Zinu seorang pemuda yang baik budinya dan suka menolong kepada siapa pun, suatu ketika setelah ia memberikan roti kepada seorang pria tua berpakaian kumal, ia bertemu dengan Bee roh berwujud boneka beruang putih yang mengaku sebagai Roh Kebaikan. Dari Bee, Zinu mendapatkan sebuah Sistem di ponsel pintarnya, Sistem itu bernama Sistem Menjadi Kaya.
Jika Zinu berhasil menjalankan tugas yang diberikan Sistem, Zinu akan mendapatkan Poin Kebaikan. Poin Kebaikan ini sendiri dapat Zinu tukarkan menjadi uang. Jika Zinu menukarkan 1000 Poin Kebaikan ia akan mendapatkan uang 100.000 Rupiah.
Ding...
[Sistem Kekayaan :
Agar Pengguna bisa selalu berbuat kebaikan, Pengguna harus tetap hidup!
Hadiah :
10.000 Poin Kebaikan/hari]
Sejak mendapatkan Sistem, kehidupan Zinu mulai berubah, ia mampu memperbaiki ekonomi keluarganya.
Suatu ketika Zinu mendapatkan misi dari Sistem untuk menjadi Youtuber dengan konten berbagi kebaikan. Bagaimana kisah Zinu dengan Sistem yang dimilikinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi Putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Di sebuah ruangan berderet 11 orang yang duduk di kursi dengan keadaan terikat dan tanpa busana. Di depan setiap orang itu terdapat orang-orang berjas hitam dengan tubuh gagah memegangi cambuk.
Plakkk..
“Arghh!!”
Plakk..
“Arghh!!”
Ada seorang pria paruh baya berkemeja putih, pria ini terlihat mendominasi karena setiap arahannya akan di dengarkan para algojo yang memegangi cambuk itu. Pria ini tak lain adalah Bambang, Papi dari Rosa. Di samping Bambang ada seorang pria berjas hitam dan berkaca mata mendampinginya.
“Jadi kalian cukup keras kepala ya dan masih tak ingin bicara?!”
“Apa perlu aku menguliti kalian dulu agar kalian mau mengatakan siapa yang telah memerintahkan kalian?! Ah, tapi aku merasa, rasa sakit saja tak akan membuat kalian takut..”
Bambang memegangi dagunya. “Begini saja aku bisa dengan mudah mencari identitas kalian, dari keluarga mana kalian berasal. Karena kalian sudah berani ingin menculik putriku, maka aku juga akan menculik orang-orang yang kalian sayangi, dan jangan salahkan aku jika akan menghilangkan nyawa mereka!” ucapnya sambil tersenyum sinis. Bambang sekarang bagi 11 orang itu bak jelmaan iblis.
“To-tolong jangan tuan!”
Salah satu dari 11 orang itu mulai memberanikan diri untuk berbicara, dia tidak memperdulikan rasa sakit atau pun kematian, tapi jika berkaitan dengan keluarga dia tak bisa tinggal diam, alasan dia menjadi penjahat seperti ini saja demi memberikan hidup untuk keluarganya, tapi sekarang keluarganya dalam bahaya. Dia sungguh tak menyangka akan berhadapan dengan seorang seperti iblis yang akan melibatkan orang-orang tak bersalah.
“Wah, apakah kau takut jika keluargamu mati?” tanya Bambang mendekati pria yang terikat itu. “Sayang sekali, aku bukan orang baik yang akan merasa kasihan, aku akan melakukan sesuai yang aku katakan!”
“Cepat cari keluarga mereka dan bawa ke hadapanku!” perintah Bambang ke pria berkacamata yang ada di sampingnya itu.
“Baik..” ucap pria itu dengan patuh.
“Tolong.. Tolong jangan libatkan keluargaku tuan!! Aku akan mengatakan semuanya!!”
“Aku juga akan mengatakannya tuan!” sahut orang yang terikat lainnya.
“Kalian adalah orang-orang yang gagah, bisa kutebak kalian begitu terlatih, walau aku masih heran mengapa kalian bisa dikalahkan oleh seorang pemuda yang terlihat biasa saja. Sekarang kalian takut bila keluarga kalian terlibat, ah aku akan memberikan kesempatan sekali saja, cepat katakan dari mana kalian berasal dan siapa yang memerintahkan kalian!!”
“Ka-kami dari organisasi mafia Atlas tuan, bos Atlas yang memerintahkan kami, tapi kami tak tau jelas siapa bos kami itu karena dia tak pernah menunjukan diri di depan kami!”
“Atlas?” gumam Bambang pelan.
“Aku sepertinya pernah mendengar nama ini..”
“Tuan, aku mohonnn jaga keselamatan keluargaku, aku yakin sekarang dia tidak akan melepaskan keluargaku karena gagal menjalankan perintah, sebagai gantinya aku akan tunduk dengan tuan!” ucap orang itu mulai memelas.
“Aku juga tuan!”
“Aku juga!”
Mereka memang takut dengan ancaman Bambang, tapi dibanding Bambang ada iblis yang sangat keji yang mereka kenal, itu adalah bos mereka. Mereka terikat dengan organisasi jahat pun karena memang tidak bisa melepaskan tali kekangnya, apalagi kalau bukan keselamatan keluarga mereka.
***
“Sial, bisa-bisanya mereka gagal, dasar tidak becus!!” ucap seorang pria botak dengan kemeja putih berbalut rompi hitam.
“Aku yakin sekarang mereka sudah menyebutkan nama Atlas!” lanjut pria botak itu.
“Apakah kita perlu membunuh keluarga mereka bos?” tanya seorang pria yang ada di depan si pria botak.
“Nanti saja, itu ada waktunya! Sekarang aku penasaran siapa anak yang telah menggagalkan rencanaku ini!” ucap pria botak itu sambil menatap layar ponselnya, melihat rekaman saat anak buahnya menghadapi seorang pemuda.
“Jika tidak ada kamera yang terselip di helm mereka, aku mungkin tidak akan tau jika ada anak sehebat ini. Cari dia dan ajak dia bergabung dengan kita, jika dia tidak mau habisi saja berserta keluarganya!”
Pria botak itu menyeringai. “Sayang sekali, dia sudah melakukan kesalahan fatal karena berani ikut campur urusanku..”
***
Zinu dan adiknya sudah memilih beberapa pakaian yang mereka rasa cocok. Melihat pakaian yang dipilih keduanya, salah satu pelayan yang di sana agak khawatir Zinu tak mampu membayar semua itu. Dia melihat penampilan Zinu dan Rani yang bisa dibilang sangat biasa, tidak seperti anak orang kaya. “Mas yakin akan mengambil semua itu?” tanya pelayan di sana.
Zinu hanya menggeleng karena mengerti akan sikap si pelayan. Memang ya, jaman sekarang itu penampilan yang akan dilihat paling utama. Padahal jika hanya segini saja, Zinu masih bisa membayarnya, tapi Zinu tidak terlalu memperdulikan sikap si pelayan.
Zinu mengangguk. “Baiklah kami akan membayar ke kasir sekarang..”
Sebenarnya Rani sedikit bertanya-tanya berapa banyak uang yang dimiliki kakaknya sekarang sampai memintanya memilih pakaian bermerk seperti ini, ia tau bagaimana karakter kakaknya yang tidak suka menghamburkan uang.
Setelah sampai di depan meja kasir, Zinu langsung saja menyerahkan belanjaan mereka, pelayan langsung mengambil dan mengemas belanjaan itu.
“Total belanjaan 2 Juta Rupiah..” papar pelayan.
Rani yang ada di dekat kakaknya itu sungguh terkejut dengan total harga yang disebutkan penjaga kasir, ia menatap wajah kakaknya, akan tetapi kakaknya itu masih terlihat santai.
Zinu menyerahkan sebuah kartu kepada penjaga kasir itu. Beberapa saat kemudian si penjaga kasir menyerahkan kembali kartu ATM milik Zinu disertai dengan struk belanjaannya. Setelah itu ia mengambil paper bag yang berisi semua belanjaannya dan langsung mengajak adiknya keluar dari toko.
“Ayo kita keliling lagi!” ajak Zinu sambil memegangi pergelangan tangan adiknya itu.
.
.
.
.
Zinu dan Rani sekarang berada di toko ponsel pintar. Rani sudah menolak, tapi kakaknya itu terus berkeinginan membelikannya sebuah ponsel pintar.
Zinu berfikir adiknya memerlukan ponsel pintar juga karena selama ini ia dan adiknya memakai ponsel secara bergantian jika sekolah online. Saat ini sekolah memang sudah mulai normal kembali, tapi tidak menutup kemungkinan masih ada guru yang memberikan materi atau tugas secara online.
“Bagaimana dengan yang itu?” Zinu menunjuk sebuah ponsel, menawarkan adiknya.
“Tapi kak, itu Iphons 13, mahal sekali!”
“Kan sudah kakak bilang, soal uang jangan khawatir, kakak sudah dapat gaji yang banyak dari bos kakak!”
Rani kebingungan dengan kakaknya sekarang, tidak biasanya kakaknya mau menghamburkan uang seperti ini, biasanya dia akan selalu berhemat. Berapa sebenarnya gaji kakaknya itu, ketika ia bertanya kakaknya itu berkata, “Rahasia dong, yang pasti cukup untuk membuat Rani bahagia..”
‘Apakah karena kakak menolong anak seorang miliarder jadinya mendapat sangat banyak uang ya? Pasti miliarder itu sangat kaya..’ batin Rani.
\=\=\=\=
Ini novel pertama aku Si Cumi Putih, jadi mohon berikan dukungan berupa Like, saran dan masukan di kolom Komentar, serta agar tidak ketinggalan jadikan novel ini Favorit-mu.
mending sistem seperti semula thor
lebih bagus