NovelToon NovelToon
SCALPEL SKINCARE : Resep Cinta Gawat Darurat

SCALPEL SKINCARE : Resep Cinta Gawat Darurat

Status: tamat
Genre:Dokter / Slice of Life / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Cintapertama / Tamat
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Dr. Rania "The Butcher" Wijaya adalah ahli bedah umum (General Surgeon) yang brilian tapi berantakan. Hidupnya adalah tentang UGD, darah, kopi instan, dan sandal Crocs karet. Baginya, estetika itu tidak penting, yang penting pasien selamat.
​Dunia Rania jungkir balik ketika manajemen RS merekrut Dr. Adrian "The Prince" Bratadikara, spesialis bedah plastik dan estetika lulusan Korea Selatan, untuk meningkatkan pendapatan RS lewat klinik kecantikan VIP. Adrian adalah kebalikan Rania: obsesif dengan kebersihan, wangi parfum mahal, dan percaya bahwa "jahitan bedah adalah seni, bukan resleting celana."
​Masalah utamanya? Mereka adalah musuh bebuyutan (dan mantan gebetan yang gagal jadian) saat kuliah kedokteran dulu. Kini mereka harus berbagi ruang operasi dan menyelamatkan RS dari kebangkrutan, sambil menahan keinginan untuk saling membunuh—atau mencium—satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: Shift Malam Terkutuk

​Jakarta sedang tidak bersahabat. Di luar jendela Rumah Sakit Citra Harapan, langit seolah runtuh. Hujan deras mengguyur tanpa ampun, disertai kilat yang menyambar-nyambar seperti lampu disko alam yang rusak.

​Rania benci shift malam saat hujan badai. Bukan karena dia takut becek, tapi karena suasana rumah sakit tua ini jadi mirip set film horor. Lorong-lorong terasa lebih panjang, bayangan terasa lebih gelap, dan bunyi tetesan air dari atap bocor terdengar seperti langkah kaki hantu suster ngesot.

​Jam menunjukkan pukul 01.00 dini hari.

​Rania duduk di Pantry Dokter, satu-satunya ruangan yang terasa hangat karena ada dispenser air panas. Di hadapannya, sebuah cup mie instan rasa baso sapi sedang mengepul. Aroma MSG yang kuat adalah aromaterapi terbaik bagi Rania untuk mengusir kantuk dan rasa takut.

​"Ayo matang, ayo matang," gumam Rania, mengetuk-ngetuk tutup kertas mie instan itu dengan garpu plastik.

​Pintu pantry terbuka.

​Rania hampir meloncat dari kursinya karena kaget. "Astaga! Setan a—"

​Kalimatnya terputus. Yang berdiri di ambang pintu bukan hantu, tapi sosok yang mungkin lebih menakutkan bagi kesehatan mental Rania: Dr. Adrian.

​Tapi Adrian malam ini terlihat... kacau. Rambutnya yang biasa klimis kini agak lepek dan basah. Ujung celana bahannya kotor terkena cipratan lumpur. Dia menjinjing jas trench coat di satu tangan, dan tas kerjanya di tangan lain.

​"Lho? Pangeran Glowing? Masih di sini?" tanya Rania, garpu plastiknya masih teracung di udara. "Bukannya jam praktek lo udah kelar dari jam 5 sore? Lo lembur atau nggak punya rumah?"

​Adrian menghela napas panjang, lalu berjalan masuk dan menghempaskan dirinya ke sofa tua di sudut ruangan. Sofa itu berdecit protes menahan berat badannya.

​"Banjir," jawab Adrian singkat, memijat pelipisnya. "Jalanan di depan RS lumpuh total. Mobil saya sedan sport, ground clearance-nya rendah. Kalau saya paksa lewat, mesinnya bakal jadi akuarium."

​Rania tertawa kecil, lalu menyeruput kuah mie-nya. Slurp. "Makanya, pake mobil yang down-to-earth dong. Kayak Avanza atau Xenia. Tahan banting, tahan banjir."

​"Saya tidak beli mobil untuk berenang, Rania." Adrian menyandarkan kepalanya, matanya terpejam. Dia terlihat sangat lelah. "Saya nunggu air surut. Mungkin satu atau dua jam lagi."

​Keheningan menyelimuti pantry. Hanya suara hujan yang memukul kaca jendela dan suara kunyahan Rania yang terdengar.

​Tiba-tiba, perut Adrian berbunyi.

Krucuk... krucuk...

​Suaranya cukup keras untuk menyaingi suara guntur di luar.

​Rania berhenti mengunyah. Dia menatap perut rata Adrian, lalu menatap wajah Adrian yang kini perlahan memerah, merusak image dinginnya.

​"Belum makan malam?" tanya Rania, menahan senyum.

​"Saya tadi meeting investor sampai malam. Lupa makan. Mau pesan delivery, tapi tidak ada ojek yang mau ambil orderan badai begini," aku Adrian dengan gengsi yang masih tersisa.

​Rania menatap mie instannya yang tinggal setengah. Lalu dia menatap Adrian yang kelaparan. Hati nuraninya bergejolak. Dia lapar, tapi membiarkan musuh kelaparan juga tidak manusiawi (sumpah dokter, kan?).

​Dengan berat hati, Rania membuka lemari pantry. Dia mengambil satu stok rahasianya. Pop Mie rasa Ayam Bawang.

​"Nih," Rania melempar cup mie itu ke arah Adrian. Adrian menangkapnya dengan refleks bagus.

​Adrian menatap kemasan stereofoam itu dengan tatapan ngeri. "Natrium 1300mg? Pengawet? Tepung terigu kualitas rendah? Rania, ini racun yang dikemas plastik."

​"Ya udah balikin," Rania mengulurkan tangan. "Biar lo mati kelaparan di situ. Nanti gue autopsi, penyebab kematian: gengsi akut."

​Adrian menarik kembali mie itu, mendekapnya posesif. "Dalam situasi survival, standar nutrisi bisa diturunkan sementara."

​Rania mendengus, menyodorkan air panas dari dispenser. Adrian menyeduh mie itu dengan kecanggunggan seorang bangsawan yang baru pertama kali masuk dapur umum.

​Saat mereka berdua duduk berhadapan, menyeruput mie instan di tengah badai (Adrian makan dengan sangat pelan dan hati-hati agar kuahnya tidak muncrat ke kemeja), suasana terasa sedikit... damai.

​"Ternyata," kata Adrian setelah menelan suapan pertama, matanya sedikit melebar. "Rasanya... lumayan."

​"Micin emang nggak pernah salah, Ad," sahut Rania bangga.

​DUAR!

​Petir menyambar sangat dekat, diikuti suara ledakan trafo di kejauhan.

​Dalam sekejap, lampu pantry mati.

Lampu koridor mati.

Seluruh rumah sakit gelap gulita.

​"KYAA!" Rania refleks berteriak dan menutup telinganya.

​Gelap total. Hitam pekat.

​Rania benci gelap. Dia punya trauma masa kecil pernah terkunci di gudang. Napasnya langsung memburu. Jantungnya berdegup kencang seakan mau meledak.

​"Lampu... lampu..." desis Rania panik, tangannya meraba-raba udara. "Kevin? Yanti?"

​"Tenang, Rania. Ini cuma blackout biasa," suara Adrian terdengar dari seberang meja. Tenang dan stabil. "Genset otomatis akan nyala dalam 10 detik."

​"Gensetnya tua! Kadang butuh semenit!" suara Rania bergetar. Dia tidak bisa melihat apa-apa. Rasa takut yang irasional mulai mencekik lehernya. "Gue nggak bisa... gue nggak bisa gelap..."

​Rania berdiri, berniat mencari pintu, tapi lututnya lemas. Dia menabrak pinggiran meja.

​Tiba-tiba, sebuah tangan yang hangat dan kuat menangkap lengannya.

​"Rania, diam di tempat. Nanti kamu jatuh," suara Adrian kini terdengar sangat dekat. Di tepat di sebelahnya.

​"Adrian..." Rania tanpa sadar mencengkeram lengan kemeja Adrian erat-erat. Kukunya mungkin menembus kain mahal itu, tapi dia tidak peduli. "Jangan pergi. Jangan diem."

​"Saya di sini. Saya nggak kemana-mana," kata Adrian lembut. Jauh lebih lembut dari biasanya.

​Adrian tidak melepaskan tangan Rania. Malah, dia menggeser posisinya agar Rania bisa bersandar padanya. Dalam kegelapan itu, indra penciuman Rania menajam. Bau apek rumah sakit hilang, digantikan aroma sandalwood dan musk dari tubuh Adrian. Hangat. Kokoh.

​"Tarik napas," instruksi Adrian pelan, seolah sedang membimbing pasien. "Satu, dua, tiga. Hembuskan."

​Rania menurut. Dia membenamkan wajahnya di bahu Adrian, menyembunyikan diri dari kegelapan. Dia bisa merasakan dada Adrian naik turun dengan teratur. Detak jantung pria itu tenang, menjadi jangkar bagi kepanikan Rania.

​"Lo... lo nggak takut gelap?" tanya Rania lirih.

​"Saya takut banyak hal," bisik Adrian di kegelapan. "Takut gagal. Takut miskin. Takut tidak sempurna. Tapi gelap? Tidak. Gelap itu cuma ketiadaan cahaya, Rania. Tidak ada monster di sini."

​"Ada," bantah Rania. "Monster imajinasi gue."

​Rania merasakan tangan Adrian bergerak ragu-ragu, lalu perlahan menepuk-nepuk punggungnya pelan. Canggung, tapi menenangkan.

​"Kalau ada monster, saya usir. Saya punya pisau bedah di saku," canda Adrian kaku.

​Rania tertawa kecil, tawa yang basah. "Dasar psikopat."

​Mereka terdiam dalam posisi itu. Berpelukan di tengah kegelapan pantry RS. Rania merasa aman. Sangat aman sampai dia lupa bahwa pria yang dia peluk ini adalah musuh bebuyutannya. Dia lupa bahwa mereka seharusnya saling membenci.

​Detik demi detik berlalu. Rasanya lebih dari satu menit. Mungkin lima menit? Waktu terasa kabur.

​Hingga akhirnya...

​BZZZT. KLIK.

​Lampu neon di langit-langit berkedip dua kali, lalu menyala terang benderang. Genset menyala.

​Cahaya putih membanjiri ruangan, mengekspos realitas.

​Rania mengerjap silau. Saat matanya beradaptasi, dia sadar posisinya.

Dia sedang memeluk pinggang Adrian erat-erat, wajahnya menempel di dada bidang pria itu.

Dan Adrian... tangan kanannya sedang memeluk bahu Rania, dan dagunya menempel di puncak kepala Rania.

​Mereka membeku.

Mata bertemu mata. Jarak wajah mereka hanya sejengkal.

Ada jeda sekitar tiga detik di mana tak satu pun dari mereka bergerak menjauh. Ada ketegangan listrik yang bukan berasal dari PLN di udara. Tatapan Adrian tidak dingin. Tatapan itu... dalam.

​"Ehem!"

​Suara batuk yang dibuat-buat terdengar dari arah pintu.

​Mereka berdua meloncat memisahkan diri seolah tersengat listrik tegangan tinggi. Rania mundur sampai menabrak dispenser. Adrian langsung pura-pura merapikan kerahnya yang kusut.

​Di ambang pintu, Suster Yanti berdiri sambil memegang senter, mulutnya menganga lebar, lalu perlahan berubah menjadi senyum jahil yang mengerikan. Di belakangnya, Kevin mengintip dengan wajah polos.

​"Waduh..." kata Yanti panjang. "Listrik mati cuma dua menit, tapi perkembangannya pesat ya. Udah tahap peluk-pelukan?"

​Wajah Rania memerah padam, semerah saos sambal. "Nggak! Bukan! Tadi... tadi gue takut gelap! Terus gue... gue nabrak dia! Itu kecelakaan!"

​"Kecelakaan kok meluknya erat banget, Dok? Sampai kemeja Dr. Adrian lecek gitu?" goda Yanti.

​Adrian berdeham keras, berusaha mengembalikan wibawanya yang sudah runtuh. "Itu prosedur penanganan panik, Suster. Dr. Rania mengalami serangan kecemasan akut. Saya melakukan intervensi suportif."

​"Intervensi suportif," ulang Yanti sambil manggut-manggut. "Oke, dicatat. Besok kalau saya panik, saya mau intervensi suportif sama satpam ganteng di depan ah."

​"Yanti!" Rania melotot. "Jangan gosip! Awas lo ya!"

​Adrian melirik jam tangannya, menghindari tatapan Rania. "Hujan sudah reda. Banjir pasti sudah surut. Saya... saya harus pulang."

​Dia menyambar tasnya dan trench coat-nya. Sebelum keluar pintu, dia berhenti sejenak di dekat Rania. Tanpa melihat wajah Rania, dia berbisik cepat.

​"Mie-nya enak. Thanks."

​Lalu dia menghilang di balik pintu dengan langkah lebar.

​Rania berdiri mematung di pantry. Jantungnya masih berdetak kencang, tapi kali ini bukan karena takut gelap. Dia memegang bahunya sendiri, tempat tangan Adrian tadi bersandar. Masih terasa hangat.

​"Cieee..." Kevin dan Yanti berseru barengan.

​"DIAM KALIAN SEMUA ATAU GUE JAHIT MULUTNYA PAKE BENANG KASUR!" teriak Rania, lalu kabur ke ruang jaga dokter, meninggalkan mie instannya yang sudah dingin.

​Malam itu, "The Butcher" tidak bisa tidur. Dan di dalam mobil sport-nya yang melaju membelah genangan air sisa banjir, "The Prince" tersenyum tipis sambil mencium aroma samar shampoo strawberry Rania yang tertinggal di kemejanya.

...****************...

Bersambung....

Terima kasih telah membaca💞

Jangan lupa bantu like komen dan share❣️

1
Wien Ibunya Fathur
aku sampai maraton bacanya...
ceritanya bagus banget
tanty rahayu: makasih banyak kaka udah betah bacanya😍
total 1 replies
ms. S
ga terasa udah tamat aja.. sng bgt novel kayak gini... good job
tanty rahayu: mamasih kak sudah baca sampai tamat 😍
total 1 replies
Wien Ibunya Fathur
ceritanya seru
tanty rahayu: makasih banyak kaka udah mau baca novel ku 😍
total 1 replies
Frida Fairull Azmii
keren..bahasa nya sih berat istilah" orang pinter tp asik d buat jdi komedi romantis🥰
tanty rahayu: makasih kaka 😍
total 1 replies
Frida Fairull Azmii
masih sepi nih tp ini novel seru banget sumpah,kalian wajib baca😍
ms. S: bnr, novel ini layak dapat view yg banyak bgt dan authornya harusnya masuk platinum karena beberapa karya yg udah aku baca, ceritanya out of the box semuanya. Dan risetnya cerita bagus
total 2 replies
ms. S
ya ampun ngakak bgt cemburu nya 😄
ms. S
gombalan paling unik, aneh tapi bikin melting dan senyum2 sndiri😍
tanty rahayu: ikut gemess ya
total 1 replies
ms. S
sumpah.. sumpah aku kyk baca Drakor dokter itu lho.. good job
tanty rahayu: hehehe kebetulan aku emang suka nonton drakor juga ka jd terinspirasi deh
total 1 replies
ms. S
mereka yg ciuman aku yg senyum2 sendiri... 😍😍😍
tanty rahayu: gpp senyum asal jangan bayangin 🤣🤣🤣
total 1 replies
ms. S
mmg cinta bisa DTG kpn aja bahkan DTG saat operasi DTG 😍🤭
ms. S
co cuit😍😍😍
ms. S
diem2 cinta tapi benci uluh..uluh🤭😍😍😍
Murni Asih
gombalan paling manis , laen dr yg laen....
tanty rahayu: makasih banyak kaka sudah mau mampir dan baca karya ku
total 1 replies
ms. S
cerita yg cukup menarik biasanya kita disuguhkan dgn ceo, mafia dan anak SMA jrg ada yg BNR mengulik dokter sungguhan. semoga ke blkg juga jauh lbh menarik
ms. S: tapi mmg novelnya menarik bgt buat dibaca syg klo novel sebagus ini krg view-nya.. karena biasanya novel dokter itu ga da BHS dokternya jadi ga meresap smpe ke hati ini bnr2 dokter bgt novelnya merasa kita lihat Drakor: good doctor. bintang lima 🌟🌟🌟🌟🌟
total 2 replies
Frida Fairull Azmii
🤣🤣gila dokter ciuman jg pake diskusi segala bilang aja silaturahmi bibir..wkwk
tanty rahayu: wkwkwkkw 😍😍😍
total 1 replies
Frida Fairull Azmii
novel nya bagus,lanjut...lanjut..
tanty rahayu: makasih kaka sudah baca novelku jangan lupa baca novel ku yang lain ya ka 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!