Ini kisah season 2 dari nikah kontrak dengan om ceo tampan.
Mia Allura Atmaja putra pertama dari Alex Atmaja dan Rara Artnia, ia terpaksa kabur dari rumah orangtuanya untuk menghindari perjodohan dengan rival sang papa hingga akhirnya ia terjebak cinta segitiga dengan pengusaha muda bernama William.
Akankah ia menyerah atau memperjuangkan cintanya?
Nb : Untuk melihat visual mereka bisa cek di ig ; Duwi Sukema
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon duwi sukema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hacker
Setelah membersihkan piring kotor bekas sarapan, Lura duduk di ruang tamu entah apa yang ingin ia lakukan tidak ada aktifitas yang terlalu penting. Tapi, saat ia di rumahnya pekerjaannya selain kuliah ia memiliki sampingan yang tidak diketahui oleh orangtuanya yaitu sebagai penulis novel online dan hacker untuk membobol sebuah data-data penting.
Lura melihat William turun dengan setelah jas kerjanya dengan perpaduan dasi yang melingkar dikerah kemejanya membuat penampilannya begitu sempurna. Bau parfum yang dia kenakan mampu menghipnotis seluruh isi ruanganya yang dia lewati.
"Om, mau berangkat kerja," sapa Lura mengambil alih paksa tas yang dibawa oleh William.
Lura membawakan tas kerja William sambil berjalan mengekorinya dari belakang.
"Om, boleh ngak aku pinjam ponsel om sebentar."
"Sudah aku peringatkan jangan panggil aku dengan sebutan om! Aku tidak setua itu, lagi pula sejak kpn aku menikah dengan tantemu," ketus William yang benci dengan sebutan om.
"Baik Tuan, maaf. Boleh ya pinjam sebentar aja, tidak ada lima menit kok," rengek Lura.
William yang tidak tega itupun meminjamkan ponsel Apple iPhone 11 Pro Max miliknya. Sedangkan Allura segera memesan ponsel serta laptop untuknya baginya hidup tanpa barang kedua itu terasa hampa.
"Ngapain sich itu anak? Lama banget mainin ponselku," batin William diam mematung sesekali melirik Lura.
"Tuan, alamat ini dimana sich?" tanya Lura saat mengisi data.
"Jalan Wangi, perumahan blok 12 Jakarta Selatan."
"Whats?! Aku sejauh ini kabur," Lura terkejut saat mendapati dirinya jauh dari kota tempat tinggalnya.
"Jangan berteriak seperti itu! Dekat-dekat denganmu gendang telingaku bisa pecah dan pendengaranku bisa bermasalah. Mana ponselku, aku sudah terlambat gara-gara kamu," tintah Willam merebut ponselnya dari tangan Lura.
"Tuan, makasih ya," ucap Lura tersenyum.
"Kamu mau pergi kapan?"
Kenapa sich dia mengusirku? Aku kan masih ingin tinggal disini untuk beberapa waktu sampai aku aman dan mendapatkan tempat tinggal yang layak yang jauh dari tempat pelecehan wanita. Di kota J seperti ini rentan dengan kejahatan.
"Tuan mengusirku, hiks ... hiks ..., tuan jahat. Kenapa mengusirku," suara tangis Lura semakin kencang. "Aku tidak tahu kota ini, bagaimana jika aku pergi dari sini lalu diluar sana ada yang menculilku lalu organ tubuhku di jual," ucap Lura di sela tangisnya.
William mengerang kesal.
"Berhenti menangis! Sudah masuk ke dalam sana! Ingat jangan pernah berbuat atau merusak rumahku."
Allura yang tidak jadi di usir merasa kegirangan bahagia tanpa ia sadari ia memeluk William. William yang mendapatkan pelukan spontan merasa detak jantungnya memacu dengan cepat.
Kenapa debaran ini semakin tidak terkendali aneh. Padahal saat bersama Shintia tidak seperti ini rasanya batin William. Ia segera mendorong tubuh Lura sebelum gadis kecil di depannya mengetahui detak jantungnya yang mulai tidak normal itu.
"Aku peringatkan! Jaga sikapmu!" tegas William.
"Maaf habis aku bahagia, terimakasih ya Tuan sudah mengizinkan aku tinggal disini. Aku janji tidak akan merepotkan Tuan," ucap Lura dengan mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya jika ia serius dengan ucapannya.
William tidak menjawab ia segera masuk ke dalam dan menyalakan mesin mobilnya meninggalkan area halaman rumahnya.
Lura masuk ke dalam rumah, memanfaatkan waktunya untuk membersihkan rumah sebelum pesanannya datang. Ia mengerjakannya dengan senang hati padahal sebelumnya ia tidak pernah berkutat dengan alat pembersih ruangan.
*****
William duduk di kursi kebesarannya ia penasaran dengan wanita yang berada di rumahnya. Antara wanita baik-baik atau seorang penyusup beruntung dia memasang cctv diseluruh rumahnya.
Ia menyambungkan cctv kedalam layar laptopnya melihat aktifitas yang dikerjakan Allura. Melihat Lura mengenakan kaos panjang selutut dengan mengepel lantai merasa kasihan. Tidak lama kemudian melihat Lura berjalan menuju pintu, ia mengarahkan mouse dalam laptopnya menuju cctv dekat pintu.
"Kurir apa itu?" pikir William.
Ia melihat Lura membawa dua kotak berukuran besar dan kecil masuk ke dalam. Ia menatap Lura yang meletakkan di meja dengan segera Lura membuka paketannya, William hanya melihat dengan seksama memperhatikan wanita yang menumpang di rumahnya.
"Buat apa dia beli laptop dan ponsel? Kalau dia punya uang kenapa juga harus menginap di rumahku emang rumahku panti sosial apa?" ketus William lalu menutup layar laptopnya.
William sengaja pulang lebih awal dari biasanya karena ia ingin menanyakan secara langsung pada Lura.
Di tempat lain Lura duduk di sofa dengan memangku layar laptopnya yang sibuk mendapatkan pekerjaan untuk mengambil data sebuah perusahan ternama AL entah perusahaan apa ia tidak tahu jelas yang penting ia mendapat gaji besar yang bisa ia gunakan untuk membeli sebuah apartemen agar segera pergi dari tempat ini. Tidak mungkin ia numpang lama-lama di rumah William yang dari kemarin mengusirnya dia kan memiliki harga diri.
Tanpa sengaja William melihat apa yang di lakukan Lura, karena Lura tidak menyadari kedatangannya. William membaca jelas apa yang dikerjakan Lura saat Lura ingin menekan tombol enter untuk pengiriman data laptop yang masih menyala itu di rebut paksa oleh William.
"Apa yang sedang kamu lakukan? Kamu hacker ya?" William melototkan matanya dengan tatapan membunuh.
"Iya, tapi aku baru aja mau melakukannya karena sebelumnya aku hanya menerima tawaran untuk dari klien untuk mencuri kunci jawaban. Aku sebenarnya juga tidak ingin tapi keadaan memaksuku, aku harus dapat uang agar bisa cari tempat tinggal tidak mungkin aku tinggal ditempat kamu sedangkan kamu terus mengusirku," jelas Lura.
"Kalau ngak percaya lihat aja dataku saat aku menerima klien semua hanya para mahasiswa dan murid sekolah menengah atas dan dasar yang ingin mendapatkan nilai bagus. Banyak perusahaan memintaku membobol data tapi aku menolaknya karena itu dapat merugikan perusahaan besar," ucap Lura menyandarkan punggungnya disandaran sofa.
"Kalau kamu tahu kenapa masih melakukannya?" hardik William menghapus program Lura.
"Karena aku butuh segera tempat tinggal, kamu kan ngak suka aku tinggal di rumahmu."
"Baiklah kamu bisa tinggal di rumahku semau kamu tapi ingat jangan pernah melalukan pekerjaan itu lagi. Kamu tahu perusahaan siapa yang sedang kamu bobol?"
Lura menggeleng memang ia tidak tahu dan cerobohnya ia tidak menyelidiki lebih dulu perusahan milik siapa.
"Itu perusahaanku! Sebenarnya jika kamu membobolnya aku juga bisa mengatasi karena aku sudah memasang pengaman di setiap data penting perusahaan. Tapi karena aku tahu kamu pelakunya maka aku masih memberi ampun padamu. Katakan siapa yang menyuruhmu?"
Lura mengangkat bahunya ke atas dan memperlihatkan emailnya pada William.
Perusahaan S sepertinya aku tidak asing dengan nama itu. Lalu siapa yang berani mengusik pimpinanku dia tidak tahu berurusan dengan siapa keluarga Leon raja singa umpat Willian.
"Tuan itu beneran perusahan kamu? Maaf aku tidak tahu," lirih Lura.
"Lupakan! Apa kamu tidak ada pekerjaan selain jadi hacker?" tanya William.
😍😍