Arga Aldiano siswa tampan berprestasi, multi talent, dan idola di SMA kencana. Dipuja kaum hawa adalah takdirnya. Dingin dan cuek itulah sifatnya. Peduli? bukanlah bagian dari hidupnya. cowo yang dijuluki sebagai Badboy ini adalah cowo yang paling di takuti seisi sekolah. Lalu apa jadinya jika cowo seberbahaya Arga justru di lindungi oleh seorang cewe culun? Apakah mungkin? bagaimana bisa?
Fika Pricilla, adalah gadis biasa yang memiliki ciri khas yaitu dua rambut berkepang dan kaca mata besar menutupi matanya yang sipit.
Berbagai pertentangan terus menggeluti keduanya. lalu bagaimana mungkin cewe berambut kepang itu mampu melindungi seorang Arga?
Simak ceritanya disini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kasih Kurnasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa dia bahagia?
"Arga punya aku aja yah please..."
"Dih apaan sih lo!? Gue yang duluan juga!"
"Heh gue yang duluan, yang ada elu yang nikung dari tadi."
"Woi pada antri dong!"
"Heh diem! Kasian Arga, dia pasti pusing gara-gara kalian. Arga ini punya aku."
"Cih! Cabe! Kak Arga punya aku aja yah.. aku buatin ini spesial buat kakak loh."
"Heh blagu banget sih lo jadi adik kelas! Gak ngaca!"
"Serah gue lah. Hak asasi!"
"Ekhem, perhatian-perhatian untuk para fans silahkan untuk berbaris terlebih dahulu karena abwang Arga mulai pusing! Mari-mari yang punya telinga tolong digunakan!"
Teriakkan keras Andre yang menggunakan megafone berhasil mendiamkan para fans Arga yang tidak hentinya berebut perhatian cowo itu. Sedangkan cowo itu sendiri hanya diam menatap malas cewe-cewe yang mengerumuninya sambil duduk lesehan menekuk satu lututnya.
Kebiasaan yang sudah di budidayakan itu membuat Arga muak. Setiap kali ia selesai bermain basket cewe-cewe akan selalu mencari kesempatan untuk menggangunya. Meskipun Arga sendiri tidak pernah meladeni mereka namun mereka tetap bersih keras melakukannya.
Bahkan seluruh anggotan team basket Arga pun sama sekali tidak menghiraukannya karena sudah terlalu biasa. Mereka hanya menyaksikan aksi para cewe itu yang terus berebutan menarik perhatian Arga.
"Ga, mau yang mana dulu nih? Apa perlu gue cobain satu-satu?" Cengir Andre mengisyaratkan kepada Arga agar dirinya mengambil alih cewe-cewe itu, sekaligus mencari kesempatan dalam kesempitan.
Arga yang sejak tadi hanya menatap kosong ke arah depan kini beralih menatap Andre yang berdiri di depannya. "Serah lo."
Andre tersenyum sumringah, ia menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya bersiap mencicipi mereka satu per satu. Dalam arti apa yang cewe-cewe itu bawa.
"Eh lo mau ngapain?"
Andre menghentikan pergerakannya saat satu cewe berambut panjang melangkah menjauhinya.
"Mau nyicip."
Cewe itu mendengus. "Sorry yah, makanan ini khusus buat kak Arga seorang. Bukan buat lo! Kalo lo mau beli sono!"
Andre mencebik dan berkacak pinggang. "Heh, lo gak denger tadi kata si Arga? Gue udah dapat izin yang sah dari dia. Jadi boleh dong gue-"
"GAK! ENAK AJA!"
"Jangan maksa bangke! Kalo tu cewe gakmau jangan lo sosorin gitu, dia malah jijik liat muka lo Dre!" Teriak kevin di ujung lapangan yang tengah menertawai Andre di sana.
"Diem lo! Ini urusan gue sebagai asisten pribadinya abwang Arga."
"Coba lo keluarin jurus ganteng lo Dre, kali aja cewenya mau sama lo." Teriak Willy ikut tertawa di ujung sana bersama kevin dan yang lainnya.
"BACOT!" Umpat Andre kemudian kembali berbalik.
Andre memutuskan untuk mengalah. Dan ia pun beralih mendekati cewe ke dua yang tidak jauh dari cewe tadi. "Gue nyicip boleh?" Tanya Andre belum jera.
Sama seperti cewe sebelumnya bahkan cewe ini lebih parah, ia menolak Andre dengan cara memukul tangan Andre dengan botol yang ia pegang.
"JANGAN NGAREP!" Sentak cewe itu ketus. Andre meringis mengusap punggung tangannya yang perih. Sedangkan di ujung sana terdengar suara gelak tawa para cowo team basket menyaksikan kesialan Andre.
Andre yang mendapat penolakkan sekaligus pelecehan itu pun akhirnya memutuskan untuk menyerah. Ia berbalik kembali menuju Arga yang masih menatapnya datar dari kejauhan.
"Fix, gue nyerah Ga. Cewe-cewenya ganas, semenit aja bisa abis gue." Gerutu Andre kemudian mengambil posisi duduk di samping Arga.
"Ka Arga, ini buat kakak." Sosor cewe berambut ikal menyodorkan sekotak makanan ke depan wajah Arga. "Kakak cobain deh, aku yakin kakak pasti suka."
Arga masih diam tak bergeming. Bukannya mengambil makanannya cowo itu malah merubah posisinya dan bergeser menjauh dari cewe tersebut.
"Arga gkmau masakkan kampungan lo! Mending lo minggir karena sekarang giliran gue." Ucap cewe berkulit putih bermuka ala korea. Ia mengambil posisi jongkok dan menaruh semua makanan yang ia bawa ke depan Arga. "Ga, aku pesen ini import loh dari korea. Semoga kamu suka yah. Oyah, ini harganya mahal banget, tapi demi kamu aku gak masalah kok. Kamu terima yah.."
Arga memalingkan wajahnya dan mendengus pelan. Sedangkan Andre yang di sampingnya justru tidak berkedip menatap makanan-makanan yang terlihat lezat itu.
"Cih! Dasar cabe!" Teriak seseorang di ujung ruangan membuat semua mata kini memandangnya. Cewe yang memakai baju cherrleader itu pun melangkah diikuti teman-temannya yang lain memasukki area lapangan basket indoor.
Sesampainya disana cewe yang di kenal dengan nama Sherla itu mengambil posisi duduk di samping kiri Arga. "Heh lo! Pergi lo semua!" Usir cewe itu. Dan tampa bantahan para cewe itu pun akhirnya meninggalkan tempat itu dengan rasa kesal dan sia-sia.
"Ga, kamu laper gak?" Tanya Sherla menengok wajah datar Arga.
Arga masih diam.
"Atau kamu mau minum?"
Masih tidak ada tanggapan.
Sherla pun mendecak. Ia meraih tangan bebas Arga hingga berhasil membuat Arga menoleh. "Kamu maunya apasih Ga? Tell me what you want?"
Arga menarik tangannya kasar hingga terlepas dari Sherla. "Jangan ganggu gue."
Sherla mendengus kesal, ia pun beranjak berdiri dan dengan beraninya ia meraih wajah Arga dengan kedua tangannya hingga membuat Arga mendongkak menatapnya.
"Lo itu kenapa sih Ga? Apasih yang kurang dari gue sampai lo gakmau sama gue? Apa gue kurang cantik dimata lo? Atau gue kurang seksi? Please bilang ke gue Ga!"
Arga menepis lengan Sherla kasar membuat cewe itu membulatkan mata. "Lo kurang waras Sher!" Teriak Arga dan berhasil membuat mulut Sherla menganga lebar.
"Apa!?"
Sherla akan meraih tangan Arga namun cowo itu memberikan tatapan menyeramkan hingga Sherla kembali mengurungkan niatnya. "Mending lo pergi dari sini Sher, sebelum gue usir lo secara kasar dari sini." Ujar Arga dingin.
"Lo jahat banget Ga." Ucap lirih Sherla.
"Gue gak peduli."
Sherla menghentakkan satu kakinya ia merasa kesal sekaligus malu karena ini bukan kali pertamanya Arga menolak dirinya di depan semua orang. Namun hal itu buktinya tidak pernah membuatnya jera. Ia tetap berusaha keras untuk mendapatkan Arga. Meskipun Arga akan menolaknya ribuan kali, karena menurutnya selagi aarga tidak punya pacar, kesempatan untuk memilikinya pun terbuka lebar. Sherla berbalik dan menatap tajam seluruh cowo yang kini juga tengah menatapnya di ujung sana.
"Apa lo semua? Mau ngeledek gue?" Teriak Sherla. Kemudian melangkah cepat keluar ruangan.
"Loh Sherla mau kemana? Kok dia pergi?" Tanya seorang cewe yang baru saja keluar dari ruangan ganti baju. Ia menatap orang-orang di sana yang sama sekali tidak menjawab pertanyaannya. "Kok kalian diem aja? Sherla kenapa?" Tanyanya lagi. Nada bicaranya begitu lembut bahkan yang mendengarnya saja bisa langsug tenang.
Cewe berambut panjang agak ikal di bawahnya itu beralih menatap Arga yang duduk tak jauh dari posisinya berdiri.
"Ga, Sherla kenapa?"
"Lo tanya aja sama dia." Ujar Arga dingin. Membuat cewe itu menghela nafas pelan dan berjalan mendekatinya.
"Gimana aku mau tanya sama dia, orang dianya udah pergi." Cewe itu duduk melipat cantik kakinya di samping Arga. "Kamu kenapa sih Ga? Lagi kesel yah?"
Arga menoleh dan menatapnya. "Gue gakpapa."
Cewe itu tersenyum dan tiba-tiba tangan kanannya terangkat untuk mengusap sebelah pipi Arga. "Jangan bohong yah, aku tau loh kalo kamu bohong."
Arga menyicingkan mata, dan tanpa di duga ia menyunggingkan sedikit bibirnya. Arga tersenyum? Walaupun terlihat samar, namun ini adalah hal yang sangat langkah bagi seorang Arga tersenyum pada seseorang selaon ibunya. Bahkan bisa dibilang tidak mungkin. Namun entah mengapa Arga terlihat begitu tenang saja berada di samping cewe bernama Angel itu. Sama sekali tidak merasa risih ataupun kesal.
"Ga, besok jadikan kita ke studio?" Tanya cewe itu lagi dan menurunkan tangannya dari wajah Arga. Arga masih menatapnya kemudian mengangguk. "Jadi."
Cewe itu tersenyum senang. "Nanti aku bareng kamu kan Ga?"
"Kalo itu mau lo, gue akan jemput." Ucap Arga sambil mengalihkan pandangan ke arah lapangan.
"Mau dong pastinya." Beberapa detik hanya ada keheningan dan cewe itu kembali menatap Arga. "Oyah Ga, kamu hari ini pulang jam berapa?"
Arga mengerutkan keningnya kemudian memeriksa jam di tangannya. "Bentar lagi gue pulang."
"Aku ikut kamu yah."
*****
Di tempat lain.
"Gimana? Udah ngerti blom?" Tanya Lussy sebari menunjukkan buku catatannya.
Cewe yang sedari tadi menatapnya pasrah ditambah ekspresi melas. Hanya bisa menggeleng lemah.
"Belum."
Hembusan nafas kasar yang terdengar dari Lussy menandakan betapa lelahnya dia.
"Ah elo mah.. gue udah cape tau! Dari tadi ngejoblak udah kaya kampanye partai, tapi lo masih blom ngerti juga!"
"Hehe..Maaf, soalnya penjelasan Lussy terlalu cepat. Trus Lussy nunjukkin rumusnya banyak banget. Fika kan jadi bingung.."
"Ya elah! Rumusnya emang sigini Fik, nggak bisa lo tawar. Emangnya ini rumus barang loakan yang bisa lo tawar!?"
Kesabaran Lussy telah di ujung batas, sambil menoleh kesal ia melihat jam di tangannya yang telah menunjukkan pukul 14.30.
"Jirr..., gue udah telat nih. Gue harus jemput nyokap di toko. Belajarnya kita pending dulu yah Fik."
"Hah?.. eh.."
Tidak perlu menunggu jawaban dari Fika. Lussy langsung memasukkan bukunya ke dalam tas, lalu berdiri sambil menentengnya tasnya di pundak kiri dengan langkah terburu-buru ia melangkah keluar kelas.
Fika masih tertahan disana dengan tangan terulur ingin menahan Lussy yang telah melewati pintu. Namun percuma karena ia telah melangkah jauh. Kekecewaan terlihat jelas di wajah lugunya. Seperti halnya diberi harapan kemudian di campakkan begitu saja.
Bukan hanya menaruh harapan besar, tetapi Fika begitu berharap jika Lussy bisa mengajarkannya lebih dari ini. Bahkan ia siap mendengarkan setiap ocehan atau pun amarah yang di lontarkan Lussy untuknya. Meskipun terkadang ia merasa kasihan dengan sahabatnya itu karena di tengah kesibukannya ia tetap mau membimbingnya walaupun hanya sebentar.
Namun tidak dapat di pungkiri dan terkadang Fika merasa kecewa pada dirinya sendiri karena dia tidak pernah mengerti sedikitpun pelajaran Fisika. Sekalipun ia belajar hingga semalaman suntuk, itu tidak akan ada hasilnya terutama saat menghadapi soal-soal yang selalu beda jauh dengan contoh yang diberikan. Itulah yang membuat ketidak sukaannya terhadap Fisika menjadi lebih bertambah.
Bell terakhir telah berbunyi sejak 1 jam yang lalu, Fika rela meluangkan waktunya bersama Lussy hanya untuk mengerti pembelajaran yang tadi di bahas. Namun kenyataannya naas pada akhirnya ia tetap tidak mengerti. Kelas pun telah kosong bahkan di luarpun sudah tidak ada orang. Fika pun akhirnya memutuskan untuk pulang saja.
Ia memasukkan alat tulisnya satu persatu dari mulai pulpen, pensil, penghapus sampai buku dan buku paket ke dalam tas ranselnya. Ia menggendong tasnya dan sebelum melangkah tak lupa ia membenarkan sedikit kepangannya yang sedikit berantakan lalu berjalan melewati pintu.
Benar sekali, lorong sekolah telah sepi tak berpenghuni. Bahkan di parkiran pun sudah tidak terlihat ada banyak kendaraan yang berjajar di sana.
"Mang Udin." Sapa Fika ramah kepada mang Udin yang tengah duduk di bangku kayu dekat parkiran.
"Eh neng Fika, mau pulang neng?"
"Iya mang."
Mang Udin mengangguk ramah. "Hati-hati neng."
"Iyah mang makasih." Ucap Fika mengurai senyumnya.
Di ujung parkiran.
"Arga ayo!"
Fika yang mendengar teriakkan keras itupun menghentikan langkahnya. Dan berbalik reflex ke arah sumber suara tadi.
"Aku kira kamu bawa motor Ga. Tumben banget bawa mobil."
Fika menggigit bawah bibirnya, saat melihat seseorang yang kini tengah berlari menuju mobil milik Arga.
"Kak Angel." Gumam Fika, matanya tak henti menatap Arga yang kini tengah membukakan pintu untuk cewe itu. Cewe berambut panjang itu terlihat sedang tersenyum bahagia dengan perlakuan manis Arga dan bahkan tidak pernah ia lakukan kepada siapapun apalagi untuk si cewe culun seperti dirinya. Cewe itupun pun mulai masuk kedalam mobil sport biru Arga.
Fika terhentak dan cepat menunduk saat tiba-tiba menoleh ke arah tempat ia saat ini berdiri. Cowo itu menatapnya dingin namun beberap detik kemudian ia memalingkan muka dan berjalan memutari mobilnya hendak duduk di kursi kemudi.
Fika mencoba memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya saat mobil Arga telah berjalan melewatinya dan keluar menuju pintu gerbang sekolah. Ia pun kembali berlajan namun tatapannya masih pada mobil biru Arga yang kini sudah semakin hilang dari pandangannya.
"Kenapa kak Angel bareng sama Arga?"
"Tumben banget mereka pergi barengan."
"Sebenarnya mereka mau kemana?"
Pertanyaan demi per tanyaan memenuhi pikiran Fika yang melayang. Entah mengapa melihat Arga bersama dengan cewe lain seperti ada nuansa tersendiri bagi Fika. Terasa sesak. Namun jika dipikir-pikir apa urusan dia? Fika bukanlah siapa-siapa Arga. Bahkan dia sama sekali tidak berhak untuk menanyakan pertanyaan yang kini ada di benaknya. Ia tidak pantas. Tidak sama sekali. Namun satu pertanyaan yang membuat hati Fika terasa semakin sesak dan kini memadati pikirannya.
"Apa Arga bahagia bersama kak Angel?"