Rezza pria tampan dan mempunyai kehidupan cukup mapan sejak lahir dengan terpaksa harus menerima perjodohan dari ibunya dengan seorang wanita yang bernama Artiya sepupu dari kekasihnya sendiri,yang menurut Rezza wanita itu sama sekali tidak menarik dilihat dari segi manapun juga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon triy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEMARAHAN REZZA
Selesai memasak Tiyapun membersihkan diri dan menunaikan kewajibanya.
Setelah merapikan diri Tiya keluar kamar ternyata ibu Mertuanya bersama seorang wanita lumayan cantik dan anggun tengah duduk disofa ruang tamu.
" ibu sudah sampai?"Tiya bejalan mendekat sambil mencium tangan ibu mertuanya dan Tiyapun menyalami perempuan cantik disebelah ibu mertuanya,wanita itu langsung memeluk Tiya dengan erat.
"Tiya aku ini mbak Ana,ingat tidak?" "dulu kamu masih imut imut",
"kita pernah bertemu sekali waktu mbak pamitan sama tante Suriah untuk berangkat kuliah ke Belanda",
"tapi kamu masih Sekolah Dasar waktu itu",
"sekarang sudah tumbuh menjadi seorang wanita yang cantik kamu Tiya" "dan sudah menjadi istrinya Rezza"
"Mbak sungguh nggak nyangka kamu jadi adik iparku"Ana tersenyum ramah sambil menepuk nepuk punggung Tiya.
"kemana suamimu Tiya" tanya bu Sanusi,
sebelum Tiya menjawab pintupun terbuka dan Rezza masuk
"eh...kak Ana sama ibu udah lama nyapeknya?"Rezza menghampiri Ana dan memeluknya kemudian mencium tangan ibunya.
"ya lumayan..."Ana menjawab sambil menjitak kening adiknya pelan.
"dari mana kamu?"tanya Ana pada adiknya.
"rahasia"jawab Rezza cengengesan.
Anapun mencebikkan bibirnya tak puas dengan jawaban adiknya.
"ibu", "mbak Ana", "mas"
"ayo kita makan dulu keburu dingin makananya"ajak Tiya.
Sambil makan keluarga itu berbincang bincang ringan.
"pinter juga kamu masak Tiya"puji Ana, "Za kamu bentar lagi bakalan gendut,wong masakan istri kamu seenak ini lhoo.."
"biasa aje kali kak",
"wong yang dimasak lontong opor kesukaana kakak"
"bakalan betah dirumah kamu Za"sahut bu Sanusi,
Rezza hanya membalas ucapan ibunya dengan senyum yang dipaksakan.
Selesai makan mereka melanjutkan percakapan diruang tamu,
banyak yang mereka bincangkan dan saking asyiknya hingga mereka lupa wakatu.
Setelah makan malam bu Sanusi dan Anapun pamit pulang.Tinggalah Tiya dan Rezza sendiri diapartemen itu.
"sini kamu", "ada yang mau aku sampaikan !" ucap Rezza ketus,
"ada apa mas?"
"baca surat kontrak ini",
"kalo udah faham trus tandatangan",
"trus kalo ada yang kamu kurang puas aku bisa ubah", "tapi harus dengan persetujuanku".
Tiya duduk terpaku memandang nanar amplop coklat itu,ia enggan membuka isi surat perjanjian itu.
Melihat Tiya hanya terpaku tanpa mau membuka amplop coklat itu,tak sabar Rezzapun mengambilnya dari tangan Tiya.
Rezza meletakkan dua buah kertas yang sudah dia tanda tangani,yang satu berisi tentang kontrak pernikahan selama enam bulan berserta tunjangan tunjangan yang akan Rezza berikan buat Tiya, dan yang satunya adalah surat perceraian setelah usia pernikahan mereka menginjak enam bulan.
Rezza meminta Tiya untuk membacanya dulu kemudian bertanda tangan juga sepertinya.
Namun Tiya menolaknya
"aku nggak mau mas",
"pernikahan itu adalah janji suci kita kepada Allah",
"aku nggak mau mempermainkan pernikahan kita mas",
"disini,bukan hanya kita berdua saja yang terlibat "
"tapi keluarga besar kita juga terlibat mas",
"aku nggak mau mengecewakan mereka", "aku mau pertahankan pernikahan kita mas"
"aku tau kamu belum bisa menerima aku", "belum bisa mencintai aku"
"aku akan berusaha menjadi istri yang baik untukmu mas"
" ijinkan aku berusaha agar kamu bisa mencintai aku mas"
"aku mohon bukalah hatimu untukku " Tiya memohon kepada suaminya dengan mata berkaca kaca menahan pedih dihatinya.
"sedari awal aku tu nggak ada rasa sedikitpun sama kamu", " tau ",
"aku mau nikah sama kamu sebab aku diancam sama ibu", "ngerti kamu"
"ikatan pernikahan ini sangat menyiksaku",
"aku sudah bilangkan kalau aku mencintai wanita lain",
sekarang dia sakit hati dan kecewa karena pernikahan ini",
"kamu jangan egois Tiya"
"setiap hari harus melihat mukamu ini bikin aku muak", "tau kamu Tiya"
"kamu pikir kamu itu siapa?"
"kalo aku nggak mikirin ibu ataupun keluargamu,aku nggak bakalan sudi mengucap ijab kabul denganmu waktu itu", "ngerti kamu"
"aku hanya ingin kamu mau ikut kerja sama denganku Tiya","kenapa harus membangkang"
"jangan pernah menguji kesabaranku"
"aku bakalan ngasih tunjangan yang banyak padamu",
" jika yang aku tulis disini masih kurang aku akan tambahkan duakali lipat atau bahkan tiga kali lipat dari jumlah ini",
"yang penting bagiku, kamu mau menandatangani surat surat ini", "titik".
Rezza berdiri sambil menahan amarah "aku mau besuk surat itu sudah harus kau tandatangani",
"aku nggak mau mendengar alasn apapun darimu Tiya"Rezza berjalan keluar dan membanting pintu.
Seketika airmata Tiya tak bisa dibendung lagi,Tiya menangis sejadi jadinya sendirian diapartemen Rezza, dalam hatinya dia sungguh tak mau menandatangani surat itu dia tak ingin rumah tangga yang baru seumur jagung ini hancur.
Tiyapun tak menyangka suaminya tega mengatakan kata kata yang kejam padanya.
Tiya bertekat ingin meluluhkan hati suaminya agar suaminya bisa membalas cintainya,meskipun saat ini suaminya sangat membencinya.
"Dasar perempuan s****n",
"aku sungguh tak tau apa yang dia inginkan", "aku sudah berbaik hati mau memberi kompensasi begitu besar masih juga ngeyel",
"ngotot nggak mau tanda tangan lagi"
Rezza mengumpat Tiya sambil memukul mukul setir mobilnya.Rezza sungguh marah dan kesal dengan Tiya.
Rezza melajukan mobilnya dengan cepat menuju diskotik yang biasa iya kunjungi .
Rezza juga menghubungi Roni sahabatnya,Rezza ingin melampiaskan amarahnya dengan minum minuman keras bersama Roni temannya,meskipun Rezza tau setelah menikah Roni sudah tak mau menyentuh minuman keras lagi.
Tiya membaringkan tubuhnya disofa ruang tamu,matanya tak bisa terlelap dia tak tau bagaimana besuk harus menghadapi Rezza.
Tiya membolak balikan badanya supaya bisa terlelap namun usahanya gagal,hingga sudah masuk waktunya subuh mata Tiya masih juga terjaga.
Kemudian Tiya mengambil air wudu lalu menunaikan kewajibannya.Selesai sholat mata Tiya mulai berat,Tiya baru saja mau memejamkan matanya namun dia dikagetkan dengan pintu apartemen yang terbuka, terlihat Rezza masuk dibantu seseorang,
"maaf mengagetkan",
"dia mabuk nggak bisa pulang sebdiri"Roni menjelaskan.
Rezza dan Ronipun berjalan sempoyongan,
"saya bantu papah dia sampai kekamar" ucap roni pada Tiya.
"silahkan"
Rezza merancau tak karuan,buru buru Tiya mengambil air hangat dari kamar mandi untuk membersihkan badan suaminya yang berantakan,dan Rezza sudah tidur terlentang dikamarnya.
Tiyapun keluar kamar menemui Roni untuk mengucapkan terimakasih"Mas...saya sungguh berterimakasih sekali karena mas sudah membantu suami saya",
"oohhh iya perkenalkan saya Tiya" ucap Tiya sopan dengan menangkupkan kedua tangannya didada.
"sudah menjadi kewajiban saya mbak", "saya Roni teman Rezza".
Tanpa basabasi lagi Ronipun pamit untuk pulang.
Tiya melepas baju dan sepatu Rezza dengan sabar,mengelap lembut badan suaminya yang bau alkohol,Tiya mengganti baju suaminya dengan baju tidur tak lupa Tiya menyelimuti suaminya hingga kedada.
Tiya merasa sangat sedih hal itu membuatnya tidak mengantuk lagi.
"segitu bencinyakah kamu sama aku mas".
Kemudian dia menuju dapur dan memasak sup ayam untuk suaminya,selesai memasak Tiyapun membersihkan diri dikamar mandi.
Setelah pekerjaan rumahnya selesai Tiya duduk disofa sambil menikmati acara televisi, karena lelah Tiyapun terhanyut kealam mimpi.
Matahari mulai meninggi menunjukkan hari mulai siang.
Rezzapun terbangun dari tidurnya dia merasakan kepalanya sangat pusing dan berat dengan langkah gontai Rezza berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Selesai mandi Rezza keluar kamar perutnya terasa lapar,Dia menuju dapur ternyata Tiya sudah memasak sup ayam untuknya,karena supnya sudah dingin Rezzapun memanaskannya kembali.
kemudian diapun makan tanpa membangunkan Tiya.
"udah bangun mas"sapa Tiya.
Rezza enggan menjawab.
" mau aku buatkan kopi mas?"sambung Tiya.
Rezzapun masih tak menjawabnya,selesai makan dan meletakkan piring kotornya ditempat pencucian piring Rezza berlalu tanpa sepatah katapun terucap dari mulutnya.
Waktu berlalu dengan cepat,seminggu sudah Rezza dan Tiya menjadi pasangan suami istri, namun Rezza masih mendiamkan Tiya dan menghindari Tiya,kini Rezza sudah mulai ngantor lagi.
Dihari pertama Rezza ngantor setelah menikah ,bu Sanusi sudah menyerahkan kursi kepemimpinannya pada Rezza,dan bu Sanusi memilih untuk beristirahat dari urusan perusahaannya,jadi sekarang Rezza memegang kendali penuh perusahaanya.
Setelah menyelesaikan pendidikannya diBelanda Rezza diberi tanggung jawab mengelola pabrik serta perkebunan teh milik keluarganya dibawah bimbingan ibunya.Ayah Rezza sudah meninggal karena sakit sewaktu Rezza masih duduk dibangku SMU sehingga ibu Sanusi harus melanjutkan usaha keluarga mereka sendiri dibantu oleh para setaff terpercaya.
Kakak Rezza enggan meneruskan usaha keluarga merek,Ana lebil memilih menetap diluar negeri mengikuti suaminya yang asli orang Belanda.
Setelah mau menikah secara terpaksa dengan Tiya Rezza baru diberi tanggung jawab sepenuhnya oleh ibunya untuk mengurus usaha keluarga mereka.
Sampai saat ini Tiya madih berusaha untuk meluluhkan hati suaminya,sudah berbagai macam cara Tiya gunakan untuk membujuk Rezza agar mau berbicara denganya namun hasilnya nihil.
Setiap hari Rezza memilih lembur dan pulang larut malam,hingga suatu malam Rezza pulang dengan keadaan setengah mabuk,Rezza berjalan gontai dia merasa badannya panas tak seperti biasanya.Setelah Rezza memencet kode pintu,
Rezza masuk kedalam apartemen,Rezza melihat Tiya tertidur disofa dan tanpa memakai selimut rok Tiya sedikit tersingkap ke atas memperlihatkan betis Tiya yang mulus dan bersih.
Hal tersebut mampu membangkitkan naluri kelelakian Rezza yang sejak Amel pergi belum pernah terlampiaskan.
Rezza tak bisa menahan diri ia mendekati Tiya,dielusnya kaki Tiya pelan dengan punggung tangannya,terasa sungguh lembut dan halus,hasrat Rezza semakin bergelora saat mendengar Tiya melenguh tanpa sadar dalam tidurnya,danTiya sedikit bergerak beralih posisi dari miring menjadi sedikit terlentang,mulut Tiya yang mungil sedikit terbuka,menambah naluri kelelakian Rezza meronta ronta ingin dilampiaskan.
Rezza menunduk pelan mendekakatkan bibirnya dengan bibir Tiya semakin dekat...semakin dekat.... semaakin dekat...hingga Rezza bisa merasakan nafasTiya berhembus halus dipipinya dan...
"kamu lagi ngapain mas?"tanya Tiya polos dengan membulatkan matanya tanda Tiya tak memahami maksud Rezza.
Rezza terlonjak kaget seketika diapun menegakkan badanya,
"aku cuman mastiin kalau iler kamu tu nggak kena sofa",
buru buru Rezza melangkahkan kakinya kekamar lalu menutupnya rapat rapat takut Tiya menyadari kelakuanya tadi.
Tiyapun meraba mulutnya "aku nggak ileran"
Tiyapun melihat roknya yang tersingkap sampai kepahanya,muka Tiyapun menjadi merah padam
"aduh...pasti mas Rezza melihatnya" "kan jadi malu aku.."
kemudian Tiya mengambil selimut yang dipakainya tadi ,ternyata selimutnya jatuh kebawah
"kenapa kamu pake jatoh segala sih...bikin aku malu aja"
Tiya mengomeli selimutnya seolah olah selimutnya mengerti dengan kata katanya.
"dasar konyol.."Tiya bergumam lalu menepuk jidatnya sendiri.
Tiyapun bangun dari tidurnya lalu berjalan kedapur untuk membuatkan susu hangat untuk suaminya,kemudian Tiya mengetuk pintu kamar suaminya dan memangilnya tapi tak ada jawaban,Tiya masuk kedalam kamar pelan pelan takut mengganggu suaminya sebab suaminya masih mendiamkannya,
Dan ternyata suaminya tidak ada dikamar namun terdengar suara gemericik air dikamar mandi Tiyapun meletakkan susu hangat untuk suaminya dimeja kamar Rezza.
Keluar kamar Tiya melangkah kembali kedapur untuk memanaskan makanan dan meletakkan dimeja makan takut suaminya merasa lapar,selesai menyiapkan makanan dan menutupinya dengan tudung saji Tiya kembali kesofa untuk melanjutkan tidurnya.
Didalam kamar Rezza telah selesai mandi,dia melihat ada segelas susu hangat diatas mejanya,tanpa pikir panjang diapun menghampiri dan meneguknya hingga habis.
Mengingat kelakuanya terhadap Tiya tadi Rezza merasa malu sendiri
" hampir aja ketauan", "apa yang ada diotak gue ini..haih..",
"guekan nggak suka sama tu cewek",
"bisa bisanya tergoda cuman gara gara liat kakinya doang",
"gimanaaa kalo gue liat yang laennya ya?" Rezza berpikir sambil mengelus dagunya,
"lagian hari hari gue liat tu cewekan nggak pernah buka kerudungnya"
"apa dia sengaja mau menggoda gue ya?"
"diakan nggak mau menandatangani tu surat kontrak"
"dasar cewek munafik" Rezza mengumpat Tiya,sambil menerka nerka.
Setelah memakai baju tidur Rezza mengambil gelas susu yang sudah kosong hal itu dijadikanya alasan untuk keluar kamar
Pelan pelan Rezza membuka pintu kamar dan mengintip keluar,matanya berkeliaran mencari Tiya yang tak terlihat batang hidungnya.
Rezza merasa lega sebab tak melihatTiya. Iapun keluar kamar dan menuju dapur.
Rezza mencium wangi aroma makanan ,cacing cacing dalam perutnyapun mulai minta diberi makan.Tanpa pikir panjang Rezza menyantap dengan lahap makanan dihadapanya yang sudah disiapkan oleh istrinya tadi.