Vanya Mentari, gadis yang memulai peruntungan bekerja di ibu kota menjadi kupu-kupu malam, terpaksa harus terlibat pernikahan kontrak dengan pria yang terkenal sangat dingin.
Pernikahan yang membawa penderitaan pada Vanya di setiap harinya. Bukan hanya luka fisik, melainkan luka batin. Tiap hari, perkataan yang terlontar dari mulut pria yang menikahinya begitu sangat pedis, dan tanjam hingga mampu menusuk rongga jantung dan membuat luka yang teramat mendalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon momian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KKM 7
Bian kaget melihat paperbag yang jumlahnya sangat banyak berjejeran di atas sofa.
"Dasar!" Umpatnya.
"Sudah pulang? Oh ya, aku sudah memasak untuk makan malan, pergilah mandi lalu kita akan makan bersama." Kata Vanya, saat melihat Bian yang tengah berdiri menatap sofa. "Oh itu, tadi..."
"Pandai juga kau merayu pria hingga ia bisa memberikan semua ini padamu." Kata Bian, tanpa mendengar penjelasan dari Vanya terlebih dahulu."
"Bersihkan itu semua. Aku tidak mau apartemenku ini penuh dengan barang-barang dari hasil tubuhmu yang menjijikan itu." Kata Bian yang mampu membuat Vanya merasa sakit hati mendengarnya.
"Menjijikkan? Kau bilang tubuh aku menjijikkan? Apa kau pernah melihat seluruh tubuhku sampai kau bilang seperti itu?" Tanya Vanya dengan nada emosi.
Bian, memutar tubuhnya lalu menatap Vanya dengan tatapan mengintimidasi. Bian tersenyum devil lalu menghampiri Vanya dan berbisik di samping kuping Vanya.
"Kau lupa, jika kau adalah kupu-kupu malam? Kau lupa, sudah berapa banyak orang yang menjamah tubuh kotormu itu? Dasar! Wanita murahan!" Ejek Bian dengan begitu pedasnya.
"Bian..!" Teriak Vanya hingga membuat langkah kaki Bian terhenti. "Aku bersumpah, akan membuatmu menyesal telah berkata seperti itu." Teriak Vanya, namun Bian tidak menggubris ucapan Vanya.
•••••
"Menyesal?" Bian tertawa saat mengingat ucapan Vanya yang mengatakan jika ingi membuat dirinya menyesal sdh berkata hal demikian. "Sekali pelacur tetap pelacur. Tidak ada yang beres dari dirinya." Gumam Bian lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Bian memejamkan mata. Bayangan Neysia kembali terlintas di dalam pikirannya. "Bahagia?" Pertanyaan yang terus saja terngiang-ngiang di dalam dirinya. Apakah Neysia bahagia dengan pernikahannya? Apakah bahagianya Neysia tidak bersama dengan dirinya?
Berbeda dengan Vanya, kata-kata Bian mampu membuat dirinya mengepalkan kedua tangan, karena merasa marah dengan apa yang Bian katakan. Sungguh, baru kali ini Vanya bertemu dengan pria yang memiliki mulut tanpa filter. Yang seenak jidak mengucapkan apapun yang terlintas tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Bian, aku akan membuat mu jatuh cinta kepada wanita yang kau hina ini." Gumam Vanya.
••••••
Malam ini, seperti biasanya. Neysia melihat jam yang sudah menunjukkan pukul satu dini hari, dan sampai saat ini sang suami pun belum pulang sama sekali, sama seperti hari hari sebelumnya.
"Glen." Lirih Neysia, lalu menghubungi nomor ponsel Glen namun tidak aktif.
"Bian." Nama yang terlintas saat ini di dalam pikirannya.
"Apa aku harus meminta tolong pada Bian? Tapi bagaimana jika istrinya yang menerima panggilanku?" Neysia masih ragu, apakah menghubungi Bian atau tidak.
Tapi beberapa saat kemudian ponsel Neysia berdering. Beberapa pesan masuk dari nomor yang tidak ia kenal.
"Glen." Ucap Neysia dengan membulatkan kedua matanya, saat melihat isi pesan gambar.
"Lihatlah suamimu, dia hanya puas denganku tidak denganmu." Caption pesan tersebut dengan gambar Glen yang tidur dengan tubuh yang polos, dengan wanita yang berbaring di sampingnya.
"Jangan pernah berharap banyak pada Glen, karena dia milikku bukan milikmu."
Air mata Neysia terus jatuh tanpa henti membasahi pipinya. Pesan yang masuk membuat dunianya seakan runtuh dalam sekejap. Dunia yang ia bangun penuh dengan harapan, yang berharap akan menjadi duani yang warna warni yang di penuhi tawa dan tangis anak kecil. Namun semua hanya tinggal harapan, karena nyatanya sang suami lebih memilih kehangatan di luar sana.
Neysia langsung menghubungi nomor ponsel tersebut.
"Dimana Glen, dimana suamiku? Katakan!?" Tanya Neysia saat wanita yang belum ia tahu namanya menerima panggilannya.
"Jangan terlalu berisik, Glen sedang tidur di sampingku."
"Breng*sek! Dasar pelakor." Ucap Neysia dengan suara lantang namun terdengar bergetar.
Hahahahahah. Tawa sang wanita di seberang sana. "Kau lah pelakor yang sebenarnya. Kau mengambil kekasihku, kau mengambil pria yang aku cintai dan pria yang mencintaiku. Kau penghancur hubungan kami." Kata wanita itu.
Duaaarrrr.....
Apa itu berarti Neysia adalah orang ketia dari hubungan mereka.
"Tidak! Tidak mungkin." Kata Neysia.
"Jika tidak percaya, tanyakan sendiri pada Glen. Karena aku sudah bosan menyembunyikan semua ini. Aku kasihan padamu, yang harus menunggu yang bukan milikmu datang padamu. Oh ya, ingat ini. Glen mencintaiku, tidak mencintai dirimu."
"Bohong! Kau berbohong."
Wanita di seberang sana memutuskan sambungan telepon.
"Tidak! Tidak mungkin." Teriak Neysia lalu menghamburkan semua barang yang ada di meja riasnya.
Arrrrhhhhggggg. Neysia memecahkan kaca.
••••••
Vanya kaget saat bel apartemen terus berbunyi, Vanya yang kebetulan ingin berangkat bekerja, melihat dari cctv siapa yang berada di luar, dan ternyata wanita itu adalah wanita yang tadi sempat ia lihat bersama dengan Bian.
Vanya langsung membuka pintu, dan betapa kagetnya Vanya saat pintu terbuka, wanita itu langsung masuk dan memeluk Bian yang berdiri di belakang Vanya. Vanya sendiri kaget, sejak kapan Bian berdiri di situ.
Neysia terus saja menangis di dalam pelukan Bian. Vanya hanya bisa diam, melihat suami kontraknya yang di peluk oleh wanita yang bisa Vanya tebak adalah kekasih Bian.
Beberapa saat kemudian, Neysia yang tersadar langsung melerai pelukannya.
"Maaf." Kata Neysia, pada Vanya.
"Silahkan! Silahkan di teruskan jika kau tidak punya malu." Ucap Vanya menyindir.
"Vanya!" Teriak Bian sambil menatap tajam pada Vanya.
"Silahkan nikmati waktu kalian berdua. Terserah kalian mau buat apa, aku tidak ikut campur. Tapi ingat! Tuhan lihat kalian, jika kalian menyakiti hati orang maka akan ada balasan yang lebih kejam." Kata Vanya lalu keluar dari apartemen.
Assalamu'alaikum reader setianya autor..
Hari ini autor mau bagi pulsa untuk 3 orang yang sudah setia membaca novel baru autor.
untuk no 1, 2 dan 3 selamat 🥰🥰🥰. Pc no ponsel kalian untuk mendapatkan pulsa.
Dan untuk reader yang lain. Jangan berkecil hati karena akan ada uang tunai 200rb di akhir novel ini.
saking banyaknya dosis obat lerangsang sampe lupa gawang yg udah loss doll atau masih tersegel rapi😅
Apa Bian jg gak liat bekas darah d sprei🤔
mereka sekarang saling mencintai lho Tor ....
beruntung sekali nasibmu Zam...
bertaubat lah ZAM...😂
apa sudah menyadari klo dia satu²nya pria yang tidur sama Vanya...??
lihat aja...