18+
Namanya Somalia Wardana, orang sering memanggilnya Somi. Tak sedikit orang mencibir namanya karena dinilai sama dengan salah satu negara miskin di dunia. Namun, ia tak kecewa, karena nama itu adalah nama pemberian Alm papanya saat bertugas di negara tersebut. Papanya hanya pulang membawa nama dan nama tersebut ialah satu-satunya pemberian untuk Somalia, Oleh karena, itu ia sangat menghargai nama pemberian mendiang papanya.
Pekerjaannya? Somi sibuk mengurusi pernikahan kliennya. Sebagai WO, Somi dituntut untuk profesional dalam menangani pernikahan para kliennya. Somi sibuk mengurusi pernikahan orang dari pada pernikahannya kelak.
Area terlarang!!! teruntuk penikmat halu belaka 😋 Siapkan hati kalian karena itu poin utamanya.
Mau tahu kisahnya bukan?
Nggak ada salahnya mampir dan menjadikan novel ini bacaan favorit kalian 🙏
Maaf novel ini slow up ya manteman. Juru ketik sedang banyak kreditan panci 😁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dheselsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6
Setelah pertemuan yang direncanakan oleh Fani sang karyawannya dengan lelaki menjengkelkan tersebut, Somi sedikit memikirkan apa yang telah lelaki arogan itu katakan malam itu padanya. Sebenarnya Somi ingin menghempas rasa kesal ini, namun wanita bermata coklat itu sadar beberapa ucapannya memang benar adanya. Somalia sedih bila mengingat semua kenangan selama Somi bersama Alex. Pria itu tak pernah sekalipun mengatakan hal yang menyakitkan seperti yang lelaki itu katakan. Namun pada kenyataannya sikap lemah lembut Alex menjadi sebuah perangkap untuknya, Somi terlena dengan ucapan serta janji manis yang ia sajikan dalam hubungan romantis yang mereka jalani.
"Mbak, aku akan mengganti kuasa hukum yang menangani kasus mu!" Fani tiba-tiba membuyarkan Somi dari lamunannya. Sedari tadi memang Somi sedang tak berkonsentrasi dalam memilih beberapa ballroom dari hotel-hotel yang menjadi rekanannya.
"Kenapa diganti Fan? Bukankah pak Gusti sudah menemaniku dalam melaporkan masalah ini ke pihak berwajib?" Somi tak paham dengan keinginan Fani. Padahal ia sudah percaya pada kuasa hukum yang sudah dicarikan oleh karyawannya tersebut.
Niat hati Fani memang ingin meminta bantuan sang kakak laki-lakinya dalam menangani kasus ini, namun saat ia sangat kecewa dengan sikap Gandhi. Fani tak habis pikir bisa-bisanya Gandhi mengatakan hal yang menyakitkan pada atasannya. Dan Fani tak terima dengan perlakuan Gandhi malam itu.
"Aku sih siapa saja nggak penting Fan, yang jelas aku ingin pengacara itu bisa menjebloskan mereka berdua ke dalam hotel prodeo!" Somi masih menyimpan dendam yang tak akan bisa padam meski diguyur hujan sekalipun. Ia berambisi ingin menuntut balas pada kedua orang yang telah mempermalukan serta menggerogoti hartanya.
"Baiklah aku akan mencarikan seorang pengacara yang handal untukmu bos," Fani mengacungkan jempol kanannya pada Somi. Gadis itu sungguh bisa mengambil simpati dari bosnya. Dan kini tugasnya bertambah lagi selain mencarikan pengacara ia juga harus menjadwal ulang kencan buta lagi untuk Bosnya karena kencan buta Somi dengan kakak lelakinya gagal waktu itu.
**
"Apa maksud kalimat mu yang mengatakan pihak pelapor ingin membatalkan perjanjian kita Gus?" Gandhi mengintrogasi Gusti dengan pemutusan hubungan kerja antara firma hukumnya dengan pihak pelapor.
"Kelihatannya mereka ingin mengubah kuasa hukuman Bos," sahut Gusti dengan suara hati-hati. Ia takut bila informasi ini bisa memperburuk suasana hati sang atasan. Baginya tak membangunkan singa yabg yang sedang tertidur adalah kunci hidup aman dan damai dalam kantor ini.
Gandhi memang sempat membaca beberapa poin dari kasus yang Gusti maksud. Sebuah kasus penipuan dan penggelapan dana sejauh perusahaan WO, dan yang membuat ia jantungnya hampir berhenti adalah pemilik bisnis itu merupakan bos dari adik perempuannya. Dengan kata lain, pemilik bisnis tersebut adalah wanita yang Fani kenalkan beberapa waktu lalu. Gandhi beranggapan mungkin saja pemilik WO tersebut berniat mengganti kuasa hukumnya karena masalah pribadi dengannya.
Ada sedikit rasa tak puas di dalam diri Gandhi, pasalnya baru kali ini ia merasa ditolak mentah-mentah dalam karirnya. Memang bukan masalah besar. Namun dengan penggantian kuasa hukum, terkesan pihak korban merasa tak puas dengan keahlian yang ia miliki. Nama baik yang selama ini ia jaga dan pertahankan akan menjadi Boomerang bagi karirnya.
Lelaki berbadan tegap itupun bergegas untuk menemui sang adik guna menanyakan perihal keputusan wanita yang ia temui beberapa waktu itu. Gandhi tak memedulikan urusan di kantornya. Baginya untuk saat ini, meminta penjelasan dari pihak Somi lah yang lebih utama. Ada sedikit rasa sesal menyeruak di dadanya. Setelah ia membaca kasus tersebut, ia merasa sedikit prihatin pada kehidupan Somalia, wanita yang menjadi klien di perusahaannya.
Tak sulit bagi Gandhi menemukan tempat adiknya bekerja, karena sudah mengantongi alamat kantor Somalia dari file yang menjelaskan kasus tersebut.
Umpatan dan makian dari Sini yang pasti akan ia dapatkan nanti tak menyurutkan niat Gandhi untuk menemuinya. Untuk saat ini, nama baiknya lah yang lebih utama. Bukan perkara mudah menjaga nama baik dan kehormatannya. Jangan sampai dengan pemutusan hubungan kerja sama ini, hal yang sudah lama ia jaga harus hilang dengan sia-sia.
"Siang Pak, ada yang bisa saya bantu?" sapa salah satu dari dua orang wanita muda yang Gandhi yakini seorang resepsionis di kantor sang adik perempuannya. Kedua wanita itu melayangkan sebuah senyum manis untuknya, mungkin karena mereka terkesima atas ketampanan Gandhi atau memang itu sudah menjadi job description dari WO milik Somalia.
"Aku ingin bertemu dengan pemimpin mu," sahut Gandhi dengan nada suara lantang dan terkesan berwibawa. Ia tak ingin terlihat buruk di mata publik. Kedua wanita itu seperti merasa ada angin segar yang masuk ke dalam oase hatinya yang sedang kering. Gandhi adalah sosok lelaki sempurna di mata keduanya.
"Apa anda sudah memiliki janji Pak?" tanya salah satu di antara kedua resepsionis tersebut.
"Katakan saja, aku pengacaranya dan ingin bertemu dengannya,"
Tak sampai menunggu lama, salah satu staff tersebut menghubungi Somalia lewat sambungan interkom. Karena tak ingin membuang waktu, Gandhi ingin menuntaskan masalah ini saat ini juga. Setelah staff Somi menghubungi atasannya, staff tersebut mempersilakan Gandhi untuk menunggu Somi untuk menemuinya.
Kurang dari 10 menit Gandhi menunggu, ada seseorang wanita yang datang menghampiri dirinya. Wanita itu tersenyum kecut ke arahnya. Dan yang membuat Gandhi mengerutkan dahi, Somi tak bersedia menemuinya.
"Kenapa dia melakukan ini? Apa dia ingin membalas dendam padaku juga?" tegur Gandhi pada wanita yang kini duduk di hadapannya. Wanita itu tak lain adalah adik perempuannya.
"Mbak Somi tak tahu menahu dengan masalah ini, aku yang memintanya untuk menganti jasamu dengan orang lain!" sahut Fani dengan melipat kedua tangannya ke dadanya. Gadis itu masih tak terima dengan perlakuan buruk dari kakaknya.
"Apa maksudmu Fani?"
"Dia tak tahu bila kakak pengacaranya, yang ia tahu hanya pak Gusti lah yang membantunya." Sahut Fani masih dengan nada sewotnya.
Memang benar adanya, dan Gandhi pun tak menampik hal tersebut. Karena tak pernah sekalipun keduanya bertatap muka membahas kasus ini keduanya tak saling kenal satu sama lain. Dan Gusti lah yang selama ini menemani Somalia dalam mengurus kasus tersebut.
"Bagus sekali bukan pekerjaan kakak? Hingga dia saja tak mengetahui dirimu sebagai pengacaranya, awalnya aku berencana ingin menjodohkan kalian namun perilaku kakak lah yang membuat aku mengurungkan niatku,"
"Fan, kamu jangan sembarangan mengatur hidup orang! Biarlah hidupku menjadi tanggungjawab ku saja," Gandhi pun tak terima saat Fani menyudutkan dirinya.
Pertengkaran kecil antara saudara tersebut akhirnya harus terjeda lantaran seorang wanita yang berpenampilan menawan sedang berjalan ke arah mereka. Sebenarnya bukan ke arah ruang tunggu yang mereka tempati, lebih tepatnya Somi tersenyum manis ke arah pintu utama.
Somalia bergegas mendekati pintu kantornya, sambil menyunggingkan senyum menawannya ia mendekati seorang lelaki yang membawa beberapa tumpukan hasil cetak undangan dari percetakan temannya.
"Hei, aku sudah menunggu mu dari tadi!" sapa Somi tanpa memedulikan kedua kakak beradik yang tengah berseteru. Baginya kepuasan konsumen menjadi prioritas utamanya.
pas ketemu sama judul ini baca sinopsisnya dan ada tulisan #tamat serta episodenya yang gak panjang langsung tertarik...
tapi ternyata... judul ini belum tamat, bahkan dari komentarnya ditulis lebih dari setahun yang lalu yaitu bulan 2 tahun 2022, apa judul ini gak dilanjutkan lagi?
kecewa sih, karena udah terlanjur baca dan sebenarnya ceritanya bagus juga, sayang mandek di tengah jalan
penasaran gimana mereka berkhianat di belakang Somi