[TAHAP REVISI] [UPDATE 3 HARI SEKALI]
Elleta Clarissa Crassia, ia tahu bahwa nama belakangnya bukanlah hal yang harus di banggakan. Terlahir dari keluarga pengusaha sukses membuatnya menahan beban yang tak seharusnya ia pikul. Keputusan sang ayah membuatnya tak memiliki pilihan, sebuah perjanjian bisnis dengan kata "pernikahan."
Elleta di jodohkan dengan laki-laki, pewaris utama keluarga Danendra. Steve Athariz Danendra, laki-laki dingin yang katanya tak pernah tersentuh. Dan semuanya berawal dari sana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lovelyiaca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Benang Merah yang Dipaksa
Berkas cahaya matahari pagi menerobos paksa celah gorden, memetakan garis-garis terang di kamar yang luas itu. Namun, kehangatan fajar sama sekali tidak menyentuh atmosfer di dalamnya. Elleta terbangun dengan kelopak mata yang terasa berat, panas, dan kaku, efek sisa air mata semalam yang mengering di pipinya.
Tanpa perlu berkaca pun, ia tahu penampilannya pasti berantakan. Namun, isi kepalanya jauh lebih kacau. Memori tentang makan malam terkutuk kemarin berputar berulang kali seperti kaset rusak, bagaimana sang Papa dengan begitu tenang melemparkan kata perjodohan ke atas meja, seolah sedang menawarkan menu pencuci mulut biasa. Rasa sesak yang sempat reda karena lelap, kini bangkit lagi, menjelma menjadi amarah yang jauh lebih membakar.
Mengabaikan cermin maupun sisir, Elleta langsung menyibak selimut. Dengan kaki telanjang, ia melangkah lebar-lebar menuruni tangga melingkar, sengaja menghentakkan kakinya kuat-kuat hingga gema langkahnya memenuhi seisi rumah. Beberapa pelayan yang sedang membersihkan lorong buru-buru menunduk, tak ada satu pun yang berani menyapa ketika melihat raut kelam nona muda mereka.
BRAK!
Pintu jati ruang kerja Yuda Crassia terbuka kasar tanpa ketukan. Di balik meja ek besar, Yuda sedang menyesap kopi hitamnya sambil membalik halaman laporan keuangan. Pria itu bahkan tidak mengalihkan pandangan atau terkejut oleh interupsi yang begitu bising.
Ia hanya menurunkan cangkirnya perlahan, lalu menatap putrinya dengan sepasang mata tajam, tatapan dingin yang biasa ia gunakan untuk meruntuhkan nyali lawan di meja negosiasi.
"Apa maksud Papa kemarin?!" tuntut Elleta.
Suaranya serak, parau, namun sarat akan tuntutan. "Papa pikir Elleta ini apa? Aset perusahaan yang bisa Papa tawarkan begitu saja ke rekan bisnis?"
Napas Elleta memburu, dadanya naik-turun menahan luapan emosi yang mulai menyiksa tenggorokannya. "Papa... pernah menganggap Elleta anak enggak, sih?"
Yuda bersandar pada kursi kulitnya. Matanya menyipit, mengamati penampilan putrinya dari ujung rambut hingga kaki telanjang yang kaku di lantai. "Lihat dirimu, Elleta. Berantakan. Apa kamu sengaja membuang akal sehatmu hanya demi membela laki-laki tidak jelas itu?"
"Ini bukan cuma soal Daniel! Ini tentang hidupku, Pa!" teriak Elleta. Sepasang matanya yang sembab menatap lurus, menolak untuk tunduk atau terlihat lemah di hadapan pria itu.
"Tentu saja ini soal dia," potong Yuda, suaranya tetap datar namun menusuk. "Daniel Alvarez. Pemuda asing tanpa latar belakang keluarga yang jelas, yang mendekatimu hanya karena mencium bau keuntungan dari nama besar Crassia. Papa rasa dia sudah mencuci otakmu sampai kamu berani kurang ajar seperti ini. Dia sama sekali tidak selevel denganmu, Elleta."
"Daniel tulus sama aku, Pa! Dia bahkan enggak pernah peduli dengan semua uang Papa!" Elleta melangkah maju, menubrukkan kedua telapak tangannya ke permukaan meja kayu yang dingin.
"Ini kehidupanku, jalanku. Bukan Papa yang punya hak untuk mengaturnya. Aku bukan boneka bisnis Papa!"
Yuda perlahan bangkit dari duduknya. Postur tubuhnya yang tinggi seketika menciptakan bayangan besar yang seolah menelan sosok Elleta di depannya. "Kehidupanmu adalah tanggung jawab Papa. Dan bagian dari tanggung jawab itu adalah menyingkirkan parasit dari sekitarmu. Dengar baik-baik, Elleta. Kalau kamu masih nekat memakai tameng cinta untuk menolak perjodohan ini, Papa tidak akan tinggal diam. Papa bisa dengan mudah melenyapkan Daniel Alvarez dari kota ini, atau bahkan dari hidupmu. Selamanya."
Darah Elleta seketika terasa berdesir dingin. Ia tahu betul, Papanya bukan tipe pria yang suka menggertak dengan omongan kosong. "Pa... Papa keterlaluan..."
"Pertemuan itu akan dijadwalkan ulang, tiga hari dari sekarang," lanjut Yuda, mengabaikan protes putrinya seolah itu hanya angin lalu.
"Papa harap kamu tidak membuat lelucon bodoh lagi seperti kemarin. Pakai gaun yang sudah disiapkan, tutup matamu yang bengkak itu dengan riasan, dan jadilah putri keluarga Crassia yang bisa dibanggakan. Mengerti?"
Elleta tidak sudi menjawab. Ia berbalik, menahan sekuat tenaga agar air matanya tidak tumpah di ruangan itu, lalu berlari sekencang mungkin menaiki tangga menuju kamarnya. Begitu pintu tertutup dengan bantingan keras, ia langsung menyambar ponsel di atas nakas. Dengan jemari yang gemetar hebat, ia menekan nomor Daniel.
Tuuuut... tuuuut...
Hanya suara mesin operator yang menyahut. Tidak ada jawaban. Elleta mencoba lagi. Dua kali, tiga kali, hingga panggilan kesepuluh, hasilnya tetap sama. Keheningan di seberang telepon itu perlahan berubah menjadi rasa takut yang mencekam, mencengkeram dadanya hingga ia sulit bernapas.
Apa Papa sudah melakukan sesuatu padanya? Pikiran-pikiran buruk itu mulai merayap liar, menggerogoti sisa-sisa keberaniannya.
Sementara itu, di belahan Jakarta yang lain, di dalam ruang kerja yang didominasi kaca dan logam dingin di puncak pencakar langit, Steve Danendra duduk diam di kursi kebesarannya. Di depannya, lembaran dokumen penting berserakan, tetapi sejak satu jam yang lalu, tidak ada satu pun angka yang benar-benar masuk ke otaknya.
Pikirannya tertinggal pada sosok gadis semalam. Elleta Clarissa Crassia.
Steve masih ingat betul bagaimana gadis itu berdiri tegak di bawah lampu restoran yang temaram, menatapnya dengan binar kemarahan yang begitu murni sebelum akhirnya melenggang pergi tanpa memedulikan etika formal.
Penolakan itu begitu mentah, begitu lugas, hingga berhasil menyenggol harga diri Steve yang biasanya tak tersentuh.
Namun, alih-alih murka, ia justru mendapati dirinya dilingkupi rasa penasaran yang aneh. Sudah sangat lama tidak ada orang yang berani menatapnya seolah dia hanyalah gangguan yang tidak diinginkan.
Pintu ruangan terketuk perlahan, memutus lamunan Steve. Theo, asisten sekaligus tangan kanannya, melangkah masuk dengan tablet digital di genggaman.
"Pagi, Pak Steve. Anda melamun? Rapat umum pemegang saham akan dimulai sepuluh menit lagi," ujar Theo, mengingatkan dengan nada profesional yang sopan.
Steve tidak langsung bergerak. Ia hanya membetulkan posisi duduknya, lalu bertanya dengan nada sedatar mungkin, "Kapan jadwal makan malam berikutnya dengan keluarga Crassia?"
Theo menurunkan tabletnya sejenak, sedikit terkejut namun langsung memeriksa data. "Yuda Crassia menghubungi saya tadi pagi-pagi sekali, Pak. Beliau meminta maaf atas insiden semalam dan meminta jadwal ulang. Tiga hari lagi, kali ini diadakan langsung di kediaman mereka. Kenapa, Pak? Anda mau membatalkannya? Saya bisa mengaturnya jika Anda merasa tidak nyaman dengan sikap nona muda itu."
Sudut bibir Steve terangkat tipis, membentuk seringai kecil yang nyaris tak kentara, sebuah ekspresi yang sangat jarang ia perlihatkan di kantor. "Tidak. Jangan dibatalkan."
Theo menaikkan sebelah alisnya. "Anda yakin? Gadis itu terlihat seperti badai yang siap merusak apa saja."
"Justru itu bagian yang menarik," gumam Steve pelan, suaranya berat dan penuh intrik. "Aku ingin tahu seberapa jauh dia bisa berlari."
Theo hanya mengangguk samar, mengira atasannya hanya sedang tertantang oleh ego bisnis yang biasa terjadi di kalangan konglomerat. Ia kemudian berpamitan keluar untuk memastikan ruang rapat sudah siap.
Begitu pintu ruangannya tertutup rapat, Steve mengulurkan tangan, membuka laci paling bawah dari meja kerjanya. Dari sana, ia mengeluarkan sebuah benda yang selama ini tersimpan di sudut paling aman, selembar foto polaroid yang pinggirannya sudah mulai menguning dimakan waktu.
Di dalam foto itu, seorang gadis remaja dengan seragam SMA sedang tertawa lepas ke arah kamera. Latar belakangnya adalah taman sekolah yang rimbun. Sepasang matanya bersinar terang, bersih, belum ada jejak kemarahan ataupun beban berat seperti yang ia lihat semalam. Itu adalah Elleta, bertahun-tahun yang lalu, saat gadis itu bahkan belum mengenal nama seorang Steve Danendra.
Steve mengusap permukaan foto itu dengan ibu jarinya, perlahan dan penuh kehati-hatian yang asing.
"Tiga hari lagi, Elleta," bisiknya pada keheningan ruangan. "Mari kita lihat, apa kamu masih bisa sekeras kepala kemarin."
Di luar jendela besar, langit Jakarta perlahan mulai menggelap oleh gumpalan mendung, seolah memberi isyarat bahwa pertemuan tiga hari lagi tidak akan berjalan dengan mudah.
Benang-benang takdir di antara mereka kini mulai tertarik kencang, bersiap untuk mengikat mereka bersama, atau justru putus dan melukai keduanya.