Sebuah pengorbanan dari seorang istri yang sudah menyiapkan seorang wanita terbaik untuk suaminya.
Bagaimana kisahnya? Ikuti kisahnya dan temukan jawabannya. Novel ini sarat akan makna bila diikuti sampai ending.
Ikuti kisah serunya yang dibalut religi di dalamnya.
Follow Instagram Author : ekapradita_87
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Pradita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Selamat membaca!
Setelah kejadian yang sangat memalukan bagiku, kini aku sudah bersiap untuk berangkat menuju tempat kuliah baruku, perasaan gugup menjadi pengiring langkahku menuju mobil, yang di dalamnya sudah ada Mas Bram yang menunggu.
Aku mulai keluar dari rumah dengan membawa rasa gugup dalam diriku, setelah mengunci pintu rumah, aku langsung membuka pintu mobil untuk segera masuk, aku duduk di kursi depan seperti biasanya dan tidak lupa menggunakan masker untuk menutupi wajahku, karena memang situasi saat ini masih dalam masa pandemi.
Namun Mas Bram mampu membaca raut wajahku, walau saat ini sudah tertutup oleh masker sekalipun.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Mas Bram sambil menautkan kedua alisnya.
"Mas Bram tahu aja kalau aku gugup," gumamku sambil menatap wajah Mas Bram dengan lekat.
"Aku takut Mas," ucapku mengutarakan perasaanku sambil tersenyum tipis.
"Sudah kamu tidak perlu takut, sekarang kamu tarik napas dan baca doa dulu biar segala kegelisahan kamu bisa hilang, kamu ingatkan dengan yang diajarkan Ustadz Arif?" tutur Mas Bram yang diakhiri dengan sebuah pertanyaan.
"Aku gugup Mas, jadinya aku lupa Mas," jawabku sambil memukul pelan keningku.
Memang saat ini rasa gugup semakin menguasai diriku, membuatku lupa akan segala hal yang sebelumnya sudah ku hafal.
"Ya sudah ikuti, aku ya!" titah Mas Bram yang langsung aku iyakan dengan sebuah anggukan kepala dan senyum di wajahku.
Mas Bram mulai melafalkan doa untuk menuntunku, setelah aku mendengarnya, aku pun mengikuti dengan perlahan.
أَللّٰهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ نَفْسًا بِكَ مُطْمَئِنَّةً، تُؤْمِنُ بِلِقَائِكَ، وَتَرْضَى بِقَضَائِكَ، وَتَقْنَعُ بِعَطَائِكَ
"Allahumma inni as aluka nafsaan bika muthma innah tu,minu biliqooika watardho biqodoika wataqna'u bi'athoika."
Artinya : "Ya Allah, aku memohon kepada-Mu jiwa yang merasa tenang kepadaMu, yang yakin akan bertemu denganMu, yang rida dengan ketetapanMu, dan yang merasa cukup dengan pemberianMu."
"Amin," ucapku sambil mengusap lembut wajahku, mengakhiri doa yang telah aku ucapkan.
"Bagaimana sekarang, hati kamu sudah enakan?" tanya Mas Bram dengan mengulas senyum di wajahnya.
"Alhamdulillah, makasih ya Mas, kamu selalu bisa membuatku tenang," ucapku sambil meraih tangan Mas Bram dan mengecup punggung tangannya.
"Sekarang kita jalan ya sayang! Kamu itu harus tetap percaya diri, walau kamu sudah menikah, kamu tetap cantik, gak kalah pokoknya sama ABG," puji Mas Bram membuat rona merah di pipiku mulai terlukis jelas.
"Makasih, ya Mas," ucapku tersipu malu.
Perasaanku yang gugup kini sudah sepenuhnya sirna, aku pun sudah dapat sedikit tersenyum, Mas Bram mulai melajukan mobil yang dikendarainya untuk menuju sebuah Universitas yang terletak di kawasan Depok.
"Ya Allah, terima kasih kau telah mengirim sosok pria sholeh ini dalam hidupku, Mas Bram bukan hanya mampu menjadi suami untukku, bahkan dia sanggup berperan sebagai seorang Ayah, mengayomi dan mengajarkanku segala hal, dia tidak pernah menuntut atau bahkan memarahiku," gumamku yang terus menatap wajah Mas Bram dengan penuh decak kagum.
***
Setelah menempuh perjalanan yang tidak sebentar kurang lebih sekitar 35 menit, mobil yang dikendarai Mas Bram sudah memasuki area kampus. Mas Bram membuka kaca mobil, menekan sebuah tombol dan mengambil karcis masuk. Mobil langsung melaju menuju salah satu gedung yang ada di Universitas ini dan dari sekian banyak fakultas yang ada, aku memang memilih fakultas hukum, untuk meneruskan pendidikanku yang sebelumnya.
Mas Bram sudah memarkirkan mobilnya di tempat parkiran yang sudah disediakan. Aku dan Mas Bram turun secara bersamaan dari mobil, kami berdua mulai melangkah untuk memasuki area gedung.
Aku mengedarkan pandanganku, melihat sekeliling area kampus dengan pepohonan yang rindang dan tampak suasana masih asri terasa begitu teduh, padahal saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 11.30 di jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku.
Kini aku dan Mas Bram sudah masuk ke dalam gedung, Mas Bram mulai mencari-cari bagian resepsionis untuk registrasi ulang. Tentunya tidak sulit untukku masuk ke Universitas ini, karena memang aku hanya meneruskan kuliahku yang sempat tertunda karena harus menikah dengan Mas Bram, gelar S1 yang ku punya, terasa kurang lengkap, jika aku tidak berhasil mendapatkan gelar S2 yang memang sudah dari kecil aku cita-citakan.
Setelah bertanya kepada salah satu petugas resepsionis, Mas Bram mulai mengetahui letak kelas untukku memulai materi pembelajaranku pada hari pertama ini. Aku masih terus mengekor tepat di belakang Mas Bram, sambil terus menatap area di sekitarku.
Lukisan-lukisan yang terpampang pada dinding, membuatku menghentikan sejenak langkahku untuk lebih memerhatikan lukisan yang dari kejauhan begitu menarik perhatianku. Namun terlalu asyiknya menikmati keindahan lukisan tersebut, membuat langkahku tertinggal jauh oleh Mas Bram, aku pun mulai kembali merapatkan jarakku dengan mempercepat langkah kakiku, namun tanpa sengaja aku menabrak seorang pria yang tiba-tiba muncul dari arah belokan di depanku, membuatku hampir terjatuh, namun beruntung pria tersebut sempat meraih tanganku dan menyelamatkanku, sehingga aku tidak terjatuh ke dasar lantai.
Tapi nyeri yang kurasakan pada bagian lengan, membuatku mengaduh kesakitan, suara itu dapat terdengar oleh Mas Bram yang dengan cepat langsung menengok ke belakang dan menghampiriku dengan setengah berlari.
"Kamu tidak apa-apa, maaf ya, aku gak sengaja," ucap seorang pria yang belum aku ketahui namanya, namun sepertinya dia termasuk mahasiswa senior di kampus ini.
"Iya gak apa-apa, cuma sedikit nyeri di lengan kanan," jawabku sambil terus memegangi lengan yang sakit.
"Maaf ya kenalin, aku Leo, kamu siapa?" ucap pria itu menyebutkan namanya sambil melepas masker yang menutupi wajahnya.
Aku dapat melihat wajahnya yang tampan dengan kilau mata yang teduh, belum lagi sebuah senyuman terlihat begitu berkarisma, membuatku dengan mudah menebak, jika pria ini adalah idola di kampus ini.
"Aku Biru, boleh juga panggil aku Pelangi," ucapku sambil melepas masker yang aku pakai, agar suaraku dapat terdengar jelas oleh Leo.
Itulah perkenalan singkatku dengan Leo, walau tanpa berjabat tangan, namun kami masing-masing sudah saling menyebutkan nama kami.
Tiba-tiba Mas Bram yang memang sudah mengamatiku dari kejauhan, kini sudah berada tepat di sampingku, Leo yang tadinya termangu terus menatapku, kini mulai tersadar karena suara deheman Mas Bram yang terdengar keras.
"Eh, Om, kenalin Om, saya Leo, anak fakultas hukum juga, Om," sapa Leo dengan terbata, walau sedikit canggung.
"Iya, saya tahu kamu anak fakultas hukum, kalau tidak pasti kamu tidak berada di dalam gedung ini," ketus Mas Bram menjawab, dapat aku nilai, jika Mas Bram sedikit cemburu atas perkenalan singkatku dengan Leo.
"Om, Putrinya cantik, pasti istri Om waktu hamil ngidamnya pergi ke surga ya," celutuk Leo dengan tersenyum, karena malu memberikan sebuah pujian kepadaku, dapat kulihat dari tatapan matanya, ada rasa kagum yang terpancar dari sorot mata Leo.
"Kenapa emang, apa hubungannya dengan surga?" sahut Mas Bram balik bertanya dengan nada ketus.
"Ya soalnya cantiknya itu kaya bidadari, Om, kan di surga banyak bidadari, Om," kata Leo dengan sedikit canggung, namun ia coba memberanikan dirinya di depan Mas Bram.
Aku yang sudah sedari tadi berdiri di belakang Mas Bram, hanya bisa menatap Leo dengan tatapan iba, aku sebenarnya ingin memberitahunya, jika yang saat ini berdiri dihadapannya itu bukanlah orangtuaku, melainkan suamiku. Namun semua tak mampu kulakukan, mulutku terkunci rapat dan hanya dapat merasakan amarah Mas Bram yang sudah bergemuruh di dalam dadanya, karena nafasnya terdengar berhembus dengan kasar.
"Kamu panggil aku Om, emang sejak kapan saya nikah sama Tante, kamu?" ketus Mas Bram dengan rahang yang mengeras sambil berkacak pinggang.
"Maksud Om?" tanya Leo sambil menggaruk kepalanya dengan raut wajah heran.
"Saya ini suami dari Pelangi, kamu ini sama saja sudah menghina saya, kamu bilang saya orangtuanya! Kamu pikir tampang saya udah tua, apa!" tutur Mas Bram dengan suara yang lantang.
Aku dapat melihat rasa kesal kini sudah menguasai diri Mas Bram, dengan cepat aku langsung menggenggam erat tangan Mas Bram, untuk mengajaknya pergi jauh dari Leo, agar kemarahannya cepat mereda.
"Sudah Mas, ayo kita pergi saja, mungkin dia hanya bercanda, Mas, sudah jangan marah lagi," ucapku membujuk Mas Bram sambil menarik tangan Mas Bram untuk menjauhi Leo.
Kami berdua mulai melangkah semakin jauh dari Leo, yang masih mematung dengan wajah yang terlihat pucat.
Setelah cukup jauh dari Leo, aku coba menengok ke arahnya, dari tempat Leo berada ia sama sekali tak mengalihkan pandangannya sedikit pun dariku. Leo terus menatap kepergianku sambil merapatkan kedua tangannya, sebagai tanda bahwa ia menyesal atas apa yang telah dikatakannya kepada Mas Bram.
Aku hanya bisa mengangguk dan tersenyum kecil padanya, setelah itu aku mengabaikannya. Aku kembali menatap wajah suamiku, untuk meredakan amarah yang kian membuncah di hatinya.
"Mas sudah ya, istighfar jangan marah lagi," ucapku yang masih disambut dingin oleh Mas Bram, wajahnya masih terlihat enggan untuk tersenyum.
Kami terus melangkah berdampingan menuju ruang kelas, dengan tanganku yang masih bergelayut manja di tangan Mas Bram. Sesekali aku juga menggoda Mas Bram, lewat usapan tanganku pada bagian rahang Mas Bram, berharap apa yang aku lakukan mampu merobohkan dinding amarah dalam diri Mas Bram, yang saat ini tampak berdiri sangat kokoh.
Mas Bram kulihat menghela napasnya dengan kasar. Setelah itu raut wajahnya yang muram, berubah kembali cerah, aku dapat menebak sepertinya usahaku berhasil, karena kini aku dapat melihat sebuah senyum, mulai terbit dari wajah Mas Bram saat ini.
"Pokoknya kamu jangan sampai dekat-dekat pria itu ya sayang, aku gak mau, kurang ajar dia! Masa aku dikira orangtua kamu," gerutu Mas Bram yang tak ada habis-habisnya mengulang kalimat yang sama, sampai membuatku dengan keras menahan gelak tawaku rapat-rapat.
"Mas, apapun perkataan orang lain tentangmu, bagiku kamu tetap suamiku, kamu adalah surgaku, kamu adalah cahayaku, aku tidak akan pernah berpaling dari cahaya itu, karena kamu akan selalu menjadi cahaya yang menerangi jalan hidupku," gumamku sambil sejenak menyandarkan kepalaku pada lengan Mas Bram.
Bersambung✍️
mau coba baca crita tetang poligami,wlapun deg deg kan ku coba untuk memahaminya
dn mengambil hikmahnya dri crita ini,