Alya, mahasiswi tingkat akhir yang cerdas dan mandiri, tengah berjuang menyelesaikan skripsinya di tengah tekanan keluarga yang ingin ia segera menikah. Tak disangka, dosen pembimbingnya yang terkenal dingin dan perfeksionis, Dr. Reihan Alfarezi, menawarkan solusi yang mengejutkan: sebuah pernikahan kontrak demi menolong satu sama lain.
Reihan butuh istri untuk menyelamatkan reputasinya dari ancaman perjodohan keluarga, sedangkan Alya butuh waktu agar bisa lulus tanpa terus diburu untuk menikah. Keduanya sepakat menjalani pernikahan semu dengan aturan ketat. Tapi apa jadinya ketika batas-batas profesional mulai terkikis oleh perasaan yang tak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7
Reihan hanya menatap Alya yang sudah masuk ke mobil lebih dulu. Tanpa komentar, ia duduk di kursi pengemudi dan menyalakan mesin. Perjalanan berlangsung hening—terlalu hening—hanya suara mesin dan deru kendaraan lain yang terdengar.
Sesekali Reihan melirik Alya, yang sibuk menatap keluar jendela dengan wajah datar. Tangannya yang diletakkan di pangkuan menggenggam erat, seperti sedang menahan sesuatu.
“Alya…” suara Reihan akhirnya memecah keheningan.
“Apa?” jawab Alya singkat, matanya tetap menatap jalanan.
“Aku tahu kamu nggak nyaman. Tapi… satu tahun ini kita harus kompak. Kalau nggak, semua ini akan berantakan.”
Alya memutar kepalanya, menatap Reihan dengan alis terangkat. “Kompak? Kompak itu kalau kita sama-sama tahu dan sepakat. Nyatanya… semua keputusan kamu yang ambil sendiri.”
Reihan menghela napas, menahan diri untuk tidak terpancing. “Kalau aku nggak ambil kendali, semua akan makin rumit. Percaya sama aku.”
“Aku percaya… sama diriku sendiri,” balas Alya cepat.
Hening lagi. Tapi kali ini bukan hening yang nyaman—ini hening yang penuh amarah yang tak terucap.
Mobil berhenti di depan rumah Alya. Reihan tidak langsung mematikan mesin. Ia menatap Alya lama, hingga gadis itu mulai gelisah.
“Ada apa lagi?” tanya Alya.
Reihan mencondongkan tubuh sedikit, suaranya lebih pelan tapi tegas. “Mulai sekarang… kalau ada yang tanya, kita jawab sama. Jangan bikin celah yang bisa bikin orang curiga.”
Ia membuka pintu mobil. “Baik, Pak Dosen.” Nada suaranya sengaja dibuat sarkastik.
Sebelum keluar sepenuhnya, Reihan menambahkan satu kalimat yang membuat langkah Alya terhenti. “Dan… besok sore, sebelum makan malam, aku jemput kamu. Kita harus latihan.”
Sebelum keluar sepenuhnya, Reihan menambahkan satu kalimat yang membuat langkah Alya terhenti. “Dan… besok sore, aku jemput kamu. Kita harus latihan.”
Alya menoleh dengan bingung. “Latihan?”
“Latihan jadi pasangan yang meyakinkan,” jawab Reihan santai, tapi tatapannya menusuk.
'ya tuhan masa cuma kayak gitu harus latihan, ini orang kyak ngga kenal aja sama cinta'
Pintu mobil tertutup. Alya melangkah masuk ke rumah, tapi di dalam dadanya, jantung berdetak lebih cepat. Mungkin jika lama lama dekat dengan dosen itu bisa membuatnya serangan jantung atau malah lebih mungkin dia mati muda disana.
Alya berdiri di depan cermin, merapikan rambutnya. Dia sudah menyiapkan mental, tapi tetap saja ada rasa aneh membayangkan harus “latihan” dengan Reihan.
'ini laki ada ada aja deh'
Begitu keluar rumah, Reihan sudah menunggu di mobil dengan kemeja abu-abu yang membuatnya terlihat… terlalu rapi untuk sekadar latihan.
“Masuk,” ucapnya singkat.
Mobik yang mereka kendarai berhenti di sebuah cafe minimalis yang jaraknya tidak jauh dari rumah alya.
"Mau pesan apa"
"Terserah"
"Mbak Americano no sugar satu dan satu lagi coffe latte"
“Lihat aku ketika aku bicara. Senyum sedikit, tapi jangan berlebihan. Tangan kamu… taruh di meja, biar kelihatan natural.”
"Pak ini sebenarnya maksudnya apa sih, Bapak mau modus yaa sama saya"
" Siapa bilang, saya hanya mau kamu sedikit beracting agar orang lain tidak curiga"
" Masalahnya kalo orang-orang liat kita jalan berdua kan jadi ribet, nanti pas kita cerai orang-orang pasti nanyain"
Reihan hanya diam menganggapi ucapanku apa dia tersinggung, ngga mungkin kan. Dia yang mengusulkan pertama agar pernikahan kami nanti tidak ada orang yang tau atau gara-gara cerai. Ah tapi ngga mungkin kan.
"Ya sudah terserah mu. Saya hanya tidak mau mengecewakan orang tua saya"
"Justru apa yang bapak lakukan sekarang sudah mengecewakan orang tua bapak, ngga cuma orang tua bapak tapi orang tua saya juga ngga kalah kecewanya pak " aku mulai tersulut emosi mendengar penuturannya tadi
"Terus mau mu apa, saya tidak mau pernikahan ini batal karena kamu sudah menandatangani kontrak dengan saya"
"Terserah, aku mau pulang"
"Tunggu biar saya antar"
" Ngga perlu aku bisa pulang sendiri "
Dia punya perasaan ngga sih semena-menanya semua memperlakukan orang seperti badut.
To Devan
Bilangin sama mama, malam ini aku pulang ke kost
Satu lagi kalo ada Reihan ke rumah bilang aja aku di rumah teman .
Devan
Lagi berantam lu sama calon suami lu
To Devan
Ngga usah banyak tanya
Devan
Ok sip😚
"Dih apaan nih bocah"
Aku membuka kamar kost ku membersihkannya karena sedikit berdebu apalagi setelah aku tinggalkan beberapa hari ini.
Percakapan kami tadi di cafe masih terngiang-ngiang di kepalaku, apa maksudnya coba, dia pikir aku ngga bisa menjaga rahasia maen ngatur aja. Orang juga mau untuk mengemukakan pendapatnya sendiri. Tapi hal lain terlintas di otak ku bagaimana jika nanti dia tidak mau meluluskan skripsiku atau dia menyuruhku untuk mengulanginya lagi, bisa-bisa aku ngga lulus tahun ini.
"Ahh bodo amat"
Ting...
Aku melihat benda pipih yang ada disampingku. Ohh rupanya dari dosen itu aku hanya melihat notifnya saja tanpa ingin melihat isinya.
Ting...
Ting...
Ting...
Aku mulai penasaran dengan notif yang muncul berturut-turut itu.
Pak Dosen pembimbing
Kamu dimana saya tadi kerumahmu,
Kamu tidak ada disana
Kata Devan kamu dirumah temanmu
Turunlah saya sudah ada di depan kost mu
Pesan terakhir yang dia kirim membuatku syok darimandia tahu kost ku apa jangan-jangan dari Devan atau dia menguntitku.
To Pak Dosen pembimbing
Darimana bapak tahu kostku
Mending bapak pulang deh ini kost cewek ini udah malam
Pak Dosen pembimbing
Ngga perlu tau
Turunlah sebentar ada yang ingin saya bicarakan
Atau saya yang naik ke kamar kamu saya sudah izin sama pemiliknya.
Gila nih dosen dia pikir aku cewek apaan. Tanpa membalas pesannya aku langsung turun kebawah benar saja dia sudah berdiri disamping mobilnya.
"Kenapa" tanyaku ketus, melihat mukanya yang datar saja sudah membuatku jengkel .
"Saya minta maaf"
Ngga salah dengar nih kuping gue seorang Reihan minta maaf, dalam rangka apa?
"Saya minta maaf atas ucapan saya tadi, saya ngga bermaksud untuk menyinggung kamu"
Ya siapa juga yang ngga sakit hati diperlukan seperti itu
"Sudah saya maafkan kok pak, ngga perlu dibahas lagi"
Dia hanya diam tak berniat menjawab ucapanku malah dia membuka pintu mobilnya. 'apa-apaan ini dia mau pulang begitu aja'
"Ini untukmu aku tau kamu belum makan"
'Kalo kayak gini sudah tentu saya maafkan pak' gengsi untuk mengucapkan nya langsung
"Kalo begitu saya pulang dulu"
"Hm"
Aku memandangi mobilnya yang sudah menjauh. Dingin gitu perhatian juga nih dosen atau dia ngga mau aku mati kelaparan dan ditinggal mati oleh ku. Bisa saja.