Ketika seorang duda kaya anak dua terpikat dengan pesona seorang wanita yatim piatu yang hanya tinggal berdua bersama adiknya. Namun kisah cinta mereka harus berasa di Antara Status yang berbeda jauh. Bukan hanya itu, Cinta mereka juga harus berada diAntara dua keyakinan yang berbeda.
Bagaimana kisah keduanya? Siapakah yang akan mengalah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azarrna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Pagi hari,
"Abang, bangun nak. Udah pagi sayang. Kamu harus sekolah. "Ucap Vana membangun kan Aksa yang masih tidur nyenyak di atas ranjangnya.
Semalam, Aksa juga ikut tidur di kamar Vana. Awalnya Vana menyuruh Aksa untuk tidur di kamar Azam,karena ranjangnya hanya cukup untuk dua orang dewasa dan satu anak kecil. Tapi bocah remaja itu langsung menolaknya. Dia hanya ingin tidur bersama sang mami. Vana mencoba menjelaskannya, tapi Aksa tetap ngotot ingin tidur bersamanya. Alhasil, mau tak mau Vana akhirnya membiarkan Aksa tidur bersama nya, Jika tidak Aksa akan menangis seperti anak kecil.
Walaupun sempit, ketiganya tidur dengan nyenyak. Vana tidur di tengah-tengah keduanya agar tidak terjadi pertengkaran di malam hari.
Aksa menggeliat mendengar panggilan sang mami,"Abang masih ngantuk mi. Abang nggak mau sekolah."Jawabnya dengan mata yang tertutup.
Vana menggeleng melihatnya,ia tau kalau ini hanya akal-akalan Aksa saja. Vana duduk disamping sisi ranjang. "Kok gitu sayang?." Tanya Vana berpura-pura."Nanti kalau kamu nggak sekolah papi kamu bisa marah loh. "Vana mengelus rambut Aksa, lembut.
"Tapi abang ngantuk banget mi. Mata abang nggak mau kebuka."Dalihnya.
"Kenapa matanya mau kebuka nak? Biar sini mami lihat dulu matanya. "Vana membantu Aksa untuk duduk.
"Kenapa mata anak tampan mami ini nggak mau kebuka?. "Ujar Vana sambil berpura-pura memeriksa mata Aksa yang sehat itu.
Vana tersenyum lebar melihat Aksa yang berusaha menutup matanya."Ini bukan matanya yang nggak mau kebuka, tapi pemilik nya yang nggak mau membukanya. "Kata Vana membuat Aksa tersenyum lebar. Ternyata maminya ini tidak bisa dikibul.
"Bukan nya nggak mau mi, tapi lagi malas aja. "Jawab Aksa.
Vana memukul kecil hidung Aksa dengan tunjuk nya."Kamu ini."Bukan nya marah, Aksa malah semakin tersenyum lebar.
"Ayo sekarang bangun,terus mandi. Seragam sekolah kamu udah di antar sama orang suruhan papi kamu. Mami udah tarok bajunya di kamar mandi."Ucap Vana.
"Makasih mi. "
"Sama-sama sayang."Balas Vana tersenyum sambil mengacak- acak rambut Aksa. "Kalau gitu mami ke dapur dulu, mau siapin sarapan untuk abang sama adek. "Ujar Vana sambil berdiri.
Aksa mengangguk,"Iya mi. "
Vana segera keluar dan membiarkan Aksa untuk bersiap-siap dengan seragam nya.
Tapi sebelum Vana benar-benar pergi,ia kembali menatap putra sulungnya itu. "Jangan tidur lagi yaaa. "Ujar Vana membuat Aksa gemas.
"Iya mami. "Jawab Aksa.
Akhirnya Vana benar-benar menutup pintu kamar itu. Dari atas ranjang, Aksa tersenyum bahagia. Pagi ini adalah pagi yang paling bahagia dalam hidup nya.
"Begini ya ternyata punya mami. Diperhatiin, disayang, dipeluk. Bisa minta disuapin kalau mau makan, seragam sekolah disiapin, semua di perhatiin. Abang berharap mami bisa menjadi mami yang sesungguhnya untuk kami. Bisa tinggal bersama abang, papi dan adek. "Ucap Aksa pada dirinya sendiri. Ia sudah lama mendambakan momen-momen seperti ini. Rasa yang pernah hilang, kini bisa kembali menerangi hidup Aksa dan Aska.
Tak ingin berlarut, Aksa segera pergi bersiap-siap untuk sekolah. Sementara Aska yang tidur disamping nya masih terlihat tertidur pulas.
Sekitar tiga puluh menit, akhirnya Aksa selesai bersiap. Ia sudah sangat tampan dan menawan dengan dengan seragam SMA nya itu. Ia segera menghampiri Vana yang sedang ada di dapur.
"Mami lagi masak apa? "Tanya Aksa dari belakang.
"Nasi goreng."Jawab Vana. Ia sudah tau kalau Aksa akan datang,jadi ia tidak terkejut melihat Aksa yang muncul di belakangnya.
Vana mematikan kompornya, kebetulan nasi goreng yang ia buat sudah matang. "Kamu udah selesai?. "Tanya Vana.
Aksa menggeleng."Ada satu yang belum mi?"Ucapnya.
Vana memperhatikan penampilan Aksa dari atas sampai bawah. Menurutnya tidak ada yang kurang dari penampilan Aksa sedikit pun. "Apa yang kurang bang?."Tanya Vana penasaran.
Aksa mengeluarkan sebuah dasi. "Ini."
"Abang nggak bisa pasang dasi?. "Tanya Vana kembali.
Aksa mengangguk."Bukan hanya abang mi, Papi sama adek juga nggak pasang dasi. "Jelasnya. Bapak dan kedua anak ini memang tidak bisa pasang dasi sedikitpun. Biasanya, Agam akan memasang kan dasi untuk Aksa dan Aska. Sementara Leo sangat jarang memakai dasi. Ia hanya memakai dasi saat ada pertemuan penting saja, dan tentunya juga di bantu oleh Agam.
Kenapa mereka tidak meminta tolong pada Art? Itu karena ketiganya tidak mengizinkan siapapun untuk masuk kekamar mereka, termasuk para Art yang bertugas dalam masalah pakaiannya mereka. Bapak dan kedua anak ini akan meletakkan baju kotor mereka di depan pintu dan para art akan mengambil nya. Begitu pula dengan pakaian yang sudah bersih, para Art akan meletakkannya di depan pintu dan mereka akan menyusun pakaiannya itu masing-masing.
Vana mengambil dasi itu dan langsung memasangkan nya."Terus selama ini siapa yang pasangin dasi kalian?. "Tanya Vana penasaran.
"Om Agam. Tapi kalau papi jarang pakai dasi mi. "Jawab Aksa membuat Vana mengangguk paham.
Tak butuh waktu lama, dasi itu sudah terpasang rapi di leher Aksa.
"Selesai."Ucap Vana selesai merapikan penampilan Aksa. "Duh...Tampan sekali anak mami ini."Pujiannya melihat penampilan Aksa yang sangat tampan ini.
"Kamu tunggu di meja dulu, mami mau ambil sarapan kamu dulu." Katanya.
Aksa mengangguk." Iya mi. " Ia segera pergi ke meja makan.
"Om Azam mana mi?. "Tanya Aksa yang tidak melihat Azam dari tadi.
"Om Azzam udah pergi kuliah dari pagi tadi ,sayang. "Jawab Vana sambil membawa sepiring nasi goreng itu. Vana meletakkan piring itu di hadapan Aksa. Ia juga ikut duduk di samping Aksa.
"Makasih mi. "
"Iya sanyang."
Aksa segera menyantap nasi goreng itu. Vana memperhatikan setiap suapan yang masuk kedalam mulut anaknya itu. Baru setengah Aksa memakan nasi goreng nya,dari arah kamar terdengar suara rengek an Aska yang memanggil sang mami.
"Mamiii."Rengek Aska yang berjalan kearahnya dengan sakit pincang karena lukanya. Ia segera duduk di samping Vana dan memeluknya dengan manja sambil mendusel di cerutuk lehernya.
"Adek udah bangun,nak?. "Vana mengelus lembut rambut Aska.
"Badan adek sakit semua mi. "Keluh nya.
"Mungkin ini efek dari luka kamu. Nanti setelah sarapan, papi mau jemput kamu untuk pergi ke rumah sakit. "Ucap Vana.
"Mami ikut yaaa. "Pinta Aska melihatkan wajah membalasnya yang membuat Vana gemas.
Vana mengelus lembut rambut Aksa dan Aska. Memikirkan permintaan salah satu putranya ini. Vana merasa ia tidak bisa menuruti satu permintaan ini. Dia sadar akan posisi nya sebagai orang luar yang seharusnya tidak masuk terlalu jauh terjun ke dalam kehidupan keduanya.
"Sayang, maaf mami nggak bisa ikut. "Perlahan senyum Aska mulai memudar. "Mami itu hanya orang asing yang nggak sengaja ketemu kamu sama abang. Jangan sedih, apartemen ini selalu terbuka lebar untuk kalian,kapan pun abang dan adek mau datang ke sini. "Jelasnya.
" Mami itu bukan orang asing, mami itu maminya adek sama abang!. "Ucap tegas Aska namun dengan nada sedihnya sambil semakin mempererat pelukan nya.
Aksa juga memeluk Vana. " Benar kata adek. Sampai kapan pun mami adalah mami kami berdua! nggak ada yang boleh miliki mami selain kami. "
Vana mulai bingung. Harus bagaimana lagi ia menjelaskan pada Aksa dan Aska jika dia bukan siapa-siapa nya mereka. Ia hanya orang asing.
"Mami tetap maminya abang dan adek dan kalian berdua tetap anak-anaknya mami. Kalian nggak boleh sedih, anak cowok itu harus kuat. Malu sama ototnya yang besar ini. "Ucap Vana, tapi bukan nya melepaskan pelukannya, keduanya malah semakin erat memeluk Vana seolah-olah mereka tidak akan melepaskan nya.
Vana menarik nafas nya. Ia tidak menyangka bahwa kedua anak yang belum genap sehari bertemu dengan nya akan se dekat ini.
"Oke. Gini aja, kalau mami ada waktu mami akan mampir ke rumah kalian deh. "Kata Vana dan berhasil mengembalikan senyuman cerah kedua putranya itu.
"Benar ya, mi. Ga boleh bohong yaa."Kata Aska memastikan.
"Mami harus janji dulu. " Aksa menunjukkan jari kelingking nya dan di ikuti oleh Aska.
Vana tertawa kecil melihat nya. Jujur saja ia sangat gemas tingkah Aksa dan Aska yang layaknya anak kecil.
Vana mengangguk. "Iya,Mami janji. " Vana menautkan keduanya kelingking nya.
Aksa dan Aska bersorak kesenangan. Keduanya kembali memeluk Vana dan mengecup keduanya pipi maminya itu bergantian. Vana tertawa geli karena ulah keduanya. Sungguh ia sangat bahagia dengan perlakuan manis Aksa dan Aska.
Bersambung,,,,,,,,,,,,,,
akan diusahain setiap hari up🙏😍😊