Selamat membaca!!!
Kisah Duda Kere[N] Vs Gadis Somplak™
Namanya Chika, gadis dengan hobi nyleneh dari gadis seusianya. Dia suka memancing bersama teman-temannya, bahkan sering ikut kontes dan selalu juara satu dengan hadiah jutaan rupiah.
Dia gadis yang anti dengan duda, apalagi duren alias duda keren. Menurutnya, duda adalah status yang menyeramkan baginya, statment Chika tentang duda adalah pria dewasa yang kurang belaian dari seorang wanita.
Tapi nasib berkata lain, Chika mendapatkan kesialan bertubi saat harus menerima perjodohan online yang sangat merugikan dirinya.
Kedua orang tuanya, telah menentukan nasibnya yang harus berjodoh dengan duren!
Astaga! kek mana tuh?
Apa Chika mau ya nikah sama duda? secara dia tuh anti gitu?
Penasaran?
Yuk baca novel baruku ini, jangan lupa like, komen, fav dan vote.
Mari ber-haha hihi dengan neng othor 😂😂😎
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kumi Kimut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak akan jatuh cinta
"Sial! pria ini berat juga." Chika merasa pegal saat tubuh kecilnya menjadi tumpuan tubuh Dante.
"Biar ku bantu membawanya pulang." ucap seorang pria yang tadi membantu Chika bangkit saat di hempaskan oleh pria bertato, dia adalah sepupu Dante, Arlo Harsan.
"Oke. Aku memang butuh bantuanmu." Chika merasa lega saat Arlo meraih tubuh Dante dan memapahnya menuju mobil milik Dante.
"Pegal sekali!" gerutu Chika sembari memijit pundak dan tengkuknya.
Perlahan dia mengikuti langkah Arlo, sesampai di tempat parkir. Arlo segera memasukkan Dante ke dalam mobil.
"Ayo masuk! apa kau masih ingin di sini saja?" Arlo heran dengan ekspresi wajah Chika yang hanya memandang wajahnya tanpa berkata apapun.
"Oh, itu. Aku pegal sekali." Chika sebenarnya ingin menanyakan banyak hal kepada Arlo. Tentang mantan isteri Dante, tentang masa lalunya juga, tetapi dia mengurungkan niatnya.
"Aku tahu kau gadis itu kan? tadi dia sempat mengatakan sesuatu kepadaku tentangmu."
Penjelasan Arlo membuat Chika bingung.
"Hey gadis kecil! jangan seperti orang bingung! cepat masuk, duduk di belakang ya? temani calon suamimu." sambung Arlo. Dia tersenyum, sepupu Dante itu berhasil membuat Chika tidak berkutik.
Tidak ada yang bisa di lakukan Chika selain menuruti ucapan Arlo. Dia masuk ke dalam mobil dan duduk di jok belakang. Di sana ada si duda yang masih pingsan. Arlo memposisikan tubuh Dante duduk di jok mobil.
"Hei om duda? awas jika kau memanfaatkan kesempatan ini! aku akan membuatmu nyaman selama perjalanan pulang ke apartemenmu. Aku kasihan sebenarnya padamu, jadi aku melakukan ini untuk membalas kebaikanmu hari ini." Chika dengan hati-hati merebahkan tubuh Dante di pangkuannya.
"Sebagai calon isteri yang baik, kau memang harus melakukannya," celetuk Arlo.
"Haha, ya." Chika melupakan kehadiran Arlo yang berada di kursi kemudi. Dia merasa sangat malu, namun mencoba tetap tenang agar tidak terlalu kelihatan. Dia berpikir, jika Arlo mengadu kepada Dante tentang apa yang ia katakan tadi, si duda pasti akan kegirangan dan mengejeknya tanpa henti. Dia mulai bernegosiasi dengan Arlo.
"Om Arlo, jangan katakan apapun kepada pria sok jagoan ini? tentang apa yang tadi aku ucapkan." ucap Chika meminta pertolongan darurat kepada Arlo.
"Haha, ya gadis kecil." Arlo merasa Chika memang sama persis dengan apa yang Dante ceritakan kepadanya.
Arlo segara mengemudikan mobilnya, dia tersenyum saat melihat wajah kesal Chika.
Si gadis diam-diam memperhatikan Arlo yang menatapnya melalui spion tengah mobil.
"Ada apa om?" tanya Chika penasaran dengan ekspresi aneh sepupu Dante itu.
Dia hanya diam saja, kemudian fokus kembali menyetir.
Sepanjang perjalanan, Chika tanpa sadar membelai wajah Dante yang terlihat menyedihkan itu..
'Masa lalu seperti apa yang kau alami Dan? ' batin Chika.
Beberapa menit kemudian, mobil Dante telah berhenti di depan sebuah apartemen. Arlo meminta Chika untuk membantunya memapah Dante menuju kamar nomor 45.
"Ini apartemennya?" Chika tak menyangka jika Dante hanya tinggal di apartemen sederhana.
"Apa kau malu saat tahu dia bergaya hidup sederhana? oh... ternyata kau sama saja dengan Julian." Arlo menatap sinis ke arah Chika.
"Apa lah! aku juga anak orang miskin. Tetapi mengapa dia seperti orang kaya? kedua orang tuanya juga kaya raya? tetapi mengapa dia memilih hidup jauh dari kemewahan?" Sang gadis tidak habis pikir dengan apa yang ada di pikiran Dante, orang di luar sana, bekerja keras untuk menjadi kaya, tapi si om duda justru sebaiknya.
"Nanti aku ceritakan alasannya. Sekarang bawa dia ke atas." Arlo meminta Chika segera mempercepat langkahnya agar segera sampai di kamar Dante.
Keduanya susah payah memapah Dante yang memiliki tubuh gagah itu, pada akhirnya setelah melewati beberapa lantai, sampai lah mereka di depan kamar Dante.
Meskipun apartemen Dante sederhana, cara untuk masuk ke dalam kamar nomor 45 itu cukup rumit, karena harus memasukkan sandi beberapa digit angka dan juga ada kartu yang berfungsi sebagai kuncinya.
"Apartemen sederhana tetapi ribet masuk kamarnya, kalau pas kebelet bisa amsyong ya?" ucap Chika dengan wajah polosnya.
Arlo tersenyum tipis saat mendengar kata-kata absurd dari gadis manis di sampingnya.
"Bawa masuk dia, berisik sekali." Arlo meminta Chika segera bergerak agar tubuh Dante bisa masuk ke dalam kamarnya.
Chika tersadar jika dia terlalu banyak bicara. Sang gadis mengikuti langkah Arlo.
Kini tubuh gagah sang duda berada di peraduannya. Seketika rasa lelah sirna, Chika dan Arlo duduk di tepi ranjang milik Dante.
"Tugasku sudah selesai, kau jaga dia. Aku harus mengurus bar ku yang tadi porak-poranda." Pamit Arlo, dia segera bangkit namun Chika mencegahnya.
"Mengapa harus aku?" Chika kesal saat dia harus menjaga Dante.
"Kau calon isterinya kan? kata sandinya 120386, ini kunci untukmu." Arlo melempar kunci berbentuk kartu kepada Chika, dengan sigap si gadis menangkap kunci itu.
Tanpa menoleh, Arlo Harsan benar-benar meninggalkan Dante dan Chika berada di dalam apartemen itu.
Satu menit berlalu, suasana masih canggung. Chika merasa haus, tapi tidak berani menyentuh apapun di sana.
Chika menatap wajah Dante, pria itu masih pingsan. Sang gadis ingin mengambil ponsel di dalam tasnya, dia ingin menelepon kedua orangtuanya. Tetapi dia baru menyadari jika ponsel miliknya telah hancur berkeping-keping.
"Sial! ponselku remuk sudah! aku hampir saja melupakan hal sepenting itu!" Dia merasa di permainan oleh keadaan, bagaimana bisa situasi menyebalkan seperti ini harus ia rasakan? tiba-tiba menikah? tiba-tiba harus dekat dengan pria berstatus duda? padahal dia sangat anti duda.
"Arggggghhhh!" Sang gadis gemas dengan nasip buruk yang menimpanya secara bertubi-tubi dalam beberapa jam saja, tanpa sadar, dia memukul kaki Dante saat dia meluapkan kekesalannya.
"Astaga! apa itu kakinya?"
Chika memeriksa keadaan Dante, matanya masih terpejam.
Tapi tiba-tiba ada sesuatu yang menarik tangannya.
Bug!
Tubuh Chika secara otomatis jatuh di atas dada bidang Dante.
"Daritadi berisik!" Dante menatap wajah Chika yang berada di atas dadanya.
"Ka..u?" Mata Chika terbelalak saat mengetahui Dante telah sadar dari pingsannya.
"Iya, aku sudah siuman, apa kau senang?" Dante menggoda Chika, dia semakin memeluk erat tubuh Chika saat si gadis mencoba melepaskan diri.
"Cih! pria me*sum. Lepaskan aku!" pekik Chika, dia kesal saat kena prank om duda.
"Kau pasti sudah jatuh cinta padaku kan"? Kata-kata mustahil tiba-tiba keluar begitu saja dari mulut Dante, membuat Chika tertawa terbahak-bahak.
"Bagaimana kau bisa percaya diri seperti itu? jatuh cinta padamu? tidak akan!" Sang gadis berbuat nekat, dia menumbukkan keningnya dengan kening om duda.
"Aw! sial!" Si duda melepaskan pelukannya dan mengusap keningnya yang terasa sakit akibat ulah Chika.
"Hahaha, rasakan!" ucap Chika, tertawa puas.
"Kepalamu terbuat dari apa? keras sekali! kau lihat? jidatku sampai bengkak!" Dante masih mengusap keningnya yang terasa berkedut itu.
"Dari bongkahan batu karang! Haha!" Puas sekali Chika menertawakan Dante, si duda me*sum.