Disarankan untuk membaca novel sebelumnya "Jodoh Sang Dokter Duda" karena disana ada silsilah seluruh keluarga ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon harsupi fakihudin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
"Hanan, coba tengok. Alana lagi ngapain. Kasihan kalau nggak dibangunin, ntar nggak makan siang" Ucap Sifa
"Iya ma"
Hanan berjalan kedalam kamar, yang biasa dipergunakan untuk istirahat Sifa.
Sifa menoel baby sitternya "Ras, yuk turun"
-
Dikamar
Hanan duduk disebelah Imran tidur. Ia mengusap pelan Imran "Obatmu selalu Alana. Aku yang papamu saja seperti nggak keanggap"
Hanan berpindah memperhatikan wanita yang menarik perhatian putranya. Matanya cekung seperti kurang tidur. Badan krempeng seperti kurang makan "Apa kiranya dia terkena gizi buruk"
Tangan Hanan menjulur ingin membangunkan Alana, tapi tiba tiba Alana menggeliat mengganti posisi tidur. Ia telentang, dan matanya melek
Hanan langsung menarik tangannya sendiri takut dikira modus
Alana terdiam bingung tidur dimana "Ini dimana ya... " Pertanyaan ini tidak untuk siapa siapa
"Ini direstoran" Jawab Hanan, meskipun tidak ditanya
Jawaban tersebut membuat Alana terduduk
"Mau makan sekarang?" Tawar Hanan
Alana mengangguk "Iya, aku lapar"
Hanan keluar mengambilkan nasi dan lauk yang ada dibaki
Hanan masuk kembali, namun orang yang ingin makan masih terduduk sambil mengumpulkan nyawanya yang masih terserak
"Bersihkan dulu wajahnya. Jam istirahat hampir habis"
Alana langsung mendelik "Hah, benarkah?"
"Iya sudah jam setengah 1"
"Oh"
Alana kebelakang membersihkan wajahnya biar tidak kusut. Tidak lupa menguncir rambutnya agar tidak acak acakan
Alana berdiri didepan Hanan "Kakak"
Hanan mendongak "Oh, Ini nasimu, mau makan dimana?"
"Sini aja, sambil jagain Imran"
"Ah baiklah ini" Hanan meletakkan baki tersebut diatas paha Alana
"Terima kasih" Ucap Alana
"Tumben"
"Iya makanlah biar kenyang" Hanan merebahkan tubuhnya disamping Imran "Semalam aku tidak bisa tidur" Ucapnya tiba tiba
Alana melirik sambil menyuapkan diri dengan tangan yang berlumuran kecap "Kenapa?"
"Nggak tau"
Hanan ingin menjelaskan, tapi takut Alana salah terima, bisa bisa Hanan digulung kaya telor gulung yang dijual didepan sekolah sekolah SD
Hanan bangun. Melihat Alana makan lama dan kesusahan memakan ayam, akhirnya Hanan berinisiatif membantu
Hanan mencuci tangan, lalu mengambil daging ayam, dan mulai menyobek nyobek jadi sobekan kecil kecil. Habis itu, ia cuci tangan kembali
Hanan duduk kembali seperti tadi,
"Kakak tidak makan?"
"Tumben tanya"
"Aku sudah tadi, makanlah" Hanan mengambil ponsel, lalu memotret Imran "Haha, Imran tambah bulet pipinya"
"Kan anak mahal dia" Saut Alana
"Maksudnya?" Hanan masih sibuk dengan memotret motret
"Ya susunya aja produk terbaik. Sebulan, Imran bisa ngehabisin 4 kilogram susu formula"
"Iyakah" Hanan menghentikan kegiatannya "Terus, stoknya masih ada nggak dirumah?"
"Nggak ada. Cuma itu" Tunjuk Alana pada box susu yang ada diatas meja
"Baiklah, ntar pulang kita belanja"
"Imrannya"
"Ya biarin sama baby sitternya. Ada mbaknya yang menjaga kan?"
"Iya, tapi apa tidak terlalu lama"
"Memangnya belinya dimana? sampai makan waktu yang lama"
"Biasanya kalau ditoserba, mata kan keluyuran ingin ini dan itu"
"Ya nggak apa apa kalau duitnya cukup"
"Itu namanya nggak mikirin anak. mikirin egonya sendiri"
Hanan tersenyum, ia memutuskan jangan diteruskan pembicaraan ini, takut panjang dan lebar "Makannya sudah belum?"
"Sudah, ini mau cuci tangan"
-
Mereka sudah kembali kerumah sakit
Alana diminta Hanan untuk mengikuti kegiatan menghabiskan hari ini
Alana mulai memperhatikan hal sekecil apapun dilakukan oleh perawat yang membantu Hanan, diruang periksa Hanan
Setelah pasien keluar "Alana sudah bisa menggantikan mbak Laila?" Tanya Hanan tiba tiba
Alana terdiam sebentar, lalu menjawab "Iya dok saya bisa"
"Baiklah mbak, tinggalkan kami berdua. Biar Alana yang membantu saya" Hanan meminta Laila untuk meninggalkan ruangan ini
"Baik dok"
Sekarang, tugas Alana menggantikan perawat yang biasa membantu Hanan
Pasien sudah dipersilakan berbaring diatas bed periksa oleh Hanan
Alana mulai praktik memplorotkan celana pasien sebatas bulatan perut. Lalu dibawah perut, ia selipkan selimut untuk menghindari kotor dari gel yang akan diusapkan pada perut besar pasien
Alana sudah melakukan dengan baik
-
Beberapa bulan kemudian, Alana sudah selesai magang. Ia hanya menunggu sidang
Rumah tangga Hanan dan Alana biasa biasa saja
Tidur terpisah, sibuk dengan dunianya masing masing
Hanan mulai berfikir untuk membangun kontrakan, yang ada disebelah rumahnya. Daripada tanah nganggur, ia berinisiatif untuk menambah penghasilan, agar Alana yang mengurus setelah kontrakan ini jadi
Hanan sudah menerima Alana sebagai istrinya. Hanan tidak pernah mendapat keluhan dari Alana meskipun ia melihat, jempol tangan Alana terlihat bengkak seperti terkilir
"Ibu jarimu kenapa?"
"Sakit"
"Sakit kenapa, itu terlihat besar dan merah. Kamu terkilir?"
Hanan ingin memegang "Coba lihat"
"Ih jangan sakit"
"Nanti kamu nggak bisa tidur kalau dibiarkan bengkak" Tangan Hanan masih menjulur
"Tapi sakit jangan dipegang"
"Nggak, aku hanya ingin melihat"
Alana akhirnya membiarkan Hanan memegang tangannya. Hanan memperhatikan dan memegang jempol Alana
"Sakit !!! jangan dipegang" Teriaknya
"Jarimu hangat. Sebentar, aku ambil minyak zaitun" Hanan berdiri, dan mengambil minyak tersebut
"Mau diapain"
"Ya diolesin" Hanan sudah mendekat
"Sini in, biar aku olesin sendiri" Tangan Alana meminta minyak dari tangan Hanan
"Jangan keras kepala Alana... Sini biar aku urut"
"Ih, nanti tambah bengkak"
"Enggak. Kau ingin jarinya sembuh apa nangis ntar malam"
Alana terdiam "Tapi jangan keras keras"
"Ya"
Hanan mulai mengolesi minyak pada jempol Alana. Tadinya pelan, lama lama agak keras.
Alana menjerit "Kak kak....!!! Udah...!! sak kittttt !!!" Tangan Alana menabok nabok lengan Hanan. Karena Hanan masih mengurut jempol Alana, Alanapun membalas. Ia mencubit lengan Hanan dengan keras
"Adddaaaa" Hanan melepas tangan Alana
Mereka saling tatap. Alana terlihat takut. Ia takut ditelan oleh Hanan, karena pandangan tajam Hanan yang menakutkan "Maaf" Alana menunduk
Tes
Alana mengelap airmatanya yang jatuh sendiri
Tangan Hanan menjulur, mengusap kepala Alana. Alana mendongak sambil meneteskan airmata
"jempolmu kenapa?" Tanyanya pelan
"Digigit"
"Digigit siapa?"
"Biasa"
"Kok biasa"
"Imran yang gigit"
"Kok bisa seperti itu" Hanan terdiam mencerna perkataan Alana "Biasa. Berarti sering menggigitnya" Gumamnya "Mana lagi "
"Mana apanya?"
"Yang digigit"
"Ih mau ngapain, banyak"
"Coba aku lihat"
"Ih malu" Alana menolak diperiksa oleh Hanan
Hanan berdiri terdiam, kemudian membopong Alana kekamarnya
Ceklek
Hanan mengunci pintu "Sekarang tunjukkan, mana lagi yang digigit"
Alana duduk, lalu menarik roknya keatas
Awalnya paha terlihat mulus dan putih, sampai Hanan sedikit kesusahan menelan ludahnya. Begitu ditengah tengah, warna merah kebiruan seperti lebam itu banyak disana. Hanan duduk dan memegang paha tersebut "Ini bekas gigitan Imran?"
"He em" Alana langsung menutupnya kembali
"Kok bisa"
"Gigi Imrankan tumbuh, mungkin lapar melihat pahaku. dikira paha ayam kali"
"Ahahaha" Hanan tertawa membuat Alana merasa aneh. Kali ini baru melihat Hanan menampakkan deretan gigi yang rapih didepan Alana
BERSAMBUNG.....
saya suka saya suka saya suka