Pernikahan Keyla dan Edwin yang didasari oleh perjodohan terasa dingin sejak awal. Namun, waktu telah perlahan menumbuhkan benih-benih cinta di hati Edwin. Tepat saat Keyla merasa pernikahan mereka mulai membaik, badai datang dari masa lalu.
Seorang wanita dari masa lalu Edwin, cinta pertamanya, kembali muncul. Kehadirannya yang tak terduga seketika menggoyahkan hati Edwin yang tadinya sudah mulai mencintai Keyla. Edwin, yang masih menyimpan sisa-sisa perasaan, mulai bimbang antara janji pernikahan dan nostalgia.
Di sisi lain, Keyla tengah berjuang meraih impiannya di dunia modeling, sebuah profesi yang tidak disukai dan dianggap tabu oleh Edwin. Keputusan Keyla untuk tetap mengejar karier ini semakin memperkeruh rumah tangga mereka, membuat Edwin merasa tidak dihargai.
Keyla kini berada di ujung tanduk. Ia harus berjuang mempertahankan suaminya dari bayangan masa lalu yang memikat, sambil berusaha membuktikan bahwa pilihannya sebagai seorang model tidak akan menghancurkan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon StarMaker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab7
Seumur-umur Keyla tidak pernah semalu ini, yang jelas saja dia mengatakan sesuatu yang sedikit vulgar dan lebih parahnya di hadapan orangnya langsung.
"Malu-maluin banget sih Key!," sesal Keyla.
"Aiishhhh ancur reputasi aku di depan Edwin," kesal Keyla menatap jalanan di depannya, layaknya seorang musuh yang ingin dia bunuh.
Selama perjalanan menuju rumah Keyla terus saja menggerutu menyesali perkataannya. Tidak jarang Keyla memukul setir mobil dan mengumpat pelan memaki dirinya yang terlalu frontal saat berbicara.
Saat ini Keyla sudah sampai di rumah dan memasukkan mobilnya ke garasi.
Keyla berjalan lesu memasuki rumahnya seraya menenteng tasnya dengan malas, bukannya bersih-bersih diri Keyla malah duduk di sofa dan menyandarkan badannya di sofa, tidak lama kemudian Keyla sudah hanyut dalam mimpinya. Anak itu emang *****. Begitu dapat tempat nyaman nempel langsung molor.
Drrrtttt drrrtttt
Deringan telepon yang berbunyi sangat nyaring seketika mengusik tidur Keyla. Dengan ogah-ogahan Keyla mencari hpnya di tas dan tanpa melihat nama yang tertera disana, Keyla langsung mengangkat panggilannya dengan keadaan masih menutup mata dan sesekali menguap.
"Hallo key" ucap seseorang disebrang sana mengawali pembicaraan.
"Hm siapa" tanya Keyla dengan suara khas bangun tidur.
"Ini bunda" jawab perempuan di sebrang telpon.
"Bunda ya" ucap Keyla lirih seraya manggut-manggut.
Tunggu
Tunggu
Bunda?
Seketika posisi Keyla langsung terduduk tidak lupa dengan matanya yang melotot karena menatap layar hp yang tertera Nama bunda Lena disana.
"Aduh bunda maaf ya, Keyla nggak sopan. Keyla baru bangun tidur" ucap Keyla menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sedangkan Lena terkekeh pelan di seberang sana.
"Iya gak papah ko, bunda orangnya pemaaf, kok" ucap Lena terkekeh diikuti Keyla yang sedikit tertawa, lebih tepatnya tertawa canggung.
"Bunda ada apa telpon?"
"Bunda sama ayah mau kerumah"
"Kapan bunda ke sininya?" tanya Keyla.
"Jam empat, kamu bilang sama Edwin pulang lebih cepat"
"Baik Bun"
"Terima kasih sayang bunda tutup" pungkas Lena.
"Iya Bun"
Setelah sambungan telepon itu terputus, Keyla melirik jam yang ada di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 3 berati kurang satu jam lagi mertuanya akan kesini dan sepertinya dia harus cepat menghubungi Edwin. Tetapi yang menjadi kendala Keyla tidak ingin menghubungi Edwin, alasannya hanya satu 'MALU'.
Keyla menghembuskan nafasnya pelan. Amanah harus tetap di sampaikan.
"Oke Gak papah key cuman chat kan, nggak lebih jadi kamu pasti bisa!!" Ucap Keyla bermonolog meyakinkan dirinya. Setelah itu dua mengetikkan nama Edwin di sana.
Keyla: Ed kamu bisa pulang lebih awal? Bunda sama ayah mau kerumah!
Tidak lama kemudian hp Keyla berbunyi.
Edwin: Jam berapa?
Bibir Keyla tertarik pertanda dia tersenyum mendapat balasan cepat dari Edwin.
"Gila, padahal cuman jawaban gitu dan aku tersenyum kegirangan" ucap Keyla menggelengkan kepalanya.
Dengan cepat Keyla mengetikan balasan lantas mengiriminya.
Keyla: jam 4
Read
Keyla meletakkan kembali hpnya setelah mendapatkan tanda ceklis biru dari Edwin, dia beranjak ke dalam kamar untuk menyiapkan keperluan mandinya karena Keyla akan berendam.
°°°
Setelah hampir 30 menitan Keyla sudah selesai mandi, kini ia keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk sebatas pahanya.
Biasanya Keyla tidak akan pernah berani jika dia keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk, tapi karena berhubungan Edwin belum sampai jadi Keyla berani.
Keyla bahkan dengan santuinya melepaskan handuknya di lantai dan hendak memakai satu persatu baju yang baru di ambil di lemari.
Cklek
Sontak keyla menatap ke arah pintu yang baru saja terbuka dan di sana ada Edwin yang menatapnya.
Keyla terlalu syok karena dia belum menggunakan atasannya. Badannya seperti mati kutu di tempat, dengan cepat Keyla mengambil handuknya dan tanpa ba-bi-bu langsung melilitkan di badannya dan berlari ke arah kamar mandi dengan pipi yang sudah memerah.
Begitu juga dengan Edwin yang sempat terkejut, tapi dirinya tidak bisa memungkiri kalau tubuh Keyla sangat menggoda. Bahkan sekarang isi kepala Edwin di penuhi dengan bayangan tubuh polos istrinya.
"Kenapa ngga diketok dulu sih. Kan aku malu!!" ucap Keyla mengacak rambutnya frustasi seraya merutuki Edwin.
"Kalau kayak gini, aku gak berani keluar," keyla terus berbicara sendiri, ia menggigit bibir nya.
"Aiissh, bodo amat," ucap Keyla, segera memakai pakaiannya.
Setelah selesai memakai baju Keyla bukannya keluar malah mondar- mandir di dalam kamar mandi sudah terhitung 15 menit yang lalu Maura belum juga ada niatan untuk keluar.
"Aaa kenapa Edwin harus liat. Aku kan maluuuu!! ucap Keyla lagi seraya menatap pantulan dirinya dicermin kamar mandi.
Toook toookkk.
"Keyla"
Suara pintu di ketuk di barengi suara Edwin yang memanggilnya. Keyla menatap ke arah pintu yang barusan di ketuk.
"I..iya kenapa?" tanya Keyla gugup.
"Masih lama?" tanya Edwin yang ada diluar.
"Enggak kok bentar lagi keluar," jawab Keyla.
"Aku tunggu dibawah bunda sama ayah udah dateng," ucap Edwin memberi tahu ibu dan ayahnya sudah berada di rumah.
"Iya,"
Setelah itu Keyla membuka pintu kamar mandi secara perlahan. Ia sedikit mengintip setelah itu barulah dia keluar. Keyla menghembuskan napas lega karena Edwin sudah tidak ada di kamar.
Dengan segera Keyla menyisir rambutnya dan memakai bedak di wajahnya setelah dirasa cukup Keyla segera keluar dari kamar.
Keyla menuruni anak tangga matanya melihat ke arah ruang tamu disana ada orang tua Edwin yang sedang mengobrol, entah apa yang di obrolkan mereka. Keyla tidak tau karena mereka sesekali tertawa termasuk Edwin.
Tanpa alasan pasti jantung Keyla berdetak dua kali lebih cepat saat melihat bibir Edwin yang tersenyum, menurutnya senyuman Edwin barusan terlihat sangat manis di matanya.
Tidak ingin berlarut-larut dalam pikirannya Keyla segera berjalan menghampiri kedua orang tua Edwin.
"Sore bunda, ayah," sapa Keyla seraya menyalami tangan Lena dan Farid bergantian.
"Malem juga mantu ayah, yang paling cantik," ucap Farid seraya tersenyum.
"Ayah jangan digodain pipi Keyla merah tuh," ucap Lena terkekeh di ikuti oleh suaminya yang juga tertawa sedang.
"Bundaaa, pipi Keyla nggak merah, lho," ucap Keyla seperti merajuk.
"Iya-iya bercanda sayang, kayak nggak tau bunda aja," ucap Lena terkekeh pelan.
"Lho, kok duduk disitu, deketan dong sama Edwin," ucap Farid Siswanto karena melihat Keyla, yang memilih duduk di sebrang Edwin.
Dengan kikuk Keyla berjalan dan duduk tepat di samping Edwin. Bahkan jarak keduanya bisa di bilang sangat dekat karena tangan Keyla bersentuhan dengan lengan Edwin. Bukan tanpa alasan Keyla duduk terlalu dekat dengan Edwin, memang kursi yang di duduki Edwin bisa terbilang kecil. Mau tidak mau Keyla juga harus mendekat dari pada harus terjungkal.
"Ayah sama bunda, mau ngomong apa?" tanya Edwin.
"Bunda cuman mau nanya, gimana hubungan kalian sejauh ini?" tanya Lena terlihat serius.
"Baik," jawab Edwin.
"Baik kok Bun, yah," Keyla menyahut. Memang hubungannya baik tidak ada masalah tapi yang tidak baik adalah sikap Edwin yang masih saja dingin kepadanya.
"Kalau begitu kapan kalian kasih ayah cucu?"
Deg
Cucu untuk ayah?