Nabila Asofi telah dijodohkan orangtuanya, Tapi sebuah kecelakaan merenggut nyawa suaminya disaat pernikahan mereka belum genap satu tahun ,dan Sofi sedang hamil tua. Disaat itu mantan kekasih yang ditinggalkannya mencoba mendekatinya lagi, akankah Sofi berpaling dan kembali pada kekasihnya setelah menyandang status janda dengan dua anak kembar?
SELAMAT MEMBACA SEMOGA TERHIBUR...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Binti Ulfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PINDAHAN
🌱🌱Happy Reading🌱🌱
Man teman, sebelum baca silakan tekan like dulu ya....!!!
Sofi POV
Pagi itu jalanan yang kami lalui tidak terlalu ramai. Mungkin karena saat ini waktu kerja. Sehingga perjalanan yang kami tempuh selama dua jam tidak ada hambatan yang berarti, hanya sedikit titik ruas jalan yang macet.
Dalam perjalanan tadi kami hanya sedikit bicara, karena Faiz yang harus fokus mengemudi mobilnya. Hanya pada awal jalan tadi kami saling bertanya hal hal yang menjadi kesukaan dan favorit kami. Mulai dari warna kesukaan, hobi, cita cita dan juga bercerita sedikit tentang masa kecil. Dan ternyata, dulu orang tua Faiz adalah tetangga dekat Ayah dan Ibu di kampung.
Meluncur cerita dari bibir Faiz bahwa Saat Faiz masih kecil, Papa dan mamanya bekerja. Pekerjaan yang menghasilkan banyak rupiah untuk menopang masa depan di tempat kami cukup sulit karena ini hanya kota kecil. Dulu, Mama Faiz sering menitipkan Faiz kecil pada ibuku saat dirinya bekerja membantu suaminya mencari nafkah, dan pada saat itu ibuku yang sudah menikah selama tiga tahun belum dikaruniai keturunan, merasa sangat senang dan terhibur dengan adanya Faiz kecil.
Saat ibu hamil diriku, ayah diberhentikan oleh perusahaan tempatnya bekerja karena perusahaan kecil itu telah pailit, sehingga kehidupan kami sangat susah, dan Mama Papa Faiz dengan senang hati selalu membantu kami. Tapi itu tidak berlangsung lama, karena Papa Faiz di pindah tugaskan ke ibukota dan dengan terpaksa mama Faiz pun mengikuti dinas suaminya membawa serta Faiz yang berumur lima tahun.
Walaupun begitu hubungan mereka tetap baik sampai sekarang pun masih sering berkomunikasi lewat telepon saling bertukar kabar. Dan juga, mama Faiz seringkali menjadi tempat ayah dan ibu meminta tolong jika ibu kesulitan keuangan.
Bahkan mama Faiz meminjamkan uang dengan sukarela yang tidak sedikit saat ayah tak juga mendapat pekerjaan dan memilih membuka minimarket, tidak mengharapkan imbalan ataupun bagi hasil dari usaha yang dikelola ayah. Mereka berkata jika saatnya nanti tiba, Mama papa Faiz akan meminta tolong pada ayah dan ibu.
Dan bukannya mereka meminta tolong, tetapi mereka malah meminta aku mau dinikahkan dengan anaknya, yaitu Faiz.
Dalam lamunanku, aku merasa mataku sanfmhat berat, akupun tertidur. Hingga tak terasa kami sudah sampai di rumah mama papa Faiz alias di rumah mertua. Sebenarnya aku sudah sering ke rumah ini karena sebelum menikah dengan Faiz, aku adalah salah satu bawahan mama Faiz yang entah mengapa aku seperti di anak emaskan dari awal bekerja padanya.
Dan dulu juga, sebenarnya aku tak begitu menyukai mama Faiz karena sebagai atasan bagiku dia sangat perfeksionis sehingga tak jarang kami anak buahnya sering kena semprot jika pekerjaan kami ada yang kurang memuaskan.
Dengan hati yang berdebar aku berjalan memasuki rumah dan mengucapkan Salam. Entah mengapa rasanya sangat berbeda sekali saat aku menjadi bawahannya dan sekarang menjadi menantunya. Kesannya sangat beda. Lagi pula dulu kemana Faiz? Mengapa dulu aku tak pernah melihatnya saat aku ke rumah ini?
"Assalamu 'alaikum!" ucapku melongok ke dalam rumah. Aku membuntuti Faiz, yang nyelonong aja masuk. Ya iyalah, dirumah sendiri juga.
"Waalaikumsalam! Waah menantuku sudah datang rupanya, selamat datang ya, Nak!"
"Mama harap kamu betah disini sebelum rumah kalian selesai di bangun!" kata Mama Sarah, nama mama Faiz sambil memeluk dan mencium kedua pipiku.
" Ayo masuk, biar bi Ida yang membawa barang barangmu masuk ke kamar Faiz," ucap mana Sarah merangkul bahuku.
"Terimakasih mama!" kataku sambil mengikuti masuk kedalam rumah.
"Duuh! yang punya menantu, anak sendiri malah dilupain!" cibir Faiz menggoda ibunya.
"Laaah, maunya gimana Iz, tiap hari juga udah peluk peluk mama. Sini sini, mama peluk dulu anak kesayangan mama!"
Mama Sarah meraih Faiz untuk dipeluknya tapii sesudah itu...
"Aduh mama, hobi banget nyubit aku nih. Duuhhhh, mana nyubitnya pake kuku lagi." Faiz menyeringai.
Faiz mengusap usap lengannya yang kena cubit mama Sarah, sedang mama Sarah hanya tertawa melihat Faiz yang meringis kena kepiting mautnya.
"Dia ya begitu Sof, anaknya usil. Kalau suka gangguin kamu cubit aja Sof, biar tahu rasa dia. Niar reda sifat iseng dan usilnya!" Sang mertua malah ngompori sang menantu untuk menyakiti anaknya. Yang dibicarakan cuma cengar cengir sambil garuk tengkuknya yang tidak gatal, membuat aku tersenyum sambil memandang suamiku yang baru aku tahu punya sifat suka iseng pada Mamanya.
Mereka bertiga duduk sambil berbincang di ruang tamu rumah yang cukup mewah itu.
"Adek mana Ma, tumben gak nongol kalau aku dateng,"
"Taraaaa....!Selamat datang abang dan kakak ipar!" Seru seorang gadis muncul dari tangga lantai dua rumah itu. Irana Faizzah, adik Faiz yang berusia sebaya dengan Nisa adik ku, merentangkan tangan untuk memeluk kakak iparnya.
"Welcome in this home, my sister. akhirnya aku punya saudara perempuan juga!" katanya sambil cipika cipiki dengan Sofi.
"Makasih ya, dek!" balas ku pendek sambil senyum, aku masih merasa canggung di rumah baru.
"Zah, ajak kakakmu ke kamar buat istirahat deh, tapi awas! jangan digangguin baru dateng pasti capek itu kak Sofinya." Perintah Faiz pada adiknya yang di jawab dengan juluran lidah mengejek dari Izzah untuk Faiz sambil menggandeng lenganku untuk naik ke kamar Faiz.
"Nah ini kamar kakak, kalau butuh apa apa Izzah di kamar sebelah okey!"
"Selamat istirahat, kakak!" kata Izzah dengan manja yang dibuat buat.
"Iya makasih, ya!"
Aku memandang setiap sudut kamar yang bercat dominan abu abu muda dan putih ini. Ranjang berukuran king size ada ditengah ruangan, disebelah kanan dan kiri ranjang terdapat sebuah meja kecil. Yang diatasnya terdapat lampu hias dan beberapa buah foto, sebuah lemari pakaian berukuran besar di sisi kanan ruangan berdampingan dengan meja rias yang terdapat beberapa bingkai foto dan juga alat rias untuk laki laki.
Disisi kiri terdapat sofa panjang dan disebelahnya ada sebuah pintu yang ku perkirakan adalah kamar mandi. Kubuka pintu itu dan benar saja, itu adalah kamar mandi yang menurutku lumayan luas dengan fasilitas lengkap, ada bathtub lengkap dengan showernya. Sebuah kloset yang diberi pembatas dan juga sebuah cermin ukuran besar. Ruangan kamar itu menghadap balkon yang terdapat kursi panjang lengkap dengan meja dan beberapa pot bunga yang indah.
Pasti nyaman kalau sore leyeh leyeh sembari minum teh di tempat itu.
Welcome be a wife, Sofi. A true wife.
Kembali ke dalam kamar, Sofi melihat dinding kamar beberapa foto diri Faiz terpampang. Ada foto saat Faiz wisuda, sebuah foto dengan gaya cool, mengenakan kaos putih, celana jeans dan jaket denim warna biru pudar. Mengenakan kacamata hitam bersender di dinding dengan kedua tangan masuk saku celana.
Sudah mirip fotomodel. Gumam Sofi.
Tok tok tok!
"Neng Sofi, dipanggil Ibu dibawah, neng!" Bibik ida mengatakan tujuannya.
"Iya, baik. Sebentar lagi aku turun, katakan sama Mama!" balas Sofi dari dalam.
Dibawah, telah berkumpul semua anggota keluarga. Sofi duduk di kursi yang tersisa, yaitu disisi Faiz suaminya.
Berempat, karena Papa Faiz alias mertua Sofi sedang bekerja mereka berbincang bincang, lebih tepatnya sebagai anggota keluarga baru, Sofi lebih menjadi pendengar pembicaraan mereka. Saling meledek antara kakak dan Adik. Mengakrabkan diri dengan keluarga baru, Sofi sesekali menanggapi omongan mereka.
Saat masuk ke kamar, rasa canggung berdua dikamar Faiz mencuat kembali, hingga ia merasa grogi saat Faiz menawarkan diri untuk membantu memasukkan bajunya di lemari, Sofi langsung beringsut menjauh. Karena mereka begitu dekat, bahkan lengan Faiz bersentuhan dengan tubuhnya.
"Kenapa sih, bukannya kalau tidur kita udah pelukan, tapi kesenggol aja kamu grogi gitu!" Sofi nyengir tak tahu harus jawab apa.
****
"Mas Faiz, kita belum membahas tentang pekerjaan!" ucap Sofi duduk di kursi meja rias. Sedang Faiz rebahan di ranjangnya.
"Sini dong, kalau mau ngomong. Jangan jauhan gini!" sambil menepuk kasur disampingnya. Sofi menurut, tapi hanya duduk di tepi ranjang.
"Aku tetep boleh kerja, kan? Biar aku ada kegiatan." ujar Sofi memberi alasan.
🎋🎋🎋🎋🎋🎋🎋🎋🎋🎋
Puyeng saya, gimana kelanjutannya, di lanjutin gak siih? man teman....
Sampai ketemu di part selanjutnya teman teman, jangan lupa tekan tombol like nya biar jadi moodbooster othor remahan ini sekian terimakasih......
Salam
Binti Ulfa