Menikah tanpa dasar cinta, akankah bertahan lama ?
Kalaupun berjuang hanya seorang diri, mungkinkah akan bahagia ?
Fira menerima perjodohannya dengan Bara. Namun setelah menikah, Bara memberikan Fira beberapa lembar kertas perjanjian pernikahan mereka. Bara berkuasa atas segala peraturan yang dibuatnya.
"Kenapa kau melakukan semua ini hah?" tanya Fira, gemetar penuh emosi dan tak menyangka.
"Karena aku, tidak pernah menginginkan kehadiranmu!" seru Bara, menyentak Fira.
Bagaimanakah kelanjutan kisah antara Bara dan Fira ?
Apakah pernikahan mereka akan berlangsung lama atau Fira menyerah begitu saja ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Septiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cincin
Dan untuk ke tiga kalinya Fira terkejut, seakan – akan jantungnya berhenti berdetak, melihat pria yang berdiri di depan pintu yang satu sama lain saling menatap tak menyangka.
“Kamu!“ Teriak Bara dan Fira berbarengan.
Semua yang ada di ruangan, melihat mereka hanya tertegun tak bergeming.
“Kenapa kau disini?”. Mata Fira terbelakak, melihat Bara.
“Ya... a – aku,” Bara terlihat gugup, ia bingung menjawab pertanyaan Fira.
“Sudah Fira, nak Bara silahkan duduk.” Pinta Alex, melerai kecanggungan diantara mereka. Dan Bara pun mengiyakannya dan duduk kembali di sofa.
“Ayah apa dia...” Belum sempat Fira menyelesaikan bicaranya. Alex terlebih dahulu mengatakan yang sebenarnya.
“Jadi begini, nak Bara ini adalah lelaki yang akan Ayah jodohkan denganmu.” Alex berbicara dengan badan sedikit miring ke arah Fira.
“Apa?” lagi-lagi Fira dan Bara berteriak kaget.
Lisa menahan tawa melihat tingkah Fira dan Bara yang menurutnya sangat menggemaskan.
“Kak Fira dan Kak Bara sungguh menggemaskan, lihatlah kalian, berteriak saja begitu kompak.” Lisa akhirnya tak bisa menahan tawa nya lagi, ketika melihat Bara yang menajamkan kedua matanya ke arah nya.
Wina dan Moly pun saling bertatapan tersenyum, seakan mengisyaratkan sesuatu.
“Baiklah jadi gimana rencana untuk pernikahan mereka?” tanya Hito menghadap Alex.
“Sepertinya lebih cepat lebih baik, aku takut anak ku nanti berubah pikiran” Alex melirik ke arah Fira.
“Ya sudah kalau begitu, 2 minggu lagi kita langsungkan pernikahan mereka.”
Bara dan Fira yang mendengar begitu terkejut.
“Kenapa cepat sekali?” lagi-lagi Bara dan Fira mengucap kalimat yang sama secara bersamaan.
Mereka saling menoleh satu sama lain. Bara menajamkan mata nya kepada Fira, Fira yang melihat mengangkat dagunya seakan menantang.
“ Bagaimana bisa ayah menjodohkanku dengan si kutub es ini.” gerutu Fira dalam hati, ia tak habis pikir kalau calon suami nya itu ialah lelaki yang ia anggap manusia es, saking cuek dan dingin sikapnya itu.
Wina yang melihat mereka masih saling menatap, mengalihkannya.
“Lihatlah anak kita pa, dia dari tadi terus memandangi calon istrinya itu.” Wina tersenyum dan menggelayut di tangan suaminya. Ia merasa gemas melihat Bara dan Fira bertatapan seperti itu.
Bara dan Fira yang mendengar ucapan Wina langsung membuang muka mereka masing-masing.
“Bisa-bisa nya papa menjodohkanku dengan bocah seperti dia.” gumam Bara dalam hati. Karena ia melihat Fira yang masih sangat muda bahkan, ia melihat kalau Fira seumuran dengan Adiknya padahal jelas-jelas Fira lebih tua 3 tahun dari Lisa.
Merekapun melanjutkan obrolan mengenai pernikahan Fira dan Bara yang tak lama lagi akan segera dilaksanakan. Tapi Bara meminta syarat, agar pernikahannya dilakukan di rumahnya Fira dan hanya di hadiri oleh saudara dan keluarga, ia tak mau acara pernikahannya di ketahui oleh teman-temannya apalagi sampai diketahui oleh ( Dia ) . Dan mereka pun menyetujui syarat yang Bara minta.
Setelah selesai membicarakan soal pernikahan, Wina meminta Bara untuk memasangkan cincin sebagai tanda pengikat di antara mereka.
“Ini, pasangkan cincin ini di jari Fira.” Wina memberikan kotak cincin yang dimana disitu terdapat sepasang cincin putih yang begitu cantik. Meski Wina hanya mengira-ngira ukuran cincin untuk mereka tapi ia berharap semoga cincin itu bisa pas di jari manis nya Fira.
Bara mengambil kotak cincin itu dan berjalan beberapa langkah ke hadapan Fira.
Fira yang melihatnya hanya duduk saja, membuang muka dari tatapan Bara.
“Fira, berdiri nak, ayo pasangkan dulu cincin nya!” Alex menajamkan kedua alisnya, dan Fira yang melihat tatapan Ayah nya langsung berdiri menghadap Bara.
“Berikan jari manis mu!” Ucap Bara sambil mengambil satu cincin di kotak itu dan memakaikannya kepada Fira. Dan ternyata ukurannya sesuai meski agak sedikit longgar di jari Fira.
Bara kemudian memberikan satu cincin lagi kepada Fira, dan ia menyodorkan tangan kirinya ke hadapan Fira. Kemudian Fira memasukan cincin itu di jari manis Bara.
“Pelan-pelan, jariku sakit.” lirih Bara yang menatap Fira, karna ia memakaikan cincin nya terlalu paksa, sebab ukurannya yang begitu nge pas di jari Bara.
Wina yang melihat mereka tersenyum dan menyenderkan kepalanya di bahu suaminya.
“Lihatlah pah anak kita sebentar lagi akan menikah.”
Hito yang mendengar hanya tersenyum melirik ke arah Wina yang ada di sampingnya.
Selepas itu, mereka berbincang-bincang kembali hingga tak terasa jam di dinding sudah menunjukan pukul 22.00 , merekapun berpamitan untuk pulang.
***
2 Hari kemudian
Sinar matahari pagi masuk melewati celah-celah ventilsi udara di dekat jendela. Cahaya itu seakan membelai-belai wajah Fira, sehingga membuat ia terbangun dari tidurnya.
Dilihatnya jam sudah menunjukan pukul 06.00 , ia kaget dan langsung berlari menuju kamar mandi yang ada di kamarnya.
Ketika sudah selesai dengan aktivitas pagi di kamarnya, ia sudah terlihat rapih dengan baju berwarna putih dan rok rempel berwana Mocca, tak lupa ia memakan hijab sabyan yang warna nya senada dengan rok nya.
Ia keluar dari kamarnya, turun meniti tangga dan dilihatnya seorang lelaki yang sedang ada di meja makan bersama Ayah nya. Ia kaget dan langsung berlari kecil menghampiri lelaki itu.
“Bima....” Fira memeluk bima yang sedang duduk itu dari arah belakang.
“Kapan kau sampai disini?” Fira melepaskan pelukannya dan duduk di kursi sebelah Bima.
“Tadi subuh Kak aku sampai di rumah.” Jawabnya sambil mengambilkan roti dan selai untuk Fira.
“Kenapa kau tidak bilang padaku kalau kau akan pulang.” geurutu lisa, sambil mengambil roti dan selai yang di pegang Bima.
“Sengaja kan biar kejutan, kemarin ayah menelponku, katanya kaka 2 minggu lagi akan menikah, makanya aku pulang. Lagipula aku kan lagi libur semester kak. Pas juga libur nya 2 minggu.” ujar Bima sambil melahap roti nya.
“Baiklah kalau begitu besok kita main, sekarang kakak mau berangkat kuliah dulu.” Fira segera menyelesaikan sarapannya dan berpamitan pada Alex dan Bima. Kemudian berlalu meninggalkan mereka.
Fira berjalan menuju jalan besar yang tak jauh dari blok rumah nya. Ia menunggu taksi lewat tapi sudah setengah jam ia menunggu , namun tak mendapatkan nya juga, ia meraih ponsel di tas nya, ia mau memesan taksi online namun lagi-lagi ia tak bisa mendapatkan pengemudi. Ia pun berjalan perlahan sambil melihat ke sekeliling nya barang kali ia bisa menemukan ojeg atau taksi. Tapi nampak nya pagi ini jalanan di dekat perumahannya itu sedang sepi.
“Tiit tiit...” Suara klakson mobil menghentikan langkah Fira, ia menoleh ke arah samping, dilihatnya sebuah mobil sedan berhenti di sampingnya, kemudian kaca mobil itu terbuka dan di lihatnya seorang lelaki yang tak asing wajah nya.
“Nona kau mau kemana?” Tanya Dion yang duduk di kursi kemudi sambil menatap ke arah Fira.
“Itu kan lelaki yang waktu itu” gumam Fira, sambil mengereyitkan dahinya. “ Saya mau pergi ke kampus XXX tuan ”
“Ayo ikut, biar saya antar kebetulan searah dengan saya.”
“Tidak tuan, terimakasih saya sedang menunggu taksi di sini.”
“Taksi tidak akan lewat sini, tadi di belakang sana ada kecelakaan dan sementara jalanan lewat sini di tutup. Ikutlah denganku!”
“Benarkah? tapi sepertinya dia kelihatan baik. Ah lebih baik aku ikut dia saja, dari pada harus jalan kaki sampai kampus bisa bisa kaki ku copot ” gumam fira dalam hati. Ia pun mengiyakan dan masuk kedalam mobil itu.
Dion segera melajukan mobilnya, dan entah kenapa ia merasakan getaran itu lagi di hatinya. Ia tersenyum sambil melirik ke arah Fira.
“Oh ya kamu yang mengantar kue waktu itu kan?” Dion memecah keheningan di anatara mereka.
“Iya tuan,” Fira menunduk karna ia sadar dari tadi Dion melirik ke arah nya terus.
“Aku Dion”
“Emh, saya Fira, terimakasih sudah memberikan tumpangan kepada saya.” Ucap Fira malu-malu.
“Iya sama-sama, oh ya kamu kuliah disana ngambil jurusan apa?” Tanya Dion tersenyum.
“Saya ngambil jurusan Akuntansi.”
“Jago perhitungan dong.”
“Tidak juga tuan”
“Menggemaskan sekali dia ini, lihatlah wajah nya yang manis itu... ahhhh kenapa aku ini ” Lirih Dion dalam hati.
“Deg deg deg,” Jantungnya terasa semakin kencang, seakan sedang lari maraton yang membuat ia gemetar.
“Tuan apa tuan tidak apa-apa?” Fira melihat tangan Dion yang sedang memegang setir, sedikit bergetar.
“Ti-tidak aku tidak apa-apa,” ucap Dion, dengan nada yang grogi.
“Hey jantung, jangan buat aku seperti ini, ini sungguh memalukan lihatlah tangan ku sampai bergetar begini ” Ia bergumam di dalam hati. Mengontrol agar detak jantung nya tidak berdisko terus menerus.
“Tuan turunkan saya di depan sana saja,” Fira menunjuk ke arah Gapuran Kampus yang berada di arah depan.
Karna tak terasa mobil itu pun sudah sampai di depan kampusnya itu. Fira melepas tali pengaman dan sebelum ia turun dari mobil ia mengucapkan terimakasih dulu kepada Dion, dan Dion menyautinya dengan senyuman manis.
Kemudian Fira turun dan berjalan menuju gerbang kampus. Dion yang masih melihat ke arah Fira ia tersenyum merasakan gejolak aneh di dalam hati nya. Ia pun kembali dari lamunannya dari memacukan kembali mobilnya menuju Kantor Cleon Compeny.
Pagi ini Bara seperti biasa berangkat ke kantor mengendarai mobilnya sendiri. Dan Lisa pagi ini ikut membuat kue bersama mama nya karena ia sedang libur sekolah maka Lisa selalu menghabiskan waktu liburnya di rumah.
Dion mengetuk pintu dan masuk ke ruangan Bara membawa beberapa makanan. Dia duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
“Bar, sarapan bareng yuk, nih aku bawa banyak makanan.” Dion membuka kotak makanan itu. Dan Bara yang mendengar ajakan Dion, ia menghampirinya dan duduk di sebelah Dion.
“Tumben bawa banyak makanan?” Bara mengambil sebuah roti dan mulai melahapnya.
“Hari ini aku dapet durian runtuh Bar, tadi aku habis nganterin bidadari yang turun dari kayangan.”
“Hahaha.. uhuk uhuk,” Bara yang mendengar celotehan Dion, tertawa terbahak, sampai ia tersedak roti yang sedang ia kunyah. Dion segera membuka botol air mineral yang ada di atas meja. Dan bara langsung menyautnya.
“Temen lagi curhat malah di ketawain, kena batu nya kan!” Gerutu Dion.
Bara hanya terkekeh mendengar ucapan Dion, dan dia menepuk-nepuk pundak nya Dion.
"Ini sudah mau siang, bangun... jangan mimpi terus” Ucap Bara, menahawan tawanya. Dan Dion yang mendengar ucapan Bara hanya mendecak kesal.
Kemudian pandangan Dion teralihkan dengan sebuah cincin yang melingkar di jari manis Bara.
“Bar... kamu tunangan?” Tanya Dion yang penasaran, karna ia baru sadar, melihat Bara memakai cincin.
“Iya” ucapnya, dengan senyum yang perlahan memudar.
“Kapan? Sama siapa?”
“2 hari yang lalu, aku di jodohkan sama anak sahabatnya papa, 12 hari lagi aku akan menikah.”
“What!” Dion kaget mendengar ucapan Bara.
“Terus si...” Belum selesai Dion berbicara, adit terlebih dahulu menyangkalnya.
“Jangan beritahu dia, nanti setelah dia kembali aku akan jelaskan semuanya.”
Dion tak bergeming mendengar ucapan Bara, ia tak menyangka bahwa Bara akan segera menikah bahkan hanya tinggal hitungan hari ia akan segera berganti status.
.
.
.
.
.
.
****
Hallo readers semuanya...
Author punya pantun nih buat kalian semua.
Ada gadis bibir nya jontor
Di pipinya ada lesung kempot
Jangan lupa dukung author
Dengan cara Like, Komen & Vote
.
.
See you on the next chapter.