Raisa Maheswari, gadis muda belia yang memiliki kecantikan di atas rata-rata. Kulitnya putih langsat dengan dengan lesung pipit dan rambut coklat keemasan. Sangat sempurna untuk ukuran seorang wanita.
Namun nasibnya berbanding terbalik dengan kecantikan nya. Terlahir dari keluarga kaya dan terpandang, namun dirinya sangat menderita.
Sejak ayahnya meninggal, dan ibu nya menikah lagi, hidup Raisa seperti di neraka. Ayah tiri yang kejam dan suka bermain judi, hingga menghabiskan harta keluarganya.
Kakak perempuan satu-satunya sudah di nikahkan dengan keluarga kaya sebagai penebus hutang.
Nasib yang sama mungkin juga akan di alami oleh Raisa. Namun dia bukan wanita lemah seperti kakaknya. Dia akan memperjuangkan hidup nya, bukan hanya sebagai gadis penebus hutang.
Lika-liku asmara Raisa akan di kemas secara apik, sehingga membuat pembaca terhanyut di dalam ceritanya. Bagaimana kisah cinta Raisa selanjutnya??.
Apakah dia harus pasrah atau kah akan melawan kekejaman ayah tirinya itu??.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annasya Fayra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7.
"Jangan membuat ku takut tuan, sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan".
"Mengapa harus mengunci pintunya dari dalam".
"Dengar Raisa,, aku ingin kau menikah dengan ku secepatnya".
"Dan kau harus setuju, karena aku tidak suka penolakan".
"Tapi, aku tidak mau, aku belum ingin menikah".
"Kau harus mau,, atau aku akan memaksamu dengan cara ku sendiri".
David mendekati Raisa dan naik ke atas tempat tidur. Dia menekan tubuh Raisa ke dinding dan mulai menciumnya. Tak sulit bagi David yang sudah berpengalaman untuk membangkitkan gairah seorang gadis muda seperti Raisa.
"Jangan tuan,, tolong hentikan......!!!".
"Katakan, kau menyukai sentuhan ku bukan,, aku melihatnya dari raut wajah mu".
David melepaskan ciuman bibirnya dan beralih menyusuri leher Raisa yang jenjang. Dia terus menjelajahi titik sensitif di tubuh Raisa sambil menyebutkan kata-kata mesra di telinganya.
"Katakan kau mau menikah dengan ku, atau aku akan memiliki mu sekarang, dengan atau tanpa persetujuan mu".
"Aku tak mau,, kau terlalu tua untuk ku, lagi pula bukan kah kau tidak tertarik dengan gadis kecil seperti ku??".
"Jangan menguji kesabaran ku Raisa,,aku lihat kau juga menikmati ini bukan??".
"Atau kau ingin lihat seberapa besar kemampuan ku untuk memuaskan mu".
David menarik lepas gaun yang menutupi bagian dada Raisa. Tangan dan bibirnya dengan liar bermain-main disana. Raisa tak kuasa menahan kenikmatan yang di berikan oleh David. Tubuhnya menolak, namun bibirnya mendesah hebat.
"Aku sudah tak tahan lagi Raisa,,,jawab sekarang sebelum aku menyetubuhi mu".
"Aku tak perduli lagi kau mau atau tidak".
"Persetujuan mu tak lagi ku perlukan saat ini, bersiap lah Raisa".
"Tunggu David,,hentikan.....baiklah,,aku bersedia menikah dengan mu".
David melepaskan tubuh Raisa yang sudah berada di bawah kungkungan nya. Gaun nya yang berantakan, dia rapikan kembali. Setelah itu dia duduk di kursinya.
"David,,aku bersedia menikah dengan mu, dengan satu syarat".
"Kita akan melakukan ini, setelah aku merasa siap".
"Aku harus mengenal mu lebih dulu kan,,,sebelum aku menjadi istri mu".
"Dasar gadis ingusan, kau sungguh merepotkan ku".
"Apa lagi yang ingin kau ketahui tentang diri ku?".
"Apa benar kau yang membunuh istri mu??".
"Tidak,, bukan aku yang melakukan nya".
"Lalu,, bagaimana dia bisa terbunuh di pondok??".
"Sudah cukup, jangan membuat ku marah, tanyakan hanya tentang urusan mu dengan ku, bukan tentang masa lalu ku".
"Persiapkan diri mu, aku yang akan atur pernikahan kita".
Hilda menunggu David di kamarnya. Ini sudah terlalu lama, tapi dia masih belum keluar dari kamar Raisa. Dia takut kalau David menyakiti gadis muda tersebut. Mengingat anaknya itu adalah orang yang temperamen.
David keluar dari kamar Raisa. Akhirnya, dia bisa membujuk gadis muda itu untuk mau menikah dengan nya. Dengan begitu, tidak perlu khawatir lagi reputasi gadis itu hancur di kota ini. David sudah bertanggung jawab untuk mengembalikan nama baiknya dengan menjadikan nya nyonya di rumahnya.
Hilda menghampiri David di ruang tamu. Wanita itu terlihat sangat khawatir.
"Apa yang kau lakukan pada Raisa, David??".
"Tak ada ma,, dia sudah bersedia menikah dengan ku".
"Jadi, mama atur segala persiapan nya dalam dua hari ini".
"Aku percayakan semuanya pada mama".
"Dua hari,, untuk sebuah pernikahan??".
"Kau tidak sedang bercanda kan, David??".
"Apa aku terlihat suka bercanda".
"Ayolah,, aku tahu kemampuan mama seperti apa".
"Pokoknya, aku ingin menikah dengan Raisa lusa".
Nyonya Hilda terdiam. Percuma mendebat putranya yang satu ini. Hasilnya akan percuma saja. Dia hanya harus mematuhi perintahnya saja.
David sendiri segera menuju ruang kerjanya.
Pikiran nya masih tertuju pada Raisa. Entah kenapa ciuman gadis itu masih terus melekat di pikiran nya. Semua yang ada pada nya mampu membangkitkan gairah David yang sudah lama hilang. Membayangkan nya saja membuat David menjadi gila.
Cukup lama sampai David mampu meredam gejolak nafsunya setelah memaksa Raisa dengan cara nya tadi. Gadis lugu itu sukses
membuat David panas dingin terbakar gairah.
Sampai waktu makan malam, David hanya terdiam menghabiskan makanan nya. Sementara Raisa masih tampak ketakutan, terbayang ulah David padanya tadi. Si kembar merasakan suasana tegang yang terjadi di meja makan.
"Raisa,, ku dengar ayah akan menikah dengan mu,,apa itu benar??".
"Ya,,, seperti yang ayah mu bilang".
"Jadi, kami harus memanggil mu ibu,,, usia mu kan hampir sama dengan kami???".
"Romi, jaga bicara mu, bersikap lah dengan baik".
"Romi,, kau boleh memanggilku sesuka hati mu".
"Aku bukan orang yang suka memaksa".
David menghentikan makan nya dan menatap tajam ke arah Raisa yang menyindirnya. Rupanya wanita ini masih belum mengerti juga. Kali ini David akan benar-benar membuatnya mengerti.
"Selesaikan makan kalian dan setelah itu masuk ke kamar".
"Ayah,,,kami masih ingin keluar".
"Romi, kau tahu kan, ayah paling tidak suka di bantah".
"Nenek, lihat lah kelakuan ayah,,,,aku masih ada urusan di luar sebentar".
"Ya sudah Romi,, selesaikan urusan mu dan cepat kembali".
"Baiklah......terimakasih nenek, aku akan segera kembali".
David masih terdiam mendengar perkataan Hilda. Dia selalu saja bersikap lunak kepada kedua putranya. Mereka menjadi kurang disiplin karena nenek nya selalu membela.
David bangkit dan menggebrak meja. Kumpulan semua kemarahan dan dorongan gairah yang tertahan, berkumpul menjadi satu di kepalanya. Hal itu tentu saja membuat takut Raisa dan Hilda yang masih ada di meja makan.
"Ibu terlalu memanjakan mereka,, tak sedikit pun ada rasa hormat kepada ku".
"Bukan begitu David, ibu hanya kasihan".
"Kedua putra mu itu sudah kehilangan kasih sayang ibunya sejak kecil, dan kau pun mengabaikan nya".
"Sejak Resti meninggal, kau mengabaikan semuanya".
Raisa tampak tak enak mendengar perdebatan antara ibu dan anaknya. Dia berdiri dan berpamitan menuju kamarnya.
"Maaf nyonya, sebaiknya aku kembali ke kamar ku sekarang".
"Urusan ku dengan mu belum selesai Raisa,tunggu aku di kamar mu".
Raisa menaiki tangga dengan perasaan cemas. Dia tahu seperti apa tabiat David kalau sedang marah. Mungkin saja Raisa tadi salah bicara.
Raisa masuk ke kamarnya, di susul dengan David yang tiba-tiba sudah menutup pintu dan menguncinya dari dalam.
David memeluk Raisa dari belakang dan menarik kepalanya di dada David. Raisa memejamkan mata, ketika tangan David mulai memainkan p*******nya. Sambil terus membisikkan kata-kata menggoda di telinganya.
"Jadi,,, menurut mu aku orang yang suka memaksa,, benarkah seperti itu??".
"Kau menikah dengan ku karena terpaksa,, begitu kah Raisa??".
"Ah....hentikan David,,, kau memang seperti itu bukan??".
"Apa ini enak......kau menikmatinya,,, atau terpaksa menikmati,,, katakan pada ku Raisa".
"Ah....David,, tolong....lepaskan aku".
"Bukankah kita baru mulai,,,tapi kau sudah memohon".
"Katakan,, apa kau tak menyukai sentuhan ku ini".
"Ku lihat kau bahkan sudah tidak malu lagi,, lihat lah....kau sudah sangat bergairah".
"Maaf kan perkataan ku David,, aku janji tidak akan bicara sepeti itu lagi".
"Katakan di depan semua orang kalau kau menikah dengan ku karena cinta,, kau dengar itu kan??".
"Iya,,,aku mendengarnya".
David melepaskan Raisa yang terlihat sudah sangat bergairah. Napasnya terengah-engah menikmati sentuhan David yang membakar jiwanya. Raisa malu,, tubuhnya bertolak belakang dengan bicaranya. Dia bilang tak menginginkan David, namun setiap kali David
menyentuhnya, Raisa tak kuasa mengendalikan hasratnya sendiri.
...****************...