NovelToon NovelToon
MENG LIN DI ERA 1970 AN

MENG LIN DI ERA 1970 AN

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:16.9k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Fii

Meng Lin, seorang gadis modern yang baru menyelesaikan pendidikan S2 di bidang sains, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah hanya karena sebuah novel.

Suatu malam, ia tertidur saat membaca novel berlatar tahun 1974. Ketika terbangun, ia justru mendapati dirinya berada di dalam novel tersebut—menjadi Meng Lin, gadis berusia sembilan belas tahun yang memiliki nama sama dengannya.

Meng Lin asli adalah gadis cantik, baik hati, dan lemah lembut. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia tinggal bersama paman, bibi, dan sepupunya, Meng Wan. Meski memiliki nilai sekolah terbaik, kesempatan kerja justru diberikan kepada Meng Wan. Tanpa pilihan lain, Meng Lin dikirim ke desa sebagai pemuda terpelajar.

Lebih menyedihkan, kekasihnya, Tang Qi, perlahan terlibat dengan Meng Wan. Dalam cerita asli, Meng Lin akhirnya menghilang dari kisah, sementara Meng Wan dan Tang Qi menikah.

"Hmm.. Karakter Utama itu akan menjadi milikku!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6. Berdebat

Keesokan paginya, Meng Lin terbangun karena suara gedoran keras dari pintu kamarnya.

Tok... tok... tok!

“Meng Lin! Bangun!” Suara Bibi Lin terdengar dari luar.

Tok! Tok! Tok!

“Meng Lin! Kalau sudah bangun, segera keluar! Masak sarapan!” suaranya mulai meninggi.

Meng Lin membuka matanya perlahan. Sebenarnya dia bukan sengaja ingin bangun terlambat. Dia hanya memang tidak ingin bangun pagi.

Setelah hidup bertahun-tahun di zaman modern, kebiasaan bangun sesuka hati bukan sesuatu yang sulit baginya. Terlebih lagi, hari ini tidak ada pekerjaan yang harus dikerjakan di pagi buta.

Namun, suara gedoran di pintu tidak juga berhenti. “Meng Lin..!”

Meng Lin menghela napas pelan. Ia akhirnya bangkit dari tempat tidur, merapikan rambutnya seadanya, lalu membuka pintu.

Begitu pintu terbuka, wajah Bibi Lin yang sudah dipenuhi kekesalan langsung terlihat. “Kenapa baru bangun? Semua orang sudah bangun sejak tadi! Kamu pikir rumah ini akan mengurus dirinya sendiri?”

Meng Lin menatap bibinya dengan wajah dingin. "Bibi bisa bicara lebih pelan. Ini masih pagi.”

“Apa?” Bibi Lin hampir tidak percaya mendengar teguran itu. “Aku harus bicara lebih pelan? Kamu yang tidur sampai sekarang, malah menyalahkanku karena membangunkanmu?”

Meng Lin tidak menjawab.

Bibi Lin semakin kesal. “Cepat cuci muka dan buat sarapan! Kami harus cepat sarapan. Kenapa dua hari ini kamu harus dibangunkan?" tanyanya dengan bingung.

Meng Lin berdiri di ambang pintu tanpa bergerak. "Mulai hari ini, aku tidak akan memasak.” balasnya tanpa ragu.

Bibi Lin terdiam sesaat. "Apa yang kamu katakan?”

“Aku bilang, mulai hari ini aku tidak akan memasak.” kata Meng Lin.

“Lalu siapa yang akan mengerjakan pekerjaan rumah?” tanyanya dengan mata melotot.

“Bibi."

Jawaban singkat itu membuat wajah Bibi Lin berubah. “Kamu sudah gila?”

“Tidak.” Meng Lin masih berbicara dengan nada datar. “Aku hanya memutuskan untuk tidak mengerjakan pekerjaan rumah lagi.” ucapnya berani.

“Kenapa?” Bibi Lin benar-benar makin dibuat bingung dengan sikap Meng Lin. Terlihat orang yang berbeda, mana ada orang berubah hanya dalam semalam?

“Karena aku tidak mau.” Tidak ada nada tinggi dalam suara Meng Lin. Justru ketenangannya membuat Bibi Lin semakin marah.

“Kemarin kamu tidak memasak karena aku pikir kamu kelelahan setelah pulang dari luar. Aku masih memakluminya. Tapi ternyata kamu memang sedang memberontak!” sahutnya dengan wajah merah.

Meng Lin menatapnya tanpa perubahan ekspresi. “Kalau Bibi menganggap itu pemberontakan, terserah.”

“Kamu—!”

Suara mereka mulai terdengar sampai ke halaman depan. Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki mendekat.

“Ada apa pagi-pagi sudah ribut?” Paman Lin muncul dari arah ruang depan. Ia mengerutkan kening ketika melihat istrinya berdiri di depan kamar Meng Lin dengan wajah marah.

“Kenapa kalian berdua berdebat?” tanyanya dengan bingung. Selama ini, jarang sekali ada perdebatan di pagi hari..

Bibi Lin langsung berbalik. "Kamu datang tepat waktu. Tanyakan sendiri kepada keponakanmu!” balasnya dengan napas memburu.

Paman Lin memandang Meng Lin, kemudian kembali melihat istrinya. “Apa yang terjadi?” dia lebih memilih bertanya kepada istrinya.

Bibi Lin menunjuk ke arah Meng Lin dengan kesal. “Dia bilang mulai hari ini tidak mau memasak dan tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah!”

Paman Lin sedikit terkejut. “Meng Lin?”

“Benar.”

Bibi Lin segera melanjutkan dengan nada penuh keluhan. “Selama ini siapa yang memasak? Siapa yang mencuci dan membersihkan rumah? Aku tidak pernah meminta banyak darinya. Tapi sekarang dia malah mengatakan tidak mau melakukan apa-apa lagi.”

Paman Lin terdiam. Dia menatap bingung sikap Meng Lin yang berubah. Jika dia merasa tidak senang, kenapa dia tidak mengatakan lebih awal?

Selama ini, dia mengira Meng Lin setuju saja. Karena dia cuma diam tanpa banyak mengeluh. Dan sekarang, kenapa dia tiba-tiba seolah-olah diperlukan buruk?

Sementara itu, Meng Lin hanya berdiri tenang di depan pintunya. Dia tidak terburu-buru menjelaskan. Tidak ada gunanya membantah setiap perkataan bibinya.

Ia hanya ingin menyampaikan satu hal dengan jelas. Mulai hari ini, dia tidak akan lagi menjadi orang yang mengerjakan semua pekerjaan rumah hanya karena tinggal di rumah keluarga Lin.

Tapi, kalau dia cuma diam, masalah tidak akan pernah selesai. Meng Lin akhirnya membuka suara. “Aku tinggal di rumah ini bukan gratis.”

Nada suaranya tetap tenang, tetapi tegas.

Bibi dan Paman Lin terdiam. keduanya kembali merasakan firasat buruk.

“Setiap bulan, kakakku mengirim uang untuk kebutuhanku. Dari uang itu, aku juga memberikan empat puluh lima yuan untuk biaya tinggal di rumah ini.” ujarnya.

Paman Lin mengerutkan kening. Lagi-lagi Meng Lin mengungkit masalah uang itu. Tetapi tidak menyangka Meng Lin akan membicarakannya secara terus terang.

Meng Lin melanjutkan, “Jadi, kalau aku membayar untuk tinggal di sini, aku tidak merasa punya kewajiban untuk mengerjakan seluruh pekerjaan rumah sendirian.”

Wajah Bibi Lin langsung berubah. “Kamu bicara seolah-olah kami mengusirmu untuk bekerja!”

“Aku tidak mengatakan begitu.” Meng Lin menjawab tanpa emosi. “Aku hanya mengatakan bahwa mulai sekarang pekerjaan rumah bukan tanggung jawabku lagi. Aku lelah, jadi kalian kerjakan urusan kalian masing-masing!”

Bibi Lin masih terlihat marah. "Kalau begitu, siapa yang akan memasak sarapan?”

Meng Lin mengangkat alis sedikit. "Siapa? Apa maksudnya? Bukankah sebelum aku tinggal di sini Bibi yang memasak. Kalau tidak mau, suruh Meng Wan saja. Dia sehari-hari berlagak jadi Tuan Putri."

“Meng Wan? Dia tidak bisa memasak!" kata Bibi Lin dengan pelan. Takut suaranya terdengar sampai keluar.

“Tidak bisa memasak? Bukankah selama ini dia sering mengatakan kepada orang-orang di luar bahwa dia yang mengerjakan semua pekerjaan rumah di rumah ini?” tanyanya dengan nada mengejek.

Suasana mendadak hening. Paman Lin menatap putrinya yang masih berada di kamar.

Ya. Anak itu tidak tahu apa-apa.

Meng Lin melanjutkan dengan suara datar,

"Kalau memang begitu, seharusnya tidak sulit baginya untuk membuat sarapan.”

Bibi Lin langsung membela putrinya. "Wan'er masih tidur!” suaranya terdengar ragu.

“Jadi?" Meng Lin menatap bibinya. “Kalau dia bisa tidur sampai sekarang, berarti dia juga tidak punya pekerjaan pagi-pagi.”

Bibi Lin kembali terdiam. Dia tidak bisa membela putrinya untuk masalah itu. Jika dia terus berdebat, semuanya akan melebar.

Meng Lin juga tidak berniat memperpanjang perdebatan. Ia hanya menyampaikan apa yang menurutnya masuk akal. “Mulai hari ini, kalau ingin sarapan, silakan minta orang yang katanya paling rajin di rumah ini untuk membuatnya.”

Setelah mengatakan itu, Meng Lin masuk kembali ke kamar. Pintu ditutup dengan sedikit hentakan.

Bibi Lin semakin kesal karena dia tidak bisa menang jika terus melawan Meng Lin berdebat. Jika dia nekat, semua bisa terbongkar.

"Sudahlah.. buatkan makanan seadanya saja. Kita sudah mau telat.!" kata Paman Lin sambil melangkah keluar.

"Hmm baiklah..!" balasnya dengan perasaan jengkel.

"Oh satu lagi... Mulai sekarang, kamu harus mengajari Wan Wan masak. Apa jadinya nanti, jika dia menikah dan tidak bisa apa-apa. Bukankah dia akan ditindas di keluarga suaminya?"

"Itu... Emm yaa.. Nanti aku bicara dengan Wan Wan..!" Kata Bibi Lin dengan pasrah..

.

.

.

1
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat
yang banyak update nya Thor 👍😀
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjuttt
Didi Wahyudi
niubi
nengnong
meng Lin ke kota cuma mau beli kemoceng 🤔🤦
nengnong
💪💪
Musdalifa Ifa
klo boleh request Thor tolong upnya dibanyakin🙏🤭🤭🤭
Fauziah Daud
lanjuttt
Fauziah Daud
terus sehat n lanjut
Heni Setiyaningsih
tetap sehat dan semangat
next double up ya Thor 😁
Musdalifa Ifa
tambah up Thor 🙏
Kia Zahra
tes dulu
Fauziah Daud
lanjuttt
Heni Setiyaningsih
tolong tambah lagi upload nya kurang klo 1 bab
Andira Rahmawati
thorr knp up nya cuma satu eps aja..double up lagi dong thorrr👍👍🙏💪
Fauziah Daud
terus sehat
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangattt
update nya kurang banyak Thor 😀👍
Kusii Yaati
kurang banyak Thor 🤗
Fii
maaf jarang update. kurang sehat 🙏🙏
Musdalifa Ifa: semoga cepat sembuh thor💪
total 1 replies
Fauziah Daud
trusemangattt
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat biar bisa update setiap hari 😍😀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!