NovelToon NovelToon
Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar

Status: tamat
Genre:Contest / Cintapertama / Badboy / Chicklit / Tamat
Popularitas:972.3k
Nilai: 5
Nama Author: el nurmala

Annisa tidak pernah menyangka akan hidup sebatang kara di usianya yang masih remaja. Ia menjalani kehidupan baru bersama keluarga Adisurya. Sebuah keluarga kaya yang memiliki dua anak bernama Rayhan dan Raydita.
Suatu hari ada yang mengenali Annisa sebagai Nyonya Adisurya di masa remaja. Satu pernyataan yang mulai mengungkap cerita masa lalu yang ditutupi keluarga itu.


Siapa sebenarnya Annisa?

Simak kisah selengkapnya ya...
Selamat membaca.

-----------
Cerita ini hanya fiksi. Jika ada nama, tempat, atau kejadian yang sama, itu hanya kebetulan semata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon el nurmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

tiba di Villa

Happy reading...

🌿

Mobil yang dikemudikan Mang Asep tiba di depan pintu gerbang yang cukup besar. Seorang pria membukakan pintu dan mobil kembali melaju.

Dari dalam mobil, Nisa tak hentinya merasa takjub melihat pemandangan halaman villa keluarga itu. Di bagian depan, kolam ikan yang sangat besar dengan dua angsa yang berenang di atasnya menyambut kedatangan mereka. Seulas senyum terukir manakala Nisa melihat pemandangan itu.

"Eh, malah melamun. Ayo bantu aku angkatin ini," gerutu Hani.

"Maaf, Mbak."

Annisa segera turun dan membantu Hani dan pelayan lainnya menurunkan barang bawaan. Sekilas ia melirik pada keluarga angkatnya yang berlalu dengan gembira.

"Maaf, Nyonya. Ini ditaruh di mana?" tanya Hani.

"Yang itu di kamar saya. Kalau yang dibawa dia, itu punya Ehan. Taruh di kamarnya," sahut Rianti dengan gaya angkuhnya.

"Baik, Nyonya."

Hani melangkah menuju kamar Tuan dan Nyonya Adisurya tanpa memperdulikan Nisa. Sementara itu, Nisa bingung harus mengarah kemana. Ia belum tahu di mana letak kamar Rayhan.

"Sstt! Sini, itu tas gue." Annisa segera menoleh dan tersenyum seraya membawa tas itu ke kamar Rayhan.

"Ini, Den." Ujarnya sambil meletakkan tas di dekat ranjang.

"Eits, tunggu. Bawa ini ke ruangan itu, awas kalau sampai jatuh. Bisa pecah keramiknya, cepetan." Pintanya sambil menyodorkan barbel seberat 10 kilogram pada Nisa.

Dan benar saja, hampir saja benda itu terjatuh. Annisa tidak menyangka akan seberat itu. Apalagi bukan hanya satu, melainkan dua barbel yang harus dibawanya bersamaan.

"Cepetan. Aku nggak mau tahu, bawa itu dikedua tanganmu, sekarang." Titahnya.

Nisa hanya bisa mengangguk pasrah. Ia menatap nanar barbel yang harus dibawanya. Jangankan untuk mengangkat tinggi-tinggi, ia bahkan tak bisa mengangkatnya dari lantai jika harus dua sekaligus. Alhasil, Nisa mendorong sambil membungkuk.

Punya akal juga dia, batin Rayhan. Pemuda itu menahan tawa melihat Nisa yang mulai kewalahan karena kedua barbelnya menggelinding tak searah. Tawanya pecah saat Nisa yang sibuk mengarahkan barbel itu berkali-kali hampir tersungkur.

Dengan wajah merona, Nisa mencoba melanjutkan aksinya. Mengarahkan barbel-barbel itu ke kamar yang ada di ujung sana.

"Seneng banget lo, Ray? Bagi-bagi dong," ujar seorang pemuda seusia Rayhan sambil mendelik heran pada Nisa.

"Adududuh..." Nisa mencoba mengejar salah satu barbel yang menggelinding ke arah tangga. Bertepatan dengan seorang pemuda yang menyembul dan menahan barbel itu dengan sebelah kakinya.

"Huft, syukurlah." Nisa mengusap dadanya dengan posisi hampir bersimpuh.

"Terima kasih," ucap Nisa pelan. Baru saja ia hendak meraih barbel itu, pemuda tadi mendorong berlawanan arah dengan kakinya dan mau tak mau Nisa kembali mengejarnya.

"Good job, Gas." Rayhan mengacungkan kedua jempolnya sambil terkekeh. Seorang temannya ikut terkekeh sementara pria itu hanya menyeringai sinis, membuat wajah Nisa sangat merah menahan malu.

"Jadi nggak kempingnya, Ray?"

"Jadi dong," sahut Rayhan.

Ketiga pria muda itu masuk ke dalam kamar. Sekilas pemuda tadi menoleh pada anak perempuan berpenampilan sederhana yang sedang melanjutkan mendorong barbel-barbel itu sampai di tujuan.

***

Ada rumah sederhana di bagian depan villa itu. Rumah yang biasa digunakan sepasang suami istri penjaga villa tersebut. Yakni Bi Marni dan Mang Dayat, begitu biasa mereka disapa.

"Neng, ayo masuk. Ada goreng singkong sama teh hangat, enak loh dimakan dingin-dingin begini."

Annisa yang sedang asik menyaksikan Mang Asep membantu suami bibi tadi memberi makan ayam-ayam yang beragam jenisnya hanya mengangguk pelan. Namun karena dipanggil lagi, Nisa akhirnya menghampiri.

Tanpa diketahui Nisa, Mang Asep menatap sendu punggungnya. Sesaat pria itu terpaku dan kembali sadar karena teguran Mang Dayat.

"Jangan melamun sore-sore begini, pamali. Sudah besar ya dia," ujar Mang Dayat. Asep terperanjak dan menatap heran pada Mang Dayat.

"Sekali lihat juga Emang sama Bibi sudah tahu kalau itu dia. Syukurlah jika akhirnya Agan memutuskan untuk merangkulnya." Ujarnya lagi tanpa menoleh. Membuat Asep hanya bisa menunduk tanpa mampu berkata-kata.

"Teh Asih sudah meninggal, Kang." Ujarnya pelan.

"Innalillahi wa innailaihirojiun, pantas saja. Selalu terselip berkah di setiap ujian yang diberikan Gusti Allah," sahut Mang Dayat. Kali ini Asep mengangguk.

"Istrimu kenapa tidak ikut?"

"Dia pulang dulu, Kang. Mengurus semuanya di kampung. Kasihan almarhumah Asih kalau sama sekali tidak ada tahlilan. Dia sudah berjasa besar selama ini," sahut Asep.

Pria yang sudah mulai berumur itu hanya tersenyum tipis sambil menggangguk pelan.

Menjelang malam, mereka mulai disibukkan dengan acara makan malam bersama. Selain keluarga Adisurya, ada juga dokter Rika ibunda Ghaisan (Agas) yang merupakan sahabat Adisurya dan juga Rianti.

"Tante, nginep dong. Tidur sama Dita aja ya," pinta Dita.

"Maaf, Sayang. Tante harus piket pagi besok. Lain kali ya," sahut Rika.

"Iya deh." Raydita terlihat kecewa.

"Dit, katanya kamu mau ikut kemping. Jadi nggak?" tanya Raka, sahabat Rayhan.

"Pengen sih, tapi males kalau harus ngajak dia," tunjuk Dita pada Nisa dengan ujung matanya.

"Ajak saja. Lumayankan," sahut Rayhan dengan alis yang terangkat dan senyum penuh arti pada Raka.

"Lumayan apanya, Han? Tante dengar katanya papamu mengangkat dia jadi anak," tanya Rika.

"Oh ya? Saudara Lo dong, Ray." Raka tersenyum menggoda.

"Saudara apanya? Lumayan lah Tan, ada yang bisa disuruh-suruh. Itu kan gunanya pembantu," seringai Rayhan.

"Jangan begitu ah. Siapa nama kamu?"

"Nisa, Nyonya." Sahutnya pelan.

"Jangan panggil Nyonya. Panggil saja Bu Dokter," sahut Rika.

Belum sempat Nisa menjawab, Rianti yang baru tiba di ruang makan meminta Nisa dan Hani meninggalkan ruangan tersebut.

"Saya mau Bi Marni yang menghidangkan makanan. Kalian membantu di dapur saja, terutama kamu. Ish, ketularan udiknya nanti anak-anak saya." Decihnya.

Nisa dan Hani mengangguk hormat dan berlalu meninggalkan ruang makan. Mereka berpapasan dengan Papa Adi di ambang pintu.

"Kamu juga makan ya." Ujarnya sambil mengacak pelan pucuk kepala Annisa.

Annisa tertegun mendapat perlakuan seperti itu. Seumur hidupnya, ini kali pertama ada yang memperlakukan dirinya sehangat itu, selain almarhumah sang ibu tentunya.

Apa mungkin begini ya, rasanya punya seorang ayah. Batinnya.

"Sudah sana ke dapur," usir Rianti membuyarkan ketertegunan Annisa. Gadis muda itu hanya bisa mengangguk pelan sambil mengulumkan senyuman.

"Aneh. Diusir kok malah senyum," gerutu Rianti pelan.

_bersambung_

 

Akankah Raydita mengajak Nisa ke tempat kemping?

Dan Rayhan, punya rencana apa ya kira-kira dia?

Nantikan episode selanjutnya ya...

1
machiato
bagusssssss
Dwi Handayani
amit², kaynya si Dita emang sekeluarga orangnya begitu semua ya, gak tau diri. si Rikok juga ngapain pake natap Annisa jengah, tlol banget, udh bagus Annisa bisa nerima si ditot itu.
Dwi Handayani
15 tahun Annisa emang hdup dlm kesulitan ekonomi, tapi dia berlimpah kasih sayang dan didikan yg tepat. kesuliatn slm 15 tahun tuh gak ada apa²nya rianti, dibanding dengan perlakuan burukmu yg hanya bbrapa hari itu.
Dwi Handayani
beraaaakkkk
Dwi Handayani
di bab berapa gitu, penulis bilang ini kisah nyata, bjir, ternyta beneran ada ya ibu segila ini. pantes gak punya ikatan batin, orang gak punya hati ternyata.
Dwi Handayani
owalah, jdi Nisa belum tau ya, dia cuma dengar bagian "anak Adisurya" aja. pantesannnn. mataku keblinger gini bacanya 🤭
Dwi Handayani
walahhh trnyta Adisurya juga g*blok
Dwi Handayani
anak polos, yg kurang kasih sayang, emang pasti akan snang saat tau ortunya masih hidup. jdi dia gak ada dendam²an
Dwi Handayani
seri ceritanya, kasian banget Nisa, dia dperlakukan scara gak adil sama ortunya. bahkan mnertku, Adisurya juga beneran ayah yg brngsek. dia tidak bisa menjamin ketenangan dn kenyamanan ank kandungnya sndiri.
Rahmaniar
suka banget ceritanya,ada sedih,gembira,perjuangan dan ada hikmah di setiap kejadian nya, terima kasih thor atas karya yang bagus ini,semangat selalu untuk berkarya.
Shan
udah dibaca berulang🤭, ini sdh ke tiga kali. makasih kak semua novel kakak bagus, enak dibaca 😍
Shan
suka sekali😍
Shan
kak,come back
akhirnya ceritanya tamat jga,,sya nungguin sampe gak berani buka cerita ini takut kecewa akhirnya happyending jga. makasih kak
Endang Sulistia
betul Raka..gercep juga si raka
Endang Sulistia
gak usah pacaran pacaran ya nis...
Endang Sulistia
sukurin
Rezqhi Amalia: permisi kak, siapa tahu kakak minat mampir dikaryaku yang berjudul 'Dipaksa Menikahi Suami Sahabatku'

terimakasih sebelumnya 🤗💐
total 1 replies
Sri Ariyanti
terima kasih kak el upnya. ceritanya bagus. ditunggu karyamu selanjutnya. sukses selalu
Sri Ariyanti
tq kak el upnya
Sri Ariyanti
up nya jangan kelamaan ya kak el. biar gak lupa jln ceritanya dan juga biar dapet feel nya. sukses dan selalu semangat
Sri Ariyanti
tq thor atas karyamu. suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!