PROSES REVISI. KALO ADA CERITA NGEGANTUNG DAN NGGAK NYAMBUNG MOHON DI MAKLUMI, AKAN SEGERA DI REVISI. TERIMA KASIH.
"Jessii, ini permintaan terakhir kakek kamu jangan di tolak dongg!"
"Pliss maa! aku nggak mau di jodohin.. Apa lagi sama orang sombong kek dia!!"
Meliana mengusap dadanya agar bisa lebih tenang untuk menghadapi sikap keras kepala yang di miliki anak bungsunya itu.
Ya, Jessica Relieta anak dari Meliana dan Reta itu mendapat pesan terakhir dari Kakek Jessica bahwa dia ingin melunasi hutang - hutangnya dengan menjodohkan cucu nya.
Karena dijodohkan dengan keluarga kerajaan Raden Agung Yagsa, seorang Jessica yang pecicilan itu pasti susah untuk mengubah diri menjadi seseorang yang anggun.
Namun karena juga hutang kakek Jessica yang sangat tidak mendukung, mau tak mau Jessica menerima perjodohan itu dengan berat hati.
Tetapi ketika sang pangeran meminta untuk di cintai apakah Jessika bisa mengabulkan nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisa Nurhalizah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berpelukan (REVISI)
Jessica menoleh dan melirik wanita paruh baya yang sedang membawa kain elap itu.
"Eh, ini lagi nunggu temen," Jawab Jessica sambil tersenyum.
"Oh.., Non temennya Den Putra?" Tanya nya kembali.
"Iya Bu," jawab Jessica sambil mengangguk membenarkan.
"Panggil aja Binan Non," perintahnya, Jessica mengangguk kembali.
"Oh iya Binan," Jessica dengan tersenyum.
Tak lama dari itu, Camila pun keluar dari dalam toilet yang membuat percakapan antara Jessica dengan Binan terputus.
"Yuk Jess," ajak Camila, Jessica mengangguk.
"Binan, saya duluan ya," ucap Jessica sopan yang di balas anggukan oleh Binan.
Jessica pun meninggalkan tempat itu.
"Cantik juga calon istri Den Putra," ucap Binan sambil tersenyum.
♡♡♡
Hari sudah semakin gelap, para anak remaja kini sedang membakar - bakar rumah, eh daging dan marsmelow maksudnya, di tempat panggangan.
Namun tidak semua memasak, ada sebagian yang menyiapkan tempat untuk duduk, lampu lampu agar cerah, ada juga yang sedang bercanda berlari - lari seperti Jeri yang sedang menjahili Bianca.
"Ih.. Kak!! diem deh!!" Teriak Bianca.
"Diem gue dari tadi." Jawab Jeri.
"Masa diem lari - lari-an gitu!!" Seru Bianca berdecak.
"Ya wajar lah manusia." Jawab Jeri kembali.
Bianca memanyunkan bibir nya sebal dengan jawaban yang di berikan oleh kakak kelas yang terus menjahilinya ini. Jeri yang gemas melihat pemandangan itu langsung mendorong muka Bianca yang membuat Bianca sendiri menggeram di tempat.
"Ih Kakak ngapain sih pegang muka gue!!"
"Mau aja," jawab Jeri santai.
Bianca kesal, ia membalas perlakuan Jeri dengan menggigit tangan kanannya dengan sekuat tenaga.
"Awuawawaw!!" Ringis Jeri dengan berteriak.
"Hahaha.. mampus!!" Ledek Bianca puas.
Jeri kesal dengan perlakuan Bianca. Ia pun menampilkan smirknya lalu menghampiri Bianca yang sedang tertawa terbahak - bahak itu. Bianca yang melihat kedatangan Jeri mendadak merinding. Badannya berusaha menjauh dari Jeri namun langsung lengannya langsung di tarik untuk mendekat ke tubuh Jeri.
"Mau apa lo!! minggir!!" Teriak Bianca.
Jeri langsung menutup mulut Bianca membuat tubuh Bianca makin gemetaran.
Tubuh mereka sudah sangat dekat, Jeri memberikan tatapan tajam pada Bianca.
Bianca yang takut akan tatapan itu menutup matanya sambil mematung di tempat. Jeri yang terkekeh melihatnya kebingungan dengan reaksi Bianca yang ketakutan ini. Beda halnya dengan reaksi wanita lain yang biasanya dia lakukan seperti ini.
Biasanya perempuan lain langsung mendekat atau bahkah, ya gitu. Tapi Bianca malah diam dan menutup matanya ketakutan.
Bianca mengintip karena keadaan di sekitarnya hening. Ia melihat Jeri yang senyum - senyum sambil menatapnya. Bianca makin merinding dengan suasana ini, kenapa Jeri bisa senyum - senyum sambil melihatnya? Apakah Bianca terlihat aneh.
"Kenapa sih liat gue sambil senyum senyum!" Teriak Bianca menyadarkan lamunan Jeri.
"Eh nggak," jawab Jeri.
Bianca milirik curiga. Kenapa sikap Jeri bisa berubah tiba - tiba, padahal baru saja beberapa detik yang lalu dia di jahili terus oleh nya.
"BIANCA SINI BANTUIN GUE COOKING!" Teriak Riana dari arah barat.
"IYA!" Balas Bianca. Ia jalan begitu saja tanpa memerdulikan Jeri yang sedang tersenyum - senyum kepada nya.
"Menarik juga," ucap Jeri.
♡♡♡
"Nih!! lo pake terus bedak ketek ini nggak usah pake deodoran! Ketek lo kan nggak cocok sama deodoran. Lo juga jangan lupa skincare-an pake bahan alami, muka lo kan nggak cocok sama masker kimia. Jangan lupa juga alis sama bulu mata lo pake minyak kelapa, biar tambah tebel." Oceh Helena terus menerus sambil membantu Jessica berkemas.
"Iya," jawab Jessica.
"Eh Kudanil! Kakak ngomong tuh jangan jawab iya - iya doang!" Sentak Helena tidak terima di simpelin oleh adiknya.
"Iya Kakak ku sayang yang cantik imut lucu.., Adik mu yang nggak kalah cantiknya dan seksi ini akan melaksanakan perintah Kakak tercinta ku yang jomblo dua puluh taun," jawab Jessica kembali.
"Kurang ajar lo!"
Jessica terkekeh. Beda dengan reaksi Helena yang malah terlihat sedih.
"Kita nggak bakal bisa kayak gini lagi Jess," rintih Helena sambil menundukkan wajahnya.
Jessica menghentikan aktivitas mengemasnya, dia beralih ke arah kakak nya yang sedang bersedih itu.
Helena mengangkat kepala dan tatapan mereka bertemu.
"Kakak!"
"Jessi!"
Mereka langsung menghamburkan pelukan bersama dan menumpahkan air matanya yang sudah di tahan sejak tadi.
"Kakak! Gue nggak sanggup ninggalin Kakak!" Jessica menangis sekuat kuatnya di pundak sang kakak.
"Gue juga nggak sanggup lah!! Siapa lagi yang bakal gue hina selain lo.., huhu." Balas Helena.
"Hiks, kok Kakak malah pengen ngebuli gue sih!!" Ketus Jessica melepaskan pelukannya.
"Karna lo tuh objek bulian yang pas tau nggak,"
Mulut Jessica bergetar. Mata nya juga semakin banyak mengeluarkan air mata.
"HUAAAAAA KAKAK!!"
Mereka pun saling menghamburkan pelukannya kembali.
Meliana yang melihatnya mengurungkan niat untuk menegur mereka. Ia melihat perpisahan antara Jessica dan Helena dengan senyuman kesedihan.
Tidak hanya anak pertamanya yang akan rindu kepada Jessica, namun dirinya juga sebagai ibu pasti akan sangat merindukannya.
Meliana menghapus air mata yang telah jatuh di pipinya dan membenarkan posisi berdirinya.
"Dah tuh.. kalian mau peluk pelukan sampai kapan?! Putra udah nunggu di depan!" Tegur Meliana.
Jessica dan Helena pun berpisah melepaskan pelukannya. Meliana menghampiri Jessica dan memegang pundak Jessica.
"Sayang kamu udah beres berkemasnya?" Tanya Meliana.
"Sudah Mah," jawab Jessica.
Meliana tersenyum. Dia tak kuat menahan segala kesedihannya. Dia langsung mengambil alih tubuh Jessica dan memeluk nya dengan sangat erat.
"Jessi jangan merepotkan keluarga baru mu ya, kamu nggak boleh jadi anak manja, kamu harus nurut apa yang mertua kamu katakan, kamu juga harus nurut kalo suami kamu memerintah apa - apa nanti, inget kata kata mama, jangan buat mama menyesal telah melahirkan dan membesarkan mu untuk mereka." Ucap Meliana dengan tersendu - sendu.
"Iya Ma, Jessi nggak bakal buat Mama menyesal." Jawab Jessica yang menyembunyikan isakan nya itu.
Meliana melepaskan pelukan dengan perlahan kemudian tersenyum.
"Anak Mama memang yang terbaik!" Seru Meliana yang di sambut senyuman oleh Jessica dan Helena.
"Ayo, bawa barang barang kamu terus pergi ke ruang tamu, Putra sudah nunggu." Ucap Meliana.
Jessica mengangguk, kemudian ia menyeletingkan kopernya. Mereka pun bersama - sama keluar dari kamar.
Putra yang melihat kedatangan Jessica langsung bangkit dari duduknya. Ia baru saja mengobrol hal - hal mengenai pernikahan dengan calon ayah mertuanya itu.
Jessica menyimpan kopernya tepat di depan Putra yang membuat Putra mengerutkan dahi.
"Ini apa?" Tanya Putra.
"Baju lah!" Ketus Jessica.
Putra memutar matanya malas.
"Iya gue tau, tapi buat apa?" Tanya Putra.
Jessica memiringkan bibirnya kesal tak percaya apa yang Putra katakan.
"Ya buat di pake lah! Masa gue telanjang di rumah lo!" Jawab Jessica.
Putra terkekeh.
"Memangnya, di rumah Putra tidak boleh memakai baju murahan seperti ini ya?" Tanya Meliana membuat Putra terkejut.
"Bukan itu Bu-eh Ma, di rumah Putra tidak memakai baju biasa seperti ini melainkan gaun atau kebaya,"
Botol sih jadi orang.
Tirta, Taya, tidakkah kalian berkomunikasi dengan Putra? Bahkan besan meninggalpun tak ada yang muncul.