Menikah dengan seseorang yang dicintainya.
Itu adalah mimpi dari Medisya Laluna. Namun sayangnya Medisya harus mengubur mimpinya dalam-dalam setelah seseorang merenggut kesuciannya secara paksa.
Namanya Alvian Sagara. Pria itu merupakan atasannya di perusahaan tempat Medisya bekerja.
Medisya tidak tau harus bersyukur atau menyalahkan takdir ketika Alvian mau menikahinya. Akankah ia bahagia dengan pernikahannya nanti? Apakah mereka bisa menjalani pernikahan itu layaknya orang yang saling mencintai?
###
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dilara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Pernikahan
Melinda mengetuk pintu kamar Alvian pelan. Butuh beberapa menit ia mengulang ketukan itu sampai Alvian mau membukakan pintu untuknya.
"Masuk, mah," ucap Alvian meninggalkan Melinda di ambang pintu.
Laki-laki itu duduk di tepi ranjang dengan kedua siku yang bertumpu di pahanya. Ia enggan menatap Melinda. Alvian merasa malu, mungkin perbuatan bejatnya itu dapat melukai perasaan mamahnya. Mereka sama-sama perempuan, pasti harga diri Melinda juga ikut terluka.
"Semua persiapannya sudah siap. Sekarang papah kamu sedang ke rumah Medisya untuk berbicara dengan orang tuanya."
Melinda berucap demikian sembari mengusap bahu Alvian. Meskipun merasa kecewa dengan Alvian, ia tetap mendukung keputusan anak lelakinya itu.
"Mamah tidak tau lingkar jari calon istri kamu. Jadi cincinnya mamah beli dengan ukuran jari Lily," lanjut Melinda menyebut nama anak perempuannya.
Mendengar adiknya disebut semakin membuat Alvian merasa sesak. Ia lupa, adiknya juga perempuan. Alvian hanya bisa berdoa, semoga saja Lily tidak mengalami balasan atas apa yang telah Alvian lakukan pada Medisya.
"Maaf."
Memang hanya kata maaf yang mampu terlontar dari mulut Alvian. Ia tidak bisa berpikir jernih sekarang. Pikirannya hanya tertuju pada pernikahannya nanti.
"Jujur saja mamah kecewa dengan kamu, Vian," ucap Melinda pelan. Namun kemudian ia tersenyum menyemangati. "Tapi mamah bangga karena rasa tanggung jawab yang kamu miliki sangat besar."
"Mau berjanji?" Melinda mengangkat jari kelingkingnya. Hal ini biasa ia lakukan untuk meningkatkan rasa percaya diri pada anak-anaknya. Memberi semangat saat mereka merasa ragu dengan langkahnya.
"Janji sama mamah kalau kamu akan bersungguh-sungguh saat menjalani pernikahan kamu nanti. Kamu harus ingat bahwa pernikahan ini tidak hanya untuk satu atau dua tahun. Tapi seumur hidup kamu, Vian. Jadi jangan mempermainkan pernikahan kamu, ya?"
Bukan apa-apa. Di jaman sekarang ini banyak pernikahan yang gagal karena ketidakseriusan orang yang menjalaninya. Ia ingin pernikahan Alvian nanti berjalan dengan lancar meskipun banyak rintangan yang mungkin akan mereka lewati.
Alvian hanya menatap jari kelingking Melinda yang menggantung di udara. Kemudian ia menghembuskan nafasnya kasar dan mengalihkan pandangannya.
"Vian nggak bisa menjanjikan itu. Karena Vian sendiri ragu dengan pernikahan ini," jujur Alvian pada Melinda.
Melinda tersenyum hangat. Ia merapikan rambut Alvian yang masih sedikit basah. "Coba jelaskan, kenapa kamu mau menikahi Medisya?"
Tidak ada yang lebih menenangkan dari sentuhan Melinda. Alvian sendiri sampai memejamkan matanya ketika Melinda mengusap puncak kepalanya.
"Karena Alvian sudah merenggut kehormatan juga masa depannya. Itu yang Vian pikirkan sejak kejadiannya terjadi. Tapi sekarang ada anak Vian di dalam tubuhnya. Vian rasa itu sangat cukup untuk menjelaskan kenapa Vian menikahi Medisya."
Keseriusan Alvian dalam berbicara berhasil menguatkan kepercayaan Melinda. Sekarang tangan wanita paruh baya itu menggenggam tangan Alvian.
"Terus apa yang membuat kamu ragu?"
Alvian menatap Melinda canggung. "Vian takut tidak bisa menjaga dan membahagiakan mereka nantinya. Mau bagaimanapun juga pernikahan ini terjadi tanpa ada rasa cinta sedikitpun."
Melinda terkekeh kecil mendengar penuturan Alvian. Hal itu tentu saja membuat raut bingung di wajah tampan anaknya.
"Kenapa?" Tanya Alvian bingung.
"Takut tidak bisa menjaga dan membahagiakan mereka,, apa yang kamu maksud dengan mereka itu adalah Medisya dan anak kalian?" Tanya Melinda dibalas anggukan singkat dari Alvian.
"Kamu tau, rasa takut itu mungkin akan berpengaruh buruk jika ada pada seseorang yang memiliki jiwa pengecut. Tapi mamah yakin kalau kamu memiliki keberanian yang tinggi. Percayalah, rasa takut itu akan merubah pemikiran kamu. Kamu takut tidak bisa menjaga mereka, kan? Jika kamu berpikiran seperti itu, maka hati kamu akan menuntun kamu untuk tidak melukai mereka. Percaya sama mamah, kamu pasti bisa menjalani pernikahan kamu ini."
Perkataan Melinda ternyata mampu menenangkan hati Alvian. Laki-laki itu menatap orang yang telah melahirkan dan juga merawatnya sampai sebesar ini.
Alvian mengangguk yakin, namun setelahnya ia berucap, "tapi Vian tetap tidak bisa berjanji. Mamah tau sendiri sikap Vian seperti apa."
###
Pernikahan dadakan ini membuat orang-orang di kediaman Medisya sangat sibuk. Meskipun hanya akan dilangsungkan akad, mereka tetap membuat syukuran kecil untuk menghormati para tetangga mereka.
Kedatangan Abraham tadi membuat ketegangan di sana sedikit mencair. Haris bahkan sudah sedikit tenang karena yang ia pikirkan tentang keluarga Alvian tidak terjadi.
Ia pikir keluarga Alvian akan menolak pernikahan ini, namun Abraham justru datang dan meminta maaf atas perbuatan Alvian.
"Mas, mereka sudah datang."
Haris menatap Senja lembut. Ia menarik tangan istrinya itu dan merengkuhnya. "Maafin aku," sesalnya karena sudah membentak senja siang tadi.
"Nggak ada yang perlu dimaafkan, mas. Lebih baik sekarang kita keluar untuk menyambut mereka."
Senja menggandeng tangan Haris dan menariknya ke teras rumah. Halaman rumahnya sudah dipenuhi mobil-mobil mewah dari keluarga Abraham.
"Mari masuk," ajak Haris.
Sejenak ia menatap Alvian yang juga menatapnya. Tidak ada ekspresi di wajah tampan itu. Jujur saja Haris merasa ragu pada Alvian.
Laki-laki itu memiliki segalanya. Ia takut anaknya nanti tidak mendapat kebebasan setelah menikah dengan Alvian.
"Apa sebaiknya langsung kita mulai saja?" Tanya Abraham membuat Haris tersadar dari lamunannya.
Kepalanya mengangguk mantap. Haris memanggil penghulu untuk memulai pernikahan mereka.
"Medisya akan turun sesudah kamu mengucapkan ijab qabul," ucap Senja menyadari netra Alvian mencari-cari keberadaan Medisya.
Meskipun merasa tidak tenang, Alvian tetap menjabat tangan penghulu dan menjawab pertanyaan tentang kesiapannya untuk menjalani pernikahan ini serta memikul tanggung jawab sebagai suami.
"Bismillahirrahmannirrahim, saya nikahkan dan kawinkan engkau, saudara Alvian Sagara bin Abraham Hermawan dengan Medisya Laluna binti Haris Juwanda dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan perhiasan emas seberat sepuluh gram dibayar tunai!"
Alvian menghela nafasnya dan berucap lantang, "saya terima nikah dan kawinnya Medisya Laluna binti Haris Juwanda dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"
"Bagaimana para saksi, sah?"
"Saaah!"
Semua orang bernafas lega setelah pengucapan ijab qabul selesai. Abraham dan Melinda menatap haru pada Alvian yang tengah memejamkan matanya erat. Sebagai orang tua, mereka bangga dengan keputusan Alvian ini. Laki-laki itu berani mempertanggungjawabkan segala kesalahannya.
Sedangkan Haris menyuruh Senja untuk menjemput Medisya agar menemui Alvian. Ia sedikit khawatir karena Medisya terus menangis sejak siang tadi. Tapi untungya perempuan itu masih mau menuruti perkataannya.
"Medisya," panggil Senja melihat Medisya tengah meringkuk di pinggir ranjang sembari menatap laptop yang menayangkan prosesi ijab qabul tadi secara langsung.
"Ayo turun," ajak Senja.
Ia menarik tubuh Medisya lembut agar perempuan itu mau mengikutinya. Tapi sebelum itu, Senja membawa Medisya ke depan meja rias. Menyuruh perempuan itu menatap dirinya sendiri di cermin.
"Kamu cantik." Senja merapikan kebaya putih yang dikenakan Medisya. "Bunda nggak nyangka akan melepas kamu secepat ini."
"Bundaaa," rengek Medisya. Tanpa disuruh air matanya kembali membasahi riasan di wajahnya. "Medisya nggak suka seperti ini," adunya.
"Ini yang terbaik Medisya. Lagi pula dari yang bunda lihat, Alvian tidak seburuk yang kamu ceritakan. Dia--"
"Bunda belain laki-laki brengsek itu?" Salak Medisya dengan suara pelan. Bagaimanapun juga ia tidak bisa membentak Senja.
"Ssst! Jaga ucapan kamu, sayang! Alvian sekarang suami kamu," ucap Senja mengingatkan. "Berhenti memikirkan hal yang buruk. Percaya sama bunda, pernikahan ini terjadi karena Tuhan sudah menggariskannya dalam hidup kamu. Ayo sekarang kita turun. Mereka pasti menunggu kamu."
###