NovelToon NovelToon
Melahirkan Di Rumah Mertua

Melahirkan Di Rumah Mertua

Status: tamat
Genre:Romantis / Patahhati / Tamat
Popularitas:605.6k
Nilai: 4.8
Nama Author: Evi Listriani

Tulisan saya ini pernah dimuat di KBM dengan pembaca lebih dari empat belas ribu orang. Kisah tentang perempuan yang melahirkan di rumah mertua dengan segala suka dukanya.

Konfliknya menarik, dikemas dengan bahasa yang baik dan visualisasi mendalam sehingga pembaca seolah-olah masuk dalam cerita dan merasakan emosi tokoh dalam cerita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evi Listriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Katanya Aku Kurus

#Melahirkan_di_Rumah_Mertua

#Part7

"Kamu kurus banget, Ning," ujar Kak Lisna. Dia masuk tanpa mengucapkan salam, tanpa menanyakan kabar, langsung mengomentari bentuk tubuhku.

"Eh, ya, Kak." Aku mengulurkan tangan dan menyalaminya. Kak Lisna mengamati tubuhku dari ujung kaki hingga ujung rambut, jengah sekali aku dibuatnya.

"Masuk, Kak."

"Gak usah disuruh juga aku udah masuk, jangan sok jadi tuan rumah, ini juga bukan rumah kamu," sengitnya.

Loh, kalimatku yang mana yang menyatakan aku pemilik rumah ini? Apa aku yang baper atau kata-kata Kak Lisna memang berlebihan? Aku merasa tak enak hati, sakit.

Aku menyalami Gio, anak Kak Lisna. Dia menyambut uluran tanganku lalu menghempaskannya kasar dengan senyum mengejek. 'Anak kecil ko bisa seperti ini?' pikirku.

Daripada berdebat aku memilih masuk ke dalam kamar. Sebenarnya aku benci seperti ini. Selalu tak bisa membela diri saat orang-orang melakukan kekerasan verbal padaku, aku seperti kehabisan kata-kata dan tak punya ide untuk membalas. Entahlah, aku terlalu baik atau terlalu lemah, tapi yang pasti semua kata-kata kasar itu seolah menggerogoti tubuhku.

"Ning ada tamu ko malah ditinggal, gak sopan!" teriak Kak Lisna.

Aku keluar sambil menggendong Marisa. "Maaf, Kak." Hanya kata itu yang bisa kuucapkan.

"Ini anakmu, Ning?" Kak Lisna mengamati wajah bayiku dengan seksama. Aku sedikit memiringkan badan untuk menutupi Marisa dari pandangan Kak Lisna.

"Kamu hanya beruntung disayang Ibu karena punya anak cewe, padahal anakmu juga gak cantik-cantik amat," tuturnya.

"Anak itu kan anugrah Kak, laki-laki perempuan sama saja," jawabku.

Tiba-tiba terdengar benda jatuh di kamarku, aku menghampiri asal suara. Astagfirulloh ... tempat bedak Marisa jatuh, isinya berhamburan mengotori lantai. "Aduh ... kotor," ucapku spontan.

"Jangan lebay deh Ning, namanya juga anak kecil." Kak Lisna sama sekali tidak menegur Gio yang masuk ke kamarku tanpa izin, dan mengacak-acak barang-barang di kamar. Ternyata bukan hanya bedak yang tumpah, tisu dicabutinya, pakaian Marisa yang awalnya rapi pun menjadi berantakan.

"Mah, ini bagus deh," ucap Gio sambil menunjukkan bantal kecil berbentuk hati yang biasa aku pakai untuk menahan lengan saat menyusui Marisa.

"Ya, ambil aja." Kak Lisna mempersilahkan Gio tanpa meminta izin padaku. Ah, gak bener ini, aku bisa tambah stres.

Aku duduk di atas kasur yang tergelar, pasrah dengan tingkah Gio yang usil. Tangannya tak mau berhenti memegangi semua barang di kamarku, aku menatapnya tajam saat mata kami bersirobok, tapi Gio malah mencelos, rese.

Kak Lisna sibuk mengomentari semua barang di kamarku, tanya harga, beli di mana, uangnya dari siapa, dan masih banyak lagi. Aku hanya menjawab tanpa minat.

"Ning, orang habis lahiran itu harus pinter-pinter jaga diri. Kamu habis lahiran kerempeng begini, Rafi selingkuh baru tahu rasa." Kak Lisna berkata dengan ringannya.

Dia bercerita kalau tetangganya dicerai setelah empat puluh hari melahirkan karena gak bisa merawat tubuh, terutama organ kewanitaannya. Saat melahirkan wanita itu mengalami robekan dan pihak keluarga meminta bidan untuk tidak menjahitnya. Dibiarkanlah robekan tersebut sembuh sendiri tapi, dalam proses penyembuhannya si perempuan tidak bisa menghindari pekerjaan yang harus dia lakukan. Memasak, mencuci, mengasuh bayi atau mungkin mengangkat benda-benda berat hingga ada sesuatu menyembul dari organ intimnya yang membuat suaminya tak puas. Dan berakhir dengan perceraian.

Aku bergidik ngeri. Bagaimana denganku? Di sini aku sudah bekerja layaknya perempuan normal di hari ke tiga pasca melahirkan. Mungkinkah akan berpengaruh juga pada kewanitaanku hingga Bang Rafi akan kecewa? Aku tidak mendengar lagi kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Kak Lisna. Aku mendadak pusing, telingaku berdengung hebat.

Aku memeluk Marisa dengan kuat, semakin kuat hingga bayiku bersuara, "e ... ehee .... "

"Ning, itu bayimu kesakitan!" Kak Lisna berteriak dan segera mengambil Marisa dari tanganku.

Aku menangis sejadi-jadinya. Menarik-narik rambutku. "Aku gak mau ... gak mau ... gak mau punya anak! Huuu ... huuu ... huuu."

Pikiranku kacau. Bagaimana kalau nanti Bang Rafi meninggalkanku, Marisa diambil Ibu, dan aku akan mereka buang begitu saja?

"Aaahhh....!" Aku membanting gelas disampingku hingga pecah berhamburan.

Kak Lisna segera berdiri, menarik tangan Gio dan keluar dari kamar dengan menggendong Marisa. "Tolooong ... tolooong...!" Masih kudengar dia berteriak mencari pertolongan.

Aku semakin kalap, apapun yang ada dihadapanku aku tarik dan ku lempar sekuatnya. Hingga tenagaku habis dan aku menjatuhkan diri di atas kasur, meringkuk dan menumpahkan air mata sampai tandas.

Tak lama, Kak Lisna datang bersama Mbak Titin dan seorang Kakek berbaju koko biru. "Itu Kek, Ning kesurupan." Kak Lisna menunjukku.

Kakek tersebut meminta satu gelas air putih pada kak Lisna kemudian mulutnya berkomat-kamit, entah apa yang dia baca, mungkin ayat suci Al Quran.

"Ada jin yang menganggu, seneng dia sama si Neng ini," jelas Si Kakek.

"Tuh, bener kan kata saya. Ning itu dideketin jin makanya suka kelihatan ngelamun dan saya sering lihat dia nangis sambil gendong Marisa, padahal di rumah lagi gak ada siap-siapa," tukas Mbak Titin.

'Ya, jinnya Ibu, Kak Lisna dan tetangga nyinyir yang gak punya empati,' rutukku di dalam hati.

"Tolong diusir jinnya, Kek," pinta Kak Lisna.

Si Kakek mendekatiku, menyodorkan air minum. Aku menengguknya sedikit. Dia memegang kepalaku dan membacakan doa, entah apa. Tapi rasa berat di kepalaku perlahan sirna. Ditumpahkannya sedikit air di dalam gelas pada tangan kirinya kemudian dia usapkan ke ubun-ubun hingga wajahku.

"Jangan sering ngelamun Neng, jangan kosong. Setan dan jin suka sekali pada orang yang lalai. Apalagi kamu baru melahirkan," ucap Kakek itu.

"Walaupun belum boleh sholat dan mengaji, tapi kamu harus tetep ingat sama gusti Allah. Dzikir ... baca Subhanalloh, Walhamdulillah, Laa ilaaha illallah, Allahu Akbar," imbuh Si Kakek.

Betul, selama ini aku lalai. Aku merasa sendiri, padahal Allah selalu ada bersamaku. Tapi, bukab karena jin aku seperti ini. Aku tertekan di rumah ini, aku harus pergi.

Saat Bang Rafi pulang nanti aku akan mengajaknya untuk kembali ke kontrakan, toh secara fisik aku merasa mulai sehat dan bisa mengurus bayiku sendiri. Di sini pun sebenarnya Ibu tak banyak membantu.

Si Kakek yang tak ku tahu namanya itu pamit bersama Mbak Titin, aku yakin setelah ini namaku akan menjadi trending topik dengan judul Mantu Bu Sukma kesurupan.

1
cookie_23
Heh abis lahiran makan nasi garam itu yang kau bilang makan, mending di rumah orang tua sendiri walaupun miskin pasti akan dicarikan untuk anak tercinta
Lilis Yuliningsih
Mengapa sih jadi ada selingkuh ? lebih baik sudah saja sampai disini buat keluarga mereka samawa karena Ning bisa membuat Rafi jadi lebih baik.... aur selingkuh ,aut pelakor🏃🏃🏃🏃
🔵✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ ༄⃞⃟⚡ˢ⍣⃟ₛ ⏤͟͟͞RAsthee
wah ini ga di lanjut lagi?
Olive Livi
Dih org di tumah lo juga malah makannya mi mulu, sehat lo.. buat apa kaya tapi pelit
Olive Livi
Amit amit ya allah, mertuanya minta di ruqyah
Adi Ty
uajsisi
Adi Ty
apap
Nova Hasibuan
lanjutannya mana
Nova Hasibuan
bagus
Nova Hasibuan
ok
SNF
tuhkan bpknya pasti tau apa yg lagi terjadi
Sri Wahyuni
ia emang repot klo ngikutin ortu jadul.
anakku sekarang lahiran aku bebasin makan segala macam yg bergizi.😁
Mawar
kok gak ada lanjutannya kak?
Indah Taa
sama persis yg aku alami, bahkan aku pipis/bab/mandi dibantu sama suami saja dimarahi ibu mertua.
sarapan jam 10, makan sore jam 3, setelah jam 5 sore udah gaboleh makan.
makan cuma boleh nasi + sayur rebus (hambar gak ada rasa sama sekali).
gak boleh tidur siang, pdhl mlm harus melek nemenin adik.
bb lgsg anjlok 13kg selama 40hari ikut mertua, mau pulang kerumah setelah 7 hari lahirnya dedek tidak boleh. harus nunggu 40hari.
40 hari yg menyiksa, setelah skrg dirumah aku paling anti kalau diajak kerumah mertua, gak mau lagi. kecuali kesana pagi terus sore pulang
Indra Fiantikara
haduuuu udah semangat2 bc gantung pas seru lagi,thor semangat up dong😊
elisabeth sembiring
seru kayaknya
Yati Bae
othoure orangjawa ya kok adat melahirkan sama kaya di kampungku sama persis klo habis lahiran duduk di awu anget bungkus daun
Retno Ayu Puspitasari
kelanjutan nya mana thor
Nelli Susilawati
lanjjoit kk
Sulastri
lanjut kan
N@t@ D€ ©o©o: maaf mengganggu klo sempet mampir ya ke novel q judulnya

"Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)"

thanks 🌸🌸🌸🍀🍀🍀🍀
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!