Tara, Si gadis ceria yang jatuh cinta kepada ketua osisnya pada pandangan pertama.
Ketua OSIS itu bernama Andre syahreza, laki laki itu memiliki sifat dingin dan datar sehingga membuat Tara kesulitan mendekatinya.
Lantas bagaimana kisah mereka akan terjalin?, ikuti kisah mereka disini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. kim22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tara
Aku menghabiskan waktu 30 menit untuk mengontrol tangisanku, kini waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam, dan waktunya untuk makan malam.
Aku menatap pantulan diriku yang saat ini sedang berada di depan cermin. "Kamu harus kuat Ra, bunda pasti bangga punya anak seperti kamu yang tidak gampang menyerah." Aku tersenyum setelah mengucapkan kata kata penyemangat untuk diriku.
Sebelum benar benar keluar kamar, Aku terlebih dahulu menarik napas dan menghembuskannya untuk sekedar memantapkan hatiku.
Setelah di rasa lebih tenang, Aku akhirnya melangkah keluar dengan langkah ringan. "Ya Tuhan, entah takdir apa yang sudah engkau siapkan untuk hamba di masa depan, hamba hanya ingin engkau selalu menguatkan hamba dalam setiap langkah yang hamba jalani."
Tidak butuh waktu lama, Aku akhirnya sampai di depan meja makan, di sana sudah ada Ayah, Helena dan juga Zahra yang sepertinya sengaja menungguku, andai saja Ayah sedang tidak ada, jangankan menunggu, mereka bahkan tidak akan peduli walaupun aku tidak makan sekalipun.
"Sayang, ayo sini duduk di samping ayah." Ayah dengan senyum lebar segera menarikkan kursi untukku, sikap ayah yang seperti ini tentu saja akan menarik kekesalan dua benalu itu, buktinya sekarang mereka sedang menatapku dengan sinis, dan yahh aku tidak peduli.
"Nah, sekarang ayo berdoa dulu sebelum makan." Ucap Ayah dengan tegas, kami semua akhirnya berdoa sebagaimana aturan yang di buat Ayah sejak dulu.
Setelah itu, kami akhirnya menikmati makan malam dalam diam, Ayah memang tidak suka ada keributan ketika sedang makan, kalau kata ayah, tidak sopan berisik di depan rizki.
Setelah selesai makan, Aku langsung mengajak Ayah untuk menemaniku di dalam kamar sampai tertidur.
"Tadi kenapa menangis hmm?" Ayah mengusap kepalaku yang saat ini berada di atas pangkuannya dengan lembut.
"Tidak papa Yah, Aku hanya sedang kangen sama bunda." Aku tersenyum kecil menatap Ayah yang saat ini juga menatap ku dengan posisi menunduk.
"Doakan saja yang terbaik buat bunda ya nak, besok Jumat kita ziarah sebentar ke makam bunda setelah selesai shalat subuh ya." Ayah tersenyum menatapku sambil tangannya terus mengelus kepalaku. Hal sederhana ini saja mampu menghangatkan hatiku.
"Iya Ayah." Ucapku dengan riang, setelah itu, Ayah banyak bertanya tentang sekolah baruku, dan Aku dengan senang hati menceritakan semua hal yang menyenangkan yang aku alami di sekolah.
Kami terus bercerita hingga tanpa sadar,Aku terlelap dalam pangkuan Ayah, entah jam berapa Ayah keluar dari kamarku, karena ketika aku terbangun di pagi harinya,Ayah sudah tidak ada dan pintu kamarku tertutup rapat.
"Pagi...ayah.."
Aku tersenyum lebar begitu sampai di bawah dan melihat ayah sedang membaca koran sambil ngopi, Ayah yang mendengar suaraku segera menoleh dan tersenyum lebar sambil membalas sapaanku.
"Pagi princes Ayah yang centik." Ucap Ayah dengan suara lembutnya.
Aku semakin melebarkan senyumku mendengar pujian dari Ayah, dengan perasaan begitu gembira, Aku segera duduk di samping ayah.
Aku memainkan ponsel sementara menunggu sarapan jadi, pagi ini, Aku tidak ingin mengganggu Ayah dengan celotehanku, biarkan saja Ayah menikmati bacaan dan kopinya dulu hehe.
"Pagi Ayah."
Aku menoleh begitu mendengar suara Zahra menyapa Ayah, Aku memutar bola mataku dengan malas melihatnya bersikap sok manis di depan ayah, ingin sekali aku tonjok wajah sok polosnya itu.
Dari pada melihat zahra yang caper, mending aku sarapan, kebetulan makanan sudah matang, Aku malas menunggu Ayah yang sedang berbicara dengan Zahra.
Setelah beberapa menit sarapan, kini Aku sudah berada di dalam mobil bersama Ayah dan si benalu Zahra.
Ck rasanya malas banget melihatnya terus caper dengan Ayah, entan kemana bapak kandungnya hingga dia begitu suka caper pada ayahku.
Selama Zahra masih di dalam mobil, Aku lebih memilih memainkan ponsel ketimbang ikut meladeni celotehannya.
Dan setelah hampir 15 menit, akhirnya benalu itu turun juga karena sekolahnya lebih dekat dari rumah, karena Zahra sudah pergi, kini Akupun memilih banyak bicara dengan ayah sampai di depan gerbang sekolah.
"Belajar yang rajin ya sayang." Ayah mengusap kepalaku dan mencium keningku sebelum aku keluar dari mobil.
Setelah itu, Akupun langsung keluar dan melambaikan tangan begitu mobil ayah sudah berbalik meninggalkan sekolah.
"Di antar ya."
"Astagaa."
Betapa terkejutnya aku begitu berbalik, sosok laki laki berperawakan tinggi sudah berdiri dan menyapaku dengan wajah lempengnya.
"Sorry, gue gak bermaksud ngagetin lo." Ucap orang itu masih dengan wajah datarnya, kayak gak merasa bersalah banget udah bikin jantung gue hampir copot.
Aku hanya bisa mengusap dadaku untuk menormalkan kembali detak jantungku. "Engggak papa kak." Ucapku sambil tersenyum kecil.
"Ya sudah, segera masuk, bel akan segera berbunyi."
Setelah mengatakan kalimat itu, orang yang tidak lain tidak bukan adalah kak Andre, langsung pergi meninggalkan aku masuk ke dalam gerbang, huh sungguh mengesalkan, untung ganteng mwhehe.
"Gak asyik ah, kak Andre cuek." Aku mengerucutkan bibirku karena kesal sendiri melihat sikap cuek kak Andre.
"Tidak bisakah senyum dikit kek, tuh wajah kayak tembok banget, untung ganteng lo kak." Aku masih berdiri di tempat awal sambil terus berceloteh sendiri.
Saking asyiknya berceloteh karena kesal, Aku sampai tidak sadar di belakang tubuhku sudah ada Adit yang sedang menatapku dengan bingung.
"Woy."
"Setannn."
Aku menoleh ke belakang dengan kesal mendengar suara tawa Adit yang kesenangan karena berhasil membuatku terkejut.
"Bangke lo." Ucapku dengan kesal.
Adit tampak tertawa dengan puas, dan itu benar benar terlihat sangat menyebalkan, coba aja sedang tidak berada di sekolah, ingin rasanya aku menarik rambutnya dengan kasar.
"Lagian lo, pagi pagi udah nyeramahin setan aja." Adit akhirnya berbicara setelah berhasil menghentikan tawanya.
"Lo pikir gue anak indihome." Ucap ku dengan nada sewot.
"Indigo syalan." Ucap Adit tak kalah nyolot, wajah yang tadinya terlihat geli, kini sudah berubah menjadi kesal.
"Hehe, ya itulah, sama aja pun." Aku terkekeh merasa begitu senang bisa membuat Adit kesal.
"Terserah lo aja dah, gue mau masuk awasss, lo lanjut aja ceramahin kawan sebangsa lo itu."
Setelah mengatakan kalimat itu, Adit langsung melajukan motornya masuk ke dalam sekolah meninggalkan Aku yang kembali menggerutu kesal.
"Syalan, gue di samain sama setan, awas aja lo entar."
Aku akhirnya melangkah masuk setelah beberapa kali memaki Adit yang dengan kurang ajar menyamakan aku dengan setan.
Ya kali wajah se imut dan se cantik ini sebangsa dengan setan, rugi dong kak Andre gak bisa menjadikan bidadari ini sebagai makmumnya mwehehe, menghayal aja dulu,siapa tai beneran jodoh.
tapi knp munculnya lagi momen begini