Arumi kehilangan segalanya dalam satu malam bayinya yang baru lahir tewas dalam kecelakaan tragis, dan ibunya kini kritis di rumah sakit tanpa biaya. Namun, takdir mempermainkannya; meski bayinya tiada, ASI Arumi tetap mengalir deras—sebuah pengingat menyakitkan akan kehilangan yang ia alami
Di sisi lain, Arlan Arkananta, seorang CEO dingin yang berkuasa, menyimpan rahasia besar. Ia memiliki seorang putra bayi bernama Leon yang keberadaannya disembunyikan dari dunia dan pihak keluarga besar. Leon menolak semua susu formula dan perawat, hingga hanya aroma tubuh Arumi yang mampu menenangkannya.
Terdesak oleh biaya rumah sakit, Arumi terpaksa menandatangani kontrak "Iblis". Ia bersedia menjadi ibu susu rahasia di mansion tersembunyi milik Arlan dengan aturan ketat: Dilarang mengungkap identitas bayi, dilarang keluar tanpa izin, dan yang paling berat—dilarang memiliki keterikatan emosional.
Namun, di balik tembok mansion yang dingin, Arumi menemukan bahwa Leon bukan sekadar bayi biasa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: DEBUT DI TENGAH SERIGALA
Lampu kristal raksasa di Grand Ballroom Hotel Arkananta berkilau bagaikan ribuan mata yang siap menghakimi. Malam ini adalah pesta ulang tahun perusahaan, sebuah acara yang seharusnya menjadi panggung kemenangan Arlan, namun kini berubah menjadi medan perang bagi Arumi.
Arumi berdiri di depan cermin besar di ruang ganti VIP. Ia hampir tidak mengenali bayangannya sendiri. Gaun off-shoulder berwarna biru gelap berbahan sutra melekat sempurna di tubuhnya, memberikan kesan elegan namun misterius.
Rambut hitamnya disanggul modern dengan beberapa helai dibiarkan jatuh membingkai wajahnya yang dipoles riasan natural namun mewah. Di jari manisnya, berlian biru itu berkilau menantang cahaya.
"Kau terlihat... berbeda," suara Arlan memecah keheningan.
Arumi menoleh. Arlan berdiri di ambang pintu, tampak sangat tampan dengan tuxedo hitam yang pas di tubuh tegapnya. Pria itu berjalan mendekat, matanya menyapu penampilan Arumi dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ada kilatan kekaguman yang sempat tertangkap oleh mata Arumi, meski segera disembunyikan di balik topeng datarnya.
"Ingat, Arumi. Jangan panggil aku 'Tuan' di depan mereka. Panggil aku Arlan. Dan jangan pernah lepaskan lenganku," Arlan mengulurkan siku tangannya. "Malam ini, kau bukan lagi ibu susu yang bersembunyi di balik pintu. Kau adalah calon nyonya di rumah ini. Bersikaplah seolah-olah kau memiliki seluruh ruangan itu."
Arumi menghirup napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang menggila. "Bagaimana dengan Leon?"
"Dia aman di penthouse dengan Raka dan sistem keamanan berlapis. Fokuslah pada peranmu malam ini. Musuh kita tidak akan menyerang dengan pisau di sini, mereka menyerang dengan kata-kata dan senyum palsu."
Pintu besar ballroom terbuka. Suara riuh rendah percakapan para sosialita dan pengusaha kelas atas seketika terhenti saat Arlan masuk. Namun, kejutan yang sebenarnya adalah wanita yang menggandeng lengannya.
Bisik-bisik mulai menjalar seperti api di atas jerami kering.
"Siapa wanita itu?"
"Bukan Siska? Bukan pula putri dari keluarga Wijaya?"
"Dari mana asalnya? Wajahnya sangat asing."
Arlan berjalan dengan kepala tegak, membiarkan kilatan lampu kamera wartawan membutakan pandangan mereka sesaat. Ia membawa Arumi langsung menuju pusat ruangan, di mana seorang wanita berdiri dengan kemarahan yang tertahan di balik senyum porselennya.
Victoria Arkananta.
Sang matriark mengenakan gaun emas yang mencolok. Matanya menyipit saat melihat Arumi. Ia segera mengenali wanita itu—wanita yang beberapa hari lalu mengaku sebagai "perawat" di mansion Arlan.
"Arlan," suara Victoria tajam, meski volumenya rendah. "Apa-apaan ini? Kenapa kau membawa pelayan medis ini ke acara resmi keluarga dan memberinya gaun yang harganya lebih mahal dari seluruh hidupnya?"
Arlan tidak mundur selangkah pun. Ia justru merangkul pinggang Arumi, menariknya lebih dekat. "Ibu, perkenalkan. Ini Arumi. Dia bukan sekadar perawat. Dia adalah wanita yang telah menyelamatkan hidupku lebih dari sekali. Dan mulai malam ini, aku ingin semua orang tahu bahwa dia adalah tunanganku."
Suasana di sekitar mereka seolah membeku. Victoria tertawa kecil, tawa yang kering dan tidak sampai ke mata. "Kau sedang bercanda, bukan? Kau ingin menghancurkan merger dengan keluarga Wijaya demi seorang wanita tanpa latar belakang? Kau pikir perusahaan ini adalah taman bermain?"
"Perusahaan ini kuat karena kinerjaku, Ibu, bukan karena siapa yang aku nikahi," balas Arlan tegas.
Di tengah ketegangan itu, sosok lain muncul dari kerumunan. Siska. Ia tampak cantik dengan gaun merah menyala, namun matanya memancarkan kebencian yang murni. Ia berjalan mendekat dengan segelas sampanye di tangannya.
"Selamat, Arlan. Strategi yang luar biasa," Siska berkata dengan nada mengejek. Ia menoleh pada Arumi, menatapnya dengan pandangan merendahkan. "Tapi Arumi, Sayang... apakah kau sudah memberitahu Nyonya Victoria tentang... 'hobi' kecilmu di malam hari? Tentang bagaimana kau sangat mahir dalam mengurus bayi?"
Jantung Arumi mencelos. Siska sedang memancing di air keruh. Ia ingin mengungkap rahasia Leon tanpa mengatakannya secara langsung, membiarkan Victoria mencari tahu sendiri.
"Saya hanya melakukan tugas saya dengan penuh tanggung jawab, Nona Siska," jawab Arumi dengan suara yang stabil, mengejutkan bahkan bagi dirinya sendiri. "Dan Tuan Arlan sangat menghargai integritas saya. Sesuatu yang mungkin sulit dipahami oleh orang yang lebih suka menggunakan cara-cara licik."
Wajah Siska memerah. Ia hendak membalas, namun Arlan memotongnya. "Cukup, Siska. Jika kau di sini hanya untuk menebar fitnah, pintu keluar ada di sebelah sana."
Victoria menatap Arumi dengan tatapan menyelidik. "Integritas? Kita lihat saja berapa lama kau bisa bertahan di dunia ini, Gadis Kecil. Dunia Arkananta tidak ramah bagi mereka yang masuk melalui pintu belakang."
Acara berlanjut dengan dansa pertama. Arlan membawa Arumi ke tengah lantai dansa. Di bawah sorotan lampu spotlight, mereka bergerak mengikuti irama waltz yang lambat.
"Kau melakukan tugasmu dengan baik tadi," bisik Arlan di dekat telinga Arumi. Tangannya di pinggang Arumi terasa hangat dan protektif.
"Saya hanya tidak ingin mereka menang, Tuan... Arlan," jawab Arumi, masih canggung menyebut nama pria itu tanpa gelar.
"Tapi ini baru permulaan. Ibu tidak akan berhenti sampai di sini. Dia pasti akan memerintahkan Bram—yang sekarang menjadi buronan—atau orang lain untuk menggali masa lalumu. Kau harus siap."
"Masa lalu saya hanyalah luka, Arlan. Tidak ada rahasia besar kecuali Leon," Arumi menatap mata Arlan. Di sana, ia melihat keraguan. "Apa yang Anda takutkan?"
Arlan terdiam sejenak. "Aku takut jika suatu saat nanti, kau menyadari bahwa hidup dalam kebohongan ini lebih menyakitkan daripada kemiskinan yang kau tinggalkan."
Dansa berakhir dengan tepuk tangan formal. Namun, saat Arumi hendak menuju kamar kecil untuk menenangkan diri, seorang pelayan menabraknya secara tidak sengaja, menumpahkan minuman ke gaunnya.
"Oh, maafkan saya, Nyonya! Mari saya bantu bersihkan di ruang rias!" pelayan itu tampak sangat panik.
Arumi, yang merasa kasihan, mengikuti pelayan itu menuju sebuah lorong yang agak sepi di belakang ballroom. Namun, begitu sampai di sebuah ruangan kosong, pelayan itu menghilang. Pintu di belakang Arumi tertutup dan terkunci.
Sebuah layar monitor di dinding ruangan itu menyala.
Di layar itu, terlihat pemandangan di dalam penthouse Arlan. Arumi melihat Leon sedang tidur di boks bayinya. Namun, yang membuatnya menjerit tanpa suara adalah sosok pria yang berdiri di samping boks bayi itu, memegang sebilah pisau kecil yang diarahkan ke kain selimut Leon.
Bram.
"Halo, Arumi," suara Bram terdengar dari speaker ruangan. "Kau pikir kau sudah menang karena memakai cincin itu? Kau pikir Arlan bisa melindungimu? Lihat betapa mudahnya aku masuk ke sini."
"Jangan sentuh dia! Apa maumu?!" teriak Arumi ke arah layar, air mata mulai mengalir menghancurkan riasannya.
"Sederhana saja. Keluar dari hotel ini sekarang melalui pintu belakang. Jangan beritahu Arlan. Ikuti instruksiku, atau aku akan memastikan pewaris Arkananta ini tidak akan pernah merayakan ulang tahun pertamanya."
Arumi terjepit. Di luar sana, Arlan sedang berpidato tentang masa depan perusahaan, tidak tahu bahwa dunianya sedang dipertaruhkan. Arumi menatap pintu yang terkunci, lalu menatap Leon di layar. Naluri keibuannya mengalahkan segalanya. Ia tidak peduli pada kontrak, tidak peduli pada status tunangan palsu.
Ia harus menyelamatkan Leon, meski itu berarti ia harus berjalan menuju kematiannya sendiri.
Arumi memecahkan kaca pemadam api di sudut ruangan, mengambil kapaknya, dan mulai menghantam pintu kayu itu dengan tenaga yang entah dari mana asalnya. Ia harus sampai ke Leon sebelum terlambat.