruh orang mengawasinya, jika kalian berani menyakitinya seujung kuku saja maka saya yang akan membalas kalian dengan balasan yang tidak pernah kalian duga". Ucap Hutama dengan nada tajam tanpa mengalihkan pandangannya dari anaknya.
Keduanya menghela nafasnya, terutama Erwin yang sudah mengepalkan tangannya kuat-kuat, rencana dirinya untuk mem erikan gadis itu pelajaran harus dia telan mentah-mentah, dia tidak mau merusak citranya dihadapan kedua orang tua Angel itu.
Keduanya tidak menjawab tapi melangkah keluar dari ruangan itu dengan perasaan marah yang meluap tanpa bisa berbuat apapun.
"Sialan".