Arga, seorang pemuda yatim piatu miskin yang berjuang hidup sebagai nelayan sampan, harus menelan pil pahit saat dihina habis-habisan oleh mantan teman-teman sekolahnya di sebuah acara reuni.
Merasa putus asa dan tidak terima dengan ketidakadilan takdir, ia melampiaskan emosinya dengan memancing di tengah malam, namun kailnya justru menarik sebuah umpan logam berkarat misterius yang menyerap darahnya dan membangkitkan Sistem Mancing Mania Mantap.
Berbekal sistem aneh yang menggunakan emosi sebagai umpan dan menunjukkan lokasi pancing yang tidak masuk akal, Arga tidak lagi sekadar memancing ikan biasa, melainkan menarik harta karun dimensi lain, pusaka kuno, hingga kekuatan gaib yang akan memutarbalikkan nasibnya dari pemuda rendahan menjadi sosok kaya raya yang ditakuti semua orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Arga meletakkan ponselnya kembali ke atas meja makan dengan gerakan pelan.
Dia menatap lurus ke arah pemandangan kota dari balik kaca jendela Penthouse.
Pesan ancaman itu jelas membuktikan bahwa dunia orang kaya jauh lebih kotor dari kelihatannya.
Ada pihak yang sangat marah karena rencana besar mereka digagalkan oleh seorang nelayan antah berantah.
'Mereka mau adu gertak sama gue rupanya,' batin Arga sambil tersenyum sinis.
Arga segera membereskan sisa pakaiannya dan merapikan tempat tidur.
Dia memasukkan joran karbonnya ke dalam tas olahraga hitam seperti sebelumnya.
Arga berjalan keluar kamar dan turun menggunakan lift khusus VIP menuju lobi utama.
Di meja resepsionis, Clara langsung menyambutnya dengan senyum yang sangat manis dan sopan.
"Terima kasih atas kunjungannya di Hotel Grand Sentral Bapak Arga," sapa Clara ramah.
"Sama-sama Mbak Clara, pelayanannya sangat memuaskan," balas Arga menyerahkan kartu akses emas gelap itu.
Arga melangkah keluar lobi dan petugas valet langsung membawakan mobil SUV hitamnya ke depan pintu.
Dia memberikan uang tip kepada petugas valet lalu masuk ke dalam kursi pengemudi.
Arga menyalakan mesin dan mengarahkan mobilnya membelah jalanan Jakarta menuju kawasan Senopati.
Kawasan Senopati terkenal dengan deretan kafe dan restoran elit tempat berkumpulnya para pebisnis.
Jalanan siang ini cukup padat sehingga Arga punya waktu untuk menyusun strategi di kepalanya.
'Gue gak boleh kelihatan takut sedikit pun di depan orang suruhan ini,' batin Arga mengingatkan dirinya sendiri.
Setengah jam kemudian, Arga memarkirkan mobilnya di depan sebuah kafe bergaya industrial modern.
Arga turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam kafe yang aromanya dipenuhi wangi kopi sangrai.
Suasana kafe tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa tamu berpakaian rapi yang sedang membuka laptop.
Mata Arga langsung menangkap sosok seorang pria yang duduk sendirian di meja sudut paling belakang.
Pria itu memakai setelan jas kasual berwarna abu-abu dan menatap tajam ke arah pintu masuk.
Arga berjalan santai menghampiri meja sudut tersebut dan menarik kursi kosong di seberang pria itu.
"Lo orang yang ngirim pesan ke nomor gue tadi pagi?" tanya Arga membuka percakapan tanpa basa-basi.
Pria berjas abu-abu itu menatap Arga dari atas ke bawah dengan tatapan menyelidik.
"Gue Bima, perwakilan dari pihak yang sangat dirugikan karena tindakan sok pahlawan lo kemarin," jawab pria itu dengan nada dingin.
"Gue cuma kebetulan nemu koper di selokan dan kembaliin ke pemilik aslinya," balas Arga dengan ekspresi sangat datar.
"Gue gak peduli sama urusan bisnis bos lo yang gagal total itu."
Bima mendengus pelan dan memajukan badannya condong ke arah meja.
"Lo pikir kami percaya cerita konyol nemu koper triliunan di selokan perumahan?" bisik Bima penuh penekanan.
"Kami tahu lo sengaja kerja sama dengan sopir Haris buat nyuri koper itu."
Arga menahan tawa mendengar teori konspirasi murahan yang dirangkai oleh pihak musuh Haris ini.
"Terus kenapa gue harus capek-capek kembaliin kopernya ke Haris kalau gue yang nyuruh curi?" tantang Arga logis.
"Karena lo mau cari muka dan masuk ke lingkaran dalam Kusuma Land lewat jalur utang budi," tuduh Bima telak.
Bima merogoh saku bagian dalam jasnya dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal.
Dia melempar amplop itu ke atas meja sampai bergeser tepat ke depan dada Arga.
"Buka amplop itu dan lihat sendiri seberapa hancur hidup lo nanti kalau gue kasih isinya ke Haris Kusuma," ancam Bima tersenyum menang.
Arga menatap amplop cokelat itu tanpa berniat menyentuhnya sama sekali.
Dia memutuskan untuk menggunakan Keterampilan Penilaian Barang Gaib miliknya sekarang juga.
Arga memusatkan pandangannya ke arah amplop tersebut sampai energi dingin mengalir ke matanya.
Sebuah kotak informasi transparan langsung muncul melayang tepat di atas amplop cokelat itu.
Nama Barang: Berkas Rekayasa Digital Tingkat Rendah.
Tingkat Kelangkaan: Umum.
Deskripsi: Kumpulan foto hasil editan perangkat lunak dan dokumen palsu yang dibuat secara terburu-buru.
Efek Samping: Tidak ada nilai kebenaran sedikit pun, mudah dibantah oleh ahli forensik digital dasar.
Arga tersenyum sangat lebar sampai memperlihatkan deretan giginya setelah membaca deskripsi dari sistem.
"Kenapa lo malah senyum-senyum sendiri hah?" tegur Bima mulai merasa tidak nyaman melihat reaksi Arga.
"Gue senyum karena kasihan lihat bos lo bayar orang bodoh buat bikin dokumen palsu," jawab Arga santai.
Arga menyentil amplop cokelat itu menggunakan jari telunjuknya sampai bergeser kembali ke arah Bima.
"Lo bawa pulang aja hasil editan foto murahan lo ini," ucap Arga menatap tajam langsung ke mata Bima.
"Bayangan lampu jalan di foto editan lo pasti beda arah sama objek aslinya kan?" tebak Arga asal namun penuh percaya diri.
Wajah Bima langsung berubah pucat pasi mendengar tebakan Arga yang secara ajaib sangat akurat.
Bima memang menyuruh anak buahnya mengedit foto wajah Arga menempel pada tubuh orang lain yang sedang bertransaksi dengan sopir Haris.
"Dari mana lo tahu isi amplop ini padahal lo belum buka sama sekali?" tanya Bima dengan suara sedikit bergetar.
"Gue tahu semua hal kotor yang bos lo lakuin di belakang layar," gertak Arga menaikkan level intimidasinya.
"Termasuk rencana kalian buat ngejatuhin harga saham Kusuma Land minggu depan."
Bima menelan ludah dengan susah payah karena semua rahasia besar perusahaannya seolah terbaca jelas.
Pemuda berpakaian kasual di depannya ini memancarkan aura tekanan yang sangat mengerikan bagi Bima.
Efek Peningkatan Fisik Tingkat Dasar milik Arga secara tidak sadar membuat postur tubuhnya terlihat sangat dominan.
"Lo sebenarnya kerja buat siapa Arga?" tanya Bima kini mengubah nada suaranya menjadi jauh lebih waspada.
"Gue gak kerja buat siapa-siapa, gue berdiri di atas kaki gue sendiri," jawab Arga penuh penekanan pada setiap kata.
Arga menyandarkan punggungnya ke kursi dan melipat kedua lengannya di dada.
"Sekarang lo dengerin baik-baik pesan gue buat bos lo itu," perintah Arga dengan nada memerintah yang absolut.
Bima secara refleks menganggukkan kepalanya tanpa berani membantah.
"Bilang ke bos lo, jangan pernah coba-coba bawa nama gue ke dalam perang bisnis kalian lagi," ancam Arga dingin.
"Kalau sampai bos lo berani nyentuh gue, gue pastikan dokumen asli kejahatan kalian bakal sampai ke meja kepolisian."
Bima terdiam membisu tidak mampu merangkai kata balasan apa pun untuk membalas ancaman tersebut.
Dia datang ke sini dengan niat untuk memeras dan menakuti pemuda antah berantah.
Namun keadaan justru berbalik seratus delapan puluh derajat dan dialah yang sekarang merasa terpojok.
"Urusan kita udah selesai, jangan pernah hubungi nomor gue lagi," pungkas Arga mengakhiri pertemuan sepihak itu.
Arga berdiri dari kursinya dan berjalan keluar dari kafe tanpa menoleh ke belakang sama sekali.
Dia meninggalkan Bima yang masih duduk terpaku menatap amplop cokelatnya dengan pandangan kosong.
Arga masuk kembali ke dalam mobilnya dan menghembuskan napas yang sedari tadi dia tahan di dada.
'Gila, untung tebakan gue dari deskripsi sistem tadi beneran kena mental dia,' batin Arga merasa sangat lega.
Keberaniannya menggertak Bima murni didorong oleh informasi valid yang diberikan oleh sistem mancingnya.
Arga menyalakan mesin mobilnya dan mulai melaju perlahan meninggalkan area Senopati.
Namun masalah ini jelas belum sepenuhnya selesai sampai di sini.
Bos Bima pasti akan mencari cara lain yang lebih halus untuk menyingkirkan Arga dari papan catur mereka.
Arga sadar dia butuh sebuah pijakan bisnis resmi agar tidak terus dipandang sebelah mata sebagai orang asing.