"Aku merindukan mu"
itulah ungkapan setiap malam. Kanza Mahendra
saat harus berjauhan dengan Rasyi Syakilla.
Gadis ceria yg berhasil mengambil hati manusia dingin. yg bahkan tak tersentuh. namun kini saat berjauhan hati Kanza selalu merindukan nya.
Setelah melewati banyak perjuangan. hingga kini mereka telah benar benar bersama. membuat Kanza ingin selalu bersama dengan wanita yg saat ini telah memenuhi hati nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiia sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 6
*
Setelah selesai dari kantin Rasyi menuju kelas untuk belajar. melanjut kan masuk ke kelas untuk memulai pelajaran. namun selama pelajaran Rasyi tidak pernah fokus. yg membuat Rani beberapa kali menegur Rasyi yg terlihat melamun.
*
Setelah selesai pelajaran tak terasa hari sudah hampir malam.
Rani dan Rasyi pun berpisah di parkiran kampus.
"Ya udah gua balik duluan ya" ucap Rasyi sambil meluk sahabat nya sebentar.
"okk hati hati ya"
*
*
"Gara gara makhluk astral. hari ini gua enggak ada fokus nya"
keluh Rasyi dalam hati selama perjalanan.
Kanza yg merasa terganggu. satu harian ini hanya uring uringan dan sudah pasti Edo yg selalu menjadi sasaran Kanza.
"Apa kamu sudah buat surat laporan?" tanya Kanza
"sudah tuan"
"bagus, malam ini kamu buat peringatan ke gadis keras kepala itu"
"Baik tuan" Edo pun mengiyakan permintaan tuan nya.
Kanza yg merasa mood nya tidak baik hari ini memilih pergi ke bar teman nya. untuk minum dan mereda kan amarah nya
"Kanz" sapa seorang laki laki berpostur tubuh tegap dengan tato di lengan kirinya.
Kanza yg merasa di panggil hanya melambai dan menghampiri Erik, iya dia adalah Erik teman Kanza. Kanza dan eErik tidak sengaja bertemu di salah satu club di luar negeri dan mereka memutuskan berteman saat kKanza tau kalau Erik membuka bar di jakarta.
"Gimana kabar Lo?" tanya Erik
"seperti yg lo liat" jawab Kanza malas.
"ternyata lo masih sama saja ya" timpal nya lagi sambil memberikan minuman yg biasa Kanza pesan.
"Lo butuh temen enggak, gua punya beberapa wanita yg mungkin bisa bantu mood lo" goda Erik ke Kanza
Kanza yg mendengar pertanyaan Erik. langsung melempar nya dengan kacang yg ada di meja. Erik hanya tertawa melihat tingkah Kanza. karna Erik tahu Kanza memang tidak pernah menerima sosok wanita yg dia tawar kan. bahkan tidak jarang Erik bertanya apa Kanza masih normal. walaupun dia tahu kalau pertanyaan nya bisa membuat nyawa nya hilang percuma oleh seorang Kanza Mahendra.
"Hahaha, iyaiya gua tahu lo enggak bakalan mau. sensi amat"
goda Erik.
Kanza hanya diam tanpa ekspresi. sambil meresapi minuman nya.
"Lo enggak bawa Edo malam ini?"
"enggak, kali ini gua datang sendiri"
"trus kalau Lo mabuk siapa yg bawa lo balik" ketus Erik
"percuma gua punya lo. kok enggak bisa gua manfaatin" Kanza menunjukan senyum kemenangan nya. melihat teman nya yg tidak lagi membalas kata katanya.
Ternyata seperti dugaan Erik. Kanza yg mabuk nyaris tidak bisa bangkit dari kursi nya pun. membuat Erik bergumam trus.
"Seharus nya saat begini lo nyari istri bukan nyari gua" keluh Erik sambil memapah Kanza menuju sofa di bar nya.
Erik langsung mengambil ponsel nya untuk meminta Edo menjemput tuan nya,
"Halo" sapa orang di sebrang sana
"kek nya lo harus kemari"
"apa kali ini mabuk nya lebih parah"
"enggak dia hanya trus berbicara. apa ada yg membuat dia kesal??" tanya Erik yg penasaran.
Namun Edo tidak menjawab pertanyaan Erik, malah memilih mengalihkan pertanyaan nya.
"Baik lah jaga tuan Kanza, aku akan kesana sekarang"
setelah memutuskan telpon. Edo langsung siap siap untuk menjemput tuan nya.
*
*
Setelah menjemput tuan nya Edo langsung mengantar Kanza ke apartemen nya.
"mau sampai kapan anda akan trus begini tuan"
Edo membuang kasar nafas nya sambil membenarkan posisi tuan nya di ranjang.
Setelah selesai Edo pun langsung keluar dari unit Kanza.
di mobil edo menelpon seseorang,
"Besok pagi datang ke alamat yg ku kirim. lanjut kan tugas kalian" ucap Edo memerintah seseorang.
"Baik tuan" jawab orang di sebrang sana.
*
Saat bangun pagi hari Kanza melihat sekeliling ruangan. sambil memegang kepala nya. pusing yg teramat di rasa kan Kanza akibat pesta minum nya tadi malam. Kanza langsung bangun dan kamar mandi menjadi tujuan nya.
"Dimana dia??" tanya Kanza pada diri nya yg turun ke meja makan tapi tidak melihat sosok Edo seperti biasanya.
Seperti pagi biasa nya ibu Sila sarapan bersama dengan anak nya. hari ini adalah hari libur ibu Sila.
"Bagaimana tentang rencana kamu soal pekerjaan sayang?"
tanya buk sila pada Rasyi.
"Masih belum dapat bu" jawab nya malas.
"sabar lah, karna mencari pekerjaan tidak mudah nakk"
ucap buk Sila sambil memberikan sarapan putri nya.
Namun saat menikmati sarapan nya mereka tertegun saat ada yg mengetuk pintu.
"Siapa ya tumben pagi pagi ada tamu" buk Sila berkata sambil memandang pintu.
"biar Rasyi yg buka bu" jawab nya sambil bangkit dari kursi
"Iya sebentar" ucap Rasyi sambil membuka pintu nya.
namun Rasyi bingung saat melihat orang di depan nya. beberapa pria ber'jaz hitam berdiri tegap di depan nya.
Ibu Sila yg merasa ada yg tidak beres. langsung mendekat ke Rasyi yg terlihat sedang termenung di depan pintu.
"Siapa Rasyi?" tanya buk Sila sambil memegang bahu anaknya. Rasyi yg terkejut langsung menoleh ke ibu nya.
"Rasyi tidak tahu buk" jawab nya.
"selamat pagi. apa ini Rumah nona Rasyi Syakilla??"
"iii..iya saya sendiri" jawab Rasyi gugup
"Begini nona kami dari KANZ.corp" kata pria yg berdiri di depan Rasyi.
Pria tersebut menyerah kan amplop coklat kepada Rasyi. buk Sila yg penasaran juga melihat apa yg ada di dalam amplop tersebut.
"Tuntutan atas tabrak lari" kata kata itu keluar begitu saja oleh mulut Rasyi. sambil melihat orang di depan nya. berbeda dengan ibu Sila yg masih bingung dengan apa yg terjadi.
"Ada apa ini Rasyi?" sambil melihat wajah anak nya
"ibu tenang dulu ya, Rasyi akan jelas kan" ucap nya ringan untuk menenangkan ibu nya yg sudah terlihat panik.
"Tapi tuan saya sudah bertemu dengan tuan Kanza. bagaimana ini masih bisa di bilang tabrak lari?" jelas Rasyi.
"Benar nona. tapi disini anda tidak menunjukan bahwa anda akan mengganti rugi"
" jadi kami disini atas utusan tuan Kanza untuk meminta ganti rugi atau kasus ini kita bawa ke persidangan" imbuh pria tersebut.
Rasyi yg mendengar kata persidangan. mulai panik dan langsung memandang wajah ibu nya.
"Sebenar nya ada apa ini nak. dan kenapa mereka meminta ganti rugi?" tanya ibu Sila dengan suara lirih nya
"Begini buk, nona Rasyi sudah menabrak mobil tuan Kanza. tapi anak ibu tidak ingin mengganti rugi" jelas pria tersebut
"Apaa" ibu Sila yg terkejut hanya menatap anak nya. berharap bahwa yg dia dengar itu tidak lah benar. namun saat ibu Sila menatap anak nya. Rasyi hanya mengangguk.
"Rasyi tidak sengaja bu, dan Rasyi juga sudah mencoba mendatangi tuan Kanza. tapi mereka meminta syarat yg menurut Rasyi tidak masuk akal bu" ucap nya sambil memegang tangan ibu nya.
Buk Sila yg melihat mata sayu anak nya. merasa tidak tega dengan anak nya. ada rasa bersalah dalam hati nya. karna merasa gagal menjadi ibu yg baik karna saat putri kesayangan nya dalam masalah ibu Sila tidak tahu.
"Berapa biaya yg mereka ingin kan pak?" tanya buk Sila
" tuan Kanza menuntut 10 miliyar buk" belum siap laki laki tersebut membuka mulut. Rasyi langsung menjawab pertanyaan ibu nya.
Ibu Sila yg merasa terkejut mendengar jawaban rasyi. memegang dada nya. ada rasa nyeri disana yg membuat buk Sila susah bernafas akibat shock,
"Ibu, ibu tidak apa apa" ucap Rasyi yg langsung memeluk pundak ibu nya. namun sebelum menjawab ibu Sila langsung pingsan dan terjatuh ke lantai. yg membuat Rasyi panik,
"Ibu, ibu bangun bu" ucap nya yg mulai histeris
"pak tolong ibu saya" pinta nya
namun pria pria tersebut hanya saling memandang dan bingung harus berbuat apa,
"Ibu, ibu bangun ibu" Rasyi menangis sambil memukul pelan pipi ibu nya. berharap ibu nya akan membuka matanya.
Edo yg ternyata berada di dalam mobil yg tidak jauh dari rumah Rasyi. langsung keluar mobil karena mendengar suara Rasyi yg histeris.
"Ada apa ini?" tanya nya
Rasyi yg mendengar suara yg dia kenal langsung melihat sosok tersebut.
"Tuan edo" pekik Rasyi
" ada apa ini nona, kenapa dengan ibu anda"
"tuan saya mohon. tolong ibu saya tuan saya tidak punya siapa siapa lagi tuan selain ibu saya"pintanya lirih.
"Kenapa kalian hanya diam saja" bentak nya melihat orang suruhan nya nyaris tidak ada yg bergerak satupun.
"tapi tuan" belum sempat mereka bicara Edo sudah mengangkat ibu sila menuju mobil nya.
"Sebaik nya kita bawa ke rumah sakit ibu anda nona"
Rasyi yg masih panik langsung mengikuti Edo menuju mobil nya. selama di perjalanan menuju rumah sakit terdekat.Rasyi yg duduk di bangku penumpang dengan memangku kepala ibu nya mengusap pelan pipi ibu nya.
" Maafin Rasyi bu" lirih nya dengan air mata nya terus menetes
"ibu jangan tinggalin Rasyi bu" selama perjalanan Rasyi terus mengutuk diri nya yg merasa bersalah pada ibu nya.
Edo yg sedang menyetir di depan sesekali melihat kaca spion menatap sendu Rasyi yg sedih melihat keadaan ibu nya.
"apa anda harus sekejam ini tuan, pada wanita biasa seperti mereka" umpat nya dalam hati karena tidak tega melihat ke adaan Rasyi dan ibu nya.
"Kita sudah sampai nona" Edo langsung turun untuk membantu Rasyi mengangkat ibu nya ke dalam. namun saat baru keluar mobil perawat dan dokter sudah datang dengan membawa tandu dorong.
"tolong ibu saya dok" pinta Rasyi yg membantu para perawat mendorong ibu nya menuju ruang ICU.
"Kami akan berusaha menyelamat kan ibu anda nona" ucap dokter sambil menutup ruang icu.tanpa memperboleh kan Rasyi masuk ke dalam.
"Kita bisa menunggu disini nona" ucap Edo menuntun Rasyi
"ibu akan baik baik saja kan?" ucap nya dengan tatapan kosong. air mata nya yg trus mengalir di pipi nya. Edo yg tidak tega mengambil sapu tangan di saku nya dan. memberikan nya pada Rasyi.
"Ibu anda pasti akan baik baik saja nona" ucap Edo pelan berha Lorap bisa mengurangi beban Rasyi sedikit. tapi berbeda dengan Rasyi yg hanya menunduk karna rasa bersalah nya.
Menunggu hingga beberapa jam. namun belum ada dokter ataupun perawat yg keluar dari dalam ruangan. membuat Rasyi semakin khawatir terhadap ibu nya. Edo yg hanya duduk diam tanpa suara dari tadi pun hanya diam. dan sesekali memandang Rasyi yg mondar mandir di koridor rumah sakit.
Terdengar suara nada dering. membuat edo langsung melihat ponsel nya. ternyata Kanza yg menelpon nya,
"Iya tuan"
"apa kau tidak niat bekerja lagi dengan ku" bentak Kanza
"tidak tuan"
"lalu apa yg terjadi?? kenapa belum kembali. apa gadis itu sudah menyesal. pastikan dia tahu letak kesalahan nya," timpal pertanyaan Kanza. pada Edo
"Nona Rasyi belum memberi jawaban tuan"
"apaaa" suara Kanza penuh emosi mendengar jawaban Edo
"ibu nona Rasyi masuk rumah sakit tuan" ucap nya lirih berharap tuan nya akan memberikan nafas sebentar untuk Rasyi karna melihat ibu nya. walaupun Edo tahu Kanza bukanlah orang yg mudah di tangani.
"Aku tidak perduli, pastikan gadis itu mendapat kan pelajaran nya. agar dia tahu siapa Kanza Mahendra" suara Kanza yg penuh penekanan
"Baik tuan" Edo lebih memilih mengalah kepada tuan nya.
setelah tuan nya memutus kan telepon
Edo yg melihat dari ujung koridor Rasyi yg masih terlihat tidak tenang memilih turun ke loby rumah sakit bermaksud untuk membeli air mineral untuk Rasyi.
Namun saat di loby para pengawal yg tadi mengikuti nya dari rumah Rasyi langsung mendatangi nya.
"Bagaimana tuan??"
"kalian kembali lah ke markas, dan saat tuan Kanza bertanya bilang saja aku yg mengurus nya" perintah Edo
"Baik tuan" pengawal yg menunduk sebelum benar benar pergi meninggalkan Edo.
*
"Ini nona minum lah. agar anda sedikit lebih tenang"
Rasyi yg menerima. tanpa melihat Edo hanya menunjukan wajah cemas nya.
"Apa ibu baik baik saja di dalam?" tanya nya
"ibu anda pasti akan baik baik saja nona anda jangan khawatir"
"tapi kenapa mereka belum juga keluar??" ucap nya sambil melihat pintu ruang icu'
"Biar kan mereka bekerja nona"
"apa membutuh kan waktu yg lama?" tanya Rasyi. yg membuat bulir air mata nya menetes kembali. namun tiba tiba pintu ruangan terbuka. yg membuat Rasyi langsung bangun dari duduk nya. dan berlari menuju dokter tersebut
"Bagaimana dokter keadaan ibu saya?" tanya nya
"anda adalah anak nya pasien"? tanya dokter
"iya saya anak nya dok"
"mari ikut saya keruangan saya"
Rasyi dan Edo. langsung mengekor mengikuti arah dokter berjalan menuju ruangan nya.
"Silahkan duduk nona" ucap dokter
" bagaimana dok, ibu saya baik baik saja kan??
"begini nona. apa ibu anda memiliki riwayat sakit jantung"
"tidak dok"
"apa pasien sering pingsan?
"seperti nya ini yg pertama dok"
Dokter terdiam sambil membaca beberapa berkas diagnosa dari ibu Sila.
"Jadi nona ini masih diagnosa awal saya saja. ibu anda mengalami penyempitan pembuluh darah di jantung. yg membuat sesak nafas tiba tiba. tapi untuk lebih pasti nya kita tunggu saja hasil dari X'ray ibu anda nanti" jelas dokter
Rasyi yg terkejut kembali menangis. mendengar kondisi ibu nya.
"Apa saya boleh melihat ibu saya dok" tanya nya lirih
"untuk saat ini pasien masih belum bisa di jenguk karena keadaan masih kritis"
"kita berdoa saja semoga ibu anda bisa melewati masa kritis nya, perawat juga akan terus memantau ibu anda. jadi anda harus banyak berdoa nona. kami juga akan berusaha menolong ibu anda" jelas dokter panjang lebar.
Rasyi dan Edo yg keluar setelah mendengar penjelasan dokter menuju ruang icu tempat ibu Sila di rawat,
Kini Rasyi berdiri di depan ruang icu melihat ibu nya. dari jendela kaca tempat ibu nya di rawat terlihat jelas ibu nya yg tertidur lemas dengan selang untuk membantu ibu nya bernafas.
Edo yg berada di samping Rasyi. menatap sekilas apa yg di pandang Rasyi. ada rasa tidak tega melihat beban gadis muda yg berada di samping nya. namun Edo pun sadar bahwa dia juga tidak bisa berbuat banyak.
happy reading"
🙏🙏🙏maaf untuk telat update nya😊
mampir juga yuk keceritaku
RAIN BUKAN HUJAN
terimakasih