Giovanni El Nino adalah seorang pemuda yang berprofesi sebagai pekerja seni di dunia hiburan, namun karena kepribadiannya yang angkuh dan tak acuh terhadap sesamanya membuat sang ayah terpaksa menjadikannya seorang guru di SMA Harapan Bangsa dengan harapan anaknya mengalami perubahan sikap yang lebih baik.
Akan tetapi tetap saja, kepribadian Nino tidak juga berubah, justru ia menjadi guru yang dibenci oleh murid-muridnya.
*****
Rhodophyta Algavian seorang pemuda yang lugu namun cerdas, selalu menjadi bahan perundungan teman-temannya di SMA Harapan Bangsa.
****
Suatu ketika hal besar menimpa Nino, ia mengalami kecelakaan hebat dan diberikan kesempatan oleh malaikat untuk memperbaiki hidupnya dan berbuat baik dengan masuk ke dalam tubuh Vian dan mengubah hidup pemuda tersebut.
Apakah Nino akan berhasil membantu Vian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Claudia Diaz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Bersekolah
Setelah beberapa hari terbaring lemah di rumah sakit, hari ini Vian kembali bersekolah, ya beberapa hari di rumah sakit yang ia bayangkan akan dibesuk oleh beberapa teman sekelasnya, ternyata hanya sekedar angan saja. Kini ia kembali menapakkan kakinya ke SMA tercinta.
Ketika ia masuk ke dalam kelas tak satu pun teman-temannya menanyakan bagaimana keadaan dirinya pascakecelakaan, sungguh keterlaluan. Bahkan Dea yang notabene seseorang yang dicintainya pun bersikap tak acuh padanya.
Ia malah sibuk dengan Bobby, teman sekelasnya yang sekarang statusnya naik menjadi kekasih sang primadona sekolah.
Vian segera duduk di bangkunya. Ia telah belajar semalam suntuk untuk mengejar beberapa materi yang tertinggal, beruntung, ia memiliki otak cerdas, sehingga ia tidak sulit mengejar ketertinggalan materi.
Sebelum bel masuk berbunyi, Vian masih sempat membuka buku pelajarannya dan mengulang belajarnya kemarin agar tidak lupa, sebenarnya itu juga untuk pengalihan dirinya dari rasa kesepian.
Beberapa menit telah terlewati, tak terasa bel masuk menjerit dengan nyaring, anak-anak berhamburan masuk ke dalam kelas masing-masing.
Kelas dimulai dengan doa pagi. Seluruh murid berdoa dengan khusyuk. Hingga akhirnya jam pelajaran pertama dimulai.
Guru pun mulai memasuki ruang kelas, mereka berdiri guna memberi salam.
“Ah, Vian sudah kembali. Selamat datang, Ibu senang kau sudah sehat, setelah beberapa hari tidak masuk," ujar Guru itu. Vian hanya mengangguk dengan senyuman kecil yang tersungging di bibirnya.
Teman-teman yang melihatnya hanya menatap sinis, dan hanya bisa mendecih tak suka, namun ada juga yang bersikap tak peduli.
“Nah, anak-anak sebelum kita memulai pelajaran kita pada hari ini, Ibu ingin kalian meringkas materi dari halaman 50-67 pahami baik-baik, setelah itu ibu akan menuliskan soal di papan tulis, serta akan menunjuk siswa secara acak untuk mengerjakan soal. Kalian mengerti?!" ujar Guru tersebut.
“Mengerti, Bu!" seru seluruh Siswa.
Para murid mulai meringkas materi yang diperintahkan oleh Guru mereka. Ada yang diam dan fokus, ada pula yang mengerjakannya dengan menggerutu, ada pula yang seperti ogah-ogahan.
Vian termasuk golongan yang serius namun tetap santai. Ia dengan tenang dan teliti meringkas materi.
”Hoam!" suara salah seorang siswa memecah keheningan.
“Delon, silahkan keluar dan cuci wajahmu jika mulai mengantuk!" perintah Guru tersebut.
Siswa yang bernama Delon itu pun langsung keluar meski gerutuan nyaring keluar dari bibirnya. Guru yang mendengarnya hanya mampu menghela nafas sabar.
“Apakah kalian sudah selesai, sekarang tutup buku kalian?!" ujar Guru tersebut.
Para murid langsung bergegas menutup buku mereka meski belum siap. Mereka hanya bisa berdoa dalam hati, semoga sang guru tak memilih mereka untuk mengerjakan soal.
Sang guru menuliskan soal di papan tulis, murid-muridnya hanya bisa menahan nafas, kala spidol itu menari-nari dengan lincahnya di papan tulis.
Derajat keasaman dari larutan 100 ml H2SO4 0,02 M adalah . . . .
“Ada yang bisa menjawab pertanyaan tersebut?" tanya Guru cantik itu.
Sang guru mengedarkan pandangannya dan menunjuk Bobby untuk maju mengerjakan soal.
Bobby yang ditunjuk untuk maju mengerjakan soal pun maju dengan wajahnya yang mendung.
“Coba kau kerjakan soal ini!" perintah Guru itu lagi sambil menyodorkan spidol pada Bobby.
Bobby menerima spidol dan mengerjakan soal, ia mengerjakan dengan cepat dan seadanya saja, soal benar atau tidaknya itu urusan belakangan, begitu pikirnya.
Tak menyadari hal itu terlihat oleh Nino yang sedari tadi berdiam diri di dalam tubuh Vian. Ia hanya tertawa meremehkan.
“Dasar bodoh! Soal mudah begitu saja tidak bisa," ujarnya.
Mendengar adanya sebuah suara yang tidak asing membuat Vian terkejut bukan main.
“Suara itu, seperti suara..." batin Vian.
Vian memang terkejut, tapi ia bisa mengendalikan ekspresi wajahnya dengan baik.
Guru yang mengetahui Bobby sudah selesai mengerjakan soal, bangkit dari duduknya dan memeriksa pekerjaan Bobby.
Ia hanya tersenyum melihat hasil kerja Bobby di depan.
“Jawaban itu masih kurang tepat," ujar Guru tersebut.
“Pffft," Nino menahan tawanya, “terlihat sekali jika tak pernah belajar."
Suara itu terus terngiang-ngiang dalam kepala Vian. Beberapa kali Vian menggelengkan kepalanya berusaha mengenyahkan suara tersebut, namun tidak bisa.
“Kembalilah ke tempat dudukmu, Bobby. Lain kali belajarlah yang rajin!" perintah gurunya.
Bobby pun kembali ke tempat duduknya dengan menggumam tidak jelas.
Guru tersebut mengedarkan pandangannya kembali, ia melihat Vian yang sedang serius menatap ke arah papan tulis.
“Vian, bisakah kau mengerjakan soal ini?" pinta gurunya.
Vian hanya mengiyakan dan beranjak dari bangkunya. Sesampainya di depan papan tulis, Guru tersebut menyerahkan spidol kepadanya.
[H+] \= Ma x Val
\= 0,02 x 2 \= 4 x 10-2
pH \= -log 4 X 10-2
\= 2-log 4
H2SO4 merupakan asam kuat, bervalensi 2.
Vian sangat percaya diri mengerjakan yang dirasa sangat mudah baginya, setelah ia selesai mengerjakan soal, ia menyerahkan kembali spidol itu pada sang guru.
Sang guru yang melihat hasil pekerjaan Vian itu pun tersenyum cerah, secerah matahari, “Tepat sekali! Ibu sangat bangga padamu, Vian. Kau boleh kembali ke tempatmu."
Vian mengucapkan terima kasih dan kembali ke tempat duduknya. Pujian yang dilontarkan oleh Guru mereka itu pun, sontak menimbulkan rasa iri dalam hati mereka. Bagi mereka, Vian adalah musuh yang harus disingkirkan, karena dengan adanya Vian, mereka seakan tak memiliki kesempatan untuk unjuk kebolehan.
Bobby yang melihat Vian berjalan kembali ke tempat duduknya merasa kesal, kedua tangannya mengepal erat dan wajahnya memerah.
Dan kegiatan belajar mengajar pun berjalan dengan lancar.
Bel istirahat sudah berbunyi, Vian segera melangkahkan kakinya ke arah toilet. Sedari tadi ia berusaha bersikap tenang dan nampak tak mencolok seperti biasanya, tapi kenyataannya, ia merasa sangat tidak nyaman dengan suara-suara yang sedari tadi memenuhi otaknya.
“Ada apa denganku, suara siapa itu?" gumam Vian.
“Apa yang kau risaukan?" tanya sebuah suara.
“Apa, suara siapa itu, dan siapa kau?" tanya Vian di depan cermin toilet.
“Kau tak perlu mengetahui siapa aku," jawab suara itu kembali.
“Mengapa kau tak memberitahukan siapa dirimu padaku?" tanya Vian sedikit frustasi.
“Memang apa untungnya jika aku memberitahu padamu? Itu sama sekali tidak penting," cibirnya pada Vian.
“Ini tubuhku, tentu saja aku harus tahu!" pekik Vian merasa kesal.
“Oh ya, masa. Dengar ya, meski ini adalah tubuhmu, tapi aku juga punya privasi. Apa kau paham apa yang dimaksud dengan privasi, atau jangan-jangan kau tidak tahu apa itu privasi?" sinisnya pada Vian.
“Akan tetapi—argh, pokoknya kau harus keluar dari tubuhku!"
“Masa bodoh, aku tidak mendengarmu, dan aku tidak peduli. Perlu kau tahu, aku tidak suka diatur. Jadi, jangan pernah mengaturku!" ujar suara itu.
“Argh, dasar egois." ujar Vian kepalan tangannya menghantam tembok.
Vian keluar dari toilet dan pergi menuju kantin untuk makan siang. Dia mulai mengantre dan memesan makanan, setelah pesanan siap dia mencari bangku, setelah ia menemukan bangku yang berada di pojok. Ia melangkahkan kakinya ke bangku kosong tersebut.
Namun naas, sebelum dia sampai di bangku, Bobby dan kawan-kawan dengan sengaja menabrak bahu Vian dengan keras, sehingga Vian yang tidak siap terlihat oleng, dan jatuh serta makanan yang dipesannya jatuh berserakan.
“Maaf aku tidak sengaja," ujar Bobby dengan nada main-main.
Bukannya menolong, para siswa yang tengah berada di kantin itu, justru menertawakan Vian yang kondisinya terlihat kacau.
“Ha-ha-ha.."
“Dasar lemah," ledek Bobby.
“Biasalah, Bos. Dia laki-laki tulang lunak. Aku tidak yakin jika dia itu laki-laki sungguhan atau bukan?" ujar teman satu geng dengan Bobby.
“Wah, kau beli banyak menu hari ini. Pasti uang sakumu banyak!" ujar Bobby.
“J-jangan!" ujar Vian dengan memohon.
“Pegangi kedua tangannya dan rogoh sakunya. Aku yakin pasti dompetnya tersimpan di salah satu sakunya entah itu di baju atau di celananya!" ujar Bobby.
Beberapa teman Bobby lantas memegangi Vian dan merogoh sakunya kemudian menjarah isi dompetnya.
“Bos, kau benar. Lihat ini dia punya banyak uang!" seru temannya.
“Kembalikan dompetku, jangan rampas uangku!" teriak Vian.
Namun mereka tetap saja merampas uang milik Vian, tidak mengacuhkan pekikan Vian sedikit pun.
Vian meronta supaya bisa lepas dari cengkraman teman-teman Bobby, namun usahanya tidak membuahkan hasil.
Ia mencoba sekali lagi, meronta dan berusaha merebut dompetnya kembali. Karena Vian tidak bisa diam, para teman Bobby menghajarnya tanpa ampun, bahkan para penghuni kantin tidak ada yang berniat melerai.
Akan tetapi, tiba-tiba,—
dah ga kuat hdup di dunia makanya buat ulah dulu sebelum ke alam lain
agak lain nih anak