Mengisahkan tentang seorang kakak yang memendam perasaannya terhadap adiknya.
Seorang Ma Jiaqi pemuda pendiam, yang menyimpan rasa cintanya terhadap sang adik selama lebih dari sepuluh tahun. Perasaan itu seakan terus tumbuh seiring berjalannya waktu yang selama itu juga menyebabkan dirinya harus melewati rasa sakit yang Ia pendam.
"Apa benar bahwa kakak menyukaiku?"
"Maafkan kakak."
"JAWAB PERTANYAANKU!" Teriak Wati saat mengetahui semua fakta.
Sehingga ... pada suatu hari sang adik mengetahui tentang perasaannya. Jawaban apa yang akan sang kakak berikan? Apakah Jiaqi akan memberitahu tentang perasaannya? Atau bahkan sebaliknya?
Juga beberapa dari sahabatnya yang mengalami permasalahan CINTA yang mereka lalui.
"Pergilah dari hadapanku! Aku tak butuh kau berada di kehidupanku."
"Dewi sebegitu benci kah kamu terhadapku?"
"Ben j-jangan terlalu kasar! Ini sa-sakit."
"M-maaf aku terbawa suasana."
Penasaran? Yuk ikuti terus cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wati Charoline H., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bolehkah?
Cera pun meninggalkan Dewi yang masih di belakang sekolah karena gadis itu memintanya untuk pergi, Cera juga tidak ingin mengganggu Dewi, mungkin gadis itu ingin sendiri dulu.
Cera pun melangkahkan kakinya menuju ke kelasnya, di dalam kelasnya Cera di sambut oleh teman-temannya yang pada ngerumpi, ngegosip dan ada juga yang berpacaran. (didalam kelas juga 😑)
"Hai Wati...," ucap Cera pada teman sebangkunya.
"Eh, Cera... Darimana saja kamu?" tanya gadis itu.
"Dari kelas kak Tony Wat...," Jawab Cera.
Wati pun mengangguk mengerti karena gadis itu tau bahwa Cera berpacaran dengan sahabat kakaknya.
"Eh, Wati... Kamu kenal gak sama anak kelas sebelah?" tanya Cera pada Wati yang sedang mengerjakan sesuatu. Wati pun menghentikan acara menulisnya dan langsung menolehkan kepalanya pada Cera.
"Yang mana Cer...?" tanya Wati, pada Cera.
"Itu si Dewi kamu kenal gak?" jawab Cera.
Wati berpikir sejenak mengingat-ingat nama orang yang di sebutkan Cera, "Kayanya aku gak kenal Cer sama yang namanya Dewi... Kenapa? Apa kamu ada masalah dengannya?" tanya Wati penasaran. Cera hanya menggeleng lalu melihat ke arah Wati, "Enggak wat... Bukan gitu," ucap Cera.
"Lalu...?"
Akhirnya Cera menceritakan tentang hubungannya dengan Dewi, dari Dewi yang dulu ia kenal seperti apa hingga saat ini si gadis itu seperti apa... Entah kenapa saat Cera bercerita tentang gadis itu Wati merasa bahwa gadis itu memang memiliki kehidupan kelam yang tak dapat ia utarakan kepada teman di hadapannya.
"Aku tidak tau mau memberikan respon seperti apa kepada mu... Karena pribadi seseorang itu berbeda-beda Cer, mungkin Dewi bukan tak mempercayaimu atau teman-temannya yang lain, hanya saja ia mungkin tidak ingin memberatkan mu sebagai temannya," ucap Wati.
"Tapi....,"
"Sudah... Kau berdoa saja agar temanmu baik-baik saja," ujar Wati.
Selang beberapa jam kemudian... Setelah bergelut dengan mata pelajaran yang menguras energi, akhirnya bell pun berbunyi.
Saat Wati dan Cera sedang membereskan buku-bukunya, Tony datang dan memanggil Cera dari arah pintu, "Sayang...?" panggil Tony. Cera yang melihat pujaan hatinya telah menjemputnya mengalihkan pandangannya kepada Wati. Wati pun yang mengerti hanya mengangguk, "Aku tidak apa-apa!! Pergilah!! Jangan biarkan kak Tony menunggu," ucap Wati yang menepuk pundak Cera, memberi tanda semangat pada teman sebangkunya.
Cera tersenyum lalu berlari menuju ke arah Tony kekasihnya.
"Sudah selesai...?" tanya Tony pada gadis di depannya. Gadis itu langsung mengangguk dan menyunggingkan senyuman. Tony pun membalas senyuman kekasihnya dan membelai rambut gadis itu.
"Masih ada orang loh di kelas," sahut Wati dari dalam.
Tony dan Cera yang sadar bahwa Wati masih di tempatnya hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"K-kalau g-gitu, aku pulang duluan ya Wat...?" ujar Cera gugup.
Wati yang melihat reaksi Cera yang malu-malu hanya menganggukkan kepalanya, "Hati-hati!!" balas Wati.
Tony dan Cera akhirnya meninggalkan kelas meninggalkan Wati yang juga sedang menunggu seseorang.
"Dek... Maaf nunggu lama, tadi kakak masih berdiskusi sama teman-teman untuk lomba basket nanti." ucap Jiaqi yang terengah-engah dengan peluh yang bercucuran, mungkin laki-laki itu berlari dari kelasnya ke kelas sang adik.
Wati melihat Jiaqi yang berkeringat segera mengambil sapu tangan dari dalam tasnya dan berdiri dihadapan sang kakak lalu mengelap wajah laki-laki itu, sehingga jarang antara keduanya hanya bisa di hitung beberapa senti. (Jika Wati maju 1 langkah aja, habis itu.) 🤣✌️
Jiaqi menatap Wati yang mengelap wajahnya membuat jantungnya berdetak kencang, pandangan Jiaqi juga terfokus pada bibir mungil milik sang adik, ia yang sudah tidak fokus akan pikirannya sendiri segera menjauhkan diri dari adiknya. Wati yang kebingungan dengan tingkah sang kakak bertanya, "Kenapa kak...?" tanya Wati.
Jiaqi yang gugup hanya mengusap lehernya, "S-sebaiknya kita c-cepat pulang dek!! Ayo!!" ucapnya dan segera keluar dari kelas mendahului Wati.
"Kakak kenapa ya... Kok tiba-tiba tingkahnya aneh," ucapnya. Wati yang takut sang kakak akan meninggalkannya pun segera menyusulnya.
***
"Mau langsung pulang... Atau kau ingin pergi ke suatu tempat?" tanya Tony pada Cera saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Sebaiknya aku pulang saja...," ucap Cera.
Tanpa mengatakan sepatah katapun Tony segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, laki-laki itu juga sepemikiran dengan kekasihnya. Ia ingin agar orang yang dicintainya selama lebih dari tiga tahun itu segera sampai agar bisa beristirahat di rumah.
Setelah 20 menit berada dalam mobil akhirnya mereka berdua telah sampai di rumah Cera, "Kak Tony mau mampir sebentar?" ucap Cera saat tiba di depan pintu gerbang.
Tony menggeleng pelan, "Sepertinya lain kali saja... Kakak juga lagi ada janji untuk berdiskusi dengan anak-anak basket," ujar tony melihat ke arah Cera. Cera mengangguk kecil, gadis itu seperti kecewa akan jawaban kekasihnya, 'Sudahlah Cera, kak Tony masih sibuk... Kau harusnya mengerti...!!' ucapnya dalam hati.
Gadis itu sebenarnya Menginginkan kekasihnya untuk mampir ke rumahnya, karena sudah hampir 2 minggu ini mereka tidak bertemu karena kesibukan Tony yang mengharuskannya menahan rasa rindunya pada sosok laki-laki dingin di depannya. Tony yang faham dengan raut wajah Cera segera meraih tangan kekasihnya, mengusap tangan Cera lembut, "Jangan pernah menampakkan wajahmu seperti itu... Aku akan menemanimu," ucap Tony di iringi senyuman tulus darinya. Cera pun membalas senyuman itu.
"Sebaiknya kita segera masuk!! gak enak sama tetanggamu, nanti berfikiran aneh-aneh saat melihat kita belum juga keluar dari mobil!!" Cera pun mengangguk dan segera keluar dari mobil menuju pintu.
"Apa orang tuamu sering datang...?" tanya Tony saat dirinya sudah berada di ruang tamu. Ia pun mendudukkan tubuhnya ke salah satu sofa yang ada di sana.
"Mereka sedang di luar kota... Jadi mereka jarang kesini," Tony yang sedang duduk langsung berdiri dan menghampiri kekasihnya yang sedang membuatkan jus untuk dirinya, "Sayang...?" ucap Tony saat dirinya sudah berada tepat di belakang gadis itu. Ia pun memeluk Cera dengan kepalanya di letakkan di pundak dan juga tangannya yang sudah melingkar di perut rata kekasihnya.
Cera yang mengerti akan maksud perlakuan Tony hanya mengusap tangan pria itu, "Aku tidak apa-apa kak, jangan khawatirkan aku," ucap Cera meyakinkan Tony.
Tony semakin mempererat pelukannya sehingga membuat Cera sedikit mengernyitkan kening, "Kak... Bisakah kakak melonggarkan pelukannya? Aku sedang membuat jus loh ini," ucapnya lagi, tapi sepertinya laki-laki itu seakan tak mempedulikan ucapan cera. Cera hanya menarik nafas pelan saat ucapannya sama sekali tak di respon oleh kekasihnya.
***
"Kenapa kamu tidak mengajak temanmu menginap di sini, setidaknya kamu memiliki teman saat dirumah," celoteh Tony yang sudah kembali ke ruang tamu saat Cera menyuruhnya untuk duduk di ruangan itu. Cera yang sudah selesai dengan jus yang ia buat segera meletakkan jus tersebut di meja tempat Tony duduk. Tony pun mengambil jus buah yang Cera buat untuk di minumnya.
"Pffttt...,"
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa," ucap Cera saat melihat jus yang di minum kekasihnya menempel di sudut bibirnya 😚 Cera pun mengambil tissue untuk mengelap jus tersebut.
Deg... deg... deg...
Tony mematung, jantungnya tiba-tiba berdegup kencang saat wajah Cera sangat dekat dengan wajahnya, Tony mengalihkan pandangannya ke bawah dan berusaha untuk tenang agar detak jantungnya tak di dengar oleh sang kekasih. Tapi ternyata detak jantungnya malah semakin berdetak lebih kencang hingga Cera bisa mendengar suara detak jantungnya, "Kak... K-kenapa detak jantungmu k-kuat seka- eumm...," ucapan Cera terpotong saat benda kenyal telah mendarat di bibir tipisnya. Tony mencium Cera lembut, Cera mematung saat orang di hadapannya telah menciumnya di saat dirinya belum ada persiapan apapun.
Tony melepaskan ciumannya, dan menidurkan gadis itu di sofa ruang tamu "Bolehkah, jika aku bermalam di s-sini...?" ucap Tony dengan kedua tangannya memegang bahu Cera.
"T-tapi... Kak, ak- eumm,"
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan like, komen dan rate kalian ya... Agar aku bisa lebih semangat lagi dalam buat cerita ini, Terimakasih. 😍💗💗
Mohon maaf, ijin promo ya thor. Ada suka cerita perang epik dng MC yg punya bnyk pasukan..mampir yuk di novel sy " penguasa dua benua" moga suka..
semangat semoga dengan sedikit kritikan bisa memotivasi penulis untuk menjadikan karya yg lebih baik.. aminn
1. akhirnya wati tau klo jiaqi bukan kakak kandungnya.
2. sera sama tony akhirnya pisah.
3. dewi meninggoy, cowoknya jadi sad boy.
4. menik mencoba menerima ben.
5. whidie nikah sama cowoknya.
btw berarti yg happy ending cma si whidie dong yg lainnya sad ending and open ending 😭😖
paling menarik peehatian kata2 patkay coklat, masa upil disamakan sm cinta 🤣🤣🤣