Joko Tenang didedikasikan oleh ayahnya sebagai pendekar pembela kebenaran di dunia persilatan. Menjadi murid tokoh sakti aliran putih Ki Ageng Kunsa Pari membuatnya memiliki kesaktian pilih tanding.
Namun, penyakit keturunan dari kakeknya menjadi kelemahan terbesarnya sebagai seorang pendekar. Ia akan mengalami kelemahan hingga pingsan jika didekati oleh wanita kurang dari tiga langkah, terlebih jika sampai bersentuhan kulit.
Joko Tenang yang masih remaja turut ambil bagian dalam misi penumpasan gerombolan perampok yang suka menyerang desa, merampok harta, dan menculik gadis-gadis perawan desa. Namun, kelompok perampok itu sangat sulit ditemukan dan ditumpas.
Mampukah Joko Tenang menjalani misi pertamanya dalam dunia persilatan? Temukan jawabannya di novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Cubitan Seribu Geli
Kumisan berlari kencang menembus hutan. Sejenak ia memandang ke atas ketika melalui sebuah batu tinggi berselimut belukar. Di atas sana ada Dudut dan Gunjar yang sedang berjaga. Kumisan terus berlari.
“Ayo kita turun!” ajak Gunjar kepada Dudut.
“Parsuto!” panggil Kumisan keras.
Parsuto, Limarsih dan Kusuma Dewi yang sedang sibuk membuat senjata dari kayu dan bambu, melihat ke arah datangnya Kumisan.
“Ada apa, San? Kau dikejar anak buahnya Ki Lurah?” tanya Parsuto cepat.
Saat itu juga bergabung Gunjar dan Dudut.
“Aku melihat Joko datang ke desa bersama dua temannya!” lapor Kumisan.
“Dengan siapa?” tanya Limarsih antusias.
“Dengan seorang lelaki yang mungkin ayahnya dan yang satu lagi seumuran Joko.”
“Kita ke desa sekarang!” Parsuto memutuskan.
“Bagaimana dengan Jajang dan Kulajang?” tanya Widarya yang baru bergabung.
Di sisi lain gua, Jajang dan Kulajang sedang tidur, mereka berjaga semalaman.
“Bira, kau tetap di sini bersama mereka,” kata Parsuto kepada Bira.
“Bagaimana bila anak buah Ki Lurah menangkap kita?” tanya Dudut.
“Kita bawa pisau-pisau bambu ini,” kata Parsuto lalu membagikan pisau-pisau sembilu yang tajam kepada teman-temannya.
Masing-masing menerima beberapa pisau sembilu. Mereka berangkat bertujuh.
“Mungkin Joko datang bersama saudaranya,” duga Limarsih.
“Kita cari mereka di kedai-kedai. Biasanya bila dari luar, mampirnya di tempat isi perut,” kata Parsuto.
Sekeluarnya dari daerah hutan, mereka langsung masuk ke desa.
“Apakah tidak sebaiknya kita menyebar mencari Joko?” usul Limarsih.
“Sebaiknya jangan agar kita tetap bersatu bila kepergok anak buah Ki Lurah,” kata Parsuto.
Seperti biasanya, mereka melalui jalan perkebunan penduduk yang jarang dilalui orang. Mereka menerobos kebun jagung. Namun, betapa terkejutnya mereka saat keluar dari pepohonan jagung keluar ke jalan pemisah.
“Anak buah Ki Lurah!” teriak Parsuto terkejut saat melihat tiga orang lelaki bersandang golok bersarung di tangannya yang kebetulan berjalan di jalan kebun jagung itu.
“Itu mereka!” seru seorang dari ketiga anak buah Ki Lurah, namanya Dunta.
“Lari!” teriak Parsuto berkomando.
Maka seketika itu juga, ketujuh pemuda itu berlari sekencang-kencangnya. Dunta dan kedua temannya langsung pula mengejar. Mereka pun berpacu kencang seperti mengejar maling ayam.
Mereka berhasil keluar dari daerah perkebunan masuk ke tengah desa. Namun, mereka terkejut kembali, karena dari arah depan berlari seorang lagi anak buah Ki Lurah.
“Tangkap, Subarjo!” teriak Dunta.
“Menyebar!” seru Parsuto.
Parsuto dan yang lainnya berlari menyebar. Lelaki bernama Subarjo sempat bingung harus menangkap siapa. Namun, akhirnya ia menentukan pilihan dan dapat.
“Kena kau!” seru Subarjo saat berhasil menangkap tangan kiri Kusuma Dewi.
Set!
“Akh!” pekik Subarjo saat Kusuma menggores kulit tangan Subarjo dengan sembilu.
Cekalan Subarjo lepas dan Kusuma berlari menjauh.
Ternyata Dunta memburu Limarsih, mungkin karena ia menilai bahwa Limarsih adalah perempuan. Memang kejaran Dunta hampir sampai. Mengetahui dirinya hampir terkejar, Limarsih kian panik. Namun Limarsih mendadak senang, ia melihat Joko yang selalu ia harapkan. Joko sedang berdiri di sebuah kedai kecil yang berjarak belasan tombak di depan sana.
“Kena!” pekik Dunta sambil ujung tangannya mendorong punggung Limarsih.
Lari Limarsih pun langsung tertekan ke depan dan si gadis tersungkur keras. Beruntung tanah berumput, tidak terlalu sakit dan terluka. Limarsih cepat berbalik dan menghunuskan pisau sembilunya. Dunta cepat tahan diri.
“Hahaha!” tawa Dunta saat mengetahui senjata yang pegang Limarsih. Dunta cepat meloloskan goloknya dari sarung. “Ini baru senjata! Hahaha!”
Di sisi lain, Parsuto mendapat hadangan dua anak buah Ki Lurah yang turut bergabung menghadang dan sudah hunus golok.
“Gila, sembilu lawan golok?” rutuk Parsuto seraya menahan larinya.
“Menyerah!” perintah Walung yang mengejar Parsuto dari belakang.
Parsuto dikepung oleh tiga orang. Apa lagi ketiganya menghunus golok.
“Jika nekat, mati aku...” pikir Parsuto.
Parsuto akhirnya jongkok dan meletakkan kedua tangannya di tengkuk.
“Dasar cecunguk!” maki Walung sambil menendang belakang kepala Parsuto.
Parsuto tersungkur mencium tanah. Sejenak pandangannya gelap dan kepalanya serasa melayang.
Keramaian yang tercipta tidak jauh dari kedai itu membuat Joko yang bersama Gujara dan Joko Tingkir beralih memperhatikan. Mendelik Joko saat mengenali siapa mereka yang sedang terpojok dan terancam.
“Hei!” teriak Joko keras mengandung sedikit tenaga dalam, wajahnya tampak menegang marah.
Teiakan Joko yang kencang mengejutkan semua anak buah Ki Lurah yang ada di area itu, termasuk Parsuto, Limarsih dan yang lainnya. Limarsih yang dalam posisi siap dihajar jadi sumringah.
Dunta seperti melihat hantu bergerak. Ia terpaku tanpa berbuat apa, saat sosok Joko bergerak seperti setan dari kedai ke arahnya. Dan tahu-tahu....
Dak! Blugk!
Tubuh Dunta terjengkang keras saat tendangan Joko tahu-tahu sudah menghantam dadanya. Dengan gagahnya Joko mendarat memasang kuda-kuda.
“Joko!” sebut Limarsih begitu gembira dan buru-buru bangkit hendak mendekat.
“Eit! Jangan mendekat!” seru Joko cepat memperingatkan.
Dak! Dak! Buk!
Di sisi lain, sekali berkelebat di udara, Gujara bisa menghajar ketiga pengeroyok Parsuto dengan tendangannya. Sementara Kusuma Dewi yang terus dikejar Subarjo, mendapat bantuan dari Tingkir. Subarjo mendapat tiga tinju Tingkir di wajah. Subarjo tumbang dengan hidung berdarah.
“Tenang saja, Cantik, aku akan melindungimu!” kata Tingkir kepada Kusuma seraya tersenyum semanis gula.
Kusuma hanya berwajah dingin. Ia segera berlari mendapati kakaknya. Melihat pertolongan datang, Dudut, Gunjar, Kumisan dan Widarya segera bergabung dengan Parsuto. Seiring itu, ternyata dari arah barat muncul tujuh anak buah Ki Lurah lainnya dan langsung hunus senjata. Jadi komplit 13 orang mengepung Joko dan yang lainnya yang bergerak berkumpul di tengah.
Warga desa memilih menyingkir dan selalu jadi penonton.
“Hai, orang asing! Jangan turut campur dengan permasalahan di desa ini!” kecam satu lelaki besar berotot, ia tidak bergolok. Ia adalah pimpinan para anak buah Ki Lurah, namanya Karang.
“Apa yang kalian lakukan terhadap mereka?” tanya Gujara seraya melangkah lebih mendekat ke hadapan Karang.
“Mereka harus ditangkap karena mereka adalah pengacau-pengacau desa ini!” tegas Karang.
“Bohong!” teriak Dudut menyangkal. “Kami tidak pernah mengacau!”
“Diam kau, Cecunguk!” bentak Subarjo.
“Kau orang asing, kau tidak berhak turut campur, atau kau kami lumpuhkan!” ancam Karang.
“Mereka adalah teman keponakanku, jadi ini jadi urusanku juga,” tandas Gujara. “Apakah tidak sebaiknya kita selesaikan dengan cara damai? Lepaskan mereka.”
“Sembarangan! Kau pun harus kami tangkap karena membantu para pengacau ini!” kata Karang.
“Hei, paman-paman!” Tingkir maju sambil cengengesan. “Jika mau melawan pamanku, kalian harus mengalahkan aku dulu!”
Zess! Blarr!
Seenaknya Tingkir melesatkan selarik sinar biru dari telunjuknya ke depan kaki Walung. Tanah di depan kaki Walung hancur membuat Walung terjengkang lantaran terkejut. Hal itu cukup membuat Karang mendelik.
“Kau lihat, Dewi, Joko dan temannya bisa mewujudkan impian kita!” bisik Limarsih semangat kepada Kusuma.
Adiknya hanya mengangguk sambil menatap kepada Joko. Joko hanya tersenyum manis memergoki Kusuma memandanginya. Mendapat senyuman seperti itu, Kusuma pun tersenyum agak malu. Limarsih menangkap situasi itu.
“Joko!” panggil Gujara. “Maju!”
Joko pun maju.
“Jika tiga orangmu bisa melumpuhkan keponakanku, aku akan pergi dari desa ini!” tantang Gujara.
“Cuih! Sombong!” gusar Karang. “Jangan salahkan jika anak itu terluka atau terbunuh!”
“Anak itu terlahir tidak untuk kalah!” kata Gujara.
“Dunta, Walung, Rawon, hajar anak sombong itu!” perintah Karang.
Dunta, Walung dan lelaki bernama Rawon bergerak maju dengan masing-masing golok di tangan. Namun mengejutkan, Joko tiba-tiba bergerak cepat terlebih dulu menyerang mereka satu per satu. Kecepatan Joko yang tidak biasa, dengan mudah memasukkan serangannya secara telak kepada ketiga lelaki yang ingin mengeroyoknya meskipun mereka memegang senjata.
“Beres!” kata Joko setibanya di samping Parsuto yang membuat hampir semuanya heran, termasuk ketiga anak buah Karang.
Dunta, Walung dan Rawon tidak mengalami apa-apa selain sempat terkena serangan dari Joko.
“Hahaha...!”
Tiba-tiba Walung dan Rawon tertawa bersamaan. Menyusul Dunta yang juga ikut tertawa keras. Gujara dan Tingkir jelas tahu apa yang telah terjadi. Namun yang lainnya tidak habis pikir, kenapa ketiganya tertawa, terutama Karang.
“Hahahak...!”
Kini ketiganya tertawa tambah terbahak dan meringkuk di tanah menahan tawa mereka yang tidak tertahankan.
“Kau apakan mereka, Joko?” tanya Limarsih.
“Mereka tidak akan bisa berhenti tertawa, hahaha!” kata Joko lalu ikut tertawa.
“Hei! Apa yang kalian tertawakan?!” bentak Karang.
“Jangan main bentak saja, hahaha...! Aku tidak tahan lagi, hahaha...!” teriak Walung.
“Bocah itu membuat kami jadi seperti ini, hahaha....!” kata Dunta di sela tawanya.
“Kisanak, anak buahmu tidak akan berhenti tertawa sampai kalian melepaskan mereka semua!” kata Gujara. “Bebaskan mereka dari pengejaranmu!”
“Aah! Jangan mengaturku!” bentak Karang.
“Joko Tingkir!” sebut Gujara.
Joko Tingkir yang paham maksud pamannya langsung melompat cepat menerjang Karang.
Babak!
Dua tendangan keras Tingkir mendarat keras di dada Karang. Karang hanya terdorong beberapa tindak. Tingkir kembali melompat menyerang, tapi kali ini semua ditangkis. Tingkir langsung susulkan serangan pukulan dan tendangan beruntun yang semuanya cepat.
Sempat kewalahan meghindari dan menangkis serangan berbobot Tingkir, tapi Karang memang seorang pemimpin. Sekali serang balik dengan pukulan bertenaga kerbaunya, Tingkir terpaksa melompat mundur.
“Hah!” kejut Karang karena dari belakang tubuh Tingkir tahu-tahu melesat cepat sosok Joko.
Serangan tak terduga itu membuat Karang kelabakan dan serangan Joko yang tak kalah cepat dari Tingkir, sempat masuk beberapa tusukan. Namun, Karang tidak merasakan efek berarti.
“Selesai!” kata Joko sambil berhenti dan berbalik dari hadapan Karang.
Karang terdiam, lalu....
“Hahaha...!”
Dan Karang pun tertawa mengikuti tawa ketiga anak buahnya yang juga belum berhenti. Lelaki besar itu membungkuk pegangi perutnya. Melihat pemimpinnya tertawa tidak terkendali seperti itu, para anak buah Ki Lurah hanya bisa bingung saling pandang.
Akhirnya Joko dan teman-temannya ikut tertawa lucu melihat pemandangan itu.
“Hahaha....! Hentikan kegelian ini, Bocah! Hahaha....!” teriak Karang di sela-sela tawa kerasnya.
“Dengan syarat!” sahut Joko.
“Apa?”
“Pertemukan kami dengan Ki Lurah!” jawab Joko.
“Baik! Hahaha...!” sepakat Karang.
Joko lalu menghampiri Karang yang sudah berjongkok di tanah. Pak! Joko menepuk bokong Karang cukup keras. Seketika kegelian Karang terhenti semua. Karang bangkit dengan napas tersengal dan mata berair. Wajahnya memerah menahan tawa. Tingggal ketiga anak buah Karang yang belum berhenti tertawa.
“Hentikan mereka juga!” pinta Karang.
Sekali lompat, Joko sudah mendarat di antara ketiga orang yang masih tertawa. Hal yang sama Joko lakukan kepada ketiganya, yaitu menepuk keras bokong ketiganya. Dan hasilnya, tawa mereka memang reda.
“Sekarang bawa kami bertemu Ki Lurah!” perintah Gujara.
“Ayo!” ajak Karang dengan penuh kekesalan dan kegusaran yang terpendam.
“Bagaimana dengan kami, Joko?” tanya Parsuto.
“Semuanya ikut, kita selesaikan urusan dengan Ki Lurah hari ini juga!” jawab Joko.
“Ayo!” Parsuto mengajak teman-temannya.
Semuanya pun menuju ke kediaman Ki Lurah.
“Joko, kekasihmu yang mana?” tanya Tingkir berbisik sambil berjalan merapat kepada Joko.
“Kekasih itu apa?” tanya Joko agak keras.
“Hahaha....!”
Tiba-tiba meledaklah tawa Joko Tingkir, Parsuto, Limarsih, Kusuma dan yang lainnya mendengar pertanyaan Joko. Beberapa anak buah Ki Lurah juga ikut tertawa. Gujara hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu. Joko jadi salah tingkah dan heran ditertawakan seperti itu.
“Apa yang kalian tertawakan?” tanya Joko kepada teman-temannya.
Tidak ada yang menjawab kecuali mereka tertawa. Joko memilih berlari dan berjalan di sebelah Gujara.
“Joko hebat-hebat tapi tidak paham yang namanya kekasih,” kata Limarsih berbisik kepada adiknya yang sudah berhenti tertawa.
“Paman, kekasih itu apa?” tanya Joko lugu kepada Gujara.
“Apakah gurumu tidak pernah mengajarkan dan menjelaskan apa yang namanya kekasih?” Gujara malah bertanya.
“Seingatku tidak.”
“Kekasih adalah lawan jenis seseorang yang disukainya dan lawan jenisnya itu juga menyukainya.”
“Oooh, itu toh,” Joko manggut-manggut sambil mendatangi Tingkir. Sambil menunjuk Limarsih dan Kusuma, Joko berkata kepada Tingkir, “Di antara keduanya, tidak ada kekasihku. Itu dilarang oleh Guru. Kata Guru, jika berbuat seperti itu, bisa-bisa dunia dipenuhi anak-anak tanpa bapak.”
“Hahaha....!”
Semakin meledak tawa mereka yang mendengarkan jawaban Joko. Semuanya tertawa, termasuk Karang. Limarsih dan Kusuma yang sempat malu ditunjuk oleh Joko, kembali tertawa.
“Aduh, perutku sakit!” keluh Limarsih yang sampai mengeluarkan air mata.
“Susah kau diajari!” rutuk Tingkir.
“Hahaha!” Joko hanya tertawa kecil yang enak didengar.
“Joko,” kata Parsuto sambil maju berjalan merangkul bahu Joko. “Kau tinggal pilih, Limarsih atau Dewi?”
“Iya, kau tinggal pilih!” dukung Tingkir. “Setelahnya untukku!”
“Dasar anak kurang didik!” maki Joko sambil memukul kepala Parsuto dan Tingkir, tidak terlalu keras. Lalu memarahi keduanya, “Kalian pikir keduanya ikan dagangan, hah?! Jika aku memilih Limarsih, Dewi akan kecewa. Jika aku memilih Dewi, Limarsih akan kecewa. Seandainya aku mau memilih, dua-duanya aku pilih!”
“Hahaha...!”
Kali ini yang tertawa hanya Dudut, Widarya, Kumisan dan Gunjar. Mereka menertawakan Parsuto dan Tingkir. Limarsih hanya menyikut adiknya, membuat gadis yang berubah pendiam itu merengut kepada kakaknya.
“Jika kau makan keduanya, berarti kau serakah!” kata Tingkir.
“Bukan serakah, tapi demi kebaikan. Dengarkan, ada dua ikan di meja, lalu aku makan satu, sisa satu. Jika tidak aku makan juga, kemungkinan besar ikan yang tersisa akan dimakan kucing atau membusuk,” papar Joko, membuat Tingkir dan Parsuto geregetan.
“Jika ikannya sisa satu, sisanya aku yang makan!” pekik Tingkir kesal.
Joko hanya tertawa kecil. Gujara membiarkan keributan anak muda itu. (RH)