NovelToon NovelToon
Five Magic'S Girl

Five Magic'S Girl

Status: sedang berlangsung
Genre:Akademi Sihir / Fantasi / Iblis
Popularitas:368
Nilai: 5
Nama Author: bsf10

5 perempuan dengan keturunan setengah Dewa Dewi yang sangat kuat dan darah mereka yang mengalir dengan kekuatan yang melumpuhkan dan petualangan yang akan mereka hadapi di negeri ajaib Euthopia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bsf10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6. Asrama

Setelah ujian yang menggetarkan seluruh akademi, Profesor Elian mengantar mereka menuju Asrama Paviliun Astra, sebuah asrama megah yang terletak di puncak bukit akademi. Meskipun berada di lingkungan yang sama dengan murid lain, paviliun ini memiliki penjagaan khusus dan fasilitas yang jauh lebih lengkap.

Begitu masuk, mereka disambut oleh ruang tengah yang luas dengan perapian yang apinya menyala biru—api sihir yang tidak pernah padam.

"Wah, tempat ini jauh lebih keren daripada kamar Azzura di Bumi!" seru Vera sambil melompat ke sofa beludru yang sangat empuk. Seekor kucing hutan kecil tiba-tiba muncul dari balik tirai dan langsung menghampiri Vera.

"Selamat datang, Sang Penjaga Tanah," suara kucing itu terdengar di pikiran Vera, membuatnya tertawa kegirangan.

Olivia langsung berjalan menuju jendela besar. Di sana terdapat taman gantung mini yang dipenuhi tanaman langka. Saat ia mendekat, bunga-bunga yang layu mendadak segar kembali dan merambat kearah tangannya. "Aku merasa kekuatanku lebih stabil di sini," gumamnya tenang.

Sementara itu, Luna dan Rachel asyik mengeksplorasi balkon yang menghadap langsung ke danau kristal akademi. "Rachel, lihat! Udara di sini sangat murni," ujar Luna sambil menggerakkan tangannya, menciptakan butiran salju kecil yang menari-nari di udara.

Rachel tertawa, ia menghembuskan napas dan menciptakan angin sepoi-sepoi yang membawa aroma air danau ke dalam ruangan.

Kehadiran Siswa Lain

Saat mereka sedang asyik, pintu paviliun terbuka. Beberapa siswa senior masuk. Mereka adalah kelompok "The Elites", murid-murid berbakat yang juga tinggal di sayap khusus tersebut.

Seorang laki-laki berambut perak dengan tatapan tajam bernama Xander berjalan mendekat. Ia adalah penyihir elemen gravitasi yang cukup disegani.

"Jadi, kalian 'anak emas' yang baru saja meretakkan Bola Sakti itu?" tanya Xander dengan nada meremehkan namun terlihat penasaran. "Jangan berpikir karena kalian putri dari Bumi, kalian bisa bersantai di sini. Di Euthopia, kekuatan tanpa teknik hanyalah bom waktu."

Azzura berdiri, menatap Xander tanpa rasa takut. Kilatan listrik kecil muncul di ujung rambutnya yang mulai bercahaya. "Kami di sini untuk belajar, bukan untuk pamer. Tapi kalau kau ingin menguji 'bom waktu' ini, silakan saja."

Suasana mendadak tegang. Siswa lain mulai berbisik-bisik di ambang pintu.

"Sudah, sudah!" Profesor Elian menengahi. "Xander, kembali ke kamarmu. Dan kalian berlima, segera bereskan barang-barang kalian. Besok pagi, kalian akan memulai kelas Sinkronisasi Elemen."

Malam Pertama yang Berbeda

Malam itu, kelima sahabat itu berkumpul di balkon asrama, menatap dua bulan yang menggantung di langit Euthopia.

"Rasanya baru kemarin kita bercanda di kamar Azzura soal cowok ganteng di sekolah baru," ucap Rachel sambil tersenyum kecut. "Sekarang, kita malah harus bersiap menghadapi klan iblis."

Azzura menggenggam kalung hatinya. "Setidaknya kita bareng-bareng. Selama kita berlima bersatu, aku yakin cahaya kita nggak akan padam."

Tiba-tiba, kalung mereka berdenyut bersamaan dengan warna yang lembut, seolah-olah saling menyapa satu sama lain di bawah cahaya bulan Euthopia.

Malam pertama di Paviliun Astra ternyata jauh lebih seru sekaligus "berantakan" daripada yang mereka bayangkan. Meskipun mereka berada di dunia sihir, kebiasaan lama mereka dari Bumi tidak hilang begitu saja.

Sekitar jam sepuluh malam, perut Vera mulai berbunyi. "Guys, aku lapar. Di sini ada camilan tidak ya?"

Mereka pun turun ke dapur asrama yang sangat canggih. Alih-alih kompor biasa, di sana terdapat tungku dengan api kecil yang melayang. Saat Rachel mencoba mengambil air dari dispenser sihir, ia tidak sengaja menggunakan kekuatannya. "Eh, eh! Kebanyakan!" seru Rachel saat airnya justru membentuk bola raksasa yang melayang di langit-langit dapur.

Azzura tertawa melihat Rachel yang panik. "Sini, biar aku hangatkan sedikit." Azzura menjentikkan jarinya, berniat mengeluarkan api kecil untuk memasak, tapi yang keluar justru percikan listrik yang menyambar bola air Rachel. ZAP! Bola air itu pecah dan menghujani mereka semua.

"Azzura! Rachel!" teriak Luna sambil mengigil karena basah kuyup. Refleks, Luna menghentakkan kakinya dan seketika lantai dapur berubah menjadi lapisan es agar mereka tidak terpeleset. Tapi malahan, Olivia yang sedang membawa nampan berisi buah-buahan langsung meluncur tak terkendali di atas es.

"Awaaaaas!" teriak Olivia. Sebelum ia menabrak tembok, akar-akar kecil muncul dari sela lantai—berkat kekuatan tumbuhan-nya—dan menangkap tubuhnya seperti jaring yang empuk.

Mereka terdiam sejenak, melihat dapur yang sekarang penuh air, es, dan tanaman merambat, lalu meledak dalam tawa bersama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!