DERYNE MIKAELSON si duyung cantik yang sudah lama tinggal di lautan, harus kembali ke daratan karena telah menolong seorang anak kecil. Sosok Ryn yang menyenangkan membuat gadis kecil itu memohon pada Ayahnya, untuk menjadikan Ryn sebagai pengasuhnya.
LUCAS, Ayah dari Suri yang dengan terpaksa mengijinkan gadis asing untuk tinggal di rumahnya. Banyak sekali perbedaan dari suasana rumah itu ketika Ryn mulai tinggal disana. Satu persatu rahasia terbongkar! Apakah sebenarnya hubungan Lucas dan Suri, benarkah mereka hanya Ayah dan anak biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nessa Cimolin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
YES!! I'am Mermaid - Ep. 7
"Wendy adalah gadis yang dipacari Ayah beberapa tahun belakangan ini" terang Suri, tentu saja dengan nada yang kurang menyenangkan.
"Bukankah itu bagus? Kau akan memiliki seorang ibu"
"Tidak!" Bantah Suri tegas. "Aku tidak ingin punya ibu seperti Wendy"
Ryn tertawa kecil, dia menunduk dan mendekatkan kepalanya kepada Suri. "Jika Ayahmu menyukainya, bukankah itu berarti dia adalah gadis yang baik?"
Suri menoleh memandang Ryn, tentu saja dengan tatapan yang membingungkan. Baginya, Ryn sama sekali tidak tahu mengenai perasaan yang tulus. Dia memang lebih dewasa dari Suri, tapi untuk urusan asmara sepertinya Ryn mempunyai nilai nol besar di raportnya.
"Lupakan soal Wendy" ucap Suri tegas. "Ngomong-ngomong dimana rumahmu Ryn? Aku tak melihat adanya rumah di sekitar sana, itu hanya pantai yang kosong"
"Uh...." Ryn tercekat, dia sama sekali tidak pernah berpikir bahwa Suri akan menanyakan tempat tinggalnya. "K--kenapa kau ingin tahu?"
"Tentu saja agar aku tidak terpanggang sinar matahari di tepi pantai, saat ingin mencarimu"
"Maafkan aku, aku tidak bisa memberitahumu soal ini" jawab Ryn pelan. "Terkadang ada hal yang tidak perlu diketahui orang lain kan??"
"Kau benar, tapi dengan jawaban seperti itu kau semakin membuatku curiga"
Ryn mengusap kepala Suri dan mengacak-acak rambut lurus gadis mungil itu, tak terasa perjalanan mereka telah sampai hingga di depan pagar rumah Suri. Seketika kedua kaki Ryn terasa lemas, mengingat kejadian kemarin yang ia alami bersama ayah dari temannya itu.
Kenapa tiba-tiba aku mengingat bau tubuhnya waktu itu? - Ryn.
Glup!
(Suara menelan ludah)
"Kau baik-baik saja Ryn? Kita sudah sampai di rumahku"
"Oke-baik!" ucap Ryn, dengan nada kurang enak.
Tidak ada tanda-tanda keberadaan penghuni rumah, Ryn memberanikan diri hingga mengantar Suri tepat di depan pintu rumah. Dia bermaksud untuk segera pergi, tapi sialnya mata tajam seorang gadis mampu menangkap basah dirinya. Dengan menenteng gelas berisikan cairan berwarna merah keunguan, gadis itu melangkah cepat ke arah Ryn.
"Gadis gembel! Apa yang kau lakukan pada Suri hah?!" Wendy segera menarik Suri dari genggaman Ryn, kedua matanya memelototi Ryn yang tidak tahu apapun.
Gembel?? - Ryn.
"Apa kau baik-baik saja Suri? Apa aku perlu menelpon polisi? Dia pasti penculik anak-anak yang meminta tebusan kan?" Cerocos Wendy yang dengan buru-buru mengambil ponselnya.
"Tidak, tidak Wendy! Dia bukan orang jahat" ucap Suri yang tak dihiraukan oleh Wendy.
"Dia benar! Aku bukan orang jahat, aku hanya mengantar Suri pulang" timpal Ryn dengan nada khawatir.
Tak perlu waktu lama, Lucas keluar dari dalam rumah akibat suara gaduh yang ditimbulkan oleh Wendy. Betapa terkejutnya dirinya ketika mendapati sosok Ryn yang berdiri tepat di depan pintu, Suri lantas meraih tangan kiri Ayahnya dan mengusapnya seolah menandakan bahwa ada kesalahpahaman.
"Ada apa ini?"
"Oh, sayang... Lihat! Dia membawa Suri, pasti dia ingin menyakiti Suri, aku akan menelpon polisi. Bagaimanapun juga, Suri sangat berarti untukmu kan? Dia juga berarti untukku" ucap Wendy dengan nada yang begitu lembut.
Ryn menggelengkan kepala kuat, dia menggerakan kedua tangannya dan mengatakan bahwa itu tidak benar. Bukannya menangkap bahasa tubuh Ryn, Lucas malah memperhatikan kedua kaki dan tangan Ryn yang begitu putih dan bersih, bukan apa-apa! Mengingat kemarin dia adalah gadis yang sama, yang telah melompat dari lantai dua rumahnya.
Untuk sesaat Lucas hanyut dalam lamunannya, dimana luka robek yang kemarin jelas-jelas dia lihat dan juga sayatan-sayatan dari pecahan kaca yang menggores kedua kaki gadis itu. Bahkan jika memang darahnya sudah berhenti keluar, tidak mungkin bekas lukanya juga tidak tersisa sama sekali.
"A-aku, aku tidak ada niat jahat pada Suri" ucap Ryn lirih sambil menundukkan wajahnya.
Lucas memejamkan kedua matanya ketika baru saja tersadar dari lamunannya. "Dia benar, dia adalah Ryn! Teman dari Suri"
"Apa??" Wendy mendelik kaget. "Suri berteman dengan seorang gembel??"
"Mmm" Lucas menatap Ryn yang masih menundukkan kepalanya, dia tidak bisa bilang bahwa Ryn bukanlah gembel. Karena dilihat bagaimanapun dandanan Ryn benar-benar mencerminkan bahwa dirinya adalah gadis gembel. "Aku tidak tahu dia gembel atau bukan, tapi yang pasti dia bukan orang jahat"
"Sudah aku katakan kan?" Suri menatap tajam Wendy yang tersenyum memandangnya. Gadis itu segera meminta maaf kepada Suri dan Ryn lalu berlalu pergi.
Lucas terdengar menghela nafas lega, lega karena tidak ada keributan di rumahnya. Dan juga lega karena Ryn baik-baik saja meskipun sudah terjun bebas dari lantai dua.
"Kau boleh masuk" ucap Lucas tanpa melihat ke arah Ryn. "Ajak dia ke kamarmu ya?" Pintanya pada Suri.
"Oke"
________________________________________
Kedua mata Ryn bersinar melihat kamar Suri yang lebih mirip kamar seorang putri kerajaan. Kamarnya begitu luas dan di dominasi warna Pink, warna kesukaannya. Dengan bahagianya gadis bermata biru itu melihat pernak-pernik lucu yang berjejer rapi diatas meja yang menyatu dengan dinding dalam kamar itu.
"Wow, ini keren"
"Ayah selalu memberiku banyak hadiah disaat aku sedang marah kepadanya" ungkap Suri, dia menggerakkan kursi rodanya mendekat ke arah ranjang.
Setengah melirik Suri sekilas, Ryn kembali memainkan sebuah patung kecil berbentuk boneka salju. "Jika dia memberimu sebanyak ini, itu tandanya dia pria yang baik"
"Ayah memang baik, saking baiknya dia tidak bisa membedakan mana yang baik dan jahat"
"Apa maksudmu?"
Suri memutar kedua bola matanya dengan kesal. "Wendy bukanlah gadis baik, aku sering mendengar pembicaraan mereka di telpon. Terkadang dia meminta Ayah untuk membelikannya sesuatu"
"Meminta hadiah kepada seorang pacar bukan kah itu hal yang wajar??" Tanya balik Ryn yang masih sibuk dengan mainan barunya.
"Kau tidak tahu Ryn"
"Kalau begitu beritahu aku" ceplos Ryn asal.
"Terkadang Wendy tidak tahu waktu jika meminta sesuatu kepada Ayah, aku pernah terbangun di tengah malam dan mendengar Ayah pergi dari rumah. Nany bilang dia pergi setelah mendapat telpon dari Wendy"
Ryn memalingkan wajahnya untuk menatap Suri, gadis bermata biru itu melangkah mendekati Suri. Kedua tangannya meraih tangan kecil milik Suri lalu mengusapnya.
"Kau tidak bisa berpikir buruk tentang Wendy, mungkin saja malam itu begitu mendesak. Dan satu-satunya orang yang dibutuhkan adalah Ayahmu" ucap Ryn ramah. Gadis itu lantas hening dengan raut muka yang aneh. "Ngomong-ngomong siapa nama Ayahmu?"
"Kalian belum berkenalan?" Suri tertawa riang mendapati fakta yang menurutnya menarik. "Ayah sudah tahu namamu, kenapa kau belum tahu namanya?"
"Aku hanya tidak menanyakan nya saja"
"Kalau begitu, akan aku beri kau kesempatan untuk menanyakannya" jawab Suri sambil tersenyum.
KLAP!!!
(Suara pintu terbuka)
Wendy terkejut melihat kedekatan Suri dengan Ryn tepat ketika ia membuka pintu kamar Suri tanpa mengetuknya. Buru-buru Ryn melepas kedua tangannya dari Suri dan menundukkan wajahnya.
"Kalian sangat dekat ya??" Ledek Wendy, gadis itu membawa sebuah tas yang berisikan beberapa kain. "Lucas memintaku untuk memilihkan pakaian untukmu"
Ryn menengadahkan wajahnya untuk menatap Wendy, sungguh! Dia adalah gadis yang sangat manis dengan tahi lalat di hidungnya. Lisptik merah yang ia poles di bibirnya semakin membuat wajah gadis itu terlihat menawan, dia benar-benar cocok menjadi seorang putri konglomerat.
"T--t-terima kasih" gugup? Tentu saja Ryn gugup, belum sempat kedua tangannya meraih tas itu, Wendy dengan sengaja menjatuhkannya ke atas lantai. Tak lupa dia juga memelototi Suri yang sepertinya ingin memarahi dirinya.
"Maafkan aku, tapi aku tidak mungkin bersentuhan dengan gadis sepertimu" ucap Wendy tegas, gadis itu segera pergi tanpa membawa aura aneh yang ditimbulkannya.
KLAP!!
(Pintu tertutup)
Kedua mata Ryn terus menatap tas yang tergeletak di atas lantai tak jauh dari tempatnya duduk. Pupil matanya bergetar, dia seolah menemukan sesuatu yang selama ini Suri coba terangkan kepadanya.
Tangan mungil Suri menepuk bahu Ryn dengan lembut, gadis kecil itu juga mengusap kedua pipi putih milik Ryn sambil melihat wajahnya.
"Apa kau tidak pernah memberitahu Lucas?" Pertanyaan dari Ryn hanya mendapat gelengan kepala dari Suri, gadis kecil itu menunduk sedih. Sepertinya ada alasan lain yang membuat gadis itu tak mengadukan perilaku Wendy yang sebenarnya.
"Kenapa??"
Suri hanya diam membisu, dia terus menggelengkan kepalanya. Gadis kecil yang beberapa hari ini ia kenal cerewet dan selalu ceria rupanya juga menyimpan sebuah rasa sedih yang mendalam. Kemungkinan Ryn bisa mengerti kenapa Suri tidak mau menceritakannya kepada dirinya, ini karena ucapannya yang mengatakan pada Suri terkadang ada beberapa hal yang tidak perlu diberitahukan kepada orang lain.
"Oke, sekarang aku disini" ucap Ryn, tanpa ragu lagi dia memeluk gadis kecil di depannya. Pelukan Ryn disambut hangat oleh Suri yang juga menginginkan dirinya. "Semuanya akan baik-baik saja, percayalah padaku"
"Bagaimana jika kau pergi lagi?"
"Kalau begitu tolong katakan ini pada Ayahmu..." Ryn membisikkan sesuatu kepada Suri, mimik wajah gadis kecil itu mendadak sumringah dan kembali ceria.
"Kau yakin???"
"Uhm..." Jawab Ryn dengan anggukan kepala.
BERSAMBUNG!!!
Halo terima kasih sudah membaca, jangan lupa tekan tombol Like, Favorit, berikan komentar dan Vote Author agar semakin semangat menulisnya. Tanpa dukungan kalian, Author bukanlah apa-apa 😁🙏
semangat, kuat sehat ya kak nesaaaa😍😍♥️♥️
semangat kak neess aku pasti selalu nunggu update mu,, 🌷🌷🌷🌷🌷😊😊😊🤗🤗🤗💝💝💝