Cerita berlatarkan negara luar
Meira seorang gadis berusia 21 tahun, ia tinggal bersama seorang ayahnya yang hanya tinggal sendiri karena kedua orangtuanya telah berpisah saat Meira masih berusia 7 tahun. Ibu Meira menikah lagi dengan seorang aktor terkenal, sementara Meira menjalani kehidupan seperti biasa bersama ayah nya yang hanya memiliki satu perusahaan kecil.
"Meira.. tolong teruskan perusahaan itu demi papa." ucap papa Meira, dan menjadi pesan terakhirnya sebelum ia meninggalkan putrinya untuk selamanya.
*
Suatu saat perusahaan mengalami penurunan drastis hingga Meira harus meminta pertolongan pada perusahaan besar yang di pimpin oleh pria dingin.
"Permohonan mu saya terima dengan satu syarat." ucap si pria itu.
"A-apa?"
"Menikahlah dengan ku."
Ucapan itu membuat Meira terkejut bagaikan di sambar petir di siang bolong. Namun rencananya terhalang oleh seseorang.
Simak yuk 👉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiechi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Keesokan harinya, seperti biasa Meira bangun di pagi hari dan mempersiapkan semuanya sendiri. Saat akan mengetuk pintu kamar papanya tangan nya seketika terhenti, mengingat bahwa papa nya telah pergi satu hari yang lalu. Meira menghela nafas beratnya dan perlahan memegang gagang pintu dan mendorongnya. Ia masuk kedalam kamar papa nya, suasana kehangatan seorang ayah masih ia rasakan ketika berada di dalam kamar tersebut.
Gadis itu tersenyum ketika melihat foto mendiang papanya yang masih terpajang rapi di sebuah meja. "Istirahatlah dengan tenang, terimakasih telah menjadi ayah yang baik untuk Meira." Ucap Meira sambil mengusap dan memeluk foto mendiang papanya.
5 menit Meira berada di kamar itu, ia kembali keluar dan bersiap untuk pergi ke perusahaan, hari ini Meira izin tidak datang ke kampus karena urusan perusahaan nya.
Hanya butuh waktu 40 menit untuk Meira sampai ke perusahaan nya, ia bergegas mengambil sebuah berkas dan kembali ke dalam mobil nya untuk menemui tuan Al. Meira mengemudi dengan kecepatan yang lumayan tinggi hingga ia tidak butuh waktu lama untuk sampai di perusahaan Yuanxian group.
"Bisa saya bertemu dengan direktur Alexi?" Tanya Meira pada resepsionis.
"Apa nona sudah membuat janji?"
"Belum."
"Maaf nona, tuan Al tidak menerima tamu sembarangan, harus ada janji terlebih dulu baru bisa menemuinya."
"Asshh..." Seketika raut wajah Meira berubah.
Ia membalikkan tubuhnya dan kembali masuk ke dalam mobil nya sambil memikirkan cara untuk menemui direktur Al.
Saat sedang berpikir, ia melihat direktur Al yang kebetulan baru datang bersama dengan asisten pribadinya. Meira yang merasa mendapatkan kesempatan itu langsung keluar dari mobil nya dan mengejar pria tampan namun kaku itu untuk mengajukan permohonan.
"Tuan Lexi. . ." Teriak Meira yang masih berlari.
Pria itu menoleh dan membalikkan badannya. Ia melihat seorang gadis yang sedang berlari ke arah nya, dan tanpa sengaja Meira tersandung hingga ia hampir terjatuh. "Aaaaahhh.... " Teriak Meira ketika hendak terjatuh.
Namun beruntungnya dia karena Alexi berada tepat di hadapannya dan berhasil menahan Meira yang hampir terjatuh. Menyadari akan semua hal itu, ia segera kembali berdiri dan membenarkan posisinya. "Maafkan saya tuan." Ucap Meira sambil membungkuk.
Tak ada respon yang dikeluarkan oleh pria bernama Alexi itu. Ia hanya menatapnya dengan tatapan datar. "Maaf nona, untuk apa tadi anda memanggil tuan Lexi?" Tanya Nino yang selaku asisten pribadinya.
"Maaf kalau saya lancang, saya ingin meminta pengajuan permohonan pada tuan Lexi." Ucap Meira yang masih belum sadar dengan wajah Nino.
"Tunggu.. apa anda wanita yang kemarin itu? Yang hampir manabrak mobil tuan?" Tanya Nino sambil menunjuk Meira.
"Aahhh.. iya kamu pria menyebalkan yang hampir menabrak mobil ku." Ucap Meira sambil menunjuk balik Nino.
"Urus wanita gak penting ini." Ucap Alexi sambil pergi meninggalkan mereka berdua.
"Hei . . Tuan tunggu..." Teriak Meira yang hendak mengejar direktu Al.
Niat Meira untuk mengejar Alexi di gagalkan oleh Nino yang menahannya. "Kau tidak boleh sembarangan masuk nona, apalagi mengejar tuan dengan cara yang seperti itu, silahkan pulang." Ucap Nino menyeret Meira.
"Yakk!!! Aku ada urusan dengan nya."
"Huh? Urusan apa yang kau maksud?"
"Ini.. aku harus meminta pertolongan nya, ku mohon izinkan aku berbicara dengan nya." Ucap Meira yang memohon pada Nino dengan menggunakan jurus wajah yang memelas.
"Aish.. apa kau tau, kau orang yang kesekian ratus yang menggunakan cara itu untuk mendekati tuan Lexi, sana pergi." Ucap Nino.
"Hei.. bisa-bisanya kau berpikiran seperti itu! Kalau gak percaya ini.. aku titipkan sama kamu tolong kasih ke dia." Ucap Meira sambil memberikan berkas yang ia pegang.
"Apa ini?"
"Kamu tidak perlu tau apa itu, cukup berikan padanya dan hubungi aku jika dia sudah memberikan keputusan."
"Terimakasih, permisi." Sambung Meira kembali yang membungkukkan badannya dan pergi meninggalkan perusahaan itu.
"Gadis barbar." Gumam Nino sambil memperhatikan langkah Meira yang perlahan semakin menjauh.
"Heh" Nino bergegas masuk ke dalam perusahaan itu dan menuju ruangan Alexi.
Tok tok tok . . . Nino mengetuk pintu ruangan atasannya dan langsung masuk tanpa menunggu persetujuan darinya.
"Apa dia gadis yang kemarin itu?"
"Benar tuan."
"Heh, gadis pemberani." Ucap Lexi mengeluarkan smirknya.
"Ada urusan apa dia kesini?"
"Dia memberikan ini untuk tuan baca."
Nino menyodorkan berkas yang ia dapatkan dari gadis itu.
"Kamu cek, apa isinya?"
"Baik tuan."
Nino mulai membuka berkas yang berada dalam genggamannya dan membacanya tanpa ada satu kata yang tertinggal. "Wow." Ia terkejut dengan isi dari berkas tersebut yang mengajukan sebuah permohonan untuk bekerjasama dan menstabilakan kembali perusahaannya.
"Perusahaan siapa?"
"NH group yang di pimpin oleh tuan Erland dan sekarang berpindah tangan pada putrinya, karena beliau meninggal satu hari yang lalu."
"Apa dia adalah putrinya?"
"Iya tuan."
"Gadis yang menarik." Ucap Alexi sambil menyeringai.
"Abaikan."
"Tapi tuan, bukankah ini akan sangat menguntungkan jika kita bisa bekerjasama dengan nya."
"Tunggu beberapa hari, saya ingin melihat bagaimana caranya dia memperjuangkan semuanya."
"Baik tuan, permisi."
Nino meninggalkan ruangan itu dengan rasa penasaran apa yang di rencanakan atasannya itu.
"Gadis unik, tangguh, pemberani tepat sekali dan ini akan menjadi sebuah permainan yang sangat menarik." ucap Alexi yang menatap intens sebuah berkas di hadapannya.
***
Bersambung. . .
katanya gadis pintar tapi kok bodoh
selalu bertindak tanpa pikiir terlebih dahulu
meski Meira udah 2 kali ke kantor Lexi ttp aja yang pertama kan dia hanya di bagian depanperusahaan