Aku adalah seorang gadis yang pantang menyerah sebelum berperang. Bahkan, saat berperang sebelum pun aku tidak akan mundur sebelum aku benar-benar kalah.
Ini kisahku, aku berusaha mengejar cinta seorang rektor muda yang sangat pintar. Jalan yang aku tempun untuk mendapatkan hati pak rektor tidak lah mudah. Penuh tantangan dan penuh jurang yang sulit untuk aku lewati.
Bisakah aku mendapatkan hati rektor tampan yang aku kejar. Apakah aku berhasil menjadi kekasih rektor tampan atau aku malah kalah dalam perjuanganku kali ini. Ayo ikuti kisahku, agar kalian tahu bagaimana jalan yang aku tempuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana perjodohan
Selesai kuliah, aku kembali kerumahku. Aku parkirkan mobilku ditempat biasa aku garasi rumah kami.
Mama sudah menunggu aku dengan senyum manisnya didepan pintu rumah kami. Itu kebiasaan mamaku, ia akan selalu berada didepan pintu saat aku pulang. Bukan hanya aku, saat papa pulang juga mama akan menyambutnya.
"Anak cantik mama udah pulang, gimana nak kuliahan kamu tadi?" kata mama saat aku turun dari mobil dan berjalan menghampiri mama.
"Biasa aja ma," kataku sambil mengambil tangan mama lalu menciumnya.
"Bagus deh, rajin belajar ya nak. Biar kamu bisa jadi anak yang bisa mama banggakan," kata mama sambil tersenyum manis padaku.
"Iya mah, mama tenang aja ya. Aku akan jadi anak yang bisa mama banggakan," kataku sambil senyum.
Itu adalah hal yang selalu mama katakan padaku setiap aku pulang kuliah. Sejak aku sekolah dasar, hingga aku kuliah. Mama selalu mengatakan hal itu saat aku pulang dan pergi sekolah sampai kuliah.
Aku sudah terbiasa, bahkan aku sudah hafal sama dialognya mama saat aku pulang dan pergi menuntut ilmu.
Aku dan mama pun berjalan masuk kedalam rumah. Kami menuju ruang tamu yang letaknya tak jauh dari pintu masuk rumah kami.
"Sayang, kami punya sebuah usulan untuk kamu nak. Ini sih harus dengan persetujuan kamu lho sayang," kata mama.
"Usulan apa sih ma, sampai harus minta persetujuan aku dulu," kataku sambil duduk di sofa ruang tamu.
"Gini lho Rania, mama dan papa berniat ingin menjodohkan kamu dengan anak teman papa ...."
"Apa?"
Aku kaget bukan kepalang, belum juga mama menyelesaikan pembicaraan mama. Aku sudah motong saja apa yang mama katakan. Aku tidak bermaksud untuk tidak sopan pada orang tuaku. Namun, aku terlalu kaget dengan kata perjodohan yang mama katakan.
"Rania, mama kan belum selesai ngomong nak. Kok kamu main potong aja sih apa yang mama katakan," kata mama dengan wajah kesal.
"Maaf ma, aku hanya kaget sama apa yang mama katakan. Dan aku juga gak setuju kalo mama mau jodohkan aku sama orang yang tidak aku kenal mah."
"Rania, mama kan udah bilang dari awal tadi. Mama sama papa kamu itu minta persetujuan dari kamu. Kalo kamu setuju, maka kami akan rundingkan perjodohan ini. Tapi, kalo kamu gak setuju, yah mau gimana lagi. Kami akan tolak secara halus rencana perjodohan ini," kata mama menjelaskan panjang lebar padaku.
Dengan wajah bersalah, aku senyum malu pada mama. Malu karna sudah memotong perkataan mamaku yang salah aku artikan.
"Maafkan Nia mama, Nia gak maksud kurang ajar kok. Nia gak maksud motong perkataan mama barusan. Hanya saja, Nia benar-bebar kaget dan maaf mama, Nia gak bisa setuju dengan perjodohan ini," kataku dengan berat hati.
Satu sisi, aku tidak enak dengan mamaku. Kayaknya, mama sangat berharap kalau aku mengatakan setuju untuk dijodohkan. Namun, sisi lain hati ku tidak terima dengan niat mama untuk menjodohkan aku dengan orang yang tidak aku kenal.
"Nia, kamu kan belum kenal sama lelaki yang akan kami jodohkan ini. Coba kamu lihat dulu sayang, anaknya tampan dan punya jabatan lagi. Ia sangat berkharisma, yah walaupun ia agak sedikit dingin sih anaknya," kata mama mempromosikan lelaki yang ia pilih untuk dijodohkan dengan aku.
Aku menarik napas ku panjang, kemudian melepasnya dengan lambat. Aku berusaha sabar dengan mama ku. Mama bilang perjodohan ini minta persetujuan aku. Namun kayaknya, mama sangat berharap aku setuju sama perjodohan yang akan mama dan papa rencanakan ini.
"Mama, aku sudah punya pilihan hatiku sendiri ma. Mama tidak bisa memaksa ya ma, katanya mama ingin minta persetujuan aku dulu masalah perjodohan ini, iyakan ma?" kataku lembut.
Mama tidak bicara, sorot mata kecewa tergambar jelas dimata mama. Aku harus bagaimana lagi, aku tidak suka dijodohkan. Orang yang aku suka itu adalah pak Rama. Yah, walaupun pak rama tidak suka sama aku. Tapi, aku yakin kalau suatu saat nanti aku bisa memenangkan hati pak Rama, aku yakin akan hal itu.
coba pameran nya orang blasteran belanda indonesia
jd cewek kalem napa,jngn terlalu agresif