NovelToon NovelToon
Chasing The Shadow The Valkyrie'S Path

Chasing The Shadow The Valkyrie'S Path

Status: tamat
Genre:Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Cassia Bellvania Anahera adalah personifikasi keanggunan di SMA Kencana, dengan rambut panjang yang menjadi simbol harga diri dan kasih sayang kakaknya, Kalingga. Namun, dunia Cassia yang berwarna merah muda seketika berubah menjadi kelabu saat ia mendapati kekasihnya, Zidane, dan sahabatnya, Elara, mengkhianatinya. Penghinaan Zidane terhadap dirinya—yang dianggap hanya sebagai "pajangan membosankan"—memicu ledakan luka yang mendalam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sayap-sayap Valkyrie

Malam itu, gudang tua di pinggiran kota yang biasanya sunyi berubah menjadi pusat komando. Cahaya lampu neon yang redup memantul pada bodi motor hitam milik Cassia—si Nyx—dan motor sport biru milik Talishia yang baru saja selesai dimodifikasi secara instan oleh Zelene.

"Elara benar-benar sudah gila," ucap Zelene sambil memasang perangkat GPS kecil pada helm Cassia. "Dia memberikan informasi rute rahasia Acheron kepada Vipers sebagai 'hadiah' karena dia sudah diterima masuk sebagai anggota perempuan mereka. Dia mengkhianati kakakmu juga, Cassie."

Cassia yang sedang mengenakan jaket kulit hitamnya terhenti sejenak. "Kak Lingga tidak akan percaya kalau aku yang bicara. Dia terlalu memuja 'keanggunan' sahabat-sahabatku dulu. Baginya, Elara itu gadis manis."

"Tapi bagi kita, dia adalah target malam ini," timpal Talishia sambil mengencangkan pelindung lututnya. "Aku sudah siap, Cassie. Vesta siap mengalau siapa pun yang mencoba memepetmu."

"Ingat," Cassia memakai masker hitamnya, hanya menyisakan matanya yang tajam dan dingin. "Tujuan kita malam ini bukan cuma menang balap. Kita harus mengambil kembali data rute Acheron yang dicuri Elara. Data itu ada di dalam flashdisk yang selalu ia kalungkan. Kita harus merebutnya di tengah lintasan."

Tepat saat mereka hendak menyalakan mesin, suara deru motor besar yang sangat familiar berhenti di depan gudang. Pintu besi yang berkarat terbuka, menampakkan Arsheq Zhafran Galaksi.

Galaksi masuk tanpa permisi, matanya mengamati perubahan di dalam gudang itu. Ia melihat Zelene dengan tiga layar monitornya dan Talishia yang tampak jauh lebih sangar dengan setelan balapnya.

"Gue baru tahu kalau 'Oracle' dan 'Vesta' bisa secepat ini bergerak," sindir Galaksi, namun ada nada apresiasi di suaranya.

"Kak Galaksi jangan coba-coba melarang kami," ucap Talishia berani.

Galaksi mendengus kecil, lalu melemparkan dua buah earpiece militer ke meja Zelene. "Gue nggak bakal melarang. Tapi kalau kalian masuk ke pelabuhan malam ini tanpa ini, kalian bakal tertangkap polisi dalam lima menit. Vipers sudah memasang jebakan. Mereka sengaja memanggil patroli agar saat balapan selesai, hanya mereka yang bisa kabur lewat jalur air."

Cassia mendekati Galaksi. "Kenapa Kakak membantu kami sampai sejauh ini? Kakak ketua Acheron, seharusnya Kakak yang menghajar Vipers."

Galaksi menunduk, menatap Cassia tepat di manik matanya. Jarak mereka begitu dekat hingga Cassia bisa merasakan hawa hangat dari tubuh pria itu. "Acheron punya aturan sendiri. Tapi gue... punya cara sendiri buat jagain apa yang seharusnya nggak boleh disentuh orang lain."

Galaksi mengeluarkan sebuah kunci kecil. "Gunakan jalur pintas di dermaga 7. Itu satu-satunya jalan yang nggak dijaga polisi. Gue bakal ada di sana buat menutup jalur begitu kalian lewat."

"Terima kasih, Kak," bisik Cassia.

"Jangan berterima kasih sebelum lo berhasil bikin Elara malu di depan geng barunya," sahut Galaksi sebelum ia kembali ke motornya. "Jalan sekarang. Sebelum gue berubah pikiran dan menyeret lo balik ke rumah Lingga."

Pelabuhan malam itu terasa sangat dingin. Bau garam dan karat besi menyengat. Di sana, Elara berdiri dengan bangga di samping Zidane yang tampak gagah dengan jaket Vipers-nya. Elara kini mengenakan pakaian yang jauh lebih terbuka, rambutnya dicat merah di bagian ujung, mencoba tampil sebagai 'ratu jalanan'.

"Mana si Hantu itu? Apa dia takut melihat Vipers yang sekarang?" teriak Elara dengan tawa melengking.

Tiba-tiba, suara raungan dua mesin motor membelah kesunyian pelabuhan. Nyx dan motor biru Vesta muncul dari kegelapan, meluncur dengan kecepatan tinggi dan melakukan drift sempurna tepat di depan garis start.

Cassia tidak turun dari motornya. Ia hanya membuka kaca helmnya sedikit.

"Taruhan baru, Elara," suara Cassia terdengar berat dan distorsi lewat interkom. "Kalau aku menang, aku ambil kalung di lehermu. Kalau aku kalah, aku buka masker ini di depan semua orang."

Elara tertegun sejenak. Ia merasa suara itu familiar, tapi rasa sombongnya jauh lebih besar. "Deal! Lagipula, hantu sepertimu tidak akan punya kesempatan melawan Zidane malam ini!"

Zidane maju ke depan, menatap Cassia dengan remeh. "Jangan salahkan aku kalau motor bututmu itu jadi rongsokan, Bocah."

Zelene bersuara di telinga Cassia lewat earpiece. "Oracle di sini. Angin kencang, hati-hati di tikungan dermaga 4. Polisi sudah mulai bergerak dari arah barat. Kalian punya waktu 7 menit sebelum tempat ini terkepung. Go!"

Lampu start berubah hijau. Keempat motor melesat. Cassia dan Zidane memimpin di depan, sementara Talishia bertugas menghalangi anggota Vipers lain yang mencoba bermain curang.

Di tengah aksi saling salip yang berbahaya, Cassia melihat kesempatan. Saat mereka memasuki area dermaga yang sempit, ia memacu Nyx hingga berada tepat di samping Zidane dan Elara yang diboncengnya.

"Sekarang, Tal!" teriak Cassia.

Talishia dengan berani memepet motor Zidane dari sisi kanan, memaksa Zidane untuk mengerem mendadak. Di saat itulah, Cassia melepaskan satu tangannya dari kemudi, dan dengan gerakan secepat kilat, ia menyambar kalung flashdisk di leher Elara.

"APA?!" teriak Elara histeris saat merasakan kalungnya ditarik paksa.

Zidane kehilangan keseimbangan, motornya oleng dan nyaris menabrak tumpukan kontainer. Cassia tidak berhenti, ia terus memacu gasnya menuju dermaga 7.

"Valkyries, polisi sudah masuk! Belok kiri sekarang!" perintah Zelene.

Cassia dan Talishia melompat melewati celah dermaga yang terbuka. Di sana, Galaksi sudah menunggu dengan motor besarnya. Begitu motor Cassia lewat, Galaksi menendang sebuah barikade besi hingga menutup jalan pintas tersebut, mengunci akses bagi polisi dan geng Vipers yang mengejar di belakang.

Di balik helmnya, Cassia tersenyum puas. Ia menoleh ke belakang, melihat Galaksi yang memberikan hormat dua jari padanya sebelum pria itu menghilang ke arah yang berbeda.

Malam itu, The Valkyries bukan lagi sekadar nama. Mereka adalah penguasa baru yang mulai mengincar takhta.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
falea sezi
lanjutt donk seruu
falea sezi
elara jalang gatel g tau diri
falea sezi
nyimak moga bagus q ksih hadiah deh
Paradina
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!