Kisah seorang cucu yang relah mengorbankan mahkotanya demi menyelamatkan nyawa sang nenek.
Rindu nama gadis itu, dia harus bertemu dengan seorang pria yang sangat kejam dan juga di takuti di kota itu.
Apa yang akan terjadi berikutnya yuk mari ikuti kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon akos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. SELAMAT JALAN NENEK SULIS.
"Tenanglah Dek Rindu, kami akan melakukan semampu kami. Dan itu tadi, teruslah berdoa semoga kita mendapat hasil yang terbaik," Dokter Roy menepuk pundak Rindu.
Setelah Dokter Roy menutup ruang operasi. Rindu Melangkah menuju kearah kursi panjang yang terletak di depan Ruang operasi.
Gadis cantik itu tertunduk dan mengusap wajahnya dengan sangat kasar.
"Ya Tuhanku, lancarkalah jalanya operasi nenekku. Berkatilah para tenaga menis yang bekerja di dalam sana, dan berilah kekuatan pada nenekku untuk menjalani semuanya agar beliau kembali pulih seperti sedia kala, Aamiin," Kembali Rindu mengusap kasar wajahnya.
Tidak lama kemudian lampu indikator pada ruang operasi menyala menandakan kalau pembedahan sudah di mulai.
Perasaan Rindu pun mulai berkecamuk antara takut, panik, gelisah dan was-was.
Gadis belia itu berdiri dan berjalan mondar-mandir di depan pintu ruang operasi sambil meremas-remasi jari-jarinya saling bergantian.
"Nek bertahanlah, Rindu sayang Nenek," Hanya kata-kata itu yang sering terdengar dari bibir mungilnya.
Empat puluh menit kemudian lampu indikator didepan ruang operasi pun padam. Menandakan operasi sudah usai.
Rindu melangkah dan berdiri tepat di depan pintu ruang operasi.
Tidak lama kemudian, daun pintu ruang operasi pun sedikit demi sedikit mulai terbuka.
Tampak Dokter Ryo yang pertama kali keluar dari dalam ruangan itu.
Wajahnya pucat di penuhi dengan keringat dingin. Ada kesedihan mendalam terpancar pada wajah Dokter muda itu.
"Dok!, bagaimana keadaan Nenekku," Rindu yang saat itu sudah tidak sabar untuk mendengarkan kabar terbaru Neneknya.
Dokter Ryo menatap lekat pada Rindu sebelum dia menjawab.
"Maaf Dek Rindu, Kami sudah melakukan yang terbaik tapi sayang Tuhan berkehendak lain. Sekali lagi kami minta maaf," Dokter Ryo tertunduk dengan penyesalan begitu mendalam.
Seketika itu juga Rindu menjatuhkan tubuhnya diatas lantai. Air matanya kembali menetes membentuk bola-bola kecil diatas tegel.
"Nenek.......!,Ya Tuhan, kenapa Engkau setegah ini padaku?. Satu-satunya yang tersisah di hidupku malah Engkau ambilnya. Kenapa tidak sekalian saja Engkau mencabut nyawaku ini untuk menyempurnahkan segala penderitaanku," Rindu bersujud dan memukul-mukul lantai rumah sakit.
"Kamu jangan berkata seperti itu Dek Rindu. tidak baik!. Iklaskanlah agar arwah Nenekmu bisa tenang dialam sana. Aku tahu kamu sangat menyayangi Nenekmu tapi Tuhan lebih lagi menyayanginya di banding siapapun," Dokter Ryo mengangkat tubuh Rindu agar berdiri dan tidak menyakiti dirinya sendiri.
Lama Rindu terdiam hingga dia dengan langkah gontai masuk dalam ruang operasi untuk melihat jasad Neneknya di temani Dokter Ryo.
Hampir dua puluh menit Rindu menatap wajah Neneknya tanpa berkata apa-apa hingga pihak rumah sakit menutup sekujur tubuh Neneknya menggunakan kain kafan.
Jasat Nenek sulis di bawa keruang mayat untuk di kramasi menurut tata cara umat muslim sebelum di bawa ke pemakaman.
Dua bulan setelah pemakaman neneknya, Rindu mulai melakukan aktifitas seperti biasa walau hatinya masih di rundung kesedihan atas berpulangnya Nenek Sulis ke pangkuan Ilahi.
Rindu yang kini sudah bersiap-siap keluar rumah untuk mencari pekerjaan tiba-tiba merasakan sakit kepala dan mual-mual yang begitu luar biasa.
Rindu berlari kekamar mandi dan memuntahkan seluruh isi dalam perutnya.
"Apa yang terjadi denganku ini?, Kenapa tiba-tiba kepalaku sakit dan rasa mual terus saja menderaku?, Apa Aku sakit?, atau salah makan?," Rindu memijiti kepalanya dan keluar dari dalam kamar mandi.
Rindu membaringkan tubuhnya diatas pembaringan sebelum melanjutkan niatnya untuk mencari pekerjaan.
Hampir 30 menit gadis manis itu menetralkan perasaannya hingga sedikit demi sedikit dia bangun dari tempat tidur dan melangkah kembali kearah kamar mandi untuk membasuh wajahnya yang terlihat kusam.
Rindu mengambil tas miliknya dan bergegas keluar rumah.
Rindu tak lupa mengunci daun pintu sebelum memantapkan langkahnya keluar dari pekarangan.
"Bismillah, Ya Tuhanku, lancarkanlah segala urusanku hari ini," Rindu mengusap wajahnya kemudian melangkah.
Rindu terus melangkah menjauh dari kos sambil menggendong tas di pundaknya.
Ijaza SLTA dan surat-surat penting sengaja dia bawa untuk memudahkan dirinya bila ada perusahaan nantinya yang membuka lowongan kerja.
Tidak lama kemudian kini Rindu berdiri di depan sebuah perusahaan raksasa. Matanya tak henti-hentinya menatapi bangunan megah itu.
"Semoga ada lowongan kerja di sini buatku," ujarnya sambil melangkah menuju pos satpam.
"Pak, Apa perusahaan ini membuka lowongan kerja untuk tamatan SLTA," tanya Rindu pada seorang satpam yang saat itu sedang asyik memainkan smart phonenya.
Pak satpam seketika menghentikan kegiatanya dan sedikit mengangkat wajahnya menatap Rindu.
"Tadi adik bilang tamatan Apa?," tanya pak satpam pada Rindu.
"Tamatan SLTA pak," jawab Rindu.
Seketika pak satpam itu tertawa terbahak-bahak.
"Ha ..ha ...ha!. Mana ada dek, perusahan besar seperti ini menerima pegawai hanya tamatan SLTA. Biarpun ada pasti hanya jadi cleaning service atau pekerja rendahan seperti itu," Pak satpam sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Bagiku tidak ada masalah pak. Asal Aku bisa kerja, Aku sudah bersyukur apapun itu," jawab Rindu tegas.
"Baiklah tunggu sebentar, Aku akan menghubungi kepala cleaning servicenya siapa tahu mereka masih membutuhkan tenaga cleaning service sepertimu," ujar pak satpam sambil memainkan handphone dan mencari sebuah nama di daftar kontak.
Rindu hanya bisa mengangguk sembari tersenyum manis.
Tidak lama kemudian sambungan handpone pak satpam dengan kepala cleaning service pun terjalin.
"Begini Bu, disini ada seorang perempuan muda berijazakan SLTA ingin mendaftar sebagai cleaning service. Apa Ibu kepala masih membutuhkan tenaga kerja di bagian itu?," tanya pak satpam pada Ibu kepala cleaning service.
"Kebetulan sekali pak Joko, Kami memerlukan seseorang untuk menggantikan posisi Shanty yang pulang kampung untuk menikah. Kalau begitu, antar dia ke ruanganku biar bisa Aku interview sebelum Aku memutuskan layak tidaknya dia bisa bekerja di perusahaan ini," balas seorang perempuan dari ujung telepone milik pak satpam.
"Baik Bu, Aku akan segera membawanya untuk menghadap Ibu," ucap Pak satpam dan memutuskan jalinan telephonenya dengan Ibu kepala cleaning service.
"Ayo Dek!, Ikut bapak, biar bapak antar Ade menemui Ibu kepala cleaning servicenya," Ajak Pak satpam itu pada Rindu.
"Terima kasih banyak pak," Rindu mengekori Pak satpam dari arah belakang menuju ke pintu utama perusahaan F&R.
Mereka berdua terus melangkah masuk kedalam hingga berhenti disebuah ruangan bagian paling belakang dari perusahaan besar itu.
Pak satpam mengetuk daun pintu beberapa kali hingga terdegar sautan dari dalam ruangan itu.
"Masuk, pintunya tidak di kunci,"
Pak satpam memtar gagang pintu dan mendorongnya sedikit demi sedikit.
"Ayo masuk," ajak pak satpam pada Rindu yang saat itu sedang berdiri di belakangnya.
Rindu hanya mengangguk dan mengikuti pak satpam dari arah belakang.
gak cocoklah jadi pemeran utama wanita